It’s Hard, God. But, Well Done, My Dear

98599f06de8fd96aabf86c939ed6e835

Source: Pinterest

 

“Well done, My dear.”

Ini adalah sebuah kalimat yang seorang Ninta dengar ketika dia berdiri, mengantre untuk masuk ke dalam toilet. Seketika itu juga air mata meluncur membasahi pipi ini. Mendengar kalimat tersebut rasanya mengalahkan perasaan ditembak gebetan atau mendapatkan Nobel. Well, ditembak gebetan pastinya pernah. Sedangkan Nobel, mungkin masih di angan-angan. But, at least i received a compliment from The Almighty One. 

“What? Are you kidding me?”

Yeah, maybe this question is up on your head. It’s oke. I know, maybe right now you wont believe it. But, if you have the same experience… i’m pretty sure you believe in me.

So, what is the cause that bring The Almighty One talk that sweet to me? *pardon my bronglish a.k.a broken english.

Suatu hari bertahun yang lalu, God just sent me a mission. Memang benar, bertahun yang lalu aku sendiri pergi ke gereja dan mendengar kotbah dari Ps. Sidney Mohede. Actually, the sermon is not about purpose, but because of that sermon i’ve got my vision. Percaya nggak percaya, sih. Nah, satu kalimat yang terlintas dalam pikiranku saat itu adalah tentang anak-anak broken home. Maybe, we’re broken. But, we’re not a broken creation.

Maybe, we’re broken.
But, we’re not a broken creation.

Then, because of i love to write… i thought i will write a book. Mulailah dengan perencanaan pengumpulan materi, bukunya akan seperti apa, tentang apa, siapa yang harus aku wawancarai, dan lain-lain. Yes, i think and plan that far.

Kemudian, berjalannya waktu kok kayaknya ribet dan lama-lama mulai kendor semangatnya. Tapi, aku tetap menulis tentang hal-hal yang bisa aku bagikan melalui blog yang satu ini. Dan semua berjalan dengan baik sampai suatu hari aku melihat sebuah testimoni tentang seorang remaja lesbian yang bertobat. Penyebab awalnya nggak lain dan nggak bukan adalah keretakan keluarga.

Yup, peran keluarga adalah hal yang sangat penting dalam pembentukan karakter seorang anak. Terutama, peran ayah. So, nggak heran kalau kamu harus teramat sangat hati-hati dalam memilih laki-laki as your spouse nantinya. Karena iblis sangat senang “bekerja” menghancurkan generasi melalui laki-laki. Kamu bisa tonton video Ps. TD Jakes tentang laki-laki  di sini.

Nah, aku benar-benar terinspirasi dengan testimoninya. Dalam hati bilang, one day aku bisa nggak ya melakukan hal yang sama seperti dia? It’s an honour for me untuk menyaksikan kebaikan Tuhan yang sudah menyelamatkan aku. Then, kamu pikir iblis seneng dengar permintaan bodohku? Nggak!

Setelah lama berselang, suatu hari di bulan Juli aku beribadah di Kota Kasablanka. Telat. Jadilah aku harus beribadah di depan pintu. Waktu lagi asyik penyembahan (sambil malu-malu karena telat, booo!) Holy Spirit speaks to me. Terjadilah percakapan yang luar biasa dalam hati.

Notes: Kamu boleh bayangkan suara Roh Kudus sesuai kemampuan dan kepercayaan kamu, ya.

“Ninta, kamu harus membagikan pengalamanmu.”

“Hee? Yang mana, nih?” , sambil merem melek menyembah.

“Yang memalukan itu. That one.

What? Sekarang banget? Are you kidding me? Aku baru saja pindah komsel. Sama komsel lama saja aku nggak cerita, gimana komsel baru. They don’t know me at all. Gimana kalau mereka judge aku? Aku anak baru.”

Just do it. Kamu kan mau bicara tentang ini di depan banyak orang. Mulai lah dari DATE kamu. Lalu, This Is My Story. Dan semua akan terjadi sesuai sama rencanaKu.”

Hmm… gini deh, iya aku tahu aku ingin ‘menyelamatkan generasi’ dan punya purpose ke sana. Tapi, aku belum siap ini. Kalau memang aku harus membagikan tentang hal ini, kasih aku jadwal 5 minutes sharing. Aku nggak mau ujug-ujug share tentang ini. Malu kali…”

Suara itu menghilang.

Hari berganti dan jadwal tugas di DATE alias komselku pun tiba. You know that Holy Spirit can use everyyyyyybody to fulfill the plan. Jadwal 5 minutes sharing tertulis nama NINTA. Mau mengelak gimana lagi?

Stage one, done.

Setelah itu, Roh Kudus nggak berhenti bicara sama aku.

“Kapan mau susun naskah untuk This Is My Story?”, “Kapan dirampungkan?”, “Ayo, dong mulai nulis.”, “Cepetan kirim.”, “Udah tinggal sent, tuh.”

Percayalah, ini benar nyata. Kalau kamu belum pernah dikejar deadline nya Roh Kudus, mungkin kamu perlu minta sama Dia.

Mudah? Nggak. Segala sesuatunya aku pikirkan. Bagaimana nantinya kalau ternyata karena hal ini nggak ada yang mau sama aku? Apa kata orang-orang yang kenal sama aku? Apa kata keluargaku? Dan banyak pertimbangan lainnya. But, at the end, Tuhan cuma ingatkan aku.

Ketika video ini muncul, ini akan menjadi berkat yang besar untuk aku dan banyak orang. Jadi, aku harus menyelesaikan misi ini. Huft. Dan aku meng-iya-kan apa kataNya. Setidaknya, dengan video ini aku bisa menyaring mereka-mereka yang akhirnya memiliki hati untuk aku. Aku nggak perlu repot menjelaskan siapa aku dan percaya kalau Tuhan bekerja melalui aku. Dia backup aku. Aku alatNya.

Aku alatNya.

Stage two, cerita sudah dikirim. No response. Sampai suatu siang, Ps. Alvi mengirim e-mail yang berisi akan menjadikan ceritaku sebagai video testimoni terpilih. Selang waktu berjalan, aku menunggu lama untuk merealisasikannya. Hampir setahun berselang, akhirnya pesan itu datang juga. Namun, dasarnya iblis nggak suka, ada saja halangan yang membuat syuting video ini nggak lancar. But, ini nggak sepenuhnya salah iblis. Ini juga ada salahnya aku.

Tapi, Tuhan baik. Intinya, Tuhan nggak mau aku dipermalukan. Dia benar-benar menyelesaikan masalahku sepenuhnya, baru Ia mengizinkan video ini selesai dan ditayangkan. Jarak antara syuting terakhir dan pemutaran video hanya satu minggu. Jarak yang cukup singkat. Final stage, done.

 

bfdd6b0a4d7f4ed1d8d7129e3f02fe73

Source: Pinterest

20 Januari 2018.

Aku berdoa sekitar setengah jam waktu itu. Jam 1 sampai jam 1.30 am. Can’t sleep. Aku berdoa untuk video yang besoknya akan diputar. Inti doaku adalah:

  1. Editor sudah mengedit video dengan baik
  2. Video ini bisa benar-benar jadi berkat
  3. Pesan dari video ini benar-benar sampai ke yang membutuhkan
  4. Ada satu orang saja yang messagge aku sebagai respon konfirmasi dari videoku
  5. Aku tidak dipermalukan, jujur, aku tetap nggak siap karena aku cukup dikenal di gereja. Dan ini bukan hal lumrah untuk disaksikan.

21 Januari 2018.

Jujur (lagi), aku sebenarnya ragu apakah benar video ini diputar minggu ini. Hari ini. Hampir setiap jam aku terbangun dan menantikan pesan di layar gadget. Dan tepat pukul 08.11 am, salah satu teman panitia pada waktu DATE gabungan kemarin mengirimkan pesan.

“Hi, Nin. Thanks for sharing what God has done for you. It’s kind of…. confirmation to me. Happy Sunday and God bless you.”

HOAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH! *sorry alay.

What is this, God?

Kemudian, pesan demi pesan bermunculan seharian.

“We thankful for your courages, your bravery heart. So, we know we’re not alone. And we are blessed.”

Tanpa melebih-lebihkan, inilah kesimpulan yang aku dapatkan atas jawaban doaku selama ini. Dan 21 Januari 2018 akan menjadi sebuah tanggal bersejarah untuk perjalanan hidup dan panggilan hidup seorang Erninta Afryani Sinulingga, or you can call me Ninta Afryani.

Yes, it’s not easy to share your scars, but God can use it if you want.

Seorang pemimpin berani terbuka akan masa lalunya (weakness) supaya menjadi inspirasi untuk orang lain.

Aku mendapatkan kalimat ini dari salah seorang leader di gerejaku. Frankly, i’m speechless. Begitu banyak pesan yang datang dan mengatakan kalau mereka terberkati. Dan semakin banyak lagi cerita yang aku dapatkan. Bagaimana mereka pun mengalami hal yang sama, tetapi nggak tahu mau cerita pada siapa. Dan aku semakin yakin untuk mengatakan, “Yes, God. You can use me.”

 

c87e61182d460eb9ca79e09b5f217d0b

Source: Pinterest

 

Dari penyerahan tugas pertama hingga video ditayangkan memakan waktu hampir 2 tahun. Tuhan bekerja. Melalui pergumulan selama 2 tahun tersebut. Melalui jatuh bangun di 2 tahun tersebut. And i’m SURE that God is working in holistic way. Pekerjaannya untuk sebuah  misi nggak pernah setengah-setengah. Dia tahu kapan waktu yang tepat.

By the way, few days before the video coming up… Aku ikut DMS (Discipleship Ministry School). Di sana, aku berdamai sama Tuhan. Ya, aku sempat ngambek sama Tuhan dan ini termasuk dalam proses jatuh bangunnya aku. Dan bersyukur melalui semua materi yang diajarkan, aku semakin paham tentang Dia dan cintaNya. PekerjaanNya di bumi ini. Di hari terakhir, kami belajar tentang nubuatan. Salah satu nubuatan yang aku dapatkan dari leaderku adalah:

“Saya merasa bahwa Tuhan akan memberikan sebuah kehangatan yang baru di dalam hidupmu. Mungkin ada masanya kamu merasa dingin dan beku. Tapi Tuhan ingin membawa satu kehangantan baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dan itu akan membuat engkau merekah dan engkau akan seperti bunga yang merekah yang akan bisa dinikmati oleh orang-orang.

Engkau akan jadi sebuah tanda yang baik buat orang-orang. Sebagai satu kesaksian yang baik bagi orang lain. Hidupmu yang merekah itu, menjadi berkat buat orang lain dan akan keluar bau yang harum dari engkau untuk orang lain. I feel that. The warm of the Lord.”

Percaya nggak percaya (sekali lagi), Tuhan bisa bicara lewat siapa saja. Dan hal ini nggak hanya dinubuatkan oleh satu orang. Nubuatan lainnya akan aku tulis in another page, ya.

And, at the end. Aku ingin menyampaikan bahwa siapapun kamu, kamu bisa dipakai oleh Tuhan. Kesaksian tentang kasihNya, kekuatanNya, kebaikanNya, nggak hanya bisa diceritakan melalui kesuksesanmu. Luka, cacat, cela, yang terjadi dalam hidupmu pun bisa dipakaiNya untuk pekerjaan tanganNya.

Kalau kamu mau, Dia bisa pakai. Asal kamu mau, kamu  menyerahkan hidup kamu sama Dia, dan bersedia di proses (proses itu nggak enak tapi membahagiakan pada akhirnya). Dia mengasihi kamu.

P.S: For video, you can PM me. 🙂

XOX and to God be the glory,

Ninta

dd62d371cd589e766b74bafd0356fd72

Source: Pinterest

 

Advertisements

Mama: Pernikahan Bukan Tentang Cincin

Salah satu yang menjadi elemen penting dalam sebuah pernikahan adalah cincin. Cincin yang berbentuk bulat pun sering dianggap sebagai simbol ikatan yang nggak akan pernah berujung, yang diharapkan terjadi dalam setiap pernikahan. Cincin juga merupakan hadiah terindah yang diharapkan kebanyakan perempuan dari pasangannya lebih dari apapun.

Aku punya cerita tentang cincin…

Suatu hari waktu aku masih kecil, kedua orang tuaku mengunjungi sebuah toko emas. Seingatku, aku tinggal di dalam mobil dan menunggu beberapa waktu bersama adikku. Tidak lama kemudian, papa dan mama datang ke mobil dan kemudian kami pulang. Beberapa waktu kemudian aku menemukan cincin di jari manis mama menghilang.

Satu cerita lain yang aku ingat adalah ketika mama menggadaikan perhiasannya. Entah itu termasuk cincin pernikahan milik mama atau tidak. 

Aku lupa mana cerita yang benar, tapi aku ingat dua kejadian di atas. Kejadian di masa laluku. Ketika semua benar-benar tidak enak.

Hmmm… Dulu aku pernah hidup dalam kelimpahan. Aku pernah merasakan hidup dengan dua pembantu di rumahku yang kecil. Aku pernah merasakan bagaimana hidup berkecukupan. Sampai suatu saat, aku harus menerima kenyataan kalau kehidupan berubah. Bahkan kenyataan kalau mama nggak akan pernah memakai cincin pernikahannya.

Sebabnya adalah cincin itu dipakai untuk membantu biaya kehidupan keluarga kami atau mungkin dipakai untuk menambah biaya sekolah kami. Jujur, sampai sebelum aku cukup dewasa aku kesal. Sangat kesal.

Bagaimana mungkin begitu tega menjual cincin pernikahan? Bagaimana mungkin merelakan cincin pernikahan untuk setumpuk uang? Pernikahan itu kan sekali seumur hidup. Trus, kalau cincinnya dijual nanti gimana? Sejak saat itu, aku bercita-cita untuk mengembalikan cincin tersebut. Cincin pernikahan untuk menjadi salah salah satu wish aku di tahun ini.

Saat itu, mungkin aku masih terlalu naif untuk memahami bahwa pernikahan bukan hanya masalah cincin. Lebih dari itu, pernikahan adalah sebuah pelayanan yang besar yang Tuhan berikan pada kita, kelak. Pernikahan berarti memberikan komitmen seumur hidup pada satu cinta. Pernikahan berarti beradaptasi dan menyesuaikan. Pernikahan berarti bagaimana bertumbuh bersama. Dan lebih dari itu semua pernikahan adalah hal yang sulit dijalani untuk mereka yang masih tidak tahu apa yang mereka inginkan. Pernikahan itu pengorbanan. Pernikahan itu mengisi kotak kosong dengan kebahagiaan. Pernikahan adalah hal yang sulit dijalani untuk mereka yang tidak mau berubah, belajar, dan berusaha. Pernikahan adalah hal yang sulit jika tidak dijalani dengan bahagia dan belajar membahagiakan pasangannya.

Marriage is a work in progress. – AR.Bernard

Aku sendiri belum menikah. Beberapa kali membaca buku tentang pernikahan, aku hanya berpikir apakah aku benar mampu menjalaninya kelak? Apakah aku bisa bertemu dengan pasangan yang bisa bekerjasama dengan baik? Berkomunikasi dengan baik? Memiliki keterbukaan yang baik? Dan banyak sekali pertanyaan yang ada di dalam kepala ini. 

Namun, belajar dari pengalaman mama. Pernikahan bukan sekadar cinta dan cincin semata. Pernikahan adalah tentang komitmen, kasih, penerimaan, memaafkan, mengupayakan, tidak bertoleransi dengan hal yang tidak benar, pertumbuhan, perubahan ke arah lebih baik, menjadi diri sendiri, bekerjasama dalam sebuah visi, jauh dari keterpaksaan, dll.

And today, I really thank God because after years I can make my dream comes true. I thank God ‘coz I can bought a beautiful ring for my mom as a present. For her birthday, mother’s Day, and Christmas gift.

This hand is my favorite. This hand is my home. Thank you for everything, Mom.

Love,

Ninta.

Oh My God! This Is Gray Hair…

“Oh my God! What is this?”

Jujur saja saya sempat teriak dalam hati saat menemukan uban pertama di kepala saya. Uban ini saya temukan ketika saya sedang mengeringkan dan menata rambut sebelum berangkat ke gereja.

Wait, usia saya belum setua itu. Masih berada di kepala dua. Masih muda dan rasanya saya ingin menolak kenyataan kalau saya memiliki uban.

Sejujurnya, kurang tahu juga apa penyebab uban ini ada. Apakah memang karena pigmen rambut saya yang tidak begitu kuat? Ataukah ini akibat pewarnaan rambut beberapa tahun yang lalu? Atau memang sudah waktunya saja uban itu tumbuh?

Lalu, kenapa harus cemas? Kebanyakan orang cukup cemas saat mengetahui bahwa ia memiliki uban karena ini adalah salah satu tanda kalau mereka sudah mulai tua. Is that right?

Lalu, bagaimana dengan saya sendiri? Jelasss… Pertama melihatnya saya tercengang, diam, dan berusaha mencabut nya. “Malu lah kalau tahu punya uban.”

But, sambil meneruskan untuk menata rambut dan berdandan saya mendapatkan hal yang berharga. Saya mulai berpikir seperti ini…

“Ninta, tahukah kamu, banyak sekali orang di luar sana yang harus kembali pada Bapa sebelum ia melihat ubannya sendiri. Yang belum sempat melakukan banyak hal untuk dirinya dan orang lain. Yang belum sadar bahwa ia semakin tua dan tak banyak melakukan apa-apa. Karena nyatanya nggak semua orang punya usia yang panjang dan berkesempatan untuk melihat bagaimana satu persatu rambut mereka memutih. Kamu begitu beruntung. Kamu masih bisa menyadari kasih dan penyertaan Tuhan selama ini. Sejak kamu dilahirkan hingga kini kamu bisa melihat satu persatu rambutmu mulai memutih…”

Dan saya mulai berkaca-kaca sambil membubuhkan bedak lipstik. Bisa saya bayangkan betapa Tuhan sayang saya sampai hari ini. Dengan semua yang sudah saya lakukan, mau kemana lagi saya berlari? Tuhan itu baik.

Bahkan Dia masih terus dan terus menggandeng tangan saya di saat apapun. Saya masih bisa melakukan banyak hal sampai saat ini juga hanya karena kasihNya. Lalu, apa yang salah dengan uban?

Sekarang, saya membalikkan pertanyaannya. Sampai rambut saya perlahan memutih… Apa yang sudah saya buat untuk Dia, yang benar-benar mengasihi saya?

Bagaimana dengan kamu? 🙂

Xox,

Ninta

When God Speak In Your Mind

If you feel God is so far, you’re wrong. Totally wrong.
God is always in us. You can feel it, you can hear His voice clearly if you want.

This morning, I’m coming late to go to morning chapel at the office. When I decide to not join them, holy spirit tell me “Go!” then I can’t deny but obey. I just think, “Yaudalah ya. Paling lagi sesi baca Firman. Daripada di sini gamang nggak jelas.”

I open the door and looking for the sit. Then, one of the counselor wave her hand and tell me to sit beside her. After the last sentence of the story, suddenly the counselor beside me speak and she told us that she want to share about “Cognitive Therapy”.

Cognitive therapy is a therapy for the mind to always set the positive. You know… Then she asked to open the Bible, Phillipians 4:8 (KJV)

“Finally, brethren, whatsoever things are true, whatsoever things are honest, whatsoever things are just, whatsoever things are pure, whatsoever things are lovely, whatsoever things are of good report; if there be any virtue, and if there be any praise, think on these things.”

This is the third time I heard about this. God speaks louder to me again and again. In this condition, so many things entering my mind, with many speculation, many choices, many wrong insight. But, He know that His children, specialy me, is so weak and need to strengthen. So, He always speak through everything to keep me strong.

Then, the counselor continue her story about this verse. Yes, it is not easy but not impossible. She added another verse. Rome 12:3 (KJV)

“For I say, through the grace given unto me, to every man that is among you, NOT TO THINK of himself MORE HIGHLY than he ought to think; but to think soberly, according as God hath dealt to every man the measure of faith.”

Sometimes, we take everything around us to our mind and process it to be something bad. Without filter it. That’s human’s tendency. Then, that minds cause us to worry, anxious, sad, stress, depression. I talk this because I’ve been there. But, if you win from this feelings, you’ll become stronger.

One more time I tell you, this is not easy. But, if we willing to hear God’s voice, obey to where holy spirit guide us, and still believe that our Father is so so good, we will never be the same. We know what we should do.

I write this to remind me. I know this is for me. And I know that God is always be with me, I’m not alone no matter what. I’m His no matter what. And He loves me no matter what. The thing is, problem still there. While we’re crowling, we have freedom to choose to keep moving or to stop and give up. 

My pastor said, devil doesn’t worried when you have faith, devil worried when you always HOPE. Devil worried when you KEEP MOVING, even you’re crowling, because you know there’s a HOPE. Because you don’t want to stop.

So, I ask my self, “Do you want to let go the negativity and keep moving or still live in that mind and it’ll makes you weaker and hurted more and more?”  So, I decide to keep moving with Him. And these days I feel better. I can smile again. And… What about you?

Pardon my English, xox

Ninta.

Ps: i wanna say thank you for one of my friends who text me in the middle of the night and say..

“Ok, let’s pray for peace and wisdom to be upon you. You really need it. I can’t say much but I know for sure He has a plan in the midst of this uneasy season.”

Pray

Praying woman hands
I need you to soften my heart
And break me apart
I need you to open my eyes
To see that You’re shaping my life

All I am, I surrender

Give me faith to trust what you say
That you’re good and your love is great
I’m broken inside, I give you my life

I need you to soften my heart

And break me apart
I need you to pierce through the dark
And cleanse every part of me

All I am, I surrender

Give me faith to trust what you say
That you’re good and your love is great
I’m broken inside, I give you my life

‘Cause I may be weak
But Your spirit strong in me
My flesh may fail
My God you never will 
I may be weak
But Your spirit strong in me
My flesh may fail
My God you never will

Give me faith to trust what you say
That you’re good and your love is great
I’m broken inside, I give you my life

‘Cause I may be weak
But Your spirit strong in me
My flesh may fail
My God you never will

I may be weak
But Your spirit strong in me
My flesh may fail
My God you never will

Christopher Joel Brown / London Weidberg Gatch / Mack Donald Iii Brock / Wade Joye

Be Still.

WhatsApp Image 2017-04-08 at 6.52.09 PM.jpegBe still = Diam = Bergeming.

Dalam hal ini, diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Diam berarti tidak mengandalkan kekuatan diri sendiri, melepaskan semua kata “Tapi,”, dan membiarkan Tuhan mengambil kendali atas pikiran dan hati kita.

Ketika bicara tentang HARUS DIAM, rasanya mudah, ya. Tapi, praktiknya? LUAR BIASA.

Berbagi pengalaman aja, dalam membangun relasi bersama @haricahyadi_ it’s really not easy. We’ve met by God’s voice (people said that it’s supranatural things. Uncommon) and we still learn about one each other. Bcz of that, kami memutuskan untuk benar-benar dengar-dengaran sama maunya Tuhan, yang ketemuin kita.

Setiap hari, kita berdua sama-sama mendoakan tentang hubungan ini dan bertanya sama Tuhan tentang apa yang harus kami bereskan atau apa yang harus kami ceritakan saat kami telponan di malam hari. Sampai pada suatu hari kami bicara tentang pekerjaan.

At one point, Ninta ada di dalam kondisi AMBISIUS dalam sebuah hal mulai mengatakan “Tuhan, gini ya. Plannya adalah bla bla bla. 1, 2, 3.” as always, plan plan and plan. Dan menarik kesimpulan tanpa mau tahu apa sih yang Dia mau.

I take control of everything. Then, when we pray about that, entah kenapa saya merasa bahwa hal ini nggak berjalan lancar. Hal ini nggak membawa sukacita baik buat saya atau pun dia. AKHIRNYA MEMUTUSKAN KEMBALI UNTUK BERDIAM.

Tarik napas, buang napas “Jadi Tuhan, maunya gimana?”

Tawar menawar pun dimulai sampai akhirnya Tuhan hancurkan semuanya dan saya kembali tenang. After that, saya bicara sama dia tentang apa yang saya pikirkan dan saya terima dari Tuhan. Saya benar-benar merendahkan hati saya untuk menerima semua yang akan dia katakan dan saya juga benar-benar hati-hati dengan setiap kalimat yang saya akan utarakan.

Sejak siang hari, saya udah bilang sama dia nanti malam tolong ingatkan kalau saya mau bicara hal penting tentang “How God Lead Me To Find A New Job”. Percayalah, pembahasan kami tidak seberat itu, tapi entah kenapa Tuhan selalu buka hal baru setiap hari supaya saya dan dia saling belajar.

Malamnya, saya cerita panjang lebar sampai akhirnya saya bilang, “Kakak paham?” then, saya tanya sama dia tentang hal yang pernah kita bicarakan. Betapa kagetnya saya kalau ternyata dia sebetulnya tidak memiliki hati yang full pada apa yang kami (means saya) bicarakan. Oh, God! Please lah Ninta!

Akhirnya, dia bilang semua yang ada di pikiran dia tentang hal tersebut. Di satu sisi memang dia setuju, tapi di sisi lain ternyata ada hal yang memang sudah dititipkan Tuhan sama dia dalam pekerjaan yang saat ini dia lakukan.

WHAT??!

CAN YOU IMAGINE IF I”M NOT TAKES TIME TO PRAY AND COMMUNICATE WITH HOLY SPIRIT? Saya hanya akan membawa hubungan ini sesuai maunya saya. Bukan maunya Tuhan. Saya akan merusak visi nya Tuhan untuk dia yang harus dijalani melalui pekerjaan dia yang sekarang. Hmmmhh…

Saat berdoa dan berusaha melepaskan kekang yang saya pegang, memberikan semua kertas plan yang sudah saya atur ke Tuhan itu nggak gampang. Tapi, Tuhan bilang sama saya, “Kalau kamu mau ikut rencana Ku, semua akan baik-baik saja. Nurut deh!”

Nah, perencanaan yang saya buat ini sejujurnya dilandasi oleh rasa takut atau cemas saya. Nggak banget, kan? Iya.

Dari sini saya kembali belajar benar-benar bahwa melibatkan Tuhan dalam membangun relasi itu bukan hal yang sepele. Ini wajib!

Pelajaran lain adalah, semua hal yang berkaitan dengan perencanaan kita kalau kita serahkan sama Tuhan pasti akan mendatangkan kebaikan. Tapi, kalau semua yang kita lakukan itu nggak sesuai sama rencana Tuhan pasti cuma akan membuat kita gelisah. Bisa jadi nggak dapat dukungan dari orang sekitar. Bahkan, bisa-bisa kita memilih menjauh dari suara Tuhan karena yang kita mau dengar adalah suara kita sendiri.

Nggak kebetulan ayat Perjamuan Kudus minggu kemarin adalah…

Mazmur 32:8

“Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kau tempuh. Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.”

The question is…

Bagaimana caranya kita bisa mendengarkan suara Tuhan kalau kita nggak ambil waktu untuk DIAM?

Ps:
Saat kita ada dalam sebuah masalah, DIAMLAH! Be Still.
Diam bukan berarti badai nggak datang. Tapi, ketika badai terjadi KEPUTUSAN apa yang kita ambil? Kita yang mengendalikan masalah atau masalah yang mengendalikan kita. (JC)

So, be still!