Please Tell Me It’s Not 17.15pm

Why people crying?

Favim.com-art-barbie-cool-girl-hair-286070

Kenapa Tuhan menciptakan air mata? Kenapa Tuhan nggak mengganti air mata itu dengan sesuatu yang lebih berharga yang bisa dijual seperti di drama-drama. Kenapa air mata itu memiliki makna?

Sejujurnya saya bukanlah tipikal orang yang bisa menangis sembarangan. Yup, pada dasarnya memang saya cengeng dan sensitif, but i never let people melihat saya menangis. Once saya bisa menangis sesuka hati saya di hadapan kamu, iya kamu, itu berarti saya sudah benar-benar nggak berdaya, nggak punya kekuatan ekstra, dan bahkan itu berarti aku sudah menunjukkan kelemahan yang paling saya nggak sukai. Satu lagi, itu artinya saya bisa percaya sama kamu sepenuh hati saya karena saya menyerahkan air mata saya ke kamu.

Air mata atau tangisan yang saya maksud di sini adalah ketika saya sudah benar-benar menyerah sama pertarungan di dalam diri saya. Untuk hal tertentu iya saya menangis. Misalnya, di pesta pernikahan. Saya paling ‘benci’ adegan salam-salaman sama orangtua. Karena saya pasti menangis. Jika itu terjadi, otomatis saya akan berbalik badan atau melihat ke langit-langit agar air mata ini nggak turun begitu saja.

giphy (11).gif

Ketika ada teman yang bersedih, saya biasanya berusaha untuk memeluk. Begitu saya meninggalkan dia, baru saya menangis sejadi-jadinya, karena saya merasakan apa yang dia rasakan. Jika kuat, saya akan tetap bersama dia tanpa suara agar tetap kuat menahan air mata di dalam kantungnya.

Dalam kondisi lainnya, saya bisa menutupi semuanya dengan tawa yang terpaksa. Dan kalau kamu peka, itu hanyalah tangis di balik tawa.

Kadang, saya menangis dalam bentuk pelukan. Saya tidak mengeluarkan air mata. Saya hanya meminta sebuah pelukan. Bentuk dukungan paling kuat. “Please, hug me!” ini kode saya. Ketika saya memeluk kalian, itu adalah ekspresi saya. Tapi, ketika saya mengeluarkan kalimat ini, berarti saya butuh saluran tenaga dari kalian.

Dalam sebuah kotbah Ps. Jose Carol yang bertema “What to do when you don’t know what to do”,  pelukan adalah salah satu langkah pasti untuk memulihkan kekuatan yang disarankan ketika kita nggak tahu harus berbuat apa. That’s why, we need others, we need community, we need DATE (komsel).

  • 3. Tenggelamkan dirimu dalam Kasih.
    Kita sebagai makhluk sosial kita butuh Kasih Tuhan. Kadang yang kita butuhkan bukan ide, khotbah dan nasihat, namun yang dibutuhkan adalah, seorang sahabat yang datang memeluk dan memberikan kasih. Ada sebuah kekuatan yang datang ketika dipeluk. Waktu engkau memeluk ada endorfin yang keluar dan menenangkan. Ada sesuatu yang bekerja dalam Kasih. Ada kekuatan yang keluar dari dalam diri kita.
    Inilah yang saudara butuh kan – Kasih, sebuah penerimaan yang tulus dan sebuah pelukan hangat dari seseorang.
    Courtesy: GR.Faith

Ketika kita membutuhkan kekuatan, ketika kita memeluk seseorang, kita nggak akan otomatis mendapatkan kekuatan itu kalau orang yang kita peluk nggak membalas pelukan kita. So, when i ask someone to hug me, itu sudah merupakan sebuah permohonan yang bersifat urgent and hopeless. Tentu saja saya nggak sembarangan meminta pelukan.

Pelukan ini akan mendatangkan kekuatan yang bisa menahan air mata ketika mereka adalah orang-orang yang benar-benar attached sama saya. Mereka adalah orang-orang yang kenal saya. Bukan hanya sekadar tahu.

Kenapa sih saat ini saya bisa sampai merasa begitu membutuhkan kekuatan?

Setiap manusia itu punya pembelajarannya sendiri. Dalam masa ini, sejujurnya Tuhan sangat-sangat membentuk pribadi saya melalui orang yang paling dekat sama saya.

Amsal 27:17 (TB) Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.

Tuhan pakai kita masing-masing untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan yang nggak baik kedepannya. Tapi, percayalah kalau partner kita nggak punya tendensi yang jahat untuk menyakiti. Percaya saja. Dan sebagai manusia kita harus terus mau diubah alias nggak begitu-begitu. Tuhan jelas minta kita memperbaharui diri kita hari demi hari supaya makin sempurna (dewasa), otomatis kita bukanlah orang yang sama setiap saat. We change! Dan kita dituntut untuk terus berubah.

Sejauh ini masalah kami jelas komunikasi, masalah umum orang LDR. Bukannya masih masa-masa ‘honeymoon’? Nggak ngerti juga sih Tuhan maunya gimana. Tapi, luar biasanya melalui masalah ini, karakter satu sama lain pun mulai kelihatan. Gimana saya yang orangnya blak-blakan, perasa, nggak sabaran, terbiasa gerak cepat, pengen semua masalah cepet selesai, dan sebagainya. Begitu juga dengan dia, saya akhirnya mulai bisa melihat sisi lain dari dia yang perlu saya ketahui.

“Trus, saya mesti gimana?”

Sejauh ini, setiap kali saya merasa “Apakah saya salah? Apakah ini salah?” saya akan tanya ke orang-orang yang saya percaya bisa menolong saya. Karena jujur saya lama nggak pacaran, saya tahu teorinya tapi masih nggak fasih mempraktikkannya, saya mau belajar, dan banyak lagi. Dan ini ujian saya dan dia.

Tips: Ketika kamu masih pacaran, percayalah kamu harus buka telinga dan hati kamu lebar-lebar untuk menerika kritik dan saran. Selanjutnya, eksekusi antara kamu dan pasangan adalah keputusan kalian berdua. Bukan lagi orang lain. Dan jelas, setiap keputusan ada risikonya. Hal ini berbeda ketika kamu sudah menikah nanti, nama baik partnermu adalah tanggung jawabmu. Nggak bisa sembarangan orang tahu masalah internal kalian. Mungkin nanti kalau saya sudah merasakan pernikahan, saya bisa share sama kalian.

Kalau ditanya, kenapa sih harus bertanya? For me, karena dalam setiap masalah kita butuh masukan. Apalagi kalau kita tahu kita nggak ngerti jawabannya apa. Jangan pernah malu bertanya dan mengakui kelemahan diri sendiri.

Dalam menjalani hal ini, Tuhan sudah ngomong pesan yang sama dan berulang-ulang. Tentang masalah PERCAYA.

To trust God in the light is nothing, but to trust Him in the dark – that is FAITH. – Charles Haddon Spurgeon.

Dia bilang lagi dan lagi sama saya, “Kamu percaya nggak sama Saya?”.

Masalah percaya.
Dalam sebuah hubungan antara manusia, rasa percaya nggak bisa diterima begitu saja tanpa pembuktian atau usaha (gitu juga nggak sih ke Tuhan?). Waktu PDKT kamu pasti berusaha menginvestasikan segalanya supaya gebetan kamu percaya kamu bisa bahagiakan dia kan? Supaya si gebetan mau terima kamu.

Ketika sudah berpartner. jangan sampai hal itu hilang lho. Biasanya saya dan partner akan saling kasih kabar jalan sama siapa, atau saya kemana. Komunikasi. Untuk saya pribadi, ini adalah salah satu hal yang bisa saya lakukan untuk menjaga kepercayaan dia. Mulai mau nurut untuk tidur cepet juga salah satu tindakan yang bisa saya lakukan untuk jaga kepercayaan dia kalau saya sayang sama dia.

Kenapa sih mesti begitu? IMHO, hal ini penting (lagi dan lagi) karena rasa percaya itu BERSYARAT dan harus dibangun setiap saat (Marriage gathering 2017). Kebayang kan ketika kamu nggak mengomunikasikan ini dengan baik dengan pasangan kamu? Ini sulit (Yang pernah ngerasain boleh tunjuk diri sendiri :)).

Selain komunikasi, menjaga kepercayaan bisa kamu lakukan dengan menjaga apa yang sudah kamu bilang (integritas). Ketika kamu bilang cinta atau sayang sama orang, apakah kamu bisa benar-benar berintegritas sama apa yang kamu bilang? Apakah kamu melakukan usaha yang maksimal untuk partner kamu? Apakah kamu menyimpang ke kanan dan ke kiri? Ups.

Kalau saya tarik hubungan saya sama Pencipta saya, gimana sih caranya biar kepercayaan itu tetap ada? Komunikasi. Berdoa. Baca Alkitab (mau digital, mau shermon, mau buku fisik, apapun, pokoknya usaha baca). Dia pasti senang ketika komunikasi kita lancar. Ketika saya nggak lancar komunikasi sama Dia, percaya deh, saya bisa hilang arah dan nggak bisa dengar mana suara Dia dan mana suara saya sendiri. Kepercayaan saya ke Dia pun otomatis goyang, deuh. Jadi, sebisa mungkin saya akan mengusahakan untuk tetap ngobrol sama Dia. Walau sebentar atau ngantuk-ngantuk hehehe… Walau kadang malas pasti ada juga. Asli.

Integritas. Ketika saya bilang saya sayang sama Dia, apakah saya bisa tetap kontak dia ketika saya sibuk dan menyempatkan baca surat cintanya Dia? Atau saya memilih tidur dan akhirnya satu hari, dua hari, tiga hari, lama-lama saya lupa gimana relationship saya sama Dia. Kita sama pasangan saja kita nggak mau diginiiin, masakan kita begitu sama Tuhan kita? Asli, ini berat ngomong seperti ini karena saya yang menulis ini juga masih berusaha untuk menghidupi apa yang saya tulis. At least, saya tahu rasanya makanya saya nggak mau gini lagi ke Dia. Karena saya tahu rasanya gimana.

Trus, sekarang saya gimana? Saya nggak lagi dalam suasana yang enak juga. Mana ada sih masa ujian yang enak. Tapi, nggak ada pemenang di ring tinju yang keluar sebagai pemenang tanpa memar dan luka-luka. So, sakit, BT, sebel, emosi, itu pasti terjadi ketika kita ada di dalam ring tinju. Problemnya, bisa nggak tetap percaya sama Tuhan ketika masa sulit ini ada? Bisa nggak kita menang dari ‘pertandingan’ kita, walau ‘berdarah-darah’ tapi memutuskan untuk kembali mengasihi dan mengusahakan yang terbaik untuk kebaikan bersama saat ini dan di masa depan. Rasa takut itu ada, tapi mana yang lebih besar? Rasa takutnya apa rasa percayanya?

Nulisnya gampang ya, tapi percayalah saya masih membutuhkan kekuatan untuk setia dalam berdoa, percaya, dan beriman sama Tuhan. Saya butuh kekuatan untuk menerima kalau setiap hari saya harus melewati pukul 17.15pm tanpa apa-apa. Saya butuh kekuatan untuk membuktikan kalau saya sayang sama Dia, dia juga. So, please send your hug in your prayer, every night, before you sleep, for me. 🙂

Thanks,
Xox

Ninta.

Pray

Praying woman hands
I need you to soften my heart
And break me apart
I need you to open my eyes
To see that You’re shaping my life

All I am, I surrender

Give me faith to trust what you say
That you’re good and your love is great
I’m broken inside, I give you my life

I need you to soften my heart

And break me apart
I need you to pierce through the dark
And cleanse every part of me

All I am, I surrender

Give me faith to trust what you say
That you’re good and your love is great
I’m broken inside, I give you my life

‘Cause I may be weak
But Your spirit strong in me
My flesh may fail
My God you never will 
I may be weak
But Your spirit strong in me
My flesh may fail
My God you never will

Give me faith to trust what you say
That you’re good and your love is great
I’m broken inside, I give you my life

‘Cause I may be weak
But Your spirit strong in me
My flesh may fail
My God you never will

I may be weak
But Your spirit strong in me
My flesh may fail
My God you never will

Christopher Joel Brown / London Weidberg Gatch / Mack Donald Iii Brock / Wade Joye

(Sometimes) The Answer is Pray

“Har, apa yang kamu nggak suka dari Ninta?”

“She’s overthinking.”

“Kalau kamu, Nin?”

6301285382075

Source: Divineheartcouples

Suatu waktu, kami berdua bertemu dengan pemimpin komsel saya dan membahas beberapa hal ini. Menurut kalian ada yang aneh nggak dengan pertanyaan di atas?

Menurut saya, sedikit aneh. Di mana-mana, ketika kamu menemukan pasangan yang sedang berbahagia, yang ditanyakan pasti, “Apa sih yang membuat kamu suka sama dia? Apa kelebihan dia yang membuat kamu jatuh cinta?” Dan beragam pertanyaan menyenangkan lainnya.

Tapi, hal di atas tidak ada salahnya juga jika ditanyakan di awal kalian saling membangun hubungan, lho. Kenapa? Walau masih baru, kalau kalian harus benar-benar mengenal masing-masing pribadi. Kalian harus tahu apa yang kalian nggak sukai dari pasangan kalian masing-masing. Ini bisa menjadi bahan evaluasi kalian nantinya saat sudah melewati beberapa masa. Apakah ada perubahan atau tidak.

Kalau kata Tulus,

“Jangan cintai aku apa adanya… tuntutlah sesuatu biar kita jalan ke depan…”

Mengetahui kelemahan dan mengevaluasinya bukan berarti kamu menuntut pasangan kamu berubah tanpa alasan yang jelas. Ada beberapa hal yang bisa dan tidak bisa diubah. Untuk hal yang sulit diubah, kamu harus bisa menentukan toleransimu untuk yakin bisa menerimanya jika suatu saat kamu sudah menikah dengan dia. Tapi, untuk beberapa hal yang masih bisa disesuaikan, usahakanlah. Karena kunci dari sebuah hubungan adalah MENGUSAHAKAN, dan indahnya hubungan adalah sebuah hasil dari usaha itu.

Kalau begitu, bagaimana dengan saya? Iya, saya adalah tipikal orang yang memandang jauh ke depan. Iya, kejauhan alias overthinking. Somehow, hal ini berguna untuk meramal masa depan. Tapi, lebih banyak wastednya karena hanya menimbulkan kecemasan. Come on, Ninta, have faith!

Beberapa kali saya dan pasangan saya mengalami konflik, salah satu penyebabnya adalah pikiran saya yang nggak saya kontrol, nggak saya serahin sama Tuhan, dan nggak saya filter baik-baik. Alhasil, saya sendiri yang tersiksa. But, lately saya belajar banyak untuk menangani hal ini. Gimana caranya? Berdoa!

While i face the distance between me and him, i pray
While i missing him so much, i pray
While  i want him but can’t, i pray
While i overthinking, i pray
While i can’t reach him, i pray
While i want to be loved but can’t, i pray
While i want to say something, but don’t know how to tell it, and get mad,
I pray

Do you think it is easy?
I surely can say NO!
But…
Is it help me?
I surely can say YES!

Kebanyakan kita berdoa mungkin hanya untuk memulai dan mengakhiri hari. Berdoa untuk mengucap syukur dan memohon sesuatu. Tapi, pernah nggak kalian berdoa sama seperti kalian curhat dan bicara langsung sama teman sendiri? Pernah nggak kalian berdoa untuk rasa kesal, bete’, cemburu, sakit, pedih, sakit, yang kalian alami? Pernah nggak berdoa supaya pasangan kalian bisa mengerti kalian lebih lagi, memaafkan kalian lebih lagi, menghormati kalian lebih lagi? I do.

Pengalaman mengajarkan saya nggak cuma untuk berdoa, saya bahkan berteriak sama Tuhan. Saya berteriak dan menangis untuk minta kekuatan melawan diri saya sendiri. Capek? Iya, capek. Bayangkan saja kamu harus melawan ego kamu sendiri. Kenapa kamu harus? Karena untuk menjaga suatu hubungan kita perlu dua orang yang sama-sama normal. Bukan yang satu “gila” yang satu normal, apalagi kalau dua-duanya “gila”.

Ibarat mendayung sepeda, kalau kayuhannya nggak seimbang, apa sepedanya bisa jalan? Nggak. Belajarlah melawan diri sendiri. Demi keuntungan siapa? Keuntungan bersama.

Beberapa waktu yang lalu saat saya dan pasangan mengalami miscommunication, saya menyempatkan waktu untuk menonton WAR ROOM yang direkomendasikan kakak saya (sambil nungguin dia yang nggak ada kabarnya karena satu dan lain hal). Film ini menceritakan bagaimana kekuatan doa membawa perubahan dalam relationship.

Saya sendiri tertegur karena jelas selama ini saya menghanyutkan pikiran dengan pikiran yang “nggak banget”. Ketika rasa insecure saya timbul, saya merasa pasangan saya nggak membutuhkan saya, saya terlalu excited dengan hubungan kami dan dia nggak sebegitunya, ketika hubungan lagi down saya beberapa kali meragukan ketika pasangan saya bilang dia sayang sama saya, dan masih banyak lagi. Padahal nggak gitu.

But, thank God. Dia selalu kasih saya jalan keluar. Saya selalu diingatkan untuk TIDAK mengambil tindakan sebelum berdoa. Saya ini anaknya mellow luar biasa, sedangkan dia tipikal yang cuek. Jadi, ketika saya sudah berhasil menghandle diri saya, baru saya minta penjelasan dari dia. Kalau tidak, yang ada hanyalah kemenangan atas egoisnya saya.

Seringnya saya menemukan jawabannya nggak seperti yang saya pikirkan. Walau kadang ada juga yang benar, tapi tidak seburuk itu. Ujungnya, saya nangis karena saya merasa sedih, senang, terharu, atau malah merasakan kalau rasa sayang saya ke dia bertambah lagi. Yup, saya memang terkenal cengeng, jangankan menghadapi hal begini, ketika saya mendapatkan kata Thank You dari keponakan saya, dan saya merasakan kalau itu ia ucapkan tulus dari hatinya, otomatis mata saya berkaca-kaca. Dasar cengeng!

Ya, sekali lagi, berdoa itu penting. Ketika masalah sudah selesai, jangan jadi lemah untuk berdoa. Ingin meminta pengertian, berdoalah. Ingin agar pasangan kamu berubah, berdoalah. Ingin jalan keluar dalam masalahmu, berdoalah. Ingin menyerahkan hati dan hidupmu untuk dikontrol, berdoalah. Karena ketika kamu berdoa, kamu masuk ke dalam sebuah medan perang. Berperanglah, entah untuk melawan dirimu sendiri atau tidak. Berperanglah dan menangkan pertempuran itu.

While you are praying, you jump into the battlefield!

At the end, i wish  saya naik level setiap kali saya berhasil lulus dari beberapa proses seperti ini.

Dear my partner, i wish you to know that i’ve been learn everyday to be the best version of me. Maybe, i’ve always asked you about everything, but, thank you for understanding me and say “Jangan gitu naa…” . Sometimes, i feel that you didn’t love me that much just because you’re not telling me or shows me. But, please gimme time, enjoy the process. We just start the journey, we just sailed. Lavya 🙂

 

 

Xox,

Ninta.

Janji yang Tersembunyi

comforting-bible-verses-hebrews-10-23

Source: http://urnsnw.com

Waktu kamu masih kecil, tentu kamu pernah bermain cilukba dengan orangtua mu. Saat itu, kamu mungkin percaya bahwa orangtua kamu hilang dan saat membuka mata, mereka kembali ada di sana.

Begitu juga waktu kamu belajar berjalan, orangtua kamu juga suka memancingmu dengan mainan atau makanan kesukaanmu. Saat kamu sudah berjalan mendekatinya, tiba-tiba orangtua kamu menutupnya dengan kain atau menyembunyikannya.

Saat itu, kamu pasti berhenti dan berpikir “Kemana makanan itu pergi?” Namun, setelah dibuka kembali kamu mulai berjalan menghampiri makanan tersebut.

Satu kali mungkin kamu tertipu, tetapi setelah dua atau tiga kali hal itu terjadi padamu, kamu tentu tahu bahwa makanan atau mainan itu tetap ada di sana sehingga tanpa ragu kamu akan menghampirinya walau tidak kelihatan.

Inilah yang terjadi saat bangsa Israel berjalan bersama Musa. Jika dalam beberapa kali cerita sekolah minggu kamu mendengar Musa hanya menggunakan tongkatnya untuk membelah lautan, kenyataannya tidak semudah itu.

Salah satu pendeta mengungkapkan bahwa untuk membuktikan janji penyertaan Tuhan, Musa harus masuk perlahan ke dalam air. Mulai dari kaki, betis, sampai air membasahi pundaknya, Beberapa orang pasti tidak percaya pada tindakan Musa. Jika saya jadi Musa pada saat itu, mungkin saya juga mulai bertanya, “Kok lautnya nggak terbelah juga, ya Tuhan?” Rasanya seperti janji Tuhan tidak terlihat. Katanya akan meneyertai, kok ini sudah masuk ke laut, lautnya nggak terbelah juga.

Tapi, apakah Musa mundur?

Tidak. Ia terus maju sampai air laut tiba di batas hidungnya. Kemudian laut perlahan surut dan terbelah membentuk jalan yang dapat Musa dan bangsa Israel lalui untuk menyebrang.

Sampai di sini saya ingin bercerita bagaimana saya sempat meragukan janji Tuhan buat saya.

Seminggu sebelum partner saya datang ke Jakarta untuk meminta saya menjadi pasangannya, waktu itu, kami mengalami masalah. Sampai saat ini, masalah itu masih ada, tetapi waktu itu saya sempat benar-benar ragu untuk menerima dia menjadi pasangan saya.

Masa lalu saya memang tidak baik, saya pernah membangun relasi dan harus putus setelah hampir 6 tahun. Alasannya adalah karena kami tidak mendapat blessing dari orangtua dia dan saya sudah cukup untuk maju. Saya pernah merasakan bagaimana saya berjuang dalam hal itu dan saya tidak mau hal seperti ini terjadi lagi.

Ditambah, dengan kondisi keluarga saya, saya cukup meragukan bagaimana saya bisa dipimpin oleh seorang laki-laki. Ditambah lagi, saya sudah cukup mandiri untuk menjalani hidup sendiri. Saya bisa. Saya mampu.

Hal ini membuat saya bertanya-tanya akan janji Tuhan tentang dia yang akan menjadi pasangan saya. Dalam hati saya sempat bilang, “Kalau kondisinya begini lagi, saya males deh Tuhan. Nggak usah aja apa, ya?”

Padahal, Tuhan udah janji. Padahal, ini Tuhan lagi mau uji. Padahal, Tuhan lagi tutup aja makanannya.

Sampai pada suatu malam penerbangan menuju Bali. Sepanjang malam saya berdoa minta Tuhan kasih jawaban saya harus bagaimana. Begitu mendarat saya menangis. Perasaan saya saat itu memang sedang campur aduk. Kesal, bingung, marah, sedih, sayang.

Sepanjang minggu saya bergumul sebelum bertemu dengan dia di Jakarta. Kemudian, saya mengungkapkan hal ini ke dia dan dia bertanya kenapa saya merasakan hal ini. Memang betul karena ada masalah, namun dia tahu kalau saya memikirkan hal lain selain itu.

“Aku tahu kamu pernah disakiti sama mantan kamu, tapi Aku bukan dia. Jadi, jangan pernah mikir kamu berjuang sendiri.”

Kemudian saya mulai berpikir (lagi-lagi mikir), mereka orang yang berbeda. Dia sempat bilang juga kalau saya adalah orang yang berbeda dengan mantannya, jelas saja kami pasti tidak memiliki sikap yang sama. Saya pun mulai belajar untuk mempercayai dia.

Tepat di 21 Mei 2017, dia di Jakarta dan kami gereja bersama. Entah kenapa Tuhan bicara sama saya lewat firman ini.

“Ninta, janji itu jelas-jelas di depan mata kamu. Tapi, hanya karena tersamarkan oleh “kain” bukan berarti janji itu pergi dan nggak ada di situ.”

Saat mendengar ini, saya nggak mau lihat wajah partner saya. Gengsi lah! Hahaha. Tapi, akhirnya saya ungkapkan ke dia kalau saat di gereja saya sadar kalau firman ini untuk saya. Dan saya minta maaf untuk hal-hal yang terjadi kemarin.

Lalu, apakah masalah itu kini selesai?

Tidak. Setiap hari kami sama-sama terus belajar mengenal pribadi satu sama lain. Kami masih terus berargumen, kami saling bertukar pendapat, saya masih terus belajar untuk nurut sama dia, dia masih terus belajar untuk nggak cuek sama saya.

Belajar menjadi pendamping yang baik itu nggak mudah tapi bukan berarti nggak mungkin. Ini yang harus diingat, ketika dalam segala hal tak ada yang berpihak padanya, pastikan kamu ada di sana.

Dan tentang janji Tuhan, Dia adalah setia. Sekali Ia berjanji, Ia tidak pernah mengingkari. Bagaimana dengan kamu, apakah kamu pernah meragukan janji Tuhan?

Seharusnya, jangan.

god-keeps-his-promises

 

Xox,

Ninta.

And It Move Forward To Little

240_F_100816058_dV2bA8Tu8LQeh1RpZYJt0ZHdtgwa68AZ

Dear morning,
I come with a lot of burden
Buried deep in sorrow

Now, I sit on my bed
Hope for a miracle
Bowed down and struggle with myself
Struggle to find the answers of every bug in my head

I start it with tears and question
I start talk to you and cry
I start cross my finger and pray

“What should i do?”

Still bowed and that sentence come again and again
One and two
I ask
And numbers come to find the answers

You come
You hug me
You told me to open my ear, open my heart, open my mind

“Calm down…”

And it move forward to little

“Can you explain to me?”

I ask again
I don’t hear anything
I try to keep on silent

“I listen…”

I switch off everything in my mind
I let You in, i let You doing something in me

And like the wind You cover me
I feel peace in one second
And everything has gone

You whisper to me and i know
I know,
You tell me again to trust in You

“God is too wise to be mistaken
God is too good to be unkind
So when you don’t understand
When don’t see his plan
When you can’t trace his hand
Trust His Heart…”

 

“When you can’t trace his hand, trust His heart”

 

Writer

Some people read your handwriting because they want to know you,

Sometimes, they just want to judge you.

You can’t handle what they want,

Just write what you want…

Because, they don’t know you

They even don’t mind what’s in your mind,

So, don’t ask them to enjoy it.

Just write,

because you want to.

writing

Source: christabanister.com

 

Dare to Speak

Pernah nggak ngalamin ketika pasangan kamu nangis-nangis nggak jelas atau marah tiba-tiba dan kamu nggak punya clue apapun tentang apa yang terjadi sama dia.

First, say sorry! It works.  Hahaha…

Nah, dari pihak yang “ngambek nggak jelas” (you know who) apa langkah selanjutnya yang harus kamu lakukan? Masa mau ngambek melulu. Please, lah.

Kejadian begini baru aja kejadian di aku dan dia. Tapi, nggak drama seperti yang kalian bayangkan, kok. Nggak juga ribut besar sampai heboh. Are you ready?

Jadi, pada saat itu dia harus pergi sampai malam (larut malam banget) untuk latihan musik dan dia tahu aku agak nggak enak badan. Dia udah bilang beberapa kali sejak dulu untuk nggak usah ditungguin. Dia juga menjelaskan kalau biasanya dia pulang latihan, cuci kaki cuci muka, tidur.

Then, yang di sini, kekeuh maunya nungguin karena terbiasa seperti itu. Selain terbiasa, saya juga cukup bersedia untuk menunggu walau sampai larut malam dan terkantuk-kantuk.

Sambil menunggu dia latihan musik, saya mencuci baju, makan, dan mengambil kesempatan untuk nonton drama korea 1 episode dan dilanjutkan membaca buku yang masih tertunda. Sembari baca buku, mulai nih rasa ngantuk datang. Sesekali dia di sana kasih kabar. But, i enjoy my time with my book sampai ternyata tiba waktunya dia pulang. Sesampai di rumah, dia memberi tahu saya untuk segera istirahat.

Kelihatannya fine aja kan? Di manakah masalahya?

Masalahnya adalah i’m an Act of Service person. Jadi, menurut saya menunggu dia untuk sampai di rumah merupakan salah satu cara saya menunjukkan kalau saya sayang sama dia. Sedangkan menurut dia, ini bukan nomor satu atau nomor dua karena saya bisa istirahat adalah “hadiah” (mungkin) untuk saya. Saya nggak sakit, saya bisa tetap sehat itu “sesuatu” buat dia.

Ketika dia menolak untuk saya tunggu (beberapa kali), jujur saya merasa tertolak. “Oh, jadi tindakan saya ini justru membebani dia? Oh, jadi dia keberatan kalau kita telponan. Oh, dia biasanya bisa langsung istirahat sekarang harus ini itu dulu…” , oke, this is my bad side, i admit it.

Ini sama halnya seperti dia yang bahasa kasihnya gift dan saya berulang kali bilang “Nggak perlu kasih saya apa-apa. Saya nggak butuh hadiah…” seorang teman yang memiliki bahasa kasih ini pernah share bahwa sikap seperti itu bisa menciptakan perasaan “tertolak” dan ini nggak baik.

Sedikit penjelasan, love language dia adalah Words of Affirmation & Gift. Sedangkan saya Act of Service & Quality Time. Kalau kamu mau tahu love languange  kamu apa, klik ini.

Bisa nggak hal ini jadi masalah? Bisa. Kalau kamu mau jadiin ini masalah.

Untuk meredam hal ini, akhirnya saya bicara sama dia.

Kak,
Aku tau kamu udah capek. Aku tau kamu juga nggak pengen aku capek. Tapi, this is one of my way to show you that i love you. You know I’m an Act of Service person.

Ini sama halnya ketika aku nggak minta kado, tapi kamu mauuu banget kasih aku kado. Bcz that’s your love language.

Have a good rest, ❤ you

Percaya nggak kalau kalimat ini muncul setelah saya berdoa? Selesai membaca pesan terakhir kalau dia sudah sampai dan istirahat, saya juga berdoa sebelum tidur. Tapi, ya doanya rada-rada “galau” gitu. Hahaha. Yah, intinya sudah pasrah kalau dia sudah tidur. Bener aja dia baca di pagi hari dan kaget kenapa saya ngomong seperti ini.

Kelihatannya aneh ya? Kayak gini aja harus dibicarakan.

No, when you know yo’re with right person, you don’t have to be careful (or afraid) of what you say. Ditambah lagi, dia adalah orang dengan bahasa kasih Words. Dengan kata-kata yang baik, alasan yang tepat, pesan yang ada di dalam hati dan kepalamu bisa ditangkap dengan baik.

024667180c6812ef3d4d4049b0ca062c

Source: Pinterest

Nah, saya mau ajak kalian untuk membandingkan dengan kalau saya bilang seperti ini,

Kak,
Kenapa sih aku nggak boleh nungguin? Kamu nggak suka aku nungguin kamu?

Iya, aku bisa tidur nanti setelah kamu sampai di rumah. Yang penting aku nungguin kamu. Aku biasanya begini kalau sayang sama orang.

Pesan yang mau kamu sampaikan sama, kamu sayang sama dia, kamu mau tahu kalau dia aman sampai di rumah. Tapi, coba bandingkan kalimat pertama dengan kalimat kedua. Dan bandingkan lagi dengan kalau hanya karena kamu merasa rasa sayangmu ditolak, akhirnya kamu BT’, kamu ngambek, kamu diam, dan kamu bilang “Nggak. Aku nggak apa-apa”. Panjang bro masalahnya.

714a70e90d01b11b1484bd0e612d65ae.jpg

Source: Pinterest

Girls, come on!

Ketika kamu berpasangan (apalagi LDR) jangan persulit hidupmu. Kalau marah, ngambek, dll jangan terhanyut. Bilang kamu marah, kamu sebel BESERTA ALASANNYA. Yakin deh, kamu bisa mendapatkan tanggapan yang baik dari dia juga.

Bukan gitu,  aku cuma nggak pengen kamu sakit, kan kemarin masih nggak enak badan. Kalau sakit2, aku jauh lho.

He said that. Yah, saya juga tahu kalau itu maksudnya dia.

Tapi, yang membuat saya senang (dan agak heran), dia paham maksud saya. Saya dapetin ini waktu saya memeriksa media sosial saya. Saya menemukan ini,

I got it, should have treat her better.

Berarti pesan saya tersalurkan dengan baik. Bukan hanya supaya saya nggak marah atau kita jadi ada masalah, tapi paham benar alasan saya melakukan hal itu.

Berani membangun hubungan, berarti kamu menyadari benar kamu sudah dewasa. Dewasa dalam artian kamu siap untuk menjadi versi dirimu yang lebih baik setiap hari untuk dirimu dan orang lain. Siap menerima hal-hal yang disampaikan pasanganmu dan siap mengatakan apa yang ada di pikiranmu tanpa memberikan hint yang memaksa si dia untuk menebak “Kenapa dia nggak suka? Kenapa dia marah?” dan berusaha mengurangi kalimat, “Aku nggak apa-apa,” padahal apa-apa banget.

Once again, these words is for me too. Yuk, belajar menyadari bahwa segala sesuatu bisa dikomunikasikan. Semua maksud bisa disampaikan sebab komunikasi yang baik dapat mengubah segalanya.

Ps: Hati-hati dengan emosi dan intonasi nada bicaramu, ya. 🙂

 

Xox,

Ninta.