Oh My God! This Is Gray Hair…

“Oh my God! What is this?”

Jujur saja saya sempat teriak dalam hati saat menemukan uban pertama di kepala saya. Uban ini saya temukan ketika saya sedang mengeringkan dan menata rambut sebelum berangkat ke gereja.

Wait, usia saya belum setua itu. Masih berada di kepala dua. Masih muda dan rasanya saya ingin menolak kenyataan kalau saya memiliki uban.

Sejujurnya, kurang tahu juga apa penyebab uban ini ada. Apakah memang karena pigmen rambut saya yang tidak begitu kuat? Ataukah ini akibat pewarnaan rambut beberapa tahun yang lalu? Atau memang sudah waktunya saja uban itu tumbuh?

Lalu, kenapa harus cemas? Kebanyakan orang cukup cemas saat mengetahui bahwa ia memiliki uban karena ini adalah salah satu tanda kalau mereka sudah mulai tua. Is that right?

Lalu, bagaimana dengan saya sendiri? Jelasss… Pertama melihatnya saya tercengang, diam, dan berusaha mencabut nya. “Malu lah kalau tahu punya uban.”

But, sambil meneruskan untuk menata rambut dan berdandan saya mendapatkan hal yang berharga. Saya mulai berpikir seperti ini…

“Ninta, tahukah kamu, banyak sekali orang di luar sana yang harus kembali pada Bapa sebelum ia melihat ubannya sendiri. Yang belum sempat melakukan banyak hal untuk dirinya dan orang lain. Yang belum sadar bahwa ia semakin tua dan tak banyak melakukan apa-apa. Karena nyatanya nggak semua orang punya usia yang panjang dan berkesempatan untuk melihat bagaimana satu persatu rambut mereka memutih. Kamu begitu beruntung. Kamu masih bisa menyadari kasih dan penyertaan Tuhan selama ini. Sejak kamu dilahirkan hingga kini kamu bisa melihat satu persatu rambutmu mulai memutih…”

Dan saya mulai berkaca-kaca sambil membubuhkan bedak lipstik. Bisa saya bayangkan betapa Tuhan sayang saya sampai hari ini. Dengan semua yang sudah saya lakukan, mau kemana lagi saya berlari? Tuhan itu baik.

Bahkan Dia masih terus dan terus menggandeng tangan saya di saat apapun. Saya masih bisa melakukan banyak hal sampai saat ini juga hanya karena kasihNya. Lalu, apa yang salah dengan uban?

Sekarang, saya membalikkan pertanyaannya. Sampai rambut saya perlahan memutih… Apa yang sudah saya buat untuk Dia, yang benar-benar mengasihi saya?

Bagaimana dengan kamu? 🙂

Xox,

Ninta

Advertisements

When God Speak In Your Mind

If you feel God is so far, you’re wrong. Totally wrong.
God is always in us. You can feel it, you can hear His voice clearly if you want.

This morning, I’m coming late to go to morning chapel at the office. When I decide to not join them, holy spirit tell me “Go!” then I can’t deny but obey. I just think, “Yaudalah ya. Paling lagi sesi baca Firman. Daripada di sini gamang nggak jelas.”

I open the door and looking for the sit. Then, one of the counselor wave her hand and tell me to sit beside her. After the last sentence of the story, suddenly the counselor beside me speak and she told us that she want to share about “Cognitive Therapy”.

Cognitive therapy is a therapy for the mind to always set the positive. You know… Then she asked to open the Bible, Phillipians 4:8 (KJV)

“Finally, brethren, whatsoever things are true, whatsoever things are honest, whatsoever things are just, whatsoever things are pure, whatsoever things are lovely, whatsoever things are of good report; if there be any virtue, and if there be any praise, think on these things.”

This is the third time I heard about this. God speaks louder to me again and again. In this condition, so many things entering my mind, with many speculation, many choices, many wrong insight. But, He know that His children, specialy me, is so weak and need to strengthen. So, He always speak through everything to keep me strong.

Then, the counselor continue her story about this verse. Yes, it is not easy but not impossible. She added another verse. Rome 12:3 (KJV)

“For I say, through the grace given unto me, to every man that is among you, NOT TO THINK of himself MORE HIGHLY than he ought to think; but to think soberly, according as God hath dealt to every man the measure of faith.”

Sometimes, we take everything around us to our mind and process it to be something bad. Without filter it. That’s human’s tendency. Then, that minds cause us to worry, anxious, sad, stress, depression. I talk this because I’ve been there. But, if you win from this feelings, you’ll become stronger.

One more time I tell you, this is not easy. But, if we willing to hear God’s voice, obey to where holy spirit guide us, and still believe that our Father is so so good, we will never be the same. We know what we should do.

I write this to remind me. I know this is for me. And I know that God is always be with me, I’m not alone no matter what. I’m His no matter what. And He loves me no matter what. The thing is, problem still there. While we’re crowling, we have freedom to choose to keep moving or to stop and give up. 

My pastor said, devil doesn’t worried when you have faith, devil worried when you always HOPE. Devil worried when you KEEP MOVING, even you’re crowling, because you know there’s a HOPE. Because you don’t want to stop.

So, I ask my self, “Do you want to let go the negativity and keep moving or still live in that mind and it’ll makes you weaker and hurted more and more?”  So, I decide to keep moving with Him. And these days I feel better. I can smile again. And… What about you?

Pardon my English, xox

Ninta.

Ps: i wanna say thank you for one of my friends who text me in the middle of the night and say..

“Ok, let’s pray for peace and wisdom to be upon you. You really need it. I can’t say much but I know for sure He has a plan in the midst of this uneasy season.”

Pray

Praying woman hands
I need you to soften my heart
And break me apart
I need you to open my eyes
To see that You’re shaping my life

All I am, I surrender

Give me faith to trust what you say
That you’re good and your love is great
I’m broken inside, I give you my life

I need you to soften my heart

And break me apart
I need you to pierce through the dark
And cleanse every part of me

All I am, I surrender

Give me faith to trust what you say
That you’re good and your love is great
I’m broken inside, I give you my life

‘Cause I may be weak
But Your spirit strong in me
My flesh may fail
My God you never will 
I may be weak
But Your spirit strong in me
My flesh may fail
My God you never will

Give me faith to trust what you say
That you’re good and your love is great
I’m broken inside, I give you my life

‘Cause I may be weak
But Your spirit strong in me
My flesh may fail
My God you never will

I may be weak
But Your spirit strong in me
My flesh may fail
My God you never will

Christopher Joel Brown / London Weidberg Gatch / Mack Donald Iii Brock / Wade Joye

Be Still.

WhatsApp Image 2017-04-08 at 6.52.09 PM.jpegBe still = Diam = Bergeming.

Dalam hal ini, diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Diam berarti tidak mengandalkan kekuatan diri sendiri, melepaskan semua kata “Tapi,”, dan membiarkan Tuhan mengambil kendali atas pikiran dan hati kita.

Ketika bicara tentang HARUS DIAM, rasanya mudah, ya. Tapi, praktiknya? LUAR BIASA.

Berbagi pengalaman aja, dalam membangun relasi bersama @haricahyadi_ it’s really not easy. We’ve met by God’s voice (people said that it’s supranatural things. Uncommon) and we still learn about one each other. Bcz of that, kami memutuskan untuk benar-benar dengar-dengaran sama maunya Tuhan, yang ketemuin kita.

Setiap hari, kita berdua sama-sama mendoakan tentang hubungan ini dan bertanya sama Tuhan tentang apa yang harus kami bereskan atau apa yang harus kami ceritakan saat kami telponan di malam hari. Sampai pada suatu hari kami bicara tentang pekerjaan.

At one point, Ninta ada di dalam kondisi AMBISIUS dalam sebuah hal mulai mengatakan “Tuhan, gini ya. Plannya adalah bla bla bla. 1, 2, 3.” as always, plan plan and plan. Dan menarik kesimpulan tanpa mau tahu apa sih yang Dia mau.

I take control of everything. Then, when we pray about that, entah kenapa saya merasa bahwa hal ini nggak berjalan lancar. Hal ini nggak membawa sukacita baik buat saya atau pun dia. AKHIRNYA MEMUTUSKAN KEMBALI UNTUK BERDIAM.

Tarik napas, buang napas “Jadi Tuhan, maunya gimana?”

Tawar menawar pun dimulai sampai akhirnya Tuhan hancurkan semuanya dan saya kembali tenang. After that, saya bicara sama dia tentang apa yang saya pikirkan dan saya terima dari Tuhan. Saya benar-benar merendahkan hati saya untuk menerima semua yang akan dia katakan dan saya juga benar-benar hati-hati dengan setiap kalimat yang saya akan utarakan.

Sejak siang hari, saya udah bilang sama dia nanti malam tolong ingatkan kalau saya mau bicara hal penting tentang “How God Lead Me To Find A New Job”. Percayalah, pembahasan kami tidak seberat itu, tapi entah kenapa Tuhan selalu buka hal baru setiap hari supaya saya dan dia saling belajar.

Malamnya, saya cerita panjang lebar sampai akhirnya saya bilang, “Kakak paham?” then, saya tanya sama dia tentang hal yang pernah kita bicarakan. Betapa kagetnya saya kalau ternyata dia sebetulnya tidak memiliki hati yang full pada apa yang kami (means saya) bicarakan. Oh, God! Please lah Ninta!

Akhirnya, dia bilang semua yang ada di pikiran dia tentang hal tersebut. Di satu sisi memang dia setuju, tapi di sisi lain ternyata ada hal yang memang sudah dititipkan Tuhan sama dia dalam pekerjaan yang saat ini dia lakukan.

WHAT??!

CAN YOU IMAGINE IF I”M NOT TAKES TIME TO PRAY AND COMMUNICATE WITH HOLY SPIRIT? Saya hanya akan membawa hubungan ini sesuai maunya saya. Bukan maunya Tuhan. Saya akan merusak visi nya Tuhan untuk dia yang harus dijalani melalui pekerjaan dia yang sekarang. Hmmmhh…

Saat berdoa dan berusaha melepaskan kekang yang saya pegang, memberikan semua kertas plan yang sudah saya atur ke Tuhan itu nggak gampang. Tapi, Tuhan bilang sama saya, “Kalau kamu mau ikut rencana Ku, semua akan baik-baik saja. Nurut deh!”

Nah, perencanaan yang saya buat ini sejujurnya dilandasi oleh rasa takut atau cemas saya. Nggak banget, kan? Iya.

Dari sini saya kembali belajar benar-benar bahwa melibatkan Tuhan dalam membangun relasi itu bukan hal yang sepele. Ini wajib!

Pelajaran lain adalah, semua hal yang berkaitan dengan perencanaan kita kalau kita serahkan sama Tuhan pasti akan mendatangkan kebaikan. Tapi, kalau semua yang kita lakukan itu nggak sesuai sama rencana Tuhan pasti cuma akan membuat kita gelisah. Bisa jadi nggak dapat dukungan dari orang sekitar. Bahkan, bisa-bisa kita memilih menjauh dari suara Tuhan karena yang kita mau dengar adalah suara kita sendiri.

Nggak kebetulan ayat Perjamuan Kudus minggu kemarin adalah…

Mazmur 32:8

“Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kau tempuh. Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.”

The question is…

Bagaimana caranya kita bisa mendengarkan suara Tuhan kalau kita nggak ambil waktu untuk DIAM?

Ps:
Saat kita ada dalam sebuah masalah, DIAMLAH! Be Still.
Diam bukan berarti badai nggak datang. Tapi, ketika badai terjadi KEPUTUSAN apa yang kita ambil? Kita yang mengendalikan masalah atau masalah yang mengendalikan kita. (JC)

So, be still!

White Shoes and Its Story

wp-image-36422426jpg.jpg

“Tuhan. Pengen punya sepatu putih, deh. Tapi…”

Ini adalah kalimat pertama pada putaran pertama ketika mengelilingi fashion store andalan. Setiap kali jalan-jalan dan melihat sepatu putih, sebenarnya pengen, tapi… dalam hati langsung ingat kebutuhan bukan keinginan. Akhirnya, bisa kembali biasa aja.

Saking kepinginnya, sempat foto pakai sepatu putihnya teman. Bagus! Setiap jalan-jalan pasti mampirin toko sepatu yang sama untuk memastikan sepatu yang seperti itu masih ada atau sudah tidak keluar lagi.

Lewat beberapa waktu, tiba-tiba dapat berkat yang bisa banget untuk membeli sepatu semacam itu, bahkan bisa untuk membeli dua pasang sepatu. Tapi, apa mau dikata keadaan finansial yang tidak memungkinkan membuat aku memilih untuk menggunakannya untuk bertahan hidup di bulan Desember.

Yup, December is a gift day. December is a dinner time with many. December is a special month. So, i just make my self wiser.

Then, berkali-kali mengunjungi tokonya dan kepikiran pengen punya sepatu macam itu. Sampai waktu keliling, di antara berbagai jenis sepatu putih itu, ada yang harganya terjangkau. Tapi, ukurannya terbatas dan tinggal sedikit.

Entah bagaimana, di malam Christmas Dinner bersama Sudirman Park 7, hadiah yang aku dapatkan adalah voucher dari grup fashion store tempat sepatu itu berada. Menghitung bujet pun, sangat cukup untuk mendapatkannya.

Memang, prinsip dari awal sudah dibangun, “Kalau itu memang buat aku, pasti akan tersedia. Kalau pun nggak, berarti nanti ada yang lain yang lebih pas.”

Keesokan harinya, tanpa ragu-ragu langsung menuju toko yang dimaksud dan memilih ukuran. Seperti yang sudah aku bilang, kalau memang ada yang cocok ya berarti itu memang untukku. Sebelum memutuskan coba lihat sepatu yang putih juga dengan merek dan di toko yang berbeda. Ujung-ujungnya, kembali ke pilihan pertama yang memang pas ukurannya, pas di kaki bentuknya, pas harganya, paass semuanya!

Girang!
Cuma itu yang bisa diungkapkan. Thank you, Lord, untuk hadiah natalnya.

I always believe that He always know what BEST for us.

The best time, the best look, the best thing, and else. Hang on. Hold on! He know what BEST for us.

Ke(me)nangan Babo

Terengah-engah aku berlari menuju pintu keberangkatan luar negeri dengan tali sepatu yang belum diikat dan tas ransel yang menganga setengah. Selalu saja begini setelah melakukan rapat tengah malam bersama klien-klien gila itu. Kapan mereka tidur? Apa karena mereka jualan kopi, lantas kadar ngantuk mereka tidak sama dengan orang lain? Atau mereka sudah kebal terhadap rasa kantuk? Tentunya… karena mereka penjual kopi. Hahaha. Haah… basa-basi berjam-jam hanya untuk mencicipi secangkir kopi yang bahkan aromanya saja tak membuatku terangsang. Hidungku tak mengembang dan mengempis seperti saat pertama kali aku jatuh cinta pada kopi dalam gelas kaleng babo.

Jika saja beberapa tahun yang lalu aku tidak menunda penerbanganku ke Korea, aku pasti tak akan sempat menghabiskan waktu bersama babo. Dan aku tak akan mengenal apa itu jatuh cinta.

Usiaku saat itu 24 tahun dan aku sangat ingin terbang ke Korea. Aku belum jatuh cinta pada kopi, saat itu. Tabunganku sudah sangat cukup dan aku siap terbang. Namun di malam Natal, Bapak dan Mamak mengatakan kalau kami sekeluarga harus terbang ke Ende, Nusa Tenggara Timur, untuk menemui babo. What??? Setelah sekian lama aku menabung, tepat saat itu juga aku harus pulang kampung?

Memang benar, aku punya visi untuk kembali ke kampung halaman bersama segenap keluarga besarku sebelum menginjak usia 25 tahun, tapi kenapa harus di saat aku memenangkan undian tiket gratis ke Korea untuk bertemu dengan idolaku?

“Aku nggak bisa terima, Mak! Kapan lagi kakak bias pergi ke Korea gratis? Ini nggak bias diuangin, Mak!!!!”

“Kak, kita semua sudah sepakat. Tante Lila, Om Theo, Salsa, Jony, Katya. Semua yang di Bali juga sudah sepakat dan bilang sama babo dan mamo kalau kita akan ke sana.”

Saat itu, aku merasa aku tidak bias berkata apa-apa lagi. Mungkin nasibku akan bertemu jodoh orang NTT dan bukan orang Korea. Dari mamak, aku memang memiliki sedikit darah Korea. Bapak sendiri campuran India, Portugis, NTT. Mungkin kalian tidak bias membayangkan bagaimana rupa aku dan kedua adikku yang ternyata penggila drama korea juga. Baiklah, begini… kulitku putih, mataku sipit, hidungku mancung, rambutku sedikit mirip dengan Chibi Maruko Chan, aku tidak terlalu tinggi dan aku memiliki rahang bapak yang sangat khas NTT-India. Masih belum terbayang juga? Abaikan. Yang jelas, aku sangat menyukai ekspresi wajahku. Kata orang, wajahku seperti komik. Seperti apa itu?

Hmmmh… Kembali mengingat penerbangan SIAL pertamaku ke Ende setelah aku akhirnya dengan rela melepas gelar pemenang jalan-jalan ke Korea, setelah bertahun lamanya aku tidak menginjak tanah Flores yang terkenal dengan sanitasi yang buruk, kelaparan di mana-mana, stunting, dan maraknya kematian anak sebelum usia 5 tahun. Mungkin, pandanganku terlalu buruk tentang kampung halamanku, padahal di sini terdapat berbagai wisata alam yang menggugah turis mancanegara. Ada kampung adat Wologai yang terletak di desa Wologai Tengah, Benteng Portugis (That’s why bapak memiliki keturunan Portugis), Monumen Pancasila tempat perenungan Soekarno, Presiden pertama kita, Museum Tenun Ikat, dan yang paling tenar yaitu Danau tiga warna atau Danau Kelimutu yang dijadikan objek gambar di mata uang Indonesia. Tapi, tetap saja ini adalah perjalanan yang tidak aku inginkan. Kenapa kita nggak ke kampung mamak yang di Korea aja? Walaupun mamak memang sudah campuran Jawa-Korea, tapi kan lebih asyik.

Penerbanganku waktu itu dimulai dari bandara Soekarno-Hatta menuju Bali. Dari sana, kami harus transit satu hari untuk menunggu pesawat ke Ende. Tiba di Ende perasaanku masih sedikit bercampur aduk, senang karena ketemu babo dan mamo yang sudah puluhan tahun tidak jumpa namun juga sedih karena harus kehilangan tiket ke Korea. Semua saudara menghiburku, “Babo kangen sama kamu. Kamu sudah besar dan secantik ini, apa tidak ingin lihat babo? Babo sudah tua…”. Yah, alasan sudah tua dan rasa rindu adalah hal yang selalu dibawa-bawa.

Satu hal yang ku ingat dari kakekku yang dipanggil babo ini. Setiap pagi pukul lima dan sore di waktu yang sama, ia akan duduk di depan teras sambil bernyanyi dan minum kopi. Alhasil, kenangan yang tertinggal di kepalaku tentang sosoknya adalah bau kopi. Setiap kali aku mencium aroma kopi dalam segelas Americano, Aceh Gayo, Mandailing, Toraja atau kopi bungkus kecil instan, yang terbayang adalah aroma tubuh babo yang memelukku saat aku hampir kehilangan nyawaku. Saat tubuhku sempat hanyut karena banjir bandang dan ia satu-satunya yang tidak meninggalkanku. Ini juga salah satu alasan kenapa aku sampai sekarang tidak mau belajar berenang. Ende memang terkenal rawan bencana alam, namun Ende juga memiliki cerita cinta yang menenggelamkan antara aku dan babo, antara cucu dan kakeknya.

Setelah menempuh perjalanan selama 10 menit, aku sampai di daerah Kopoone, Ende, Flores, NTT. Perjalanan dua jam dengan pesawat kecil membuatku sedikit mabuk. Aku ingin langsung menenggak segelas kopi. Ya, segelas dan bukan secangkir. Di kampungku, aku dan keluargaku dulu terbiasa mengolah kopi sendiri. Tak jauh dari rumah babo, terdapat banyak tanaman kopi yang bias dibilang menjadi milik bersama. Kebun ini diurus oleh semua warga dan siapa pun boleh menikmatinya. Hari-hariku masih cukup lama di sini, maka aku memutuskan untuk memanggil ojek dan meminta kakak ojek mengantarkanku sampai ke kebun. Di sana, naik ojek tak perlu bayar mahal, lima ribu rupiah sudah bisa ke mana saja, jauh maupun dekat.

Sesampai di kebun aku benar-benar menikmati setiap aroma dari kopi-kopi mentah. Bau tanaman yang khas dan aroma daun-daunnya. Bahkan bau tanah Ende yang benar-benar berbeda dengan tanah di pulau lainnya. Ada aroma kekuatan dan cinta yang melebur jadi satu di dalamnya. Tanah ini pula yang menghasilkan kopi-kopi nikmat yang sejak dulu selalu dikirimkan ke kediamanku di Jakarta. Semenjak itu lah aku mulai jatuh cinta pada kopi. Walau lama tidak pulang ke Ende, aku masih ingat cara yang diajarkan babo untuk mengolah kopi. Setelah dipanen, biji-biji kopi yang baik dipisahkan dari biji kopi yang buruk. “Pergaulan yang buruk merusak kamu yang baik. Sama seperti kopi-kopi ini, kopi yang buruk bisa merusak kualitas kopi yang baik,” terngiang nasihat babo padaku.

Menghabiskan beberapa hari di Ende membuatku banyak berbincang dengan babo, khususnya jam lima sore di depan rumah. Ia banyak bertanya kehidupanku di kota besar dan terutama jodohku. Hah! Aku paling malas menjawabnya, namun, sambil menyesap kopi buatan tangannya sendiri, babo berkata, rasa cinta itu sama seperti rasa kopi, bukan masalah pahitnya, tapi rasa yang ditinggalkannya setelah kamu meminum seluruhnya. Ada rasa yang berbeda di sana.

“Tuhan kasi kita indera perasa. Semua orang kembali pada satu kopi karena rasa yang pernah ditinggalkannya. Bukan sekadar aroma yang tercium lalu hilang, tetapi rasa yang membekas yang akan membawa kamu untuk mencoba dan mencoba lagi rasa tersebut. Itu cinta. Tidak ada kapoknya,” kata babo yang asyik melemparkan beras untuk ayam yang berkeliaran bebas di depan rumah kami.

Apa benar?

Jika dipikir-pikir, aku mulai jatuh cinta pada kopi dan selalu kembali padanya karena… Ahh, ya, benar saja. Ini semua tentang rasa. Pahit itu hanya awalnya, jika kita bisa mencerna dan memisahkan rasa kopi yang sesuai dengan ingin kita, maka akan ada banyak pilihan yang tertera. Aku memang bukan pemilih kopi, namun kopi NTT buatan babo adalah yang paling menyiksa. Karena ada balitan cinta dan rindu akan kampung halaman di dalamnya.

KRINGGGGGG KRINGGGGG

Nyawaku kembali ke tempat di mana aku baru saja menyesap secangkir kopi sambil menunggu penerbanganku yang ternyata dinyatakan delay.

“Halo, Maya speaking…”

“Hai, Maya. Lo lagi duduk pakai sepatu keds warna merah, parka hijau lumut dan eeee… rambut sedikit berantakan?”

“Wait…” aku menatap gadgetku lekat-lekat, Ko Andre. Damn! Ada sekitar sepuluh nama Andre di telepon genggamku dan saat ini aku benar-benar butuh tahu Andre mana yang sedang membuntutiku. I’m no make up for now! Secepat abang ojek online menyambar permintaan penumpang, secepat itu pula tanganku merogoh lipstick halal dengan warna favoritku, red. I’m ready, though. Attack!

“Ini Andre….eeee…” sambil merapikan sedikit garisnya yang keluar dari bibir tipisku.

“Andre Ferdian. Lupa? Aku ke sana ya!”

Tuhan!!!!!!

Jangan bilang karena aku terlalu banyak minum kopi ingatan ku sama sekali tidak berfungsi. Aah, aku tidak menyalahkan kopi. Dari dulu memang aku tak pandai menghapal nama dan wajah orang.

“Hai, May…”

Dia menyunggingkan senyumnya dan mengulurkan tangan. Ah, aku ingat sekarang. Dia adalah salah satu teman baruku saat aku pulang ke Ende waktu itu. Aku sempat mengiranya turis bule, maklum, ia tinggi dan berperawakan seperti Hemsworth bersaudara dan aku sama sekali jauh dari Miley Cyrus.

“Hai Ndre. Long time no seeeeee….” Kataku sambil kembali mengumpulkan memori di Danau Kelimutu.

Saat itu dengan bodohnya aku terlalu banyak gaya untuk memposting bahwa aku baik-baik saja di Ende, bahkan aku menggunakan #enjoyendewalausendiri dalam setiap foto yang kuunggah. Sayangnya, lima menit setelah foto terakhirku aku terpeleset dan tak ada yang menolongku saat itu, karena semua saudaraku sudah kembali ke tempat mobil pick up kami (ya, aku tidak benar-benar sendiri. You know, pencitraan is everywhere).

Andre datang di saat yang tepat. Ia menolongku dan membawaku ke parkiran mobil. Entah terlalu bahagia, keluargaku meninggalkan aku di sana. Mereka tak sadar kalau aku tidak bersama mereka. Telepon? Jangan harap, begitu turun gunung Anda akan kehilangan sinyal kehidupan. Andre bagaikan malaikat di tengah kecerobohanku, mengantarkanku pulang ke rumah babo. Terlihat babo dan mamo yang cemas bahkan menangis karena tak menemukanku di mobil dengan terpal biru yang biasa digunakan untuk mengangkut sayur ke pasar.

Tentu saja, Andre disambut dengan baik di keluargaku. Ia pun akrab dengan babo hanya dalam waktu sepuluh menit. Yang mereka bicarakan tak bukan tentang kopi. Andre sendiri memiliki kebun kopi di wilayah Ende, beberapa kali dalam setahun ia pasti datang untuk memeriksa tanaman warisan dari ayahnya.

“Kamu mau ke mana?”

“US. Kamu?

“Wah, kebetulan. Pesawatnya delay kan?”

“Kok kamu tahu?”

“We’re in the same boat. I mean plane. Hahaha”

“Hah? Seriusan? Thank God! Aku nggak mati bodoh sendirian di sini.”

“Babo apa kabar?”

Seketika menggenang air mata di pelupuk mataku.

“Hei, are you okei?”

“I’m okei. Babo sehat, kebun kopinya yang tak sehat. Pelebaran jalan dan beberapa pembangunan gedung membuat babo yang tak tahu apa-apa selain kopi hanya bisa pasrah menyerahkan sebagian kebun kopinya hilang.”

“Lalu?”

Andre tampak serius memperhatikan mataku. Tuhan, aku nggak kuat kalau begini caranya.

“Yah, bisnis kopi keluarga kami pun mengalami sedikit kendala.”

“Kamu tahu nggak, aku rasa ini bukan kebetulan. Aku sudah lama ingin mengajak babomu bekerja sama dengan ku. Tapi, aku sedikit ragu karena babo tampaknya benar-benar ingin mengelola kebunnya sendiri. Kalau kamu mau, kita bisa bekerja sama memajukan kopi Ende, kopi kita.”

Kita katanya……

Haaaahh! Bagaimana mungkin aku bisa merasakan indahnya cinta di tengah pembicaraan memilukan ini.

“Mungkin… kita bisa membahasnya sambil makan siang?”

“On me, ya! Yuk…”

Andre pun berjalan selangkah di depanku.

Babo, aku akan berusaha untuk menyelamatkan kopi kita. Kopi jam lima yang selalu membuat aku merindukan babo, kopi sederhana di dalam secangkir kaleng tua, kopi yang diramu dengan tawa dan kenangan manis akan masa kecil bersama babo, kopi kebanggaan babo yang akhirnya berhasil membawaku sampai ke Amerika.

 

kopi

Source: Pinterest

Babo, ini untuk babo. Ini kemenangan atas cinta dan harapan untuk tanah Ende, kemenangan atas usaha babo menjaga dan mencintai setiap tanaman kopi di kampung kita. Maya janji akan membawa harum nama Indonesia lewat kopi tanah Ende.

Karena dalam segelas kopi terdapat perjuangan, cinta , dan kesetiaan akan nusa dan bangsa.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com