Piece by Piece

e146bf992f74ae2b316b1d3226c99d61

Source: Pinterest

 

But piece by piece, he collected me up

Off the ground, where you abandoned things

Piece by piece he filled the holes that you burned in me

Six years old and you know

He never walks away

He never asks for money

He takes care of me

He loves me

Piece by piece, he restores my faith

That a man can be kind…

and the father could, stay…

-Kelly Clarkson

Cagi yaa, Gamsahamnida

Be Still.

WhatsApp Image 2017-04-08 at 6.52.09 PM.jpegBe still = Diam = Bergeming.

Dalam hal ini, diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Diam berarti tidak mengandalkan kekuatan diri sendiri, melepaskan semua kata “Tapi,”, dan membiarkan Tuhan mengambil kendali atas pikiran dan hati kita.

Ketika bicara tentang HARUS DIAM, rasanya mudah, ya. Tapi, praktiknya? LUAR BIASA.

Berbagi pengalaman aja, dalam membangun relasi bersama @haricahyadi_ it’s really not easy. We’ve met by God’s voice (people said that it’s supranatural things. Uncommon) and we still learn about one each other. Bcz of that, kami memutuskan untuk benar-benar dengar-dengaran sama maunya Tuhan, yang ketemuin kita.

Setiap hari, kita berdua sama-sama mendoakan tentang hubungan ini dan bertanya sama Tuhan tentang apa yang harus kami bereskan atau apa yang harus kami ceritakan saat kami telponan di malam hari. Sampai pada suatu hari kami bicara tentang pekerjaan.

At one point, Ninta ada di dalam kondisi AMBISIUS dalam sebuah hal mulai mengatakan “Tuhan, gini ya. Plannya adalah bla bla bla. 1, 2, 3.” as always, plan plan and plan. Dan menarik kesimpulan tanpa mau tahu apa sih yang Dia mau.

I take control of everything. Then, when we pray about that, entah kenapa saya merasa bahwa hal ini nggak berjalan lancar. Hal ini nggak membawa sukacita baik buat saya atau pun dia. AKHIRNYA MEMUTUSKAN KEMBALI UNTUK BERDIAM.

Tarik napas, buang napas “Jadi Tuhan, maunya gimana?”

Tawar menawar pun dimulai sampai akhirnya Tuhan hancurkan semuanya dan saya kembali tenang. After that, saya bicara sama dia tentang apa yang saya pikirkan dan saya terima dari Tuhan. Saya benar-benar merendahkan hati saya untuk menerima semua yang akan dia katakan dan saya juga benar-benar hati-hati dengan setiap kalimat yang saya akan utarakan.

Sejak siang hari, saya udah bilang sama dia nanti malam tolong ingatkan kalau saya mau bicara hal penting tentang “How God Lead Me To Find A New Job”. Percayalah, pembahasan kami tidak seberat itu, tapi entah kenapa Tuhan selalu buka hal baru setiap hari supaya saya dan dia saling belajar.

Malamnya, saya cerita panjang lebar sampai akhirnya saya bilang, “Kakak paham?” then, saya tanya sama dia tentang hal yang pernah kita bicarakan. Betapa kagetnya saya kalau ternyata dia sebetulnya tidak memiliki hati yang full pada apa yang kami (means saya) bicarakan. Oh, God! Please lah Ninta!

Akhirnya, dia bilang semua yang ada di pikiran dia tentang hal tersebut. Di satu sisi memang dia setuju, tapi di sisi lain ternyata ada hal yang memang sudah dititipkan Tuhan sama dia dalam pekerjaan yang saat ini dia lakukan.

WHAT??!

CAN YOU IMAGINE IF I”M NOT TAKES TIME TO PRAY AND COMMUNICATE WITH HOLY SPIRIT? Saya hanya akan membawa hubungan ini sesuai maunya saya. Bukan maunya Tuhan. Saya akan merusak visi nya Tuhan untuk dia yang harus dijalani melalui pekerjaan dia yang sekarang. Hmmmhh…

Saat berdoa dan berusaha melepaskan kekang yang saya pegang, memberikan semua kertas plan yang sudah saya atur ke Tuhan itu nggak gampang. Tapi, Tuhan bilang sama saya, “Kalau kamu mau ikut rencana Ku, semua akan baik-baik saja. Nurut deh!”

Nah, perencanaan yang saya buat ini sejujurnya dilandasi oleh rasa takut atau cemas saya. Nggak banget, kan? Iya.

Dari sini saya kembali belajar benar-benar bahwa melibatkan Tuhan dalam membangun relasi itu bukan hal yang sepele. Ini wajib!

Pelajaran lain adalah, semua hal yang berkaitan dengan perencanaan kita kalau kita serahkan sama Tuhan pasti akan mendatangkan kebaikan. Tapi, kalau semua yang kita lakukan itu nggak sesuai sama rencana Tuhan pasti cuma akan membuat kita gelisah. Bisa jadi nggak dapat dukungan dari orang sekitar. Bahkan, bisa-bisa kita memilih menjauh dari suara Tuhan karena yang kita mau dengar adalah suara kita sendiri.

Nggak kebetulan ayat Perjamuan Kudus minggu kemarin adalah…

Mazmur 32:8

“Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kau tempuh. Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.”

The question is…

Bagaimana caranya kita bisa mendengarkan suara Tuhan kalau kita nggak ambil waktu untuk DIAM?

Ps:
Saat kita ada dalam sebuah masalah, DIAMLAH! Be Still.
Diam bukan berarti badai nggak datang. Tapi, ketika badai terjadi KEPUTUSAN apa yang kita ambil? Kita yang mengendalikan masalah atau masalah yang mengendalikan kita. (JC)

So, be still!

White Shoes and Its Story

wp-image-36422426jpg.jpg

“Tuhan. Pengen punya sepatu putih, deh. Tapi…”

Ini adalah kalimat pertama pada putaran pertama ketika mengelilingi fashion store andalan. Setiap kali jalan-jalan dan melihat sepatu putih, sebenarnya pengen, tapi… dalam hati langsung ingat kebutuhan bukan keinginan. Akhirnya, bisa kembali biasa aja.

Saking kepinginnya, sempat foto pakai sepatu putihnya teman. Bagus! Setiap jalan-jalan pasti mampirin toko sepatu yang sama untuk memastikan sepatu yang seperti itu masih ada atau sudah tidak keluar lagi.

Lewat beberapa waktu, tiba-tiba dapat berkat yang bisa banget untuk membeli sepatu semacam itu, bahkan bisa untuk membeli dua pasang sepatu. Tapi, apa mau dikata keadaan finansial yang tidak memungkinkan membuat aku memilih untuk menggunakannya untuk bertahan hidup di bulan Desember.

Yup, December is a gift day. December is a dinner time with many. December is a special month. So, i just make my self wiser.

Then, berkali-kali mengunjungi tokonya dan kepikiran pengen punya sepatu macam itu. Sampai waktu keliling, di antara berbagai jenis sepatu putih itu, ada yang harganya terjangkau. Tapi, ukurannya terbatas dan tinggal sedikit.

Entah bagaimana, di malam Christmas Dinner bersama Sudirman Park 7, hadiah yang aku dapatkan adalah voucher dari grup fashion store tempat sepatu itu berada. Menghitung bujet pun, sangat cukup untuk mendapatkannya.

Memang, prinsip dari awal sudah dibangun, “Kalau itu memang buat aku, pasti akan tersedia. Kalau pun nggak, berarti nanti ada yang lain yang lebih pas.”

Keesokan harinya, tanpa ragu-ragu langsung menuju toko yang dimaksud dan memilih ukuran. Seperti yang sudah aku bilang, kalau memang ada yang cocok ya berarti itu memang untukku. Sebelum memutuskan coba lihat sepatu yang putih juga dengan merek dan di toko yang berbeda. Ujung-ujungnya, kembali ke pilihan pertama yang memang pas ukurannya, pas di kaki bentuknya, pas harganya, paass semuanya!

Girang!
Cuma itu yang bisa diungkapkan. Thank you, Lord, untuk hadiah natalnya.

I always believe that He always know what BEST for us.

The best time, the best look, the best thing, and else. Hang on. Hold on! He know what BEST for us.

Ke(me)nangan Babo

Terengah-engah aku berlari menuju pintu keberangkatan luar negeri dengan tali sepatu yang belum diikat dan tas ransel yang menganga setengah. Selalu saja begini setelah melakukan rapat tengah malam bersama klien-klien gila itu. Kapan mereka tidur? Apa karena mereka jualan kopi, lantas kadar ngantuk mereka tidak sama dengan orang lain? Atau mereka sudah kebal terhadap rasa kantuk? Tentunya… karena mereka penjual kopi. Hahaha. Haah… basa-basi berjam-jam hanya untuk mencicipi secangkir kopi yang bahkan aromanya saja tak membuatku terangsang. Hidungku tak mengembang dan mengempis seperti saat pertama kali aku jatuh cinta pada kopi dalam gelas kaleng babo.

Jika saja beberapa tahun yang lalu aku tidak menunda penerbanganku ke Korea, aku pasti tak akan sempat menghabiskan waktu bersama babo. Dan aku tak akan mengenal apa itu jatuh cinta.

Usiaku saat itu 24 tahun dan aku sangat ingin terbang ke Korea. Aku belum jatuh cinta pada kopi, saat itu. Tabunganku sudah sangat cukup dan aku siap terbang. Namun di malam Natal, Bapak dan Mamak mengatakan kalau kami sekeluarga harus terbang ke Ende, Nusa Tenggara Timur, untuk menemui babo. What??? Setelah sekian lama aku menabung, tepat saat itu juga aku harus pulang kampung?

Memang benar, aku punya visi untuk kembali ke kampung halaman bersama segenap keluarga besarku sebelum menginjak usia 25 tahun, tapi kenapa harus di saat aku memenangkan undian tiket gratis ke Korea untuk bertemu dengan idolaku?

“Aku nggak bisa terima, Mak! Kapan lagi kakak bias pergi ke Korea gratis? Ini nggak bias diuangin, Mak!!!!”

“Kak, kita semua sudah sepakat. Tante Lila, Om Theo, Salsa, Jony, Katya. Semua yang di Bali juga sudah sepakat dan bilang sama babo dan mamo kalau kita akan ke sana.”

Saat itu, aku merasa aku tidak bias berkata apa-apa lagi. Mungkin nasibku akan bertemu jodoh orang NTT dan bukan orang Korea. Dari mamak, aku memang memiliki sedikit darah Korea. Bapak sendiri campuran India, Portugis, NTT. Mungkin kalian tidak bias membayangkan bagaimana rupa aku dan kedua adikku yang ternyata penggila drama korea juga. Baiklah, begini… kulitku putih, mataku sipit, hidungku mancung, rambutku sedikit mirip dengan Chibi Maruko Chan, aku tidak terlalu tinggi dan aku memiliki rahang bapak yang sangat khas NTT-India. Masih belum terbayang juga? Abaikan. Yang jelas, aku sangat menyukai ekspresi wajahku. Kata orang, wajahku seperti komik. Seperti apa itu?

Hmmmh… Kembali mengingat penerbangan SIAL pertamaku ke Ende setelah aku akhirnya dengan rela melepas gelar pemenang jalan-jalan ke Korea, setelah bertahun lamanya aku tidak menginjak tanah Flores yang terkenal dengan sanitasi yang buruk, kelaparan di mana-mana, stunting, dan maraknya kematian anak sebelum usia 5 tahun. Mungkin, pandanganku terlalu buruk tentang kampung halamanku, padahal di sini terdapat berbagai wisata alam yang menggugah turis mancanegara. Ada kampung adat Wologai yang terletak di desa Wologai Tengah, Benteng Portugis (That’s why bapak memiliki keturunan Portugis), Monumen Pancasila tempat perenungan Soekarno, Presiden pertama kita, Museum Tenun Ikat, dan yang paling tenar yaitu Danau tiga warna atau Danau Kelimutu yang dijadikan objek gambar di mata uang Indonesia. Tapi, tetap saja ini adalah perjalanan yang tidak aku inginkan. Kenapa kita nggak ke kampung mamak yang di Korea aja? Walaupun mamak memang sudah campuran Jawa-Korea, tapi kan lebih asyik.

Penerbanganku waktu itu dimulai dari bandara Soekarno-Hatta menuju Bali. Dari sana, kami harus transit satu hari untuk menunggu pesawat ke Ende. Tiba di Ende perasaanku masih sedikit bercampur aduk, senang karena ketemu babo dan mamo yang sudah puluhan tahun tidak jumpa namun juga sedih karena harus kehilangan tiket ke Korea. Semua saudara menghiburku, “Babo kangen sama kamu. Kamu sudah besar dan secantik ini, apa tidak ingin lihat babo? Babo sudah tua…”. Yah, alasan sudah tua dan rasa rindu adalah hal yang selalu dibawa-bawa.

Satu hal yang ku ingat dari kakekku yang dipanggil babo ini. Setiap pagi pukul lima dan sore di waktu yang sama, ia akan duduk di depan teras sambil bernyanyi dan minum kopi. Alhasil, kenangan yang tertinggal di kepalaku tentang sosoknya adalah bau kopi. Setiap kali aku mencium aroma kopi dalam segelas Americano, Aceh Gayo, Mandailing, Toraja atau kopi bungkus kecil instan, yang terbayang adalah aroma tubuh babo yang memelukku saat aku hampir kehilangan nyawaku. Saat tubuhku sempat hanyut karena banjir bandang dan ia satu-satunya yang tidak meninggalkanku. Ini juga salah satu alasan kenapa aku sampai sekarang tidak mau belajar berenang. Ende memang terkenal rawan bencana alam, namun Ende juga memiliki cerita cinta yang menenggelamkan antara aku dan babo, antara cucu dan kakeknya.

Setelah menempuh perjalanan selama 10 menit, aku sampai di daerah Kopoone, Ende, Flores, NTT. Perjalanan dua jam dengan pesawat kecil membuatku sedikit mabuk. Aku ingin langsung menenggak segelas kopi. Ya, segelas dan bukan secangkir. Di kampungku, aku dan keluargaku dulu terbiasa mengolah kopi sendiri. Tak jauh dari rumah babo, terdapat banyak tanaman kopi yang bias dibilang menjadi milik bersama. Kebun ini diurus oleh semua warga dan siapa pun boleh menikmatinya. Hari-hariku masih cukup lama di sini, maka aku memutuskan untuk memanggil ojek dan meminta kakak ojek mengantarkanku sampai ke kebun. Di sana, naik ojek tak perlu bayar mahal, lima ribu rupiah sudah bisa ke mana saja, jauh maupun dekat.

Sesampai di kebun aku benar-benar menikmati setiap aroma dari kopi-kopi mentah. Bau tanaman yang khas dan aroma daun-daunnya. Bahkan bau tanah Ende yang benar-benar berbeda dengan tanah di pulau lainnya. Ada aroma kekuatan dan cinta yang melebur jadi satu di dalamnya. Tanah ini pula yang menghasilkan kopi-kopi nikmat yang sejak dulu selalu dikirimkan ke kediamanku di Jakarta. Semenjak itu lah aku mulai jatuh cinta pada kopi. Walau lama tidak pulang ke Ende, aku masih ingat cara yang diajarkan babo untuk mengolah kopi. Setelah dipanen, biji-biji kopi yang baik dipisahkan dari biji kopi yang buruk. “Pergaulan yang buruk merusak kamu yang baik. Sama seperti kopi-kopi ini, kopi yang buruk bisa merusak kualitas kopi yang baik,” terngiang nasihat babo padaku.

Menghabiskan beberapa hari di Ende membuatku banyak berbincang dengan babo, khususnya jam lima sore di depan rumah. Ia banyak bertanya kehidupanku di kota besar dan terutama jodohku. Hah! Aku paling malas menjawabnya, namun, sambil menyesap kopi buatan tangannya sendiri, babo berkata, rasa cinta itu sama seperti rasa kopi, bukan masalah pahitnya, tapi rasa yang ditinggalkannya setelah kamu meminum seluruhnya. Ada rasa yang berbeda di sana.

“Tuhan kasi kita indera perasa. Semua orang kembali pada satu kopi karena rasa yang pernah ditinggalkannya. Bukan sekadar aroma yang tercium lalu hilang, tetapi rasa yang membekas yang akan membawa kamu untuk mencoba dan mencoba lagi rasa tersebut. Itu cinta. Tidak ada kapoknya,” kata babo yang asyik melemparkan beras untuk ayam yang berkeliaran bebas di depan rumah kami.

Apa benar?

Jika dipikir-pikir, aku mulai jatuh cinta pada kopi dan selalu kembali padanya karena… Ahh, ya, benar saja. Ini semua tentang rasa. Pahit itu hanya awalnya, jika kita bisa mencerna dan memisahkan rasa kopi yang sesuai dengan ingin kita, maka akan ada banyak pilihan yang tertera. Aku memang bukan pemilih kopi, namun kopi NTT buatan babo adalah yang paling menyiksa. Karena ada balitan cinta dan rindu akan kampung halaman di dalamnya.

KRINGGGGGG KRINGGGGG

Nyawaku kembali ke tempat di mana aku baru saja menyesap secangkir kopi sambil menunggu penerbanganku yang ternyata dinyatakan delay.

“Halo, Maya speaking…”

“Hai, Maya. Lo lagi duduk pakai sepatu keds warna merah, parka hijau lumut dan eeee… rambut sedikit berantakan?”

“Wait…” aku menatap gadgetku lekat-lekat, Ko Andre. Damn! Ada sekitar sepuluh nama Andre di telepon genggamku dan saat ini aku benar-benar butuh tahu Andre mana yang sedang membuntutiku. I’m no make up for now! Secepat abang ojek online menyambar permintaan penumpang, secepat itu pula tanganku merogoh lipstick halal dengan warna favoritku, red. I’m ready, though. Attack!

“Ini Andre….eeee…” sambil merapikan sedikit garisnya yang keluar dari bibir tipisku.

“Andre Ferdian. Lupa? Aku ke sana ya!”

Tuhan!!!!!!

Jangan bilang karena aku terlalu banyak minum kopi ingatan ku sama sekali tidak berfungsi. Aah, aku tidak menyalahkan kopi. Dari dulu memang aku tak pandai menghapal nama dan wajah orang.

“Hai, May…”

Dia menyunggingkan senyumnya dan mengulurkan tangan. Ah, aku ingat sekarang. Dia adalah salah satu teman baruku saat aku pulang ke Ende waktu itu. Aku sempat mengiranya turis bule, maklum, ia tinggi dan berperawakan seperti Hemsworth bersaudara dan aku sama sekali jauh dari Miley Cyrus.

“Hai Ndre. Long time no seeeeee….” Kataku sambil kembali mengumpulkan memori di Danau Kelimutu.

Saat itu dengan bodohnya aku terlalu banyak gaya untuk memposting bahwa aku baik-baik saja di Ende, bahkan aku menggunakan #enjoyendewalausendiri dalam setiap foto yang kuunggah. Sayangnya, lima menit setelah foto terakhirku aku terpeleset dan tak ada yang menolongku saat itu, karena semua saudaraku sudah kembali ke tempat mobil pick up kami (ya, aku tidak benar-benar sendiri. You know, pencitraan is everywhere).

Andre datang di saat yang tepat. Ia menolongku dan membawaku ke parkiran mobil. Entah terlalu bahagia, keluargaku meninggalkan aku di sana. Mereka tak sadar kalau aku tidak bersama mereka. Telepon? Jangan harap, begitu turun gunung Anda akan kehilangan sinyal kehidupan. Andre bagaikan malaikat di tengah kecerobohanku, mengantarkanku pulang ke rumah babo. Terlihat babo dan mamo yang cemas bahkan menangis karena tak menemukanku di mobil dengan terpal biru yang biasa digunakan untuk mengangkut sayur ke pasar.

Tentu saja, Andre disambut dengan baik di keluargaku. Ia pun akrab dengan babo hanya dalam waktu sepuluh menit. Yang mereka bicarakan tak bukan tentang kopi. Andre sendiri memiliki kebun kopi di wilayah Ende, beberapa kali dalam setahun ia pasti datang untuk memeriksa tanaman warisan dari ayahnya.

“Kamu mau ke mana?”

“US. Kamu?

“Wah, kebetulan. Pesawatnya delay kan?”

“Kok kamu tahu?”

“We’re in the same boat. I mean plane. Hahaha”

“Hah? Seriusan? Thank God! Aku nggak mati bodoh sendirian di sini.”

“Babo apa kabar?”

Seketika menggenang air mata di pelupuk mataku.

“Hei, are you okei?”

“I’m okei. Babo sehat, kebun kopinya yang tak sehat. Pelebaran jalan dan beberapa pembangunan gedung membuat babo yang tak tahu apa-apa selain kopi hanya bisa pasrah menyerahkan sebagian kebun kopinya hilang.”

“Lalu?”

Andre tampak serius memperhatikan mataku. Tuhan, aku nggak kuat kalau begini caranya.

“Yah, bisnis kopi keluarga kami pun mengalami sedikit kendala.”

“Kamu tahu nggak, aku rasa ini bukan kebetulan. Aku sudah lama ingin mengajak babomu bekerja sama dengan ku. Tapi, aku sedikit ragu karena babo tampaknya benar-benar ingin mengelola kebunnya sendiri. Kalau kamu mau, kita bisa bekerja sama memajukan kopi Ende, kopi kita.”

Kita katanya……

Haaaahh! Bagaimana mungkin aku bisa merasakan indahnya cinta di tengah pembicaraan memilukan ini.

“Mungkin… kita bisa membahasnya sambil makan siang?”

“On me, ya! Yuk…”

Andre pun berjalan selangkah di depanku.

Babo, aku akan berusaha untuk menyelamatkan kopi kita. Kopi jam lima yang selalu membuat aku merindukan babo, kopi sederhana di dalam secangkir kaleng tua, kopi yang diramu dengan tawa dan kenangan manis akan masa kecil bersama babo, kopi kebanggaan babo yang akhirnya berhasil membawaku sampai ke Amerika.

 

kopi

Source: Pinterest

Babo, ini untuk babo. Ini kemenangan atas cinta dan harapan untuk tanah Ende, kemenangan atas usaha babo menjaga dan mencintai setiap tanaman kopi di kampung kita. Maya janji akan membawa harum nama Indonesia lewat kopi tanah Ende.

Karena dalam segelas kopi terdapat perjuangan, cinta , dan kesetiaan akan nusa dan bangsa.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Harapan Ada Bila Percaya

9ca4970ac1e74c9e4fddf15ef1930843

Source: Pinterest

Apa yang Anda pikirkan saat mendengar kata penjara? Kelam, menyeramkan, pembunuhan, orang jahat, dan mungkin masih banyak lagi kosa kata negatif yang akan keluar dari dalam pikiran Anda.

Nyatanya, dalam beberapa minggu yang lalu saya mendapati bahwa penjara juga memiliki kata yang positif. Kreatif, cita-cita, tawa, semangat, dan harapan.

Bersama beberapa teman, saya baru saja melakukan kunjungan ke penjara anak laki-laki. Saya ingat betul, awalnya ada teman yang mengirimkan broadcast message berisi ajakan untuk mendukung kegiatan ini. Entah kenapa, saat itu saya kurang tergerak bahkan cenderung mengabaikan. Namun, suatu hari pesan tersebut datang lagi dengan sebuah kalimat “Masa Lalumu, Bukan Masa Depanmu”. Ini sangat menyentuh saya, mengingat bagaimana hal ini menjadi salah satu panggilan saya dalam menjalani hidup. Bukan karena saya hebat, tapi saya pernah ada di posisi ini dan saya memiliki tujuan, mungkin visi yang sama, dengan mereka.

Singkat cerita, kami melakukan 3 kali pertemuan setiap Jumat selepas bekerja di salah satu gedung milik anggota tim kami. Pertemuan pertama, kami berkenalan tentunya karena banyak dari kami yang tidak saling mengenal dan kami sedikit membahas apa dan bagaimana penjara itu, siapa saja yang akan menjadi pembicara, bagaimana kebiasaan yang terjadi di penjara, dsb. Sampai pada akhirnya pembahasan mengenai nilai apa yang akan kami bagikan di sana, sesuai dengan misi kami, untuk mengenalkan dan menanamkan tentang gambar diri yang baik pada mereka.

IMG_20160809_232741

Pertemuan Pertama. Source: Tina

Pertemuan kedua, panitia mendatangkan pembina. Kami sadar bahwa kami tidak berpengalaman dalam hal ini. Ini adalah hal pertama yang mungkin untuk beberapa dari kami yang terjun menjadi suatu hal yang menegangkan. Para pembina sangat mendukung dan membantu kami dalam menemukan tujuan sederhana kami datang ke sana.

“Jika ada satu orang saja yang bertanya kapan kami kembali ke sana lagi,” ini ujar ketua acara.

Pertemuan ketiga, kami melakukan simulasi games, acara, hingga konseling dan penyembahan singkat.

IMG-20160731-WA0021

Simulasi untuk teman-teman yang tidak dapat hadir di hari Jumat. Source: Krisna

06 Agustus 2016. Hari di mana kami mendapatkan banyak keajaiban dan harapan di dalam penjara. Salah satu kegiatan kami di sana mengharuskan kami untuk menuliskan apa yang menjadi mimpi kami, harapan kami di masa depan. Namun, banyak dari kami kebingungan dan bahkan membutuhkan waktu yang lama untuk mengisinya. Tentu saja, saya menulis ingin menjadi penulis andal. Ini mimpi saya, bagaimana dengan Anda?

Masuk ke sesi pertama, kami diajak berkeliling, tur penjara, begitu mereka menyebutnya. Saya melihat banyak ruang kelas. Kelas memasak di dapur, kelas menjahit, kelas kerajinan tangan, kelas memotong rambut, bahkan kelas mekanik yang disponsori oleh salah satu perusahaan besar di Indonesia. Staf di sana berkata bahwa salah satu anak didik mereka memenangkan lomba yang diselenggarakan oleh perusahaan tersebut, hadiahnya adalah begitu ia bebas ia akan langsung menjadi montir di perusahaan tersebut. Bukan main!

DSC_8959

Tur Penjara. Source: Dimar

Pada paragraf sebelumnya, saya menegaskan kata anak didik. Ya, di sini mereka disebut anak didik karena tempat ini diharapkan dapat menjadi sekolah untuk mereka dan saat mereka lulus nanti, mereka dapat membangun masa depan mereka tanpa melihat kekelaman di waktu lalu.

Cerita seru, dimulai!

Setelah berjalan-jalan, kami berkumpul bersama anak didik di aula. Kami duduk menyebar di antara mereka. Saya salut dengan teman-teman saya yang keturunan tionghoa. Saya berpikir, bagaimana mereka menghilangkan rasa takut mereka dan perasaan lainnya saat berhadapan dengan mereka yang notabene berbeda warna kulit dan latar belakang agama. Apa mereka tidak takut? Tapi, kasih menutupi segalanya. Malahan, anak-anak usia remaja hingga usia remaja dewasa itu tampak asyik bersenda gurau. Salah satu di sebelahku bertanya, “Kak, mau ngapain ke sini?” dan aku menjawab “Mau ajak kalian main,” dan mereka sangat excited saat mendengarnya.

Kami bernyanyi bersama dan mengikuti Talk Show yang dibawakan oleh 4 narasumber luar biasa. Kak Andy, Kak Zico, Pak Bambang, dan Lucky. Sedikit cerita tentang mereka, Pak Bambang adalah mantan tahanan yang memiliki visi bahwa saat dia keluar dari penjara, ia ingin membangun sebuah rumah singgah untuk anak-anak yang bernasib sama dengan dia, yang setelah bebas belum siap untuk terjun kembali ke masyarakat. Rumah ini kini dikenal dengan nama Rumah singgah Socius, Bekasi, Jawa Barat. Kak Andy dan Kak Zico adalah mantan pemakai yang berhasil meninggalkan masa lalunya dan giat melakukan kegiatan positif untuk awareness di penjara. Lucky adalah seorang mentor mantan waria yang akhirnya kembali menemukan jati dirinya dan kini berprofesi sebagai make-up artist. 

DSC_9052

Talk Show. Source: Dimar

Saat mereka berbagi, anak-anak didik menjadi sangat antusias. Salah satu dari mereka ada yang langsung bertanya lokasi rumah Socius karena ia ingin ke sana setelah bebas. Tahukah Anda? Ia bercita-cita menjadi seorang penulis, ia tak cuma bermimpi, ia sudah menulis selama ia di penjara. Anak lainnya ikut bertanya, memiliki tato di lengan, ia ingin bertanya bagaimana Kak Andy yang tidak mempan masuk rehabilitasi, rumah sakit, dan lain-lain bisa lepas dari jerat narkoba. “Keluarga,” ini jawabnya. Keluarganya menjadi motivasi yang luar biasa untuk lepas dari narkoba.

DSC_9072

Sesi Tanya Jawab. Source: Dimar

Tak lama setelah sesi ini kami dibagi beberapa kelompok untuk bermain. Saya mendapatkan anak-anak dengan baju hijau, baju hijau adalah seragam yang dipakai anak-anak yang belum mendapatkan vonis, sedangkan oranye adalah untuk mereka yang sudah ditetapkan masa hukumannya. Saya dan fasilitator lainnya berkenalan dengan Asep, Ibra, Tegar, Pahlevi, Rachmat, Arman. Sayang, saat baru dimulai Levi mendapatkan kunjungan sehingga kami tak bisa bermain bersama.

Beberapa permainan kami lewati bersama-sama. Setiap permainan juga memiliki misi, lho. Seperti, mimpi atau tujuan bisa kita raih kalau kita berusaha, saat kita ingin maju jangan sampai kita mendengarkan apa kata orang tetapi percaya pada apa yang dapat kita lakukan, dan bagaimana pergaulan yang buruk dapat merusak kebiasaan kita yang baik. Oia, karena pernah tinggal beberapa waktu di Bandung, saya sempat berkomunikasi dan bermain dengan mereka menggunakan bahasa Sunda dan beberapa pertanyaan mereka lontarkan pada saya, seperti Bandungnya di mana, ngapain di Bandung dulu, dan yang paling unik adalah “Kakak piking bukan?” dan saya jawab, “Nteu, abdi mah hiking. Sukanya naik gunung…hahaha.”

Semakin lama menghabiskan waktu, saya mulai melihat setiap karakter dalam tim saya. Menjadi yang paling dominan, Asep akhirnya memimpin tim kami. Namun, ada yang berbeda dengan Ibra, Ibra cenderung pemalu dan tidak percaya diri. Sisanya, mereka menurut dan asyik saja dengan yang lainnya.

DSC_9158

Sesi Permainan. Source: Dimar

Oia, walau ini penjara anak laki-laki, kami turut mengundang beberapa teman dari penjara anak wanita.Ada 15 anak yang akhirnya belajar make-up bersama Lucky dan beruntungnya, kami mendapatkan sponsor dari sebuah merek kosmetik ternama di Indonesia. What a favor!

Waktu bermain dan belajar make-up pun usai. Saatnya sesi konseling dimulai. Karena dalam kelompok saya terdapat 5 anak dan 3 fasilitator, saya pun kebagian 1 anak, dan itu Asep. Entah kenapa saya mendapatkan dia. Sebelumnya, dalam kelompok besar kami membahas tentang siapa mereka dan apa yang menjadi mimpi-mimpi mereka.

  • Tegar: Ingin membuka rumah makan sunda dengan nama “Tamu Wajib Lapar”. Ya, Tegar jago memasak dan kami sangat mendukung mimpinya yang satu ini.
  • Arman: Ingin punya distro dan desain kaos sendiri dengan nama “BD (Beda) Design”. Dia suka menggambar dan mendesain kaos.
  • Asep: Pemain gitar listrik andal bersama bandnya “The Morning Time”. Dia sudah pernah manggung di alun-alun, lho.
  • Rachmat: Ingin berguna di keluarganya dan ingin kuliah di salah satu universitas di Madinah, dengan jurusan … saya lupa, yang jelas berhubungan dengan Alquran.
  • Ibra: Ingin membuka rumah makan padang-sunda.

Dalam konseling pribadi, Asep tidak banyak bicara sampai saya selesai bercerita tentang masa lalu saya dan apa yang pernah saya lewati. Ia bercerita bahwa ia melewati hal yang serupa. Setelah itu, kami membahas tentang bagaimana ia dapat menjadi dampak jika ia sukses menjadi orang yang berbeda di masa depan. orang yang memang diciptakan luar biasa dengan tujuan hidupnya sendiri. Kami membahas kata sukses, sukses melawan diri sendiri dan dapat mensukseskan orang lain.

Waktu begitu singkat, kami tidak bisa berbincang lebih jauh. Apalagi, kami mendengar bahwa tim kami menjadi pemenang karena kekompakan satu sama lain. WAH!

Tak lama, kami berpamitan dengan mereka. Saya ingat, saat akan berpisah saya mencari barisan kelompok saya dan anak-anak saya, disaat itu juga saya melihat Asep memandang ke arah saya, beberapa saat kami saling melihat dan saya tersenyum sambil melambai. Dalam hati, saya berkata “Semangat, Ya, Sep!” saya harap pesan ini sampai padanya.

Setelah kami meninggalkan penjara, kami kembali berkumpul untuk membagikan apa yang kami dapat di sana. Banyak pelajaran yang justru membuat kami terberkati. Tujuan awalnya kami ingin berbagi dengan mereka, namun malah mereka yang banyak memberi pelajaran untuk kami.

Salah satu hal yang membuat saya sedih adalah bagaimana anak didik wanita menceritakan asal-muasal mereka bisa menjadi penghuni. Wajah mereka cantik dan polos, salah satu di antara mereka pun menggunakan hijab. Mereka menjadi penghuni tak lain karena pacar mereka. Dimintai tolong untuk mengantarkan barang yang ternyata adalah narkoba. Belum lagi, saat sesi konseling salah satu fasilitator mengatakan bahwa yang mereka keluhkan bukan lah pekerjaan nantinya, namun jodoh. “Bagaimana dengan jodoh saya, Kak? Kalau mereka tahu latar belakang saya? Kalau pun mereka nerima, bagaimana dengan keluarganya?”

Untuk saya sendiri, apapun tindakan yang pernah mereka lakukan mereka tetap anak-anak yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian untuk mengubah dunia mereka. Karena kasih tak pernah gagal, kasih menutupi segala sesuatu. Saya juga belajar tentang komitmen, bagaimana berawal dari 6 orang yang memiliki misi namun misinya “tertolak”, tak menyurutkan semangat mereka. Bagaimana komitmen teman-teman yang tinggal jauh dari tempat meeting untuk tetap hadir, bagaimana teman-teman yang tak sempat datang meeting namun tak berkecil hati untuk ikut datang melayani, bagaimana usia tidak membatasi Tuhan berkarya (beberapa fasil sudah lebih senior dari kami dan mereka perempuan 🙂 ). Saya juga melihat langsung bagaimana Tuhan bekerja luar biasa untuk segalanya, mulai dari kebutuhan dana yang awalnya defisit dan rasanya tidak mungkin terkumpul dalam waktu singkat justru jadi berkelimpahan. Belum lagi kendaraan, fasilitator, ruang meeting, konsumsi, teman-teman baru dan pengalaman serta value yang luar biasa untuk masing-masing kami. LUAR BIASA!

DSC_8929

All Team. Source: Dimar

Penutup, salah satu tante (fasilitator) mengatakan bahwa ada seorang anak yang bertanya padanya kapan kami akan ke sana lagi, ia sangat berharap kami dapat mengunjunginya sebelum ia keluar di bulan Desember. Dan ini lah yang menjadi harapan kami, hal ini menjadi jawaban dari tujuan kami serta menjadi semangat baru untuk kami yang percaya bahwa mereka bisa menjadi orang yang lebih baik di dalam hidup mereka. Ini menjadi alasan kami untuk mempersiapkan kunjungan selanjutnya. #masalaluubukanmasadepanmu

Harapan ada, harapan ada… Bila kau percaya – GF

DSC_9024

Source: Dimar

xox,
Ninta.

Menikmati Kesendirian

Seringkali kesendirian atau sendiri dikaitkan dengan kesepian. Padahal, banyak hal yang bisa didapatkan ketika kita mengambil waktu untuk menikmati dan mencintai kesendirian kita.

“Until you feel comfortable with solitude, you’ll never know if you pick somebody because of love or loneliness.”

Cerita Desy Anwar, yang disarikan oleh teman saya ini, mungkin dapat membantu Anda mengenal apa itu kesendirian, solitude, single dan beragam hal yang mungkin belum terpikirkan oleh Anda. Enjoy! 🙂

Sharing is Caring!

sumber foto: theodysseyonline.com sumber foto: theodysseyonline.com Bagi kebanyakan orang, sendiri itu sama dengan tidak bahagia. Kita berpikir dengan adanya kehadiran orang lain, maka kita akan bahagia. Pola pikir inilah yang membuat kita menjauhi kesendirian dan selalu berusaha mendekatkan diri pada keramaian. Sehingga, lama-kelamaan kita jadi lupa caranya menikmati kesendirian. Apabila kita tidak menikmati waktu yang kita habiskan bersama diri kita sendiri, bagaimana mengharapkan orang lain akan menikmati kebersamaannya dengan kita?

View original post 346 more words