He Never Leave Us

Pernah nggak sih ngebayangin gimana rasanya berjalan di jalan setapak, di antara semak belukar yang berduri, yang berwarna hitam pekat, nggak ada cahaya, dan kamu berjalan sendirian? It sounds creepy. But, I have feel it.

Beberapa waktu lalu saya terus mengalami pergumulan demi pergumulan yang jujur membuat saya sempat merasa sangat lelah. Perasaan ini bahkan membuat saya berpikir bagaimana kehidupan setelah kematian? Bagaimana saya mengatasi suatu hal ketika saya sudah benar-benar nggak mau lagi berurusan sama hal tersebut?

Saya kerap mengalami sulit tidur karena rasa kesal pada diri sendiri (dan orang lain) yang saya miliki, rasa nggak mampu lagi percaya sama orang lain, rasa di mana saya nggak mau ketemu dan berurusan sama siapa-siapa lagi.

Suatu malam, saat saya sulit tidur dan mengalami delusi, saya merasa saya makin sulit bernapas, saya ingin menutup mata namun takut jika saja saya nggak akan bangun lagi. Setengah nyawa, saya melihat suasana kamar saya berubah. Dinding yang biasanya gelap, semua mendadak terang bagai dicat putih.

Sisi kanan, kiri, depan, belakang. Nggak ada bayangan ventilasi. Nggak ada bayangan lemari. Sampai-sampai saya merasa saya harus tampar diri saya supaya saya kembali sadar.

Alhasil, setelah menggelengkan kepala beberapa kali, saya mulai melihat kembali bentuk kamar saya. Am scared about that. I know, too much burden and traumatic can cause anything. And I feel it at that time.

Hmmh…

Kira-kira begitulah “semak belukar” yang saya alami. It makes me so down. I feel like I can’t trust nobody. I just feel that only God knows me. Tapi, walau demikian aku seakan berjalan tanpa harapan.

Beralih sedikit ke cerita lain, aku baru saja melakukan rock climbing. Dan ini adalah salah satu bucketlist dalam hidupku. Dulu, sebenarnya bungee jumping adalah keinginan utama. Tapi, rasanya nggak mampu jadi aku memilih untuk mencoba olahraga ekstrem yang lain.

Gunung yang aku panjat ini adalah Gunung Parang, Purwakarta. Ini adalah gunung dengan via ferrata tertinggi se-Asia Tenggara. Memang aku nggak manjat sampai puncak. Tapi, aku berhasil mengalahkan diriku sendiri di ketinggian 350M. And I proud of my self.

Lalu, apa hubungannya dengan cerita sebelumnya?

Setiap kita di dunia ini memiliki gunung atau lembah sendiri dan seringkali kita melihatnya sebagai sebuah hal yang menakutkan. Hal yang nggak bisa kita taklukkan. Kita melihatnya sebagai sebuah kegelapan yang pekat dan ketinggian yang menembus langit. Impossible banget lah rasanya.

Ditambah lagi, seringkali kita berteriak, “God, I can’t do this! I can’t do this anymore.” Then we’re crying. Peeps, I wanna ask you something.

Seberapa cepat kita meminta tolong sama Tuhan, curhat sama Tuhan ketika kita menghadapi kegelapan atau ketinggian yang menjadi masalah kita tersebut? Saat itu juga? Atau kita justru langsung mencari our gadget to update our status. Atau kita justru langsung panik menelpon atau menghubungi teman-teman kita untuk meminta tolong supaya mereka mendengar apa yang ingin kita sampaikan?

That fast!

Kita nggak terbiasa untuk langsung memanggil Dia sang penyelamat dan pelindung kita. Kita akan berlari sangat cepat untuk dunia. Padahal, kita tahu kemana kita harus mencari pertolongan pertama.

Now, i realize about that.

Kita nggak sebegitunya mengandalkan Dia. Kita nggak sepenuhnya mau dipegang sama Dia. Kita berusaha mencari jalan duluan, sedikit sabar, dan merasa nggak mampu tanpa nanya atau ngomong dulu sama Bapa kita.

We’re affraid. We’re worry. But, we are not let God take control. Kita sibuk sama cara kita sendiri. I told you this cz I know what am talking about.

Setiap kali aku membayangkan lembah atau jalan setapak yang penuh semak belukar tadi, aku seakan menangis dan benar-benar nggak bisa melewatinya sendiri. Sampai suatu waktu aku kembali memutuskan untuk bilang sama Tuhan kalo aku nggak sanggup lagi. Aku butuh digendong.

You know, saat itu juga Tuhan nunjukin kalau dia itu nggak pernah ninggalin kita. Aku benar-benar melihat dia berjalan bersama-sama denganku, menggandeng tanganku, dan nggak ada satu pun bagian dari semak belukar itu yang menyakiti aku. Luka atau lecet itu ada, tapi Tuhan menggandeng aku melewatinya.

Sama seperti ketika aku mendaki gunung batu setinggi 350M itu. Awalnya, aku merasa itu pasti akan sulit untuk dijalani. Tapi, nyatanya saat aku sudah mulai melangkah setapak demi setapak, aku berhasil tiba di puncak. Setiap kali selalu menyemangati diri sendiri. Setiap kali selalu minta Tuhan tolong.

Lalu kenapa nggak melakukan hal yang sama dalam kehidupan? Toh, hasilnya Tuhan mampukan.

Perjalanan saya dan teman-teman mendaki gunung tersebut direkam oleh seorang teman. Setelah videonya jadi, kami melihatnya dan nggak percaya kalau kami mampu dan berhasil menaklukkan gunung setinggi itu dengan cara memanjat.

So, peeps… Saat ini, mungkin kamu dan aku sedang berada dalam kondisi yang penuh kalimat “Nggak mungkin. Ini sulit. Aku ingin berhenti.” Tapi, kalau kita tahu kita mengandalkan siapa, kalau kita mau menyerahkan kendali sama Dia, percaya penuh sama Dia, dan keep being nice, percayalah… Kita akan sampai di tempat seharusnya dengan bangga dan bahagia. Achieve! Achieve! Achieve!

Dan ketika melihat kembali ke belakang hasil “rekaman” perjalanan kita, kita bisa menyadari kalau sesuatu yang awalnya nggak mungkin itu jelas dan sangat mungkin untuk Tuhan.

Aku nggak bilang setelah menyerahkan semuanya maka dalam waktu cepat semua akan baik-baik saja. Tapi, Tuhan pastikan Dia nggak akan pernah ninggalin kamu di saat semua orang pergi bahkan nggak peduli sama kamu.

Dan pada akhirnya…

Aku melihat serta menitikkan air mata ketika menyembah dan mengadu pada Dia dengan sebuah lagu. Saat aku menutup mataku, aku jelas melihat Dia menggandeng tanganku erat, dan aku sangat kecil, dan kita berdua berjalan bersama-sama walau kepalaku masih tertunduk.

“Engkau ada bersamaku
Di s’tiap musim hidupku
Tak pernah Kau biarkan ku sendiri
Kekuatan di jiwaku
Adalah bersamaMu
Tak pernah ku ragukan kasihMu…
BersamaMu Bapa
Kulewati semua
PerkenanMu yang teguhkan hatiku
Engkau yang bertindak memberi pertolongan
AnugerahMu besar melimpah bagiku…”

#amjusthuman

Advertisements

Piyama Dan Anak Perempuan


Suatu hari di sebuah kota kecil, tinggallah seorang Anak Perempuan yang sangat mencintai ayahnya. Sang Ayah pun sangat mencintai gadis kecilnya.

Ayah selalu bekerja dengan jam yang tidak pasti. Setiap kali Ayah bertugas malam dan pulang larut, sang Anak sudah sengaja tidur di ruang tamu agar nantinya ia digendong ke kamar oleh sang Ayah. Hal ini menjadi sebuah kebiasaan untuknya.

Selain menggendong, Ayah juga memiliki kebiasaan untuk membawa makanan. Bihun goreng kecap kesukaan Ayah, akhirnya menjadi makanan favorit tengah malam si Anak Perempuan.

Selain menggendong, Ayah suka membangunkan Anak Perempuannya untuk ikut mencicipi makanan yang ia bawa. Ini menjadi momen paling menyenangkan untuk Ayah dan dia.

Di hari ulang tahunnya, Ayah memberikan kado spesial untuk Anak Perempuan. Ia memberikannya sebuah baju tidur berwarna biru dengan lengan yang panjang dan juga celana yang panjang. Alasannya sederhana, Anak Perempuan kerap digigit nyamuk dan menggaruknya hingga luka. Itulah mengapa Ayah memberikan semua yang serba panjang.

Baju tidur itu menjadi baju tidur favorit Anak Perempuan. Ia terus menggunakannya hingga baju tidur itu rusak dan berlubang.

Namun, itu adalah baju tidur pertama dan terakhirnya.

Tak lama setelah baju itu rusak, Ayah pergi meninggalkan dia. Dia pun tak peduli lagi pada baju tidur Anak Perempuan.

Dulu, jika Anak Perempuan sakit, baju Ayah dan pijatannya adalah pertolongan pertama. Namun, sejak ditinggalkan ia berusaha mengobati dirinya sendiri dengan pijatan Ibu.

Baju-baju Ayah satu persatu tidak ada di lemari lagi. Baunya pun sudah tak tercium lagi. Ya, aroma khas yang menjadi obat pelepas rindu Anak Perempuan.

Sejak saat itu, Anak Perempuan tak lagi memakai baju tidur. Ia memakai apa saja untuk tidur. Ya… Ia tahu, itu takkan pernah mengobati rindu pada ayahnya.

Tak akan ada yang bisa menggantikan gendongan Ayah saat itu. Tak akan ada yang bisa menggantikan ciuman Ayah pada dahi dan pipinya kala itu. Tak akan ada yang bisa menggantikan pelukan, pangkuan, dan nyanyian Ayah kala itu.

Hal yang paling dirindukannya dari Ayah adalah menemani Ayah berolah raga dan juga bernyanyi. Ya, Ayah adalah seorang penyanyi. Semua orang kenal Ayah dan tahu kalau Ayah adalah sosok yang pintar, ulet, cerdas, dan memiliki suara yang luar biasa. Ayah juga bisa memainkan gitar dan keyboard. Ayah sangat luar biasa.

Namun, Ayah pergi meninggalkan Anak Perempuan.

Dewasa sudah kini anak perempuannya. Ia sudah bisa membeli pakaian sendiri. Satu hal yang pasti ia cari adalah piyama.

Piyama dengan lengan panjang dan celana panjang. 

Ini akan selalu mengingatkan dia pada kasih sayang Ayah di masa kecilnya. Ia merasa aman dan nyaman ketika ia menggunakannya.

Kado yang paling indah untuknya, seumur hidup.

“I love you, Pa.”

Xox,

Kakak

The Girl On The Window

Once in a sunny day, there is a girl on the window.
That’s her favourite window.

From that window, the girl seeing people. That’s her favourite routine.

One day, someone knock on her window.

“What are you doing? Come and play with me!”

The girl just peeping from the window and hide behind the curtain.

“Come on.”

She still looking at the boy who knocked her window.

“I… I don’t know.”

She’s still hiding.

And the boy leave her alone.

The little girl regret it.

She’s sad.

Next day, she’s ready to play if the boy ask her to play with him.

She’s peeping out. There are so many people.

Knock. Knock.

“Hei, look at your bangs. It’s funny. What are you doing there? Come play with me!”

She’s prepare everything. Everything before she going to sleep last night. But, she’s still affraid.

The little girl really want to play. But, she’s affraid that the boy won’t like her.

So, the girl close the curtain. Again.

The next day, she open her window and let the boy playing with her. At her window. That’s her favourite corner.

They’re so happy.

Slow but sure the little girl open the window wider and wider.

Now, she’s smile to that boy. She’s happy.

The next week, they’re getting closer. The man come with some toys. The girl tell the boy how hard her day.

For the next month, they share their sandwiches. Her favourite jam and his favourite snacks.

Month passes, the girl throw the bricks around the window. She knows that the boy really enjoy playing with her, either she.

One brick, two bricks, until almost every bricks fall from the window.

The sun comes up. In the daylight, she’s very happy and want to share everything with the boy. She meets the unicorn in her dream.

But…

The moon show its face. The girl still open the window. She thought, maybe the boy is sick. Maybe, the boy just bored with her. Or maybe the boy just can’t come.

She waits.

“That’s oke. I’ll wait.”

The sun comes up. She’s looking the boy from the window. The boy comes up. She waves her hand with wide smile.

The boy just stare at her and run.

She’s confused. She’s sad.

The next day, she’s waiting again. The wall start to build.

“There you are, boy.”, She whispered. She waves her hand again.

The boy just stare at her, waving, and run through the window.

The wall getting higher.

The sun comes up. The girl still waiting at her window. She’s looking at the boy. He become far away from her. She waves her hand.

The boy not coming up. He stand still, right over there.

The little girl shows him his favourite snacks. But, the boy ignore it and just leave.

The little girl is very sad.

She packs her snacks. She feels so stupid. 

She build the wall with her bricks again. She close the curtain.

“It’s not easy to break the wall. It’s not easy to standing here without the curtain. It’s not easy to show my stupidity. But, at the end… The boy leave me alone…”

She said.

She’s sad.

#amjusthuman

Kantor Imigrasi Ruko Boulevard-Paspor Yang Tertunda

So, ini adalah tulisan yang cukup pedih mengingat tadi pagi sudah bangun subuh demi antri menulis nama di sebuah papan.

Cerita ini berawal dari ngobrol-ngborol bareng sobi aku di sebuah tempat makan yang berujung pada penemuan luar biasa yaitu tiket promo PP Jakarta-Singapore-Jakarta. Memang paling nggak bener kalau kamu lagi nongki dan menemukan hal-hal yang menggiurkan seperti ini. Hal menggiurkan lainnya adalah diskon kosmetik untuk pembelian online atau voucher makanan yang membuat kamu menambah berat badan.

Oke. Alhasil, setelah memutuskan untuk berlibur bersama, kami pun memulai pertanyaan dengan “Semua sudah punya passport kan?” Ya, passport. Sebuah buku kecil yang mengizinkan kamu untuk terbang ke negara manapun yang kamu mau. Dan aku tidak memilikinya. Dan mereka membanting meja. Kidding…

Singkat cerita, aku pun memulai usaha pencarian kantor imigrasi yang bisa membantuku mewujudkan impian ini. Dan Jakarta nggak menjadi jawaban. Semua kuota habis karena memang sedang high season. Duh!

Akhirnya, setelah googling Aku menemukan bahwa kantor imigrasi Tangerang masih memiliki kuota. Dengan semangat aku mengikuti setiap instruksi.

Source: Pinterest

1. Menyimpan nomor pendaftaran via WhatsApp untuk mendapatkan nomor antrian di hari Senin tanggal 07 Mei 2018. Nomor yang harus disimpan adalah 08118119000. Ini merupakan layanan mesin yang akan membantu kamu mendapatkan nomor antrian.

2. Ketik #NAMA LENGKAP#TANGGALLAHIR#TANGGALPENDAFTARAN

CONTOH: #MIRABEL#04051992#07052018

3. Langkah selanjutnya tergolong mudah karena kamu tinggal mengikuti instruksi untuk mengkopi kode tanda persetujuan kalau data yang kamu masukkan sudah benar.

Senang dong, sudah dapat nomor antrian di kantor imigrasi Tangerang. Kemudian aku melakukan re-check ke kakak di BSD. You know what, she said that I applied to wrong office. Sebelumnya, memang kakak bilang kalau ada kantor imigrasi yang sangat dekat dari rumah. Dan kantor tempat aku melakukan pendaftaran tadi adalah kantor yang jauh. Huft!

Alhasil, #BATAL pun ku ketik sebagai tanda pembatalan pendaftaran. Aku memang sempat berpikir apakah sebaiknya aku biarkan saja nomor pendaftaran ku, supaya kalau ada orang yang memerlukannya, aku nggak menghambat jalan orang itu. Dan juga memang pembatalan harus dilakukan maksimal satu hari sebelum pembuatan paspor. Yasudah.

Setelah mengumpulkan semua berkas yang dibutuhkan seperti FOTO KOPI KK, IJAZAH/AKTA LAHIR/SURAT BAPTIS/SURAT KAWIN dan FOTOKOPI E-KTP, aku memutuskan untuk pergi ke BSD, Tangerang. Dengan modal “kesempatan yang lebih besar ketimbang di Jakarta”, then, I go.
Oma sempat berpesan untuk datang mendaftar jam 3 pagi. Whaaaat!!! And I say, thanks Oma. Pagi hari tepat pukul lima aku bangun dan bersiap. Mandi subuh dan kurang tidur sangat nggak disarankan. Bersiap dan kemudian salim sama Oma.

Perjalanan dari rumah kakak ke kantor imigrasi hanya memakan waktu 15-20 menit. Sesampainya di sana aku mulai curiga karena kantor terlihat sangat sepi. Di mana orang-orang yang mau mengantre untuk pembuatan paspor? Ah, aku pikir ini kesempatan baik karena kemungkinan akan lebih cepat dipanggil. But, you know what… The security told me kalau kamu mau membuat paspor, kamu harus mendaftar dulu. Nggak ada lagi daftar manual.

Would you please gimme some water? Aargh.

Bapak sekuriti nya bilang kalau sekarang semua pendaftaran sudah bersifat online. Jadi, bagaimanapun kamu berusaha memelas, kamu nggak akan bisa mendapatkan kesempatan tersebut. Huft! Untuk kantor pembantu yang berlokasi di Ruko Golden Boulevard BSD Blok E no.5-6, Lengkong Karya, Serpong Utara, Tangsel, hanya akan melayani 120 pendaftar setiap harinya. Dan, kamu hanya bisa mendaftar setiap Jumat mulai pukul 17.00 WIB untuk menentukan jadwal seminggu kedepan. Gara-gara hal ini, aku nggak bisa mendaftar langsung untuk besok atau dua hari kedepan. Dan gara-gara ini pula sepasang suami istri berantem di sebelah aku.

Awalnya, mereka juga ingin membuat paspor untuk sang istri dan anak mereka. Kemudian, setelah mendapat penjelasan yang sama dari sekuriti seperti yang aku dapat, mereka mulai berargumentasi. Istri yang memang cenderung dominan masih saja nggak ngerti saat pak sekuriti bilang bahwa pendaftaran penentuan tanggal bisa dilakukan lagi hari Jumat depan. Dia tetap ngotot sambil menunjukkan hape kalau dia tidak bisa melakukan reservasi. Sang suami yang mulai gemas pun menyambut dengan kalimat yang cukup pedas dan mengatakan, “Kamu kok nggak ngerti-ngerti. Baru bisa daftar lagi hari Jumat nanti. Makanya nggak bisa daftar sekarang…”

Mendengar suaminya yang hmmm… benar, maka dia pun menjawab, “Ya, nggak usah gitu juga dong ngomongnya…” Dengan nada do dengan titik di atas. Demi tidak melanjutkan peperangan, sang suami pun kembali ke mobil. Dengan pose berpura-pura sibuk dengan gadget aku masih mendengar pembicaraan mereka. Tiba-tiba pak sekuriti yang berdiri di sebelah kiriku (pasangan di kanan) berkata, “Susah kalau nggak ngerti, ya Mba?” dan aku menyambut dengan “Hehehe…”

Bapak sekuriti sempat bertanya padaku apakah aku sudah mendapaftar, dan aku bilang sudah tapi aku batalkan karena kata kakakku lokasinya berbeda. Kemudian, dia menunjukkan satu nomor “Yang ini? Ini kantornya di Sukasari. Tangerang City, tahu?” Dan dengan sukarela aku menjawab, “Nggak, Pak.” Bapak pun kembali menyahuti, “Adek nggak pernah jalan-jalan, ya?” DANG!

“Hehehe… Taunya (menyebutkan nama-nama mall).” Mungkin bapak ini berpikir aku kurang jauh mainnya. Hmmm… Tak apalah. 

Bapak juga sempat mengatakan kenapa dibatalkan pendaftaran sebelumnya, karena kalau tidak aku sudah bisa berangkat ke sana dan menyelesaikan misi ku. Ya, mau bagaimana lagi kalau sudah dibatalkan. Apalagi, ternyata nomor WhatsApp pendaftaran unit BSD berbeda. Kalau kamu mau mendaftar di unit Ruko Boulevard, kamu bisa mengirim format yang sama seperti di atas ke nomor 081221700044.

Akhirnya, aku kembali mendaftar untuk nomor urut di kantor imigrasi kelas 1 Tangerang, yang bertempat di Jln Taman Makam Pahlawan Taruna no.10, Sukasari, Tangerang. Bersyukur nya langsung dapat untuk tanggal 09 Mei 2018. Karena, sepertinya terlalu lama kalau aku menunggu Jumat untuk kembali mendaftar Minggu depan. Kita nggak tahu apa yang terjadi dalam satu minggu ini bukan?

And at the end, moral of the story is jangan buru-buru membatalkan penjadwalan. Karena ini adalah kesempatan yang mungkin kamu nggak bisa dapatkan lagi. Sekali-sekali memang harus tega untuk diri sendiri. Jangan mikirin orang melulu.

Kedua, jangan menyerah. Langsung daftarkan diri kamu untuk pendaftaran selanjutnya. Biar agak jauh dikit, yang penting cepat selesai. Ketimbang kamu harus menunda lagi dan belum tau kapan bisa diambil.

Ketiga, ada baiknya mengumpulkan informasi terbaru dan terakurat sebelum akhirnya memutuskan untuk mendaftar.

Oia, harga untuk membuat paspor sekarang adalah Rp355.000,- dan bisa dibayar di bank manapun dan sudah bisa diambil 3 hari kemudianSo, please doakan aku dalam penyelesaian misi besok, ya! ūüôā
Cheers,

Ninta
Ps: Thanks to Reza, anak Medan who picked me up at train station and please me to laugh all night long.

Radit Batal Nikah

Cerita ini merupakan cerita fiksi yang aku tuliskan untuk seorang Raditya Dika. Sudah lama aku memendam rasa pada youtuber, comedian, dan juga penulis yang satu itu…
“Aakkk!!” cepat-cepat aku menutup layar laptopku dari tatapan sengit Tania.

“Apaa tuh? Cerita fiksi tentang Radit? Kamu masih ngefans sama doi? Udah mau nikah kali lakik orang, Din.” Tania selalu begitu, “Lagian, basi banget pembukanya kayak gitu. Dikira Radit mau baca surat dari kamu?”

“Hufttt… Tarik napas panjang juga, nih, aku Ta.”

Aku kembali menatap layar laptopku yang kini kosong dan berisi sebuah garis berkedip. Ya, aku berpikir kembali apakah kalimat pembuka tadi memang sebasi itu? Auk ah! Kenapa juga tombol delete ini mudah sekali ditekan dan membuat semuanya menjadi layar kosong kembali.

Karena belum juga mendapat inspirasi, aku memutuskan untuk membuka Instagram Stories. Hitung-hitung cari ide dari sampah orang-orang yang aku ikuti akun pribadinya ini. Baru saja aku melihat beberapa akun, guess what… Tiba-tiba aku menemukan boomerang bergambar undangan pernikahan Raditya Dika di salah satu akun yang aku ikuti. Oh My God! Ini berita penting yang harus aku sembunyikan dari Tania. Akun itu adalah akun milik Kaka, Kanda Gregorius, itu nama lengkapnya.

Duh, bisa dibilang aku belum lama mengenal Kaka. Bertemu pun jarang sekali. Setiap bertemu dia, bisa-bisa aku kehabisan kata. Iya, benar aku gugup. Aku gugup karena aku nggak tahu apa yang bisa aku bicarakan dengannya. Ya, aku pernah sih berbincang beberapa kali. Tetapi, nyatanya aku jarang sekali bisa berpapasan dengan dia. Lalu, bagaimana bisa aku meminta jadi partnernya untuk datang ke pernikahan Radit? Hmmm… Sumpah, ini adalah ide gila!

“Din, ngapain lama-lama ngeliatin akunnya Kaka? Kamu…”

Sebelum habis kalimat Tania, aku pun segera memotongnya sambil menutup layar laptopku dengan sedikit membanting.

“Aku ingin datang ke pernikahan Radit, Ta. Bareng Kaka bisa kali, ya? Undangan biasanya buat dua orang, kan? Kaka and partner gitu…”

“Gila apa! Mau bilang apa sama Kaka? Memangnya kamu sudah sedekat itu sama Kaka sampai berani minta jadi temannya datang ke pernikahan Radit? Di sana kamu nggak bakalan ngumpulin berita, kan? Secara pasti bakalan banyak banget artis yang datang.”

“Nggak, dong. Aku beneran nih pengen menyaksikan pernikahan Radit secara langsung. Kamu kan tahu gimana perasaan aku ke Radit. Kamu ingat waktu dia putus sama yang itu, aku ikutan nangis Ta. Novel-novel dia semuanya aku punya. Semua aku ambil intisarinya tiap bab. Dan aku menemukan cinta di sana…”

“Din, baru kali ini lho aku melihat seorang fans yang benar-benar jatuh cinta sama idolanya. Trus, misi kamu apa datang ke sana?”

“Hmmm… Kira-kira…”

Aku terdiam dan sedikit memajukan tubuhku ke arah Tania sambil berbisik setelah mendengar mama memanggil kami untuk mencicipi kue buatannya yang baru saja matang. Mama adalah penguping tingkat dewa.

“Kira-kira apa?” mata Tania yang sudah perfect dengan bubuhan eye liner kini memandangku semakin tajam.

“Ta… Kalau aku minta ikut ke Kaka…”

“Apa??? Si Kaka bakalan suka sama kamu? Trus pulangnya kalian end up di kafe dan ngobrol sampai pagi? Jangan pikir ini Drama Korea dong, Din.”

“Bukan dong, Ta… iiihhh… Dengerin dulu,” Ucapku sambal menghela napas berkali-kali sambil melihat story yang berisi undangan berwarna emas dan biru itu.

“Jadi apa kalau bukan kamu ngarep jadian sama Kaka?”

“Ih… Tania!” Kali ini ku lipat kakiku ke atas sambal menumpu wajahku yang sudah menekuk sedari tadi.

“Kira-kira Radit bakalan batal nikah nggak, ya?”

Kemudian terdengar suara semburan air dari mulut mama yang diam-diam juga asyik mendengarkan percakapan aku dan Tania sedari tadi. Seketika, curah hujan meningkat dan membasahi wajahku yang belum terkena air sejak pagi.

“Kamu pikir kamu Bela Saphira?” tegas mama yang masih sibuk mengelap wajahnya yang juga setengah basah karena ucapan bodohku. Sedangkan Tania sibuk tertawa terbahak-bahak di sofa. Ya, Tania selalu begitu.

“Ihhh… Tatjana Saphira, Mamaaaa…”

“Ya itulah, yang Mama tahu si Bella Saphira. Mama akan anggap kamu lebih sehat kalau kamu berpikir bahwa bisa nggak kamu jadian sama Kaka, bukannya Radit yang bakal batal nikah karena ada kamu di sana. Kecuali kamu artis, ini kamu cuma reporter yang pernah meliput sehari-harinya Radit, doang. Belum tentu lagi, Radit ingat kamu.”

Yah… Mimpiku memang ketinggian, sih. Tapi, apa salahnya dicoba. Hmmmh… Aku pun memandang tajam ke Tania sambil membentuk hook dengan jariku yang ku arahkan ke matanya.

Oke, sudah ku bulatkan tekadku untuk mengirimkan pesan pada Kaka. Bagaimana pun hasilnya, setidaknya aku mencoba. Ku ketik satu persatu huruf hingga membentuk kalimat random yang sedari tadi melayang-layang di kepalaku.

Hai, Ka… Ka, sudah tahu mau pergi bareng siapa ke nikahan Radit? Aku boleh ikut nggak nemenin kamu? Jadi tukang foto kamu juga nggak apa-apa, deh!

DM sent!! Aaaaaaaaaaaaaak!! Bodoh. Kenapa aku kirim pesannya secepat itu. Aakkk… Maaaa… Taniaaa. Help!!!”

Tania hanya diam, menoleh sambil berkedip beberapa kali, kemudian ia mengarahkan matanya kembali ke layar televisi yang sedang menayangkan Drama Korea kesukaannya.

Nggak berani melihat balasan Kaka, aku pun bergegas lari mengambil handuk dan bersiap mandi. Aku pikir, kalau aku mandi dulu, mungkin aku bisa lebih siap membaca jawaban Kaka yang sudah jelas banget jawabannya nggak. Duh, tadi mikir apa sih? Kaka pastinya pergi bareng sama teman-teman kantornya yang hits itu. Ku pukul, pukulkan tanganku ke kepala udang ku yang entah sudah di mana otaknya berada.

“Hmmhh… oke, setidaknya kepalaku bisa lebih dingin dan jantungku nggak menggebu-gebu seperti sekarang setelah mandi. Tapi… malunya mau aku buang kemana? Huaaaaaa…”

Ting… Ting…

OMG, itu suara pesan DM. Huffftt!!! Hufft!!! Tenang Dinda, tenang. Kamu harus mandi dulu, keramas, kemudian pakai parfum, baru kemudian setelah itu membaca pesan dari Kaka.” kataku memerintah diriku sendiri.

Selesai mengguyur kepala udangku dengan air hangat selama hampir setengah jam, aku pun bergegas menggunakan baju tidur favoritku. Ya, ya, ya… Aku tahu ini masih pukul tiga sore, semua orang bersiap menghabiskan waktunya di luar rumah, dan yang terpenting ini adalah hari Sabtu. Akhir pekan, long weekend, dan Jakarta mendadak sepi.

Tapi, aku lebih nyaman berada di dalam rumahku yang sangat asri bersama kue-kue buatan mama. Serta omelan Tania yang sedari malam menemaniku karena dia nggak mau pulang ke rumahnya dengan alasan kesepian. Bukannya dia jomblo sepertiku, dia nggak jalan bareng pacarnya karena alasan keuangan alias belum gajian.

“Bunyi-bunyi tuh dari tadi…” ketus Tania. Tania selalu begitu.

“Iya, si Kaka paling.”

What… kamu jadi melaksanakan ide gilamu itu?”

Aku mengangkat bahu menjawab tanda aku sudah tak peduli dengan kebodohan yang ku lakukan. Perlahan ku gerak-gerakkan jariku untuk mengaktifkan kembali layar yang ku biarkan sejak tadi.

Benar saja, ini pesan dari Kaka…

******

“Aaaaaaah!!! Gue belum sempat nyimpen cerita yang barusan lagi,”

Mati lampu! Gue benci mati lampu!

It’s Hard, God. But, Well Done, My Dear

98599f06de8fd96aabf86c939ed6e835

Source: Pinterest

 

“Well done, My dear.”

Ini adalah sebuah kalimat yang seorang Ninta dengar ketika dia berdiri, mengantre untuk masuk ke dalam toilet. Seketika itu juga air mata meluncur membasahi pipi ini. Mendengar kalimat tersebut rasanya mengalahkan perasaan ditembak gebetan atau mendapatkan Nobel. Well, ditembak gebetan pastinya pernah. Sedangkan Nobel, mungkin masih di angan-angan. But, at least i received a compliment from The Almighty One. 

“What? Are you kidding me?”

Yeah, maybe this question is up on your head. It’s oke. I know, maybe right now you wont believe it. But, if you have the same experience… i’m pretty sure you believe in me.

So, what is the cause that bring The Almighty One talk that sweet to me? *pardon my bronglish a.k.a broken english.

Suatu hari bertahun yang lalu, God just sent me a mission. Memang benar, bertahun yang lalu aku sendiri pergi ke gereja dan mendengar kotbah dari Ps. Sidney Mohede.¬†Actually, the sermon is¬†not about purpose, but because of that sermon i’ve got my vision.¬†Percaya nggak percaya, sih. Nah, satu kalimat yang terlintas dalam pikiranku saat itu adalah tentang anak-anak broken home. Maybe, we’re broken. But, we’re not a broken creation.

Maybe, we’re broken.
But, we’re not a broken creation.

Then, because of i love to write… i thought i will write a book.¬†Mulailah dengan perencanaan pengumpulan materi, bukunya akan seperti apa, tentang apa, siapa yang harus aku wawancarai, dan lain-lain. Yes, i think and plan that far.

Kemudian, berjalannya waktu kok kayaknya ribet dan lama-lama mulai kendor semangatnya. Tapi, aku tetap menulis tentang hal-hal yang bisa aku bagikan melalui blog yang satu ini. Dan semua berjalan dengan baik sampai suatu hari aku melihat sebuah testimoni tentang seorang remaja lesbian yang bertobat. Penyebab awalnya nggak lain dan nggak bukan adalah keretakan keluarga.

Yup, peran keluarga adalah hal yang sangat penting dalam pembentukan karakter seorang anak. Terutama, peran ayah. So, nggak heran kalau kamu harus teramat sangat hati-hati dalam memilih laki-laki as your spouse nantinya. Karena iblis sangat senang “bekerja” menghancurkan generasi melalui laki-laki. Kamu bisa tonton video Ps. TD Jakes tentang laki-laki¬†¬†di sini.

Nah, aku benar-benar terinspirasi dengan testimoninya. Dalam hati bilang,¬†one day¬†aku bisa nggak ya melakukan hal yang sama seperti dia?¬†It’s an honour¬†for me¬†untuk menyaksikan kebaikan Tuhan yang sudah menyelamatkan aku.¬†Then,¬†kamu pikir iblis seneng dengar permintaan bodohku? Nggak!

Setelah lama berselang, suatu hari di bulan Juli aku beribadah di Kota Kasablanka. Telat. Jadilah aku harus beribadah di depan pintu. Waktu lagi asyik penyembahan (sambil malu-malu karena telat, booo!) Holy Spirit speaks to me. Terjadilah percakapan yang luar biasa dalam hati.

Notes: Kamu boleh bayangkan suara Roh Kudus sesuai kemampuan dan kepercayaan kamu, ya.

“Ninta, kamu harus membagikan pengalamanmu.”

“Hee? Yang mana, nih?” , sambil merem melek menyembah.

“Yang memalukan itu.¬†That one.

What? Sekarang banget? Are you kidding me? Aku baru saja pindah komsel. Sama komsel lama saja aku nggak cerita, gimana komsel baru. They don’t know me at all. Gimana kalau mereka judge aku? Aku anak baru.”

Just do it.¬†Kamu kan mau bicara tentang ini di depan banyak orang. Mulai lah dari DATE kamu. Lalu, This Is My Story. Dan semua akan terjadi sesuai sama rencanaKu.”

Hmm… gini deh, iya aku tahu aku ingin ‘menyelamatkan generasi’ dan punya purpose¬†ke sana. Tapi, aku belum siap ini. Kalau memang aku harus membagikan tentang hal ini, kasih aku jadwal 5¬†minutes sharing. Aku nggak mau ujug-ujug¬†share tentang ini. Malu kali…”

Suara itu menghilang.

Hari berganti dan jadwal tugas di DATE alias komselku pun tiba. You know that Holy Spirit can use everyyyyyybody to fulfill the plan. Jadwal 5 minutes sharing tertulis nama NINTA. Mau mengelak gimana lagi?

Stage one, done.

Setelah itu, Roh Kudus nggak berhenti bicara sama aku.

“Kapan mau susun naskah untuk This Is My Story?”, “Kapan dirampungkan?”, “Ayo, dong mulai nulis.”, “Cepetan kirim.”, “Udah tinggal¬†sent, tuh.”

Percayalah, ini benar nyata. Kalau kamu belum pernah dikejar deadline nya Roh Kudus, mungkin kamu perlu minta sama Dia.

Mudah? Nggak. Segala sesuatunya aku pikirkan. Bagaimana nantinya kalau ternyata karena hal ini nggak ada yang mau sama aku? Apa kata orang-orang yang kenal sama aku? Apa kata keluargaku? Dan banyak pertimbangan lainnya. But, at the end, Tuhan cuma ingatkan aku.

Ketika video ini muncul, ini akan menjadi berkat yang besar untuk aku dan banyak orang. Jadi, aku harus menyelesaikan misi ini. Huft. Dan aku meng-iya-kan apa kataNya. Setidaknya, dengan video ini aku bisa menyaring mereka-mereka yang akhirnya memiliki hati untuk aku. Aku nggak perlu repot menjelaskan siapa aku dan percaya kalau Tuhan bekerja melalui aku. Dia backup aku. Aku alatNya.

Aku alatNya.

Stage two, cerita sudah dikirim. No response. Sampai suatu siang, Ps. Alvi mengirim e-mail yang berisi akan menjadikan ceritaku sebagai video testimoni terpilih. Selang waktu berjalan, aku menunggu lama untuk merealisasikannya. Hampir setahun berselang, akhirnya pesan itu datang juga. Namun, dasarnya iblis nggak suka, ada saja halangan yang membuat syuting video ini nggak lancar. But, ini nggak sepenuhnya salah iblis. Ini juga ada salahnya aku.

Tapi, Tuhan baik. Intinya, Tuhan nggak mau aku dipermalukan. Dia benar-benar menyelesaikan masalahku sepenuhnya, baru Ia mengizinkan video ini selesai dan ditayangkan. Jarak antara syuting terakhir dan pemutaran video hanya satu minggu. Jarak yang cukup singkat. Final stage, done.

 

bfdd6b0a4d7f4ed1d8d7129e3f02fe73

Source: Pinterest

20 Januari 2018.

Aku berdoa sekitar setengah jam waktu itu. Jam 1 sampai jam 1.30 am.¬†Can’t sleep. Aku berdoa¬†untuk video yang besoknya akan diputar. Inti doaku adalah:

  1. Editor sudah mengedit video dengan baik
  2. Video ini bisa benar-benar jadi berkat
  3. Pesan dari video ini benar-benar sampai ke yang membutuhkan
  4. Ada satu orang saja yang messagge aku sebagai respon konfirmasi dari videoku
  5. Aku tidak dipermalukan, jujur, aku tetap nggak siap karena aku cukup dikenal di gereja. Dan ini bukan hal lumrah untuk disaksikan.

21 Januari 2018.

Jujur (lagi), aku sebenarnya ragu apakah benar video ini diputar minggu ini. Hari ini. Hampir setiap jam aku terbangun dan menantikan pesan di layar gadget. Dan tepat pukul 08.11 am, salah satu teman panitia pada waktu DATE gabungan kemarin mengirimkan pesan.

“Hi, Nin. Thanks for sharing what God has done for you. It’s kind of…. confirmation to me. Happy Sunday and God bless you.”

HOAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH! *sorry alay.

What is this, God?

Kemudian, pesan demi pesan bermunculan seharian.

“We thankful for your courages, your bravery heart. So, we know we’re not alone. And we are blessed.”

Tanpa melebih-lebihkan, inilah kesimpulan yang aku dapatkan atas jawaban doaku selama ini. Dan 21 Januari 2018 akan menjadi sebuah tanggal bersejarah untuk perjalanan hidup dan panggilan hidup seorang Erninta Afryani Sinulingga, or you can call me Ninta Afryani.

Yes, it’s not easy to share your scars, but God can use it if you want.

Seorang pemimpin berani terbuka akan masa lalunya (weakness) supaya menjadi inspirasi untuk orang lain.

Aku mendapatkan kalimat ini dari salah seorang¬†leader¬†di gerejaku.¬†Frankly, i’m speechless.¬†Begitu banyak pesan yang datang dan mengatakan kalau mereka terberkati. Dan semakin banyak lagi cerita yang aku dapatkan. Bagaimana mereka pun mengalami hal yang sama, tetapi nggak tahu mau cerita pada siapa.¬†Dan aku semakin yakin untuk mengatakan,¬†“Yes, God. You can use me.”

 

c87e61182d460eb9ca79e09b5f217d0b

Source: Pinterest

 

Dari penyerahan tugas pertama hingga video ditayangkan memakan waktu hampir 2 tahun. Tuhan bekerja. Melalui pergumulan selama 2 tahun tersebut. Melalui jatuh bangun di 2 tahun tersebut.¬†And i’m SURE that God is working in holistic way. Pekerjaannya untuk sebuah¬† misi nggak pernah setengah-setengah. Dia tahu kapan waktu yang tepat.

By the way, few days before the video coming up…¬†Aku ikut DMS (Discipleship Ministry School). Di sana, aku berdamai sama Tuhan. Ya, aku sempat ngambek sama Tuhan dan ini termasuk dalam proses jatuh bangunnya aku. Dan bersyukur melalui semua materi yang diajarkan, aku semakin paham tentang Dia dan cintaNya. PekerjaanNya di bumi ini. Di hari terakhir, kami belajar tentang nubuatan. Salah satu nubuatan yang aku dapatkan dari leaderku¬†adalah:

“Saya merasa bahwa Tuhan akan memberikan sebuah kehangatan yang baru di dalam hidupmu. Mungkin ada masanya kamu merasa dingin dan beku. Tapi Tuhan ingin membawa satu kehangantan baru yang belum pernah terjadi sebelumnya.¬†Dan itu akan membuat engkau merekah dan engkau akan seperti bunga yang merekah yang akan bisa dinikmati oleh orang-orang.

Engkau akan jadi sebuah tanda yang baik buat orang-orang. Sebagai satu kesaksian yang baik bagi orang lain. Hidupmu yang merekah itu, menjadi berkat buat orang lain dan akan keluar bau yang harum dari engkau untuk orang lain. I feel that. The warm of the Lord.”

Percaya nggak percaya (sekali lagi), Tuhan bisa bicara lewat siapa saja. Dan hal ini nggak hanya dinubuatkan oleh satu orang. Nubuatan lainnya akan aku tulis in another page, ya.

And, at the end. Aku ingin menyampaikan bahwa siapapun kamu, kamu bisa dipakai oleh Tuhan. Kesaksian tentang kasihNya, kekuatanNya, kebaikanNya, nggak hanya bisa diceritakan melalui kesuksesanmu. Luka, cacat, cela, yang terjadi dalam hidupmu pun bisa dipakaiNya untuk pekerjaan tanganNya.

Kalau kamu mau, Dia bisa pakai. Asal kamu mau, kamu  menyerahkan hidup kamu sama Dia, dan bersedia di proses (proses itu nggak enak tapi membahagiakan pada akhirnya). Dia mengasihi kamu.

P.S: For video, you can PM me. ūüôā

XOX and to God be the glory,

Ninta

dd62d371cd589e766b74bafd0356fd72

Source: Pinterest