Piece by Piece

e146bf992f74ae2b316b1d3226c99d61

Source: Pinterest

 

But piece by piece, he collected me up

Off the ground, where you abandoned things

Piece by piece he filled the holes that you burned in me

Six years old and you know

He never walks away

He never asks for money

He takes care of me

He loves me

Piece by piece, he restores my faith

That a man can be kind…

and the father could, stay…

-Kelly Clarkson

Cagi yaa, Gamsahamnida

Dare to Speak

Pernah nggak ngalamin ketika pasangan kamu nangis-nangis nggak jelas atau marah tiba-tiba dan kamu nggak punya clue apapun tentang apa yang terjadi sama dia.

First, say sorry! It works.  Hahaha…

Nah, dari pihak yang “ngambek nggak jelas” (you know who) apa langkah selanjutnya yang harus kamu lakukan? Masa mau ngambek melulu. Please, lah.

Kejadian begini baru aja kejadian di aku dan dia. Tapi, nggak drama seperti yang kalian bayangkan, kok. Nggak juga ribut besar sampai heboh. Are you ready?

Jadi, pada saat itu dia harus pergi sampai malam (larut malam banget) untuk latihan musik dan dia tahu aku agak nggak enak badan. Dia udah bilang beberapa kali sejak dulu untuk nggak usah ditungguin. Dia juga menjelaskan kalau biasanya dia pulang latihan, cuci kaki cuci muka, tidur.

Then, yang di sini, kekeuh maunya nungguin karena terbiasa seperti itu. Selain terbiasa, saya juga cukup bersedia untuk menunggu walau sampai larut malam dan terkantuk-kantuk.

Sambil menunggu dia latihan musik, saya mencuci baju, makan, dan mengambil kesempatan untuk nonton drama korea 1 episode dan dilanjutkan membaca buku yang masih tertunda. Sembari baca buku, mulai nih rasa ngantuk datang. Sesekali dia di sana kasih kabar. But, i enjoy my time with my book sampai ternyata tiba waktunya dia pulang. Sesampai di rumah, dia memberi tahu saya untuk segera istirahat.

Kelihatannya fine aja kan? Di manakah masalahya?

Masalahnya adalah i’m an Act of Service person. Jadi, menurut saya menunggu dia untuk sampai di rumah merupakan salah satu cara saya menunjukkan kalau saya sayang sama dia. Sedangkan menurut dia, ini bukan nomor satu atau nomor dua karena saya bisa istirahat adalah “hadiah” (mungkin) untuk saya. Saya nggak sakit, saya bisa tetap sehat itu “sesuatu” buat dia.

Ketika dia menolak untuk saya tunggu (beberapa kali), jujur saya merasa tertolak. “Oh, jadi tindakan saya ini justru membebani dia? Oh, jadi dia keberatan kalau kita telponan. Oh, dia biasanya bisa langsung istirahat sekarang harus ini itu dulu…” , oke, this is my bad side, i admit it.

Ini sama halnya seperti dia yang bahasa kasihnya gift dan saya berulang kali bilang “Nggak perlu kasih saya apa-apa. Saya nggak butuh hadiah…” seorang teman yang memiliki bahasa kasih ini pernah share bahwa sikap seperti itu bisa menciptakan perasaan “tertolak” dan ini nggak baik.

Sedikit penjelasan, love language dia adalah Words of Affirmation & Gift. Sedangkan saya Act of Service & Quality Time. Kalau kamu mau tahu love languange  kamu apa, klik ini.

Bisa nggak hal ini jadi masalah? Bisa. Kalau kamu mau jadiin ini masalah.

Untuk meredam hal ini, akhirnya saya bicara sama dia.

Kak,
Aku tau kamu udah capek. Aku tau kamu juga nggak pengen aku capek. Tapi, this is one of my way to show you that i love you. You know I’m an Act of Service person.

Ini sama halnya ketika aku nggak minta kado, tapi kamu mauuu banget kasih aku kado. Bcz that’s your love language.

Have a good rest, ❤ you

Percaya nggak kalau kalimat ini muncul setelah saya berdoa? Selesai membaca pesan terakhir kalau dia sudah sampai dan istirahat, saya juga berdoa sebelum tidur. Tapi, ya doanya rada-rada “galau” gitu. Hahaha. Yah, intinya sudah pasrah kalau dia sudah tidur. Bener aja dia baca di pagi hari dan kaget kenapa saya ngomong seperti ini.

Kelihatannya aneh ya? Kayak gini aja harus dibicarakan.

No, when you know yo’re with right person, you don’t have to be careful (or afraid) of what you say. Ditambah lagi, dia adalah orang dengan bahasa kasih Words. Dengan kata-kata yang baik, alasan yang tepat, pesan yang ada di dalam hati dan kepalamu bisa ditangkap dengan baik.

024667180c6812ef3d4d4049b0ca062c

Source: Pinterest

Nah, saya mau ajak kalian untuk membandingkan dengan kalau saya bilang seperti ini,

Kak,
Kenapa sih aku nggak boleh nungguin? Kamu nggak suka aku nungguin kamu?

Iya, aku bisa tidur nanti setelah kamu sampai di rumah. Yang penting aku nungguin kamu. Aku biasanya begini kalau sayang sama orang.

Pesan yang mau kamu sampaikan sama, kamu sayang sama dia, kamu mau tahu kalau dia aman sampai di rumah. Tapi, coba bandingkan kalimat pertama dengan kalimat kedua. Dan bandingkan lagi dengan kalau hanya karena kamu merasa rasa sayangmu ditolak, akhirnya kamu BT’, kamu ngambek, kamu diam, dan kamu bilang “Nggak. Aku nggak apa-apa”. Panjang bro masalahnya.

714a70e90d01b11b1484bd0e612d65ae.jpg

Source: Pinterest

Girls, come on!

Ketika kamu berpasangan (apalagi LDR) jangan persulit hidupmu. Kalau marah, ngambek, dll jangan terhanyut. Bilang kamu marah, kamu sebel BESERTA ALASANNYA. Yakin deh, kamu bisa mendapatkan tanggapan yang baik dari dia juga.

Bukan gitu,  aku cuma nggak pengen kamu sakit, kan kemarin masih nggak enak badan. Kalau sakit2, aku jauh lho.

He said that. Yah, saya juga tahu kalau itu maksudnya dia.

Tapi, yang membuat saya senang (dan agak heran), dia paham maksud saya. Saya dapetin ini waktu saya memeriksa media sosial saya. Saya menemukan ini,

I got it, should have treat her better.

Berarti pesan saya tersalurkan dengan baik. Bukan hanya supaya saya nggak marah atau kita jadi ada masalah, tapi paham benar alasan saya melakukan hal itu.

Berani membangun hubungan, berarti kamu menyadari benar kamu sudah dewasa. Dewasa dalam artian kamu siap untuk menjadi versi dirimu yang lebih baik setiap hari untuk dirimu dan orang lain. Siap menerima hal-hal yang disampaikan pasanganmu dan siap mengatakan apa yang ada di pikiranmu tanpa memberikan hint yang memaksa si dia untuk menebak “Kenapa dia nggak suka? Kenapa dia marah?” dan berusaha mengurangi kalimat, “Aku nggak apa-apa,” padahal apa-apa banget.

Once again, these words is for me too. Yuk, belajar menyadari bahwa segala sesuatu bisa dikomunikasikan. Semua maksud bisa disampaikan sebab komunikasi yang baik dapat mengubah segalanya.

Ps: Hati-hati dengan emosi dan intonasi nada bicaramu, ya. 🙂

 

Xox,

Ninta.

Mental Jomblo

Ketika kamu jomblo, bersikaplah seperti jomblo. Ketika kamu sudah memiliki komitmen dengan seseorang, jangan bawa-bawa lagi mental jomblomu!

Hmm… Saya pernah mendengar kalimat ini dalam sebuah pertemuan di hari Minggu bertema relationship. Waktu itu masih single dan available, terus sempat berpikir “Mental jomblo itu kayak apa, sih?”

Kalau menurut kamu, apa sih mental jomblo?

Menurut saya, mental jomblo itu adalah mental yang masih mikirin aku, aku, dan aku aja.  Status saya saat ini single and not available alias sudah berkomitmen. How we met? Soon i’ll share with you, guys. Okei, dengan keadaan sekarang setelah lama sendiri, ini sangat sangat sangat sulit. “Aku” nya kadang masih terbawa-bawa kalau nggak dikeplak biar sadar.

Kenapa sulit? Saya terbiasa untuk mengambil keputusan sendiri, saya tahu bagaimana cara saya menyenangkan diri saya, fokus saya hanya tertuju pada saya dan apa yang saya lakukan. Pokoknya semua tentang saya. Tapi, saat itu saya selalu berdoa sama Tuhan untuk pasangan hidup dan saya bilang “Tuhan, saya sudah siap untuk punya pasangan lagi.” Tapi, ini kan kata saya, bukan kata Tuhan.

Saat ini, seperti diceritakan sebelumnya, saya sudah dikasih kesempatan sama Tuhan untuk membangun berelasi (kembali). Bisa saya bilang hubungan saya berjalan dengan lancar dengan banyak “pelajaran”. Baiknya Tuhan, kami sama-sama diizinkan untuk saling mengenal karakter personal melalui banyak hal, termasuk melalui masalah-masalah. Iya, walaupun baru tapi masalah sudah ada (banyak) saja.

Kita berdua terpisah di dua kota, ini aja sudah jadi masalah. Kita berdua sama-sama aktif. Kita berdua punya love languange yang berbeda. Untuk masalah ex, kita berdua sama-sama pernah membangun hubungan selama hampir 5 tahun dengan masalah yang berbeda tentunya, dan sebagainya.

Nah, suatu malam dia bercerita tentang masalah yang mengganggu dia. Padahal saat itu bisa dibilang saya sendiri juga lagi sedikit kesel sama dia. Then, he said that he’s not oke. 

Mental jomblo ini bilang, “Bodo amat. Aku ini lagi kesel sama kamu. Nggak usah ngomong gimana-gimana dulu. Let me calm my self. Please, leave me alone. Aku lagi baca Alkitab, aku mau tenangin diri sama Tuhan dll. Mo tidur ya tidur aja. Ya, aku kan begini. Biasa juga bla bla bla.”

But, seriously kamu bakal biarin dia begitu? Then, i pray. I ask God for the peaceful from Him.

“Kakak kenapa?”

Satu hal yang bisa saya ambil dari kejadian itu adalah bagaimana saya mengalahkan ego untuk marah, lari, dan nggak peduli dan berbalik untuk belajar mengerti. Mental saling support ini jelas harus dibangun saat kamu sudah nggak jomblo lagi. Kalau dulu kamu bisa nggak peduli, saat kamu sudah menjadi team mate with someone,  your presence is the real strength for him or her.  Gimana kalian berdoa untuk menguatkan satu sama lain, ini penting. Ingat, selain Tuhan (He’s always be the first), saat ini kamu punya prioritas yang lain.

Relationship isn’t​ just about the status. It is about intimacy, support, and a shoulder to cry on. – ME

Nggak bermental jomblo menurut saya juga bicara tentang me-manage hubungan dengan baik. Nggak gampang curiga karena takut kehilangan dia kayak kehilangan gebetan, nggak mudah menyalahkan tanpa menanyakan alasan, nggak menuntut ingin terus diperhatikan seperti waktu kamu tebar pesona sama gebetan-gebetanmu. Nggak gampang tertarik sama orang lain hanya karena sesuatu yang mungkin nggak dimiliki kamu atau pasanganmu.

Memiliki dan menjaga relasi melebihi hal-hal di atas. Belajar dari pengalaman yang lalu, Ninta yang sempat membangun hubungan selama 5 tahun itu adalah Ninta yang mencari pengakuan, Ninta yang berusaha mencari perhatian, Ninta yang tanpa sadar menjadikan pasangannya untuk bahan pameran, Ninta yang nggak banyak melibatkan Tuhan dalam hubungannya, Ninta yang selalu merencanakan tanpa mau peduli rencana Tuhan. Ogah lah begitu lagi karena setiap hari kita harus jadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin, kan? 🙂

That’s!

Jadi, Mblo! Please, ketika kamu sudah nggak sendiri lagi nantinya, pastikan kamu sudah siap untuk mengubah mentalmu. Kamu juga benar-benar mantap dan mau diajar sama yang mempertemukan kamu dan pasanganmu. Jangan sampai waktu sama Dia jadi hilang karena kamu sibuk sama pasanganmu, ini paling penting.

Yeah… I’m not perfect, yet i realize that this words is for me too. So, buat kamu yang masih single available pastikan kalian siap untuk langkah selanjutnya. Buat kalian yang posisinya sama seperti saya saat ini, yuk, pelan-pelan buang mental jomblomu supaya hubungan kalian bisa makin sehat.

Xox,

Ninta

Ps:
Hati-hatilah ketika kamu memiliki komitmen dengan seorang penulis. Semua yang ia rasakan bisa menjadi sebuah cerita yang dapat dibagikan. :p
You know that, right Dit?

The Unexpected

aa35

Source: Mojarto.com

 

I am walking in a foggy road
With a hand of a trusty man and God’s voice
But, it’s too unclear to lived
And i’m start shaking

“God…”

I call Him
I call Him because i’m too affraid to see the road

I don’t want to see that man’s face
A man who hold me tight
I can’t face him in this condition
I buried my face in his arms
I’m afraid
But, i can’t let his hand apart from mine

He hold it tighter
He said to me, “Trust me.”
I still don’t want to see his smiley face
Then, he take me even farther

I start to realize
One thing i should do is
To listen in His voice and still walk to face the storm with this guy

Storm will always there, even hurricane
But, we must keep moving

Yes, i should be afraid
No, i should not need to stop

God’s voice is never failed. But, He doesn’t promise it will be easy to be passed
Hold on!

I know your deeds. See, I have placed before you an open door that no one can shut. I know that you have little strength, yet you have kept my word and have not denied my name. – Revelation 3:8

We Are God’s Poem

9d92633483dcab784ee9dc8e51c17030

Source: Pinterest

 

Berapa banyak dari kamu yang pernah dikatakan jelek, dijauhi karena tidak pintar, nggak punya teman karena tak punya orangtua yang lengkap atau karena warna kulitmu berbeda dengan warna kulit teman-temanmu?

Hal ini jelas mengarah pada pembulian. Data KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) menunjukkan terdapat peningkatan jumlah anak sebagai pelaku kekerasan (bullying) di sekolah dari 67 kasus pada 2014 menjadi 79 di tahun 2015.

Pembulian terhadap orang lain kerap dianggap wajar terjadi di lingkungan sekitar kita, tapi tahukah kamu kalau hal ini adalah penghilangan identitas terhadap seseorang? Identitas yang jelas kita miliki, yang sudah diberikan oleh pencipta kita sejak kita masih ada di dalam kandungan?

Beberapa hari yang lalu ketika mengikuti chapel pagi, salah satu teman saya menceritakan tentang identitas.

Efesus 2:10 (TB)
Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Setelah membacakan ayat ini, kami semua diajak untuk membuka versi bahasa Inggris dari ayat ini.

Ephesians 2:10

For we are God’s handiwork, created in Christ Jesus to do good works,which God prepared in advance for us to do. (NIV)

Kata God’s handiwork atau workmanship berasal dari bahasa Yunani “POIEMA”, kata ini menjadi akar kata “Poem” atau sajak;syair dalam bahasa Indonesia.

Sajak atau syair biasa digunakan atau diciptakan untuk menyampaikan hal-hal yang indah. Ini adalah karya alami yang akan tercipta ketika kamu sedang merasakan jatuh cinta. So, you should know that you’re beautiful because you’re created by God’s love.

How magnificent to think that we are “God’s POEM, created for good works in Christ”, each with our own rhythm and cadence, a work of art by a Master Artisan. – Pinterest.

Tuhan menciptakan setiap kita dengan keunikan masing-masing. Kita ini adalah blue print nya pencipta kita, yaitu Dia. And that’s our identity. Kita semua adalah ciptaan yang indah dan berharga.

ef5d010b61266e8d281367d68cacbef7

Namun, identitas kita yang luar biasa ini seringkali dirusak oleh LABEL yang diberikan orang lain pada diri kita.

Kamu nggak bisa! Nggak mungkin kamu bertahan! Kamu bodoh! Kamu berbeda! Kamu nggak punya masa depan! Kamu anak yang kacau! Kamu nggak akan bisa begini begitu ini dan itu… silakan tambahkan sendiri daftar yang mungkin pernah kamu terima atau kamu katakan pada orang di sekitarmu.

Abaikan kata-kata di atas!

For now, i wanna tell you that we’re precious.

Jangan pernah rusak gambar diri kamu, identitas kamu, bahkan masa depan kamu hanya karena apa kata orang.

Beberapa saat mengikuti chapel, teman yang lain kemudian bercerita tentang seorang anak berusia 25 tahun yang mengalami pelecehan seksual sejak ia kecil. Awalnya ini hal ini hanyalah kesalahpahaman di keluarganya, namun kabar ini pun menyebar dengan cepat karena ia tinggal di sebuah daerah yang kecil. Ia pun menjadi bahan bully oleh teman-teman di sekitarnya dan berujung pada pemerkosaan yang sebenarnya yang dilakukan oleh salah satu anggota keluarga anak ini.

Sejak saat itu, ia pun kehilangan jati dirinya.

Akibatnya, setiap kali ia menjalin hubungan ia merelakan dirinya menjadi pelampiasan yang katanya cinta. PSK, inilah kata yang selalu ada di kepalanya. Beberapa kali menjalin hubungan ia selalu melakukan hubungan seksual karena yang ia tahu ia adalah seorang PSK.

Dari luar, anak ini terlihat kuat dan tegar. Ia bahkan rajin melakukan pelayanan di tempat ibadah. Tetapi, rantai ini tak pernah lepas darinya. Dia tersiksa. Jika hal ini tidak diselesaikan, bisakah kalian bayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya? Pada masa depannya? Pada anaknya kelak? Yaa… ini akan menjadi satu lingkaran yang tak akan pernah putus. Ia akan melampiaskan rasa amarahnya, rasa kecewanya pada generasi selanjutnya, dan seterusnya.

Kamu yang membaca tulisan ini bisa jadi adalah korban atau pelaku dari kegiatan “Penghilangan Identitas” ini. Yuk, bantu dirimu sendiri dan orang-orang di luar sana dengan tidak sembarangan memberikan LABEL.

Saya menulis hal ini karena saya pernah mengalaminya dan saya pun berhasil lepas dari LABEL yang selama ini dikatakan orang pada saya. Saya adalah korban dan saya berhasil melewati hal ini. Kalau saya berhasil, kenapa kamu tidak?

First of all, hal yang bisa kamu lakukan adalah mengakui semua kesalahan yang sudah kamu lakukan akibat pemberian label yang orang lain lakukan. Apapun itu, sebutkan satu-satu di hadapan Tuhanmu.

Second, MAAFKAN DIRIMU SENDIRI. Ini perlu kamu lakukan sebelum kamu menjalani proses memaafkan orang lain. Ini yang saya lakukan. Ketika saya tahu saya bersalah, saya mengakui apa yang pernah saya lakukan, saya kemudian memaafkan diri saya dan kembali menyadari bahwa saya adalah ciptaan Tuhan yang luar biasa.

GUE UNIK DAN GUE BLUE PRINTNYA TUHAN!

I praise you because I am fearfully and wonderfully made;
your works are wonderful, I know that full well. – Psalm 139:14 (NIV)

Next, bangun kembali hubungan yang sudah jauh dengan penciptamu, sadari bahwa kamu adalah ciptaan Dia yang jelas diciptakan INDAH dan LUAR BIASA. Kembali belajar mencintai dirimu dan penciptamu.

Margaret Maxwell, istri dari John Maxwell seorang motivator terkenal berkata, “Tidak ada orang lain yang bisa membuatmu bahagia. Baik itu pasangan hidupmu, sahabatmu, uangmu, hobimu. Semua itu tidak bisa membuatmu bahagia. Karena yang bisa membuat dirimu bahagia adalah dirimu sendiri. Kamu bertanggung jawab atas dirimu sendiri.”

Ingat, hati dan kebahagiaanmu akan terpenuhi secara utuh kalau kamu dekat-dekat dengan sumbernya. Teman, sahabat, pacar, bahkan orang tuamu sekalipun nggak akan pernah bisa memberikan kamu kebahagiaan yang utuh karena mereka pun seorang manusia.

Temukan kembali identitasmu yang hilang karena kita adalah ciptaan Tuhan yang indah dan diciptakan untuk menyebarkan keindahanNya.

 

 

Xox,

Ninta.

Be Still.

WhatsApp Image 2017-04-08 at 6.52.09 PM.jpegBe still = Diam = Bergeming.

Dalam hal ini, diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Diam berarti tidak mengandalkan kekuatan diri sendiri, melepaskan semua kata “Tapi,”, dan membiarkan Tuhan mengambil kendali atas pikiran dan hati kita.

Ketika bicara tentang HARUS DIAM, rasanya mudah, ya. Tapi, praktiknya? LUAR BIASA.

Berbagi pengalaman aja, dalam membangun relasi bersama @haricahyadi_ it’s really not easy. We’ve met by God’s voice (people said that it’s supranatural things. Uncommon) and we still learn about one each other. Bcz of that, kami memutuskan untuk benar-benar dengar-dengaran sama maunya Tuhan, yang ketemuin kita.

Setiap hari, kita berdua sama-sama mendoakan tentang hubungan ini dan bertanya sama Tuhan tentang apa yang harus kami bereskan atau apa yang harus kami ceritakan saat kami telponan di malam hari. Sampai pada suatu hari kami bicara tentang pekerjaan.

At one point, Ninta ada di dalam kondisi AMBISIUS dalam sebuah hal mulai mengatakan “Tuhan, gini ya. Plannya adalah bla bla bla. 1, 2, 3.” as always, plan plan and plan. Dan menarik kesimpulan tanpa mau tahu apa sih yang Dia mau.

I take control of everything. Then, when we pray about that, entah kenapa saya merasa bahwa hal ini nggak berjalan lancar. Hal ini nggak membawa sukacita baik buat saya atau pun dia. AKHIRNYA MEMUTUSKAN KEMBALI UNTUK BERDIAM.

Tarik napas, buang napas “Jadi Tuhan, maunya gimana?”

Tawar menawar pun dimulai sampai akhirnya Tuhan hancurkan semuanya dan saya kembali tenang. After that, saya bicara sama dia tentang apa yang saya pikirkan dan saya terima dari Tuhan. Saya benar-benar merendahkan hati saya untuk menerima semua yang akan dia katakan dan saya juga benar-benar hati-hati dengan setiap kalimat yang saya akan utarakan.

Sejak siang hari, saya udah bilang sama dia nanti malam tolong ingatkan kalau saya mau bicara hal penting tentang “How God Lead Me To Find A New Job”. Percayalah, pembahasan kami tidak seberat itu, tapi entah kenapa Tuhan selalu buka hal baru setiap hari supaya saya dan dia saling belajar.

Malamnya, saya cerita panjang lebar sampai akhirnya saya bilang, “Kakak paham?” then, saya tanya sama dia tentang hal yang pernah kita bicarakan. Betapa kagetnya saya kalau ternyata dia sebetulnya tidak memiliki hati yang full pada apa yang kami (means saya) bicarakan. Oh, God! Please lah Ninta!

Akhirnya, dia bilang semua yang ada di pikiran dia tentang hal tersebut. Di satu sisi memang dia setuju, tapi di sisi lain ternyata ada hal yang memang sudah dititipkan Tuhan sama dia dalam pekerjaan yang saat ini dia lakukan.

WHAT??!

CAN YOU IMAGINE IF I”M NOT TAKES TIME TO PRAY AND COMMUNICATE WITH HOLY SPIRIT? Saya hanya akan membawa hubungan ini sesuai maunya saya. Bukan maunya Tuhan. Saya akan merusak visi nya Tuhan untuk dia yang harus dijalani melalui pekerjaan dia yang sekarang. Hmmmhh…

Saat berdoa dan berusaha melepaskan kekang yang saya pegang, memberikan semua kertas plan yang sudah saya atur ke Tuhan itu nggak gampang. Tapi, Tuhan bilang sama saya, “Kalau kamu mau ikut rencana Ku, semua akan baik-baik saja. Nurut deh!”

Nah, perencanaan yang saya buat ini sejujurnya dilandasi oleh rasa takut atau cemas saya. Nggak banget, kan? Iya.

Dari sini saya kembali belajar benar-benar bahwa melibatkan Tuhan dalam membangun relasi itu bukan hal yang sepele. Ini wajib!

Pelajaran lain adalah, semua hal yang berkaitan dengan perencanaan kita kalau kita serahkan sama Tuhan pasti akan mendatangkan kebaikan. Tapi, kalau semua yang kita lakukan itu nggak sesuai sama rencana Tuhan pasti cuma akan membuat kita gelisah. Bisa jadi nggak dapat dukungan dari orang sekitar. Bahkan, bisa-bisa kita memilih menjauh dari suara Tuhan karena yang kita mau dengar adalah suara kita sendiri.

Nggak kebetulan ayat Perjamuan Kudus minggu kemarin adalah…

Mazmur 32:8

“Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kau tempuh. Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.”

The question is…

Bagaimana caranya kita bisa mendengarkan suara Tuhan kalau kita nggak ambil waktu untuk DIAM?

Ps:
Saat kita ada dalam sebuah masalah, DIAMLAH! Be Still.
Diam bukan berarti badai nggak datang. Tapi, ketika badai terjadi KEPUTUSAN apa yang kita ambil? Kita yang mengendalikan masalah atau masalah yang mengendalikan kita. (JC)

So, be still!

Hyeong!

my_annoying_brother-p1

Hyeong! (My Annoying Brother)

Belajar itu bisa dari mana saja, bahkan dari film Korea.

Judulnya Hyeong! – My Annoying Brother. Film ini sebenarnya bergenre komedi, tapi entah sihir apa yang dipakai sutradaranya menjadikan film ini benar-benar mengena di hati. Dalam film ini diceritakan Go Doo Sik yang diperankan Jo Jung Suk merupakan seorang penipu yang telah masuk penjara untuk beberapa lama. Ia akhirnya mendapatkan keterangan bebas bersyarat karena berhasil menipu petugas dengan alasan ia harus merawat adiknya, Go Doo Young yang diperankan oleh EXO member, D.O.

Go Doo Young sebelumnya adalah seorang atlet nasional Korea yang karena kecelakaan saat bertanding harus kehilangan penglihatan seumur hidup. Sejak saat itu ia mengalami depresi dan hanya mengurung diri di dalam kamar. Selama kakaknya tidak di sampingnya, ia sesekali dirawat oleh pelatih judonya yang diperankan Park Shin Hye sebagai Lee Soo Hyun.

Apa yang menarik dalam film ini? Nilai kehidupan apa, sih, yang bisa diambil selain menikmati akting dari dua aktor tampan ini?

Begini, dalam sebuah scene Go Doo Sik yang ingin adiknya kembali menikmati dunia luar akhirnya membawa Go Doo Young berjalan-jalan ke sebuah mal untuk berbelanja baju baru. Saat di toko, Go Doo Young yang buta ditabrak oleh seorang ahjussi (om-om) dan hal ini berujung pada perkelahian antara Go Doo Sik dan ahjussi itu. Karena mengalami cedera, akhirnya mereka terpaksa dilarikan ke rumah sakit sampai melakukan pemeriksaan MRI.

Awalnya, ini adalah adegan penipuan untuk mendapatkan keuntungan. Tetapi, tak lama pihak rumah sakit kembali memanggil Go Doo Sik untuk menyampaikan hasil pemeriksaan yang menyatakan ia menderita kanker pankreas. Di saat yang bersamaan, pelatih judo Go Doo Young sedang membujuknya untuk kembali berlatih dan bertanding namun untuk atlet disabilitas. Tetapi, karena malu dan depresi, ia terus menolak.

Tak ingin adiknya gagal kedua kalinya dan menyadari waktu hidupnya tak lama lagi, Go Doo Sik pun membujuk Goo Do Young untuk kembali berlatih dan bertanding. Sebagai perjanjian, Go Doo Young akan ditanggung dan dirawat oleh pelatihnya dan negara.

Secara pribadi sempat berpikir, jika saya menjadi Go Doo Sik, saya juga akan sangat marah. Kenapa baru saja keluar penjara, baru saja bisa hidup bebas, baru kembali memperbaiki hubungan dengan adik, justru harus menghadapi penyakit seperti ini dan hanya memiliki waktu hidup selama 3 bulan.

Faktanya:

  1. Selama Go Doo Sik kabur dari rumah, ternyata kedua orang tuanya sangat mengharapkan ia kembali. Tapi, hal ini merupakan hal yang justru menyiksa Go Doo Young karena ia akhirnya tidak bisa pergi ke pemandian karena kedua orang tuanya hanya mau ke sana jika Go Doo Sik ada. Goo Do Sik yang baru tahu tentang hal ini pun merasa menyesal.
  2. Ternyata, mereka berdua adalah kakak adik tiri di mana konflik keluarga mereka tidak sesederhana itu.
  3. Go Doo Young sangat depresi bahkan “membusuk” di rumah, tetapi kehadiran kakaknya yang sangat mengganggu hidupnya tanpa disadari membawa senyumnya kembali dan membawa kepercayaan dirinya untuk kembali menjadi atlet. Hal ini karena Go Doo Sik selalu berkata ia tidak akan pernah meninggalkan Go Doo Young. Ia mengatakan bahwa ia adalah mata untuk Go Doo Young.
  4. Selama Go Doo Young berlatih dan bertanding, Go Doo Sik memperbaiki rumah mereka sehingga Go Doo Young tidak terluka saat berada di dalam rumah tanpa dirinya. Ia mengganti semua perabot rumah untuk menjaga keamanan adiknya.
  5. Go Doo Sik yang tidak pernah mau mengunjungi makam ayah ibunya, akhirnya datang dan mengadu tentang keadaannya. Ia pun berdamai dengan ayah dan ibunya.
  6. Go Doo Young memenangkan juara judo di Olimpiade Rio 2016 karena berjanji membawa emas untuk kakaknya.

Oke. Sampai saat ini sudah banyak adegan yang aku bocorkan. Sorry 😀

Kesimpulannya, this movie is really heart-warming and touching. Dalam hidup ini kita nggak pernah tahu sampai kapan kita hidup. Tetapi, saat kita hidup apakah kita memanfaatkan waktu kita dengan baik dengan menjadi dampak untuk sekitar kita atau justru menyia-nyiakannya?

Waktu terus berjalan, misi di dalam hidup kita pun harus diselesaikan. Ketika sudah selesai, maka kita pun akan kembali pada pencipta kita.

Go Doo Sik, walaupun ia mantan penipu dan masih memiliki niat jahat akhirnya berubah dan berusaha mengubah hidupnya untuk kehidupan adiknya di masa depan. Dia tidak lagi memikirkan diri sendiri. Dengan ‘kesombongan’nya, ia menumbuhkan kembali rasa percaya diri pada adiknya. Dia menyelesaikan dendamnya pada kedua orang tuanya. Ia pun bekerja sama dengan pelatih judo adiknya, bahkan memberi pekerjaan orang lain (scene ini rahasia).

Go Doo Young, yang tadinya terpuruk akhirnya berhasil bangkit kembali bahkan menjadi pemenang Olimpiade dunia. Ini semua karena sosok seorang kakak yang tanpa sengaja harus kembali hadir dalam kehidupannya. Yang tadinya putus asa karena jangankan untuk berlatih, berjalan dari dapur hingga ke kamar pun ia tidak bisa dan selalu jatuh atau tertabrak. Pada akhirnya, ia pun menjadi atlet unggulan untuk kelas disabilitas.

Lee Soo Hyun, tadinya memandang Go Doo Sik sebelah mata bahkan mengatakan hal yang tidak baik. Namun, ketika melihat bagaimana Go Doo Sik menyayangi Go Doo Young, ia pun berubah. Kalimat yang paling mengena adalah, “Untuk mendapatkan tangan Go Doo Young aku harus melepaskan semua yang ada di tanganku,”. Adegan ini merupakan pengorbanannya sebagai seorang pelatih.

Pendeta, penjual mie, tetangga. Perannya mungkin tidak menonjol, tetapi, ia pun mendapatkan dampak atas kehidupan singkat Go Doo Sik setelah keluar dari penjara. Ia memiliki hidup yang lebih baik dari sekadar pendeta gadungan.

Go Doo Sik mungkin hanya memiliki tiga bulan masa hidup setelah keluar dari penjara. Dia nggak sempurna. Masa lalunya buruk. Dia bisa saja menutup diri dan kabur meninggalkan adiknya, kalian juga bisa berpikir “Yah, namanya juga skenario…” Tapi, sekali lagi pikirkan sejenak, setiap manusia memiliki tujuan penciptaannya sendiri.

Mungkin, kita tidak berhasil dalam pekerjaannya, mungkin kita adalah orang yang tidak terpandang, tetapi berapa banyak orang yang berubah karena keberadaan kita adalah warisan yang paling berharga.

THE BEST LEGACY A MAN CAN LEAVE BEHIND IS THE PEOPLE WHOSE LIVES HE’S CHANGED – JR

Warisan terbaik seseorang dapat tinggalkan adalah berapa banyak orang yang hidupnya dia ubahkan – JR

Enjoy the OST MV here .

Xox,
Ninta.