Hated

Pinterest

Every people in this world have things to hated
Not because they want it

But, because the stories behind that thing

Some people hate bangs, because it makes them looks like their past

Some people hate music, because their father leave them to be a musician

Some people hate sun, because it remind them to their brokenness

Some people hate to smile, because they forget the last time they’re happy with their parents

Some people hate strawberry, because their mother told so

Some people hate water, because water take their brother

Some people hate happiness, because the last time they’re together they falling too deep

Some people hate yellow, because they live too long with the blue

They don’t want to, but they still do…

Sometimes it just came without any reason…

#amjusthuman

Advertisements

Family Trip, Menginap Di Adhisthana Jogja Bikin Kangen Balik Lagi

Jadi, awalnya lebaran ini nggak akan pergi kemana-mana. Sudah membayangkan akan leha-leha di kamar kosan. Sampai akhirnya datang sebuah pesan dari adikku yang di Bandung kalau lebaran nanti dia akan jalan-jalan ke Jogjakarta bersama teman-teman satu kampusnya.

Hal ini berbuntut panjang karena mama dan adik bungsu pun ingin ikut ke sana. Mereka memang belum pernah menginjakkan kaki ke kota yang terkenal dengan Tempo Gelato nya itu. Nah, sebagai kakak tertua aku nggak mau kalah dong. Pengen ikut juga gitu maksudnya. Hehehe.

Akhirnya, kami menyusun rencana. Sayang sekali, kami lupa kalau itu adalah momen liburan panjang di mana semua hotel pasti full book. Namun, beruntungnya salah seorang teman menawarkan untuk menginap di Adhisthana Hotel. Katanya hotelnya hits dan nyaman banget di sana. Benar saja, lokasinya di tengah kota, desain interiornya seperti di rumah sendiri, ada banyak permainan tradisional yang disediakan. Liat-liat di Instagram, hotel ini termasuk salah satu hotel andalan yang jelas instagram-able banget!

My mom and brothers happy banget sampai di sini.

Mom in our room…

Akhirnya, kami pun memutuskan untuk melakukan booking. Kami memesan kamar tipe Deluxe King mengingat kami terdiri dari 4 orang dewasa. Awalnya, saya bertanya bagaimana dengan ekstra dua orang, apakah kena biaya tambahan atau tidak. Dan jawabannya adalah TIDAK. WOW! Menyenangkan sekali. Namun, pihak hotel tetap mengingatkan tentang kenyamanan kami di dalam kamar. Namun, namanya juga satu keluarga, nggak masalah kalau harus tidur bersama. Kebetulan, kami juga sudah biasa. Hehehe.
Sesampainya di hotel yang namanya diambil dari bahasa Sansekerta ini kami disambut dengan ramah. Lalu, kami diantar ke kamar yang berada di lantai dua. Kamarnya asyik, menghadap ke kolam renang. Oia, sebenarnya kami masih betah berlama-lama di lobi. Soalnya, homy banget. Tapi, karena lelah kami segera mengikuti petugas yang mengantar kami.

Sesampainya kami di lantai 2, tepatnya di kamar 219, kami benar-benar tergugah dengan desain interior di kamar ini. Kamarnya luas, warna putih dan biru mendominasi, nuansa Jawa semakin kental karena sentuhan batik pada tempat tidurnya. Terlihat juga beberapa piring keramik menggantung, menghiasai dinding putih polos tempat sebuah sofa bertangan kayu berwarna biru bersandar.

Satu hal yang langsung menjadi perhatian adik saya, “Ma, keramik lantainya seperti di rumah ya? Kayak keramik jaman dulu…” Yup, lantai di kamar ini berwarna gelap dan berbentuk kotak persegi berukuran kecil. Sama seperti keramik pada dinding dan lantai kamar mandinya. Namun, kamar mandi didominasi warna hijau.

Oia, karena lelah, mama memutuskan untuk segera mandi menggunakan air hangat. Nyaman sekali. Adik yang paling kecil langsung standby di depan televisi sambil menikmati sejuknya AC di kamar. Oia, di kamar ini juga disediakan kulkas dan makanan yang ada di dalamnya bisa diambil secara cuma-cuma, lho. Lumayan untuk menemani sambil menonton televisi.

Aku dan adikku yang nomor dua justru lebih tertarik untuk nyebur ke kolam renang. Kolam renangnya cukup luas lho, lantai dasarnya warna hijau, dan dikelilingi pohon-pohon tinggi seperti di pantai. Aku lupa sih itu pohon apa. Tapi, yang jelas suasana malam yang sepi membuat saya dan adik saya benar-benar menikmati berenang di malam hari. Saat melihat ke atas, langit berbintang pun terlihat jelas memandang ke arah kami. Kolam renang di sini buka 24 jam. Hanya saja, lampu akan otomatis mati setelah pukul 09.00 malam.

The swimming pool

Puas berenang, mama memanggil dari lantai dua untuk naik dan segera makan. Ternyata, mama memesan makanan untuk kami sebelum kami berenang. Makanan di sini tergolong cukup murah untuk makanan hotel. Terdapat makanan khas timur dan juga barat. Mulai dari nasi rawon sampai aneka pasta tersedia di sini. Kalau bosan makan di kamar, kamu dan keluarga bisa lho nongkrong di kafe yang lokasinya berdampingan dengan hotel ini. Namanya Lawas 613. Jadi, nggak perlu bingung deh mencari tempat tongkrongan di dekat hotel kalau-kalau temanmu ingin berkunjung. Karena nggak mungkin kumpul di kamar juga, kan? Hihihi…
Keesokan paginya, sebelum memulai kegiatan kami sarapan di area yang sudah disediakan. Sarapannya beragam. Mulai dari nasi goreng, puding, kentang, roti, dan pancake. Untuk sarapannya, saya menjagokan pancake buatan hotel ini. Dipadukan dengan madu, sarapan di pagi hari makin menyenangkan.

Oia, jangan cuma diam saja di hotel ini. Kamu bisa mengekspresikan gaya kamu di setiap sudutnya, lho. Bisa dibilang setiap sudut hotel ini pas banget untuk jadi tempat berfoto. Mulai dari dinding yang penuh dengan jendela tua warna-warni, lorong yang dihiasi pintu-pintu khas Jawa, ruang makan atau kafe yang ambience nya enak banget, sentuhan manis batik di kamar, pokoknya di Adhisthana Hotel kamu bisa puas berfoto.
Malas untuk berfoto? Habiskan waktu mu di ruang tengah sambil bermain permainan tradisional seperti congklak dan monopoli. Banyak permainan lainnya yang disediakan di sini. Kalau nggak ngerti cara bermainnya, tinggal panggil petugas hotelnya untuk membantu menjelaskan bagaimana rules permainannya. Kamu bisa memilih bermain di ruang tengah atau di taman. Keduanya sama-sama membuat kamu dan keluarga lebih relaks karena udara mengalir begitu bebas tanpa batasan tembok. Seru, kan?

Bagian lobby yang menghadap ke resepsionis

Bisa banget nyantai di sini sama keluarga sambil main permainan tradisional

Lobby nya homy banget kan?

Nah, kalau kamu nggak punya plan apa-apa, kamu bisa mencoba touring menggunakan becak. Apalagi sekarang becaknya sudah menggunakan motor. Cukup membayar Rp50.000,- kamu bisa keliling-keliling ke tempat berbelanja. Masih malas berjalan jauh-jauh? Tinggal nyebrang jalan kaki ke gang sebelah, kamu bisa mendapatkan lokasi Tempo Gelato yang terkenal di Jogja. Beberapa tempat yang bisa kamu kunjungi kalau menginap di hotel ini adalah Alun-Alun Selatan, Pantai Parangtritis, Taman Sari, dan Malioboro. Nggak begitu jauh, deh. Oia, lokasinya juga terjangkau oleh transportasi online. Jadi, kalau kamu nggak membawa kendaraan pribadi, kamu bisa banget memanfaatkan aplikasi transportasi online yang ada di gadget kamu.

Jalan-jalan sama mama naik becak Rp50.000,- aja

Setelah puas menikmati kota Jogjakarta selama 4 hari, saya mengakui kalau saya jatuh cinta sama hotel ini. Jelas ingin balik lagi! Pelayanannya ramah and very helpful. Kenapa saya bilang helpful? Soalnyaaa… Saat mengejar pesawat ke bandara, saya dan keluarga dikejar waktu. Jogja lagi padat-padatnya dan susah mendapatkan transportasi online. Alhasil, kami meminta bantuan untuk pengantaran ke bandara. Resepsionis sangat mengusahakan dan akhirnya kami tiba di bandara tanpa terlambat.

Thank you, Adhisthana Hotel. Akan selalu ingin kembali… 😊

Adhisthana Hotel di malam hari

Nikmatnya Ngejilatin Gelato Dan Ngopi Di Kapal Starwars. Cuma Bisa Di ICONIC Yogyakarta

Jujur aja nggak pernah-pernah seniat ini nge-review tempat nongkrong. Tapi, kali ini nggak tahan banget buat nulis lokasi yang satu ini.

Jadi, waktu lagi liburan di Yogyakarta bareng keluarga aku nyewa kamera. Nah, perjalanan nyewa kamera ini membawa aku ke sebuah kafe bernama ICONIC Gelato & Bistro.

Tampilan depan plus smoking area ICONIC.

Tempat parkir.

Awalnya setelah mengambil kamera yang disewa, aku nggak pengen langsung balik ke Adhisthana Hotel (review Hotel menyusul). Akhirnya, aku ngajakin adikku untuk jalan kaki sekitar JCM alias Jogja City Mall. Siapa tahu ada yang bisa ditongkrongin. Random aja gitu.

Baru aja jalan 200 meter sudah menemukan satu tempat yang kece banget. Tampilan luarnya kece, parkirannya luas, dan bangunannya terlihat menarik. Heran juga kenapa namanya ICONIC.

Akhirnya, karena pengen minum kopi banget dan cari yang manis, kita masuklah ke kafe ini. Lampunya menggoda banget asli! Yes, aku pecinta lampu.

Area kanan yang nggak ada action figuresnya

Then, begitu masuk kita disambut sama mbaknya. Dia langsung bilang mau duduk di area smoking atau non, galeri atau di area depan. Namanya juga turis, aku langsung banyak nanya deh sebelum duduk. Setelah banyak tanya, kita diantar masuk melalui sebuah pintu yang mirip banget sama kapal-kapalnya Starwars. Yang ini SS-01.

Di depan pintu ini bahkan kita disambut sama Darth Vader, lho. Hihihi…

My lightsaber.

Pintu abu-abu di sisi kiri ku pun secara otomatis terbuka and welcome to the superheroes gallery. Karena punya waktu terbatas aku cuma liat-liat sekelebat aja. Di ujung ruangan ada Spiderman besar berdiri barengan sama Superman, di sisi kanan pintu ada kumpulan action figures Starwars. Ada juga koleksi action figures nya Iron Man yang berjajar keren banget di dalam sebuah kaca panjang yang menjadi pembatas antar sisi tempat duduk konsumen.

Area action figures

Gimana? Keren banget, kan? Nah, karena sifatnya galeri, kita bisa banget dan boleh banget untuk jalan-jalan mengitari area. Nggak masalah kamu mau foto atau melihat-lihat lebih laNa Yang penting hati-hati sama semua koleksinya, ya. Kalau sudah puas liat-liat koleksinya, langsung aja pinjem lightsaber ke mbak-mbak kasir di depan, palu Thor, atau tangan Thanos dengan batu-batunya juga ada. Silakan langsung berpose sekeren mungkin di depan pintu dan jangan malu-malu, semua juga pada foto di situ, lho. Hihihi.

Di sini juga menjual kaos merchandise MARVEL dan DC dengan harga terjangkau yaitu Rp120.000,- untuk semua ukuran. Murah kan? 🙂

Untuk makanan, aku nggak nyobain karena memang mencari kopi dan cakenya saja. Tapi di sini harganya relatif murah. Rp50.000-Rp100.000/orang. Tersedia makanan Asia dan juga Western. Jadi, sesuaikan saja sama seleramu.

Yang asyiknya lagi, ada gelato dengan berbagai rasa. Nggak kalah sama yang di Bali, deh! Beberapa rasa yang cepat habis dan jadi favorit adalah Cookies&Cream, Zen Mango, Hojicha, Matcha Cheese Cake. Ada rasa-rasa yang unik juga seperti Butterbeer & Flamingo! Nggak perlu jauh-jauh deh ke Jepang demi Butterbeer, hahaha. Kalau ada kesempatan ke sini lagi, aku bakalan nyobain sih!

The Gelato

Untuk kopinya sendiri di sini tersedia Espresso based seperti Americano, Picolo, ICONIC Coffee, dll. Manual Brew nya ada V60, Vietnam Drip, French Press, Kopi Tarik, dan Kopi Tubruk.

Karena lambung nggak kuat, aku cuma pesan yang standar yaitu capuccino. Ini juga udah lumayan di perut. Adikku pesanannya justru lebih seru, Caramelo Trooper Dopper. Ini rasa kopinya lebih masuk akal buat aku pecinta manis.

Oia, untuk cake aku suka banget sama Baileys Cake yang ada di sini. Kerasa banget alkoholnya di kepala tapi nggak begitu manis.

So, dari sekian banyak yang aku ceritakan sudah jelas kan kenapa kalian  d harus mampir ke kafe yang baru aja melakukan soft opening di bulan Februari 2018 kemarin ini? Rekomen banget laah buat kalian yang ingin liburan ke kota Yogyakarta.

Kapan lagi kan minum kopi di dalam pesawat SS-01 bareng sama heroes kesukaan mu? 😊

Baileys Cake. Rp35.000/piece.

Coffees

Meja kasir sekaligus meja penyambutan di depan pintu.

Ini adek aku. Si kedua.

Bisa liat dapurnya langsung.

ICONIC GELATO&BISTRO
Jalan Magelang KM 5,9, Sleman, Yogyakarta. (Selatan JCM)

Monday-Thursday: 08.00-22.00 WIB

Friday-Sunday: 08.00-23.00 WIB

IG: @iconic.jogja

Kantor Imigrasi Ruko Boulevard-Paspor Yang Tertunda

So, ini adalah tulisan yang cukup pedih mengingat tadi pagi sudah bangun subuh demi antri menulis nama di sebuah papan.

Cerita ini berawal dari ngobrol-ngborol bareng sobi aku di sebuah tempat makan yang berujung pada penemuan luar biasa yaitu tiket promo PP Jakarta-Singapore-Jakarta. Memang paling nggak bener kalau kamu lagi nongki dan menemukan hal-hal yang menggiurkan seperti ini. Hal menggiurkan lainnya adalah diskon kosmetik untuk pembelian online atau voucher makanan yang membuat kamu menambah berat badan.

Oke. Alhasil, setelah memutuskan untuk berlibur bersama, kami pun memulai pertanyaan dengan “Semua sudah punya passport kan?” Ya, passport. Sebuah buku kecil yang mengizinkan kamu untuk terbang ke negara manapun yang kamu mau. Dan aku tidak memilikinya. Dan mereka membanting meja. Kidding…

Singkat cerita, aku pun memulai usaha pencarian kantor imigrasi yang bisa membantuku mewujudkan impian ini. Dan Jakarta nggak menjadi jawaban. Semua kuota habis karena memang sedang high season. Duh!

Akhirnya, setelah googling Aku menemukan bahwa kantor imigrasi Tangerang masih memiliki kuota. Dengan semangat aku mengikuti setiap instruksi.

Source: Pinterest

1. Menyimpan nomor pendaftaran via WhatsApp untuk mendapatkan nomor antrian di hari Senin tanggal 07 Mei 2018. Nomor yang harus disimpan adalah 08118119000. Ini merupakan layanan mesin yang akan membantu kamu mendapatkan nomor antrian.

2. Ketik #NAMA LENGKAP#TANGGALLAHIR#TANGGALPENDAFTARAN

CONTOH: #MIRABEL#04051992#07052018

3. Langkah selanjutnya tergolong mudah karena kamu tinggal mengikuti instruksi untuk mengkopi kode tanda persetujuan kalau data yang kamu masukkan sudah benar.

Senang dong, sudah dapat nomor antrian di kantor imigrasi Tangerang. Kemudian aku melakukan re-check ke kakak di BSD. You know what, she said that I applied to wrong office. Sebelumnya, memang kakak bilang kalau ada kantor imigrasi yang sangat dekat dari rumah. Dan kantor tempat aku melakukan pendaftaran tadi adalah kantor yang jauh. Huft!

Alhasil, #BATAL pun ku ketik sebagai tanda pembatalan pendaftaran. Aku memang sempat berpikir apakah sebaiknya aku biarkan saja nomor pendaftaran ku, supaya kalau ada orang yang memerlukannya, aku nggak menghambat jalan orang itu. Dan juga memang pembatalan harus dilakukan maksimal satu hari sebelum pembuatan paspor. Yasudah.

Setelah mengumpulkan semua berkas yang dibutuhkan seperti FOTO KOPI KK, IJAZAH/AKTA LAHIR/SURAT BAPTIS/SURAT KAWIN dan FOTOKOPI E-KTP, aku memutuskan untuk pergi ke BSD, Tangerang. Dengan modal “kesempatan yang lebih besar ketimbang di Jakarta”, then, I go.
Oma sempat berpesan untuk datang mendaftar jam 3 pagi. Whaaaat!!! And I say, thanks Oma. Pagi hari tepat pukul lima aku bangun dan bersiap. Mandi subuh dan kurang tidur sangat nggak disarankan. Bersiap dan kemudian salim sama Oma.

Perjalanan dari rumah kakak ke kantor imigrasi hanya memakan waktu 15-20 menit. Sesampainya di sana aku mulai curiga karena kantor terlihat sangat sepi. Di mana orang-orang yang mau mengantre untuk pembuatan paspor? Ah, aku pikir ini kesempatan baik karena kemungkinan akan lebih cepat dipanggil. But, you know what… The security told me kalau kamu mau membuat paspor, kamu harus mendaftar dulu. Nggak ada lagi daftar manual.

Would you please gimme some water? Aargh.

Bapak sekuriti nya bilang kalau sekarang semua pendaftaran sudah bersifat online. Jadi, bagaimanapun kamu berusaha memelas, kamu nggak akan bisa mendapatkan kesempatan tersebut. Huft! Untuk kantor pembantu yang berlokasi di Ruko Golden Boulevard BSD Blok E no.5-6, Lengkong Karya, Serpong Utara, Tangsel, hanya akan melayani 120 pendaftar setiap harinya. Dan, kamu hanya bisa mendaftar setiap Jumat mulai pukul 17.00 WIB untuk menentukan jadwal seminggu kedepan. Gara-gara hal ini, aku nggak bisa mendaftar langsung untuk besok atau dua hari kedepan. Dan gara-gara ini pula sepasang suami istri berantem di sebelah aku.

Awalnya, mereka juga ingin membuat paspor untuk sang istri dan anak mereka. Kemudian, setelah mendapat penjelasan yang sama dari sekuriti seperti yang aku dapat, mereka mulai berargumentasi. Istri yang memang cenderung dominan masih saja nggak ngerti saat pak sekuriti bilang bahwa pendaftaran penentuan tanggal bisa dilakukan lagi hari Jumat depan. Dia tetap ngotot sambil menunjukkan hape kalau dia tidak bisa melakukan reservasi. Sang suami yang mulai gemas pun menyambut dengan kalimat yang cukup pedas dan mengatakan, “Kamu kok nggak ngerti-ngerti. Baru bisa daftar lagi hari Jumat nanti. Makanya nggak bisa daftar sekarang…”

Mendengar suaminya yang hmmm… benar, maka dia pun menjawab, “Ya, nggak usah gitu juga dong ngomongnya…” Dengan nada do dengan titik di atas. Demi tidak melanjutkan peperangan, sang suami pun kembali ke mobil. Dengan pose berpura-pura sibuk dengan gadget aku masih mendengar pembicaraan mereka. Tiba-tiba pak sekuriti yang berdiri di sebelah kiriku (pasangan di kanan) berkata, “Susah kalau nggak ngerti, ya Mba?” dan aku menyambut dengan “Hehehe…”

Bapak sekuriti sempat bertanya padaku apakah aku sudah mendapaftar, dan aku bilang sudah tapi aku batalkan karena kata kakakku lokasinya berbeda. Kemudian, dia menunjukkan satu nomor “Yang ini? Ini kantornya di Sukasari. Tangerang City, tahu?” Dan dengan sukarela aku menjawab, “Nggak, Pak.” Bapak pun kembali menyahuti, “Adek nggak pernah jalan-jalan, ya?” DANG!

“Hehehe… Taunya (menyebutkan nama-nama mall).” Mungkin bapak ini berpikir aku kurang jauh mainnya. Hmmm… Tak apalah. 

Bapak juga sempat mengatakan kenapa dibatalkan pendaftaran sebelumnya, karena kalau tidak aku sudah bisa berangkat ke sana dan menyelesaikan misi ku. Ya, mau bagaimana lagi kalau sudah dibatalkan. Apalagi, ternyata nomor WhatsApp pendaftaran unit BSD berbeda. Kalau kamu mau mendaftar di unit Ruko Boulevard, kamu bisa mengirim format yang sama seperti di atas ke nomor 081221700044.

Akhirnya, aku kembali mendaftar untuk nomor urut di kantor imigrasi kelas 1 Tangerang, yang bertempat di Jln Taman Makam Pahlawan Taruna no.10, Sukasari, Tangerang. Bersyukur nya langsung dapat untuk tanggal 09 Mei 2018. Karena, sepertinya terlalu lama kalau aku menunggu Jumat untuk kembali mendaftar Minggu depan. Kita nggak tahu apa yang terjadi dalam satu minggu ini bukan?

And at the end, moral of the story is jangan buru-buru membatalkan penjadwalan. Karena ini adalah kesempatan yang mungkin kamu nggak bisa dapatkan lagi. Sekali-sekali memang harus tega untuk diri sendiri. Jangan mikirin orang melulu.

Kedua, jangan menyerah. Langsung daftarkan diri kamu untuk pendaftaran selanjutnya. Biar agak jauh dikit, yang penting cepat selesai. Ketimbang kamu harus menunda lagi dan belum tau kapan bisa diambil.

Ketiga, ada baiknya mengumpulkan informasi terbaru dan terakurat sebelum akhirnya memutuskan untuk mendaftar.

Oia, harga untuk membuat paspor sekarang adalah Rp355.000,- dan bisa dibayar di bank manapun dan sudah bisa diambil 3 hari kemudianSo, please doakan aku dalam penyelesaian misi besok, ya! 🙂
Cheers,

Ninta
Ps: Thanks to Reza, anak Medan who picked me up at train station and please me to laugh all night long.

Radit Batal Nikah

Cerita ini merupakan cerita fiksi yang aku tuliskan untuk seorang Raditya Dika. Sudah lama aku memendam rasa pada youtuber, comedian, dan juga penulis yang satu itu…
“Aakkk!!” cepat-cepat aku menutup layar laptopku dari tatapan sengit Tania.

“Apaa tuh? Cerita fiksi tentang Radit? Kamu masih ngefans sama doi? Udah mau nikah kali lakik orang, Din.” Tania selalu begitu, “Lagian, basi banget pembukanya kayak gitu. Dikira Radit mau baca surat dari kamu?”

“Hufttt… Tarik napas panjang juga, nih, aku Ta.”

Aku kembali menatap layar laptopku yang kini kosong dan berisi sebuah garis berkedip. Ya, aku berpikir kembali apakah kalimat pembuka tadi memang sebasi itu? Auk ah! Kenapa juga tombol delete ini mudah sekali ditekan dan membuat semuanya menjadi layar kosong kembali.

Karena belum juga mendapat inspirasi, aku memutuskan untuk membuka Instagram Stories. Hitung-hitung cari ide dari sampah orang-orang yang aku ikuti akun pribadinya ini. Baru saja aku melihat beberapa akun, guess what… Tiba-tiba aku menemukan boomerang bergambar undangan pernikahan Raditya Dika di salah satu akun yang aku ikuti. Oh My God! Ini berita penting yang harus aku sembunyikan dari Tania. Akun itu adalah akun milik Kaka, Kanda Gregorius, itu nama lengkapnya.

Duh, bisa dibilang aku belum lama mengenal Kaka. Bertemu pun jarang sekali. Setiap bertemu dia, bisa-bisa aku kehabisan kata. Iya, benar aku gugup. Aku gugup karena aku nggak tahu apa yang bisa aku bicarakan dengannya. Ya, aku pernah sih berbincang beberapa kali. Tetapi, nyatanya aku jarang sekali bisa berpapasan dengan dia. Lalu, bagaimana bisa aku meminta jadi partnernya untuk datang ke pernikahan Radit? Hmmm… Sumpah, ini adalah ide gila!

“Din, ngapain lama-lama ngeliatin akunnya Kaka? Kamu…”

Sebelum habis kalimat Tania, aku pun segera memotongnya sambil menutup layar laptopku dengan sedikit membanting.

“Aku ingin datang ke pernikahan Radit, Ta. Bareng Kaka bisa kali, ya? Undangan biasanya buat dua orang, kan? Kaka and partner gitu…”

“Gila apa! Mau bilang apa sama Kaka? Memangnya kamu sudah sedekat itu sama Kaka sampai berani minta jadi temannya datang ke pernikahan Radit? Di sana kamu nggak bakalan ngumpulin berita, kan? Secara pasti bakalan banyak banget artis yang datang.”

“Nggak, dong. Aku beneran nih pengen menyaksikan pernikahan Radit secara langsung. Kamu kan tahu gimana perasaan aku ke Radit. Kamu ingat waktu dia putus sama yang itu, aku ikutan nangis Ta. Novel-novel dia semuanya aku punya. Semua aku ambil intisarinya tiap bab. Dan aku menemukan cinta di sana…”

“Din, baru kali ini lho aku melihat seorang fans yang benar-benar jatuh cinta sama idolanya. Trus, misi kamu apa datang ke sana?”

“Hmmm… Kira-kira…”

Aku terdiam dan sedikit memajukan tubuhku ke arah Tania sambil berbisik setelah mendengar mama memanggil kami untuk mencicipi kue buatannya yang baru saja matang. Mama adalah penguping tingkat dewa.

“Kira-kira apa?” mata Tania yang sudah perfect dengan bubuhan eye liner kini memandangku semakin tajam.

“Ta… Kalau aku minta ikut ke Kaka…”

“Apa??? Si Kaka bakalan suka sama kamu? Trus pulangnya kalian end up di kafe dan ngobrol sampai pagi? Jangan pikir ini Drama Korea dong, Din.”

“Bukan dong, Ta… iiihhh… Dengerin dulu,” Ucapku sambal menghela napas berkali-kali sambil melihat story yang berisi undangan berwarna emas dan biru itu.

“Jadi apa kalau bukan kamu ngarep jadian sama Kaka?”

“Ih… Tania!” Kali ini ku lipat kakiku ke atas sambal menumpu wajahku yang sudah menekuk sedari tadi.

“Kira-kira Radit bakalan batal nikah nggak, ya?”

Kemudian terdengar suara semburan air dari mulut mama yang diam-diam juga asyik mendengarkan percakapan aku dan Tania sedari tadi. Seketika, curah hujan meningkat dan membasahi wajahku yang belum terkena air sejak pagi.

“Kamu pikir kamu Bela Saphira?” tegas mama yang masih sibuk mengelap wajahnya yang juga setengah basah karena ucapan bodohku. Sedangkan Tania sibuk tertawa terbahak-bahak di sofa. Ya, Tania selalu begitu.

“Ihhh… Tatjana Saphira, Mamaaaa…”

“Ya itulah, yang Mama tahu si Bella Saphira. Mama akan anggap kamu lebih sehat kalau kamu berpikir bahwa bisa nggak kamu jadian sama Kaka, bukannya Radit yang bakal batal nikah karena ada kamu di sana. Kecuali kamu artis, ini kamu cuma reporter yang pernah meliput sehari-harinya Radit, doang. Belum tentu lagi, Radit ingat kamu.”

Yah… Mimpiku memang ketinggian, sih. Tapi, apa salahnya dicoba. Hmmmh… Aku pun memandang tajam ke Tania sambil membentuk hook dengan jariku yang ku arahkan ke matanya.

Oke, sudah ku bulatkan tekadku untuk mengirimkan pesan pada Kaka. Bagaimana pun hasilnya, setidaknya aku mencoba. Ku ketik satu persatu huruf hingga membentuk kalimat random yang sedari tadi melayang-layang di kepalaku.

Hai, Ka… Ka, sudah tahu mau pergi bareng siapa ke nikahan Radit? Aku boleh ikut nggak nemenin kamu? Jadi tukang foto kamu juga nggak apa-apa, deh!

DM sent!! Aaaaaaaaaaaaaak!! Bodoh. Kenapa aku kirim pesannya secepat itu. Aakkk… Maaaa… Taniaaa. Help!!!”

Tania hanya diam, menoleh sambil berkedip beberapa kali, kemudian ia mengarahkan matanya kembali ke layar televisi yang sedang menayangkan Drama Korea kesukaannya.

Nggak berani melihat balasan Kaka, aku pun bergegas lari mengambil handuk dan bersiap mandi. Aku pikir, kalau aku mandi dulu, mungkin aku bisa lebih siap membaca jawaban Kaka yang sudah jelas banget jawabannya nggak. Duh, tadi mikir apa sih? Kaka pastinya pergi bareng sama teman-teman kantornya yang hits itu. Ku pukul, pukulkan tanganku ke kepala udang ku yang entah sudah di mana otaknya berada.

“Hmmhh… oke, setidaknya kepalaku bisa lebih dingin dan jantungku nggak menggebu-gebu seperti sekarang setelah mandi. Tapi… malunya mau aku buang kemana? Huaaaaaa…”

Ting… Ting…

OMG, itu suara pesan DM. Huffftt!!! Hufft!!! Tenang Dinda, tenang. Kamu harus mandi dulu, keramas, kemudian pakai parfum, baru kemudian setelah itu membaca pesan dari Kaka.” kataku memerintah diriku sendiri.

Selesai mengguyur kepala udangku dengan air hangat selama hampir setengah jam, aku pun bergegas menggunakan baju tidur favoritku. Ya, ya, ya… Aku tahu ini masih pukul tiga sore, semua orang bersiap menghabiskan waktunya di luar rumah, dan yang terpenting ini adalah hari Sabtu. Akhir pekan, long weekend, dan Jakarta mendadak sepi.

Tapi, aku lebih nyaman berada di dalam rumahku yang sangat asri bersama kue-kue buatan mama. Serta omelan Tania yang sedari malam menemaniku karena dia nggak mau pulang ke rumahnya dengan alasan kesepian. Bukannya dia jomblo sepertiku, dia nggak jalan bareng pacarnya karena alasan keuangan alias belum gajian.

“Bunyi-bunyi tuh dari tadi…” ketus Tania. Tania selalu begitu.

“Iya, si Kaka paling.”

What… kamu jadi melaksanakan ide gilamu itu?”

Aku mengangkat bahu menjawab tanda aku sudah tak peduli dengan kebodohan yang ku lakukan. Perlahan ku gerak-gerakkan jariku untuk mengaktifkan kembali layar yang ku biarkan sejak tadi.

Benar saja, ini pesan dari Kaka…

******

“Aaaaaaah!!! Gue belum sempat nyimpen cerita yang barusan lagi,”

Mati lampu! Gue benci mati lampu!

It’s Hard, God. But, Well Done, My Dear

98599f06de8fd96aabf86c939ed6e835

Source: Pinterest

 

“Well done, My dear.”

Ini adalah sebuah kalimat yang seorang Ninta dengar ketika dia berdiri, mengantre untuk masuk ke dalam toilet. Seketika itu juga air mata meluncur membasahi pipi ini. Mendengar kalimat tersebut rasanya mengalahkan perasaan ditembak gebetan atau mendapatkan Nobel. Well, ditembak gebetan pastinya pernah. Sedangkan Nobel, mungkin masih di angan-angan. But, at least i received a compliment from The Almighty One. 

“What? Are you kidding me?”

Yeah, maybe this question is up on your head. It’s oke. I know, maybe right now you wont believe it. But, if you have the same experience… i’m pretty sure you believe in me.

So, what is the cause that bring The Almighty One talk that sweet to me? *pardon my bronglish a.k.a broken english.

Suatu hari bertahun yang lalu, God just sent me a mission. Memang benar, bertahun yang lalu aku sendiri pergi ke gereja dan mendengar kotbah dari Ps. Sidney Mohede. Actually, the sermon is not about purpose, but because of that sermon i’ve got my vision. Percaya nggak percaya, sih. Nah, satu kalimat yang terlintas dalam pikiranku saat itu adalah tentang anak-anak broken home. Maybe, we’re broken. But, we’re not a broken creation.

Maybe, we’re broken.
But, we’re not a broken creation.

Then, because of i love to write… i thought i will write a book. Mulailah dengan perencanaan pengumpulan materi, bukunya akan seperti apa, tentang apa, siapa yang harus aku wawancarai, dan lain-lain. Yes, i think and plan that far.

Kemudian, berjalannya waktu kok kayaknya ribet dan lama-lama mulai kendor semangatnya. Tapi, aku tetap menulis tentang hal-hal yang bisa aku bagikan melalui blog yang satu ini. Dan semua berjalan dengan baik sampai suatu hari aku melihat sebuah testimoni tentang seorang remaja lesbian yang bertobat. Penyebab awalnya nggak lain dan nggak bukan adalah keretakan keluarga.

Yup, peran keluarga adalah hal yang sangat penting dalam pembentukan karakter seorang anak. Terutama, peran ayah. So, nggak heran kalau kamu harus teramat sangat hati-hati dalam memilih laki-laki as your spouse nantinya. Karena iblis sangat senang “bekerja” menghancurkan generasi melalui laki-laki. Kamu bisa tonton video Ps. TD Jakes tentang laki-laki  di sini.

Nah, aku benar-benar terinspirasi dengan testimoninya. Dalam hati bilang, one day aku bisa nggak ya melakukan hal yang sama seperti dia? It’s an honour for me untuk menyaksikan kebaikan Tuhan yang sudah menyelamatkan aku. Then, kamu pikir iblis seneng dengar permintaan bodohku? Nggak!

Setelah lama berselang, suatu hari di bulan Juli aku beribadah di Kota Kasablanka. Telat. Jadilah aku harus beribadah di depan pintu. Waktu lagi asyik penyembahan (sambil malu-malu karena telat, booo!) Holy Spirit speaks to me. Terjadilah percakapan yang luar biasa dalam hati.

Notes: Kamu boleh bayangkan suara Roh Kudus sesuai kemampuan dan kepercayaan kamu, ya.

“Ninta, kamu harus membagikan pengalamanmu.”

“Hee? Yang mana, nih?” , sambil merem melek menyembah.

“Yang memalukan itu. That one.

What? Sekarang banget? Are you kidding me? Aku baru saja pindah komsel. Sama komsel lama saja aku nggak cerita, gimana komsel baru. They don’t know me at all. Gimana kalau mereka judge aku? Aku anak baru.”

Just do it. Kamu kan mau bicara tentang ini di depan banyak orang. Mulai lah dari DATE kamu. Lalu, This Is My Story. Dan semua akan terjadi sesuai sama rencanaKu.”

Hmm… gini deh, iya aku tahu aku ingin ‘menyelamatkan generasi’ dan punya purpose ke sana. Tapi, aku belum siap ini. Kalau memang aku harus membagikan tentang hal ini, kasih aku jadwal 5 minutes sharing. Aku nggak mau ujug-ujug share tentang ini. Malu kali…”

Suara itu menghilang.

Hari berganti dan jadwal tugas di DATE alias komselku pun tiba. You know that Holy Spirit can use everyyyyyybody to fulfill the plan. Jadwal 5 minutes sharing tertulis nama NINTA. Mau mengelak gimana lagi?

Stage one, done.

Setelah itu, Roh Kudus nggak berhenti bicara sama aku.

“Kapan mau susun naskah untuk This Is My Story?”, “Kapan dirampungkan?”, “Ayo, dong mulai nulis.”, “Cepetan kirim.”, “Udah tinggal sent, tuh.”

Percayalah, ini benar nyata. Kalau kamu belum pernah dikejar deadline nya Roh Kudus, mungkin kamu perlu minta sama Dia.

Mudah? Nggak. Segala sesuatunya aku pikirkan. Bagaimana nantinya kalau ternyata karena hal ini nggak ada yang mau sama aku? Apa kata orang-orang yang kenal sama aku? Apa kata keluargaku? Dan banyak pertimbangan lainnya. But, at the end, Tuhan cuma ingatkan aku.

Ketika video ini muncul, ini akan menjadi berkat yang besar untuk aku dan banyak orang. Jadi, aku harus menyelesaikan misi ini. Huft. Dan aku meng-iya-kan apa kataNya. Setidaknya, dengan video ini aku bisa menyaring mereka-mereka yang akhirnya memiliki hati untuk aku. Aku nggak perlu repot menjelaskan siapa aku dan percaya kalau Tuhan bekerja melalui aku. Dia backup aku. Aku alatNya.

Aku alatNya.

Stage two, cerita sudah dikirim. No response. Sampai suatu siang, Ps. Alvi mengirim e-mail yang berisi akan menjadikan ceritaku sebagai video testimoni terpilih. Selang waktu berjalan, aku menunggu lama untuk merealisasikannya. Hampir setahun berselang, akhirnya pesan itu datang juga. Namun, dasarnya iblis nggak suka, ada saja halangan yang membuat syuting video ini nggak lancar. But, ini nggak sepenuhnya salah iblis. Ini juga ada salahnya aku.

Tapi, Tuhan baik. Intinya, Tuhan nggak mau aku dipermalukan. Dia benar-benar menyelesaikan masalahku sepenuhnya, baru Ia mengizinkan video ini selesai dan ditayangkan. Jarak antara syuting terakhir dan pemutaran video hanya satu minggu. Jarak yang cukup singkat. Final stage, done.

 

bfdd6b0a4d7f4ed1d8d7129e3f02fe73

Source: Pinterest

20 Januari 2018.

Aku berdoa sekitar setengah jam waktu itu. Jam 1 sampai jam 1.30 am. Can’t sleep. Aku berdoa untuk video yang besoknya akan diputar. Inti doaku adalah:

  1. Editor sudah mengedit video dengan baik
  2. Video ini bisa benar-benar jadi berkat
  3. Pesan dari video ini benar-benar sampai ke yang membutuhkan
  4. Ada satu orang saja yang messagge aku sebagai respon konfirmasi dari videoku
  5. Aku tidak dipermalukan, jujur, aku tetap nggak siap karena aku cukup dikenal di gereja. Dan ini bukan hal lumrah untuk disaksikan.

21 Januari 2018.

Jujur (lagi), aku sebenarnya ragu apakah benar video ini diputar minggu ini. Hari ini. Hampir setiap jam aku terbangun dan menantikan pesan di layar gadget. Dan tepat pukul 08.11 am, salah satu teman panitia pada waktu DATE gabungan kemarin mengirimkan pesan.

“Hi, Nin. Thanks for sharing what God has done for you. It’s kind of…. confirmation to me. Happy Sunday and God bless you.”

HOAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH! *sorry alay.

What is this, God?

Kemudian, pesan demi pesan bermunculan seharian.

“We thankful for your courages, your bravery heart. So, we know we’re not alone. And we are blessed.”

Tanpa melebih-lebihkan, inilah kesimpulan yang aku dapatkan atas jawaban doaku selama ini. Dan 21 Januari 2018 akan menjadi sebuah tanggal bersejarah untuk perjalanan hidup dan panggilan hidup seorang Erninta Afryani Sinulingga, or you can call me Ninta Afryani.

Yes, it’s not easy to share your scars, but God can use it if you want.

Seorang pemimpin berani terbuka akan masa lalunya (weakness) supaya menjadi inspirasi untuk orang lain.

Aku mendapatkan kalimat ini dari salah seorang leader di gerejaku. Frankly, i’m speechless. Begitu banyak pesan yang datang dan mengatakan kalau mereka terberkati. Dan semakin banyak lagi cerita yang aku dapatkan. Bagaimana mereka pun mengalami hal yang sama, tetapi nggak tahu mau cerita pada siapa. Dan aku semakin yakin untuk mengatakan, “Yes, God. You can use me.”

 

c87e61182d460eb9ca79e09b5f217d0b

Source: Pinterest

 

Dari penyerahan tugas pertama hingga video ditayangkan memakan waktu hampir 2 tahun. Tuhan bekerja. Melalui pergumulan selama 2 tahun tersebut. Melalui jatuh bangun di 2 tahun tersebut. And i’m SURE that God is working in holistic way. Pekerjaannya untuk sebuah  misi nggak pernah setengah-setengah. Dia tahu kapan waktu yang tepat.

By the way, few days before the video coming up… Aku ikut DMS (Discipleship Ministry School). Di sana, aku berdamai sama Tuhan. Ya, aku sempat ngambek sama Tuhan dan ini termasuk dalam proses jatuh bangunnya aku. Dan bersyukur melalui semua materi yang diajarkan, aku semakin paham tentang Dia dan cintaNya. PekerjaanNya di bumi ini. Di hari terakhir, kami belajar tentang nubuatan. Salah satu nubuatan yang aku dapatkan dari leaderku adalah:

“Saya merasa bahwa Tuhan akan memberikan sebuah kehangatan yang baru di dalam hidupmu. Mungkin ada masanya kamu merasa dingin dan beku. Tapi Tuhan ingin membawa satu kehangantan baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dan itu akan membuat engkau merekah dan engkau akan seperti bunga yang merekah yang akan bisa dinikmati oleh orang-orang.

Engkau akan jadi sebuah tanda yang baik buat orang-orang. Sebagai satu kesaksian yang baik bagi orang lain. Hidupmu yang merekah itu, menjadi berkat buat orang lain dan akan keluar bau yang harum dari engkau untuk orang lain. I feel that. The warm of the Lord.”

Percaya nggak percaya (sekali lagi), Tuhan bisa bicara lewat siapa saja. Dan hal ini nggak hanya dinubuatkan oleh satu orang. Nubuatan lainnya akan aku tulis in another page, ya.

And, at the end. Aku ingin menyampaikan bahwa siapapun kamu, kamu bisa dipakai oleh Tuhan. Kesaksian tentang kasihNya, kekuatanNya, kebaikanNya, nggak hanya bisa diceritakan melalui kesuksesanmu. Luka, cacat, cela, yang terjadi dalam hidupmu pun bisa dipakaiNya untuk pekerjaan tanganNya.

Kalau kamu mau, Dia bisa pakai. Asal kamu mau, kamu  menyerahkan hidup kamu sama Dia, dan bersedia di proses (proses itu nggak enak tapi membahagiakan pada akhirnya). Dia mengasihi kamu.

P.S: For video, you can PM me. 🙂

XOX and to God be the glory,

Ninta

dd62d371cd589e766b74bafd0356fd72

Source: Pinterest