(Sometimes) The Answer is Pray

“Har, apa yang kamu nggak suka dari Ninta?”

“She’s overthinking.”

“Kalau kamu, Nin?”

6301285382075

Source: Divineheartcouples

Suatu waktu, kami berdua bertemu dengan pemimpin komsel saya dan membahas beebrapa hal ini. Menurut kalian ada yang aneh nggak dengan pertanyaan di atas?

Menurut saya, sedikit aneh. Di mana-mana, ketika kamu menemukan pasangan yang sedang berbahagia, yang ditanyakan pasti, “Apa sih yang membuat kamu suka sama dia? Apa kelebihan dia yang membuat kamu jatuh cinta?” Dan beragam pertanyaan menyenangkan lainnya.

Tapi, hal di atas tidak ada salahnya juga jika ditanyakan di awal kalian saling membangun hubungan, lho. Kenapa? Walau masih baru, kalau kalian harus benar-benar mengenal masing-masing pribadi. Kalian harus tahu apa yang kalian nggak sukai dari pasangan kalian masing-masing. Ini bisa menjadi bahan evaluasi kalian nantinya saat sudah melewati beberapa masa. Apakah ada perubahan atau tidak.

Kalau kata Tulus,

“Jangan cintai aku apa adanya… tuntutlah sesuatu biar kita jalan ke depan…”

Mengetahui kelemahan dan mengevaluasinya bukan berarti kamu menuntut pasangan kamu berubah tanpa alasan yang jelas. Ada beberapa hal yang bisa dan tidak bisa diubah. Untuk hal yang sulit diubah, kamu harus bisa menentukan toleransimu untuk yakin bisa menerimanya jika suatu saat kamu sudah menikah dengan dia. Tapi, untuk beberapa hal yang masih bisa disesuaikan, usahakanlah. Karena kunci dari sebuah hubungan adalah MENGUSAHAKAN, dan indahnya hubungan adalah sebuah hasil dari usaha itu.

Kalau begitu, bagaimana dengan saya? Iya, saya adalah tipikal orang yang memandang jauh ke depan. Iya, kejauhan alias overthinking. Somehow, hal ini berguna untuk meramal masa depan. Tapi, lebih banyak wastednya karena hanya menimbulkan kecemasan. Come on, Ninta, have faith!

Beberapa kali saya dan pasangan saya mengalami konflik, salah satu penyebabnya adalah pikiran saya yang nggak saya kontrol, nggak saya serahin sama Tuhan, dan nggak saya filter baik-baik. Alhasil, saya sendiri yang tersiksa. But, lately saya belajar banyak untuk menangani hal ini. Gimana caranya? Berdoa!

While i face the distance between me and him, i pray
While i missing him so much, i pray
While  i want him but can’t, i pray
While i overthinking, i pray
While i can’t reach him, i pray
While i want to be loved but can’t, i pray
While i want to say something, but don’t know how to tell it, and get mad,
I pray

Do you think it is easy?
I surely can say NO!
But…
Is it help me?
I surely can say YES!

Kebanyakan kita berdoa mungkin hanya untuk memulai dan mengakhiri hari. Berdoa untuk mengucap syukur dan memohon sesuatu. Tapi, pernah nggak kalian berdoa sama seperti kalian curhat dan bicara langsung sama teman sendiri? Pernah nggak kalian berdoa untuk rasa kesal, bete’, cemburu, sakit, pedih, sakit, yang kalian alami? Pernah nggak berdoa supaya pasangan kalian bisa mengerti kalian lebih lagi, memaafkan kalian lebih lagi, menghormati kalian lebih lagi? I do.

Pengalaman mengajarkan saya nggak cuma untuk berdoa, saya bahkan berteriak sama Tuhan. Saya berteriak dan menangis untuk minta kekuatan melawan diri saya sendiri. Capek? Iya, capek. Bayangkan saja kamu harus melawan ego kamu sendiri. Kenapa kamu harus? Karena untuk menjaga suatu hubungan kita perlu dua orang yang sama-sama normal. Bukan yang satu “gila” yang satu normal, apalagi kalau dua-duanya “gila”.

Ibarat mendayung sepeda, kalau kayuhannya nggak seimbang, apa sepedanya bisa jalan? Nggak. Belajarlah melawan diri sendiri. Demi keuntungan siapa? Keuntungan bersama.

Beberapa waktu yang lalu saat saya dan pasangan mengalami miscommunication, saya menyempatkan waktu untuk menonton WAR ROOM yang direkomendasikan kakak saya (sambil nungguin dia yang nggak ada kabarnya karena satu dan lain hal). Film ini menceritakan bagaimana kekuatan doa membawa perubahan dalam relationship.

Saya sendiri tertegur karena jelas selama ini saya menghanyutkan pikiran dengan pikiran yang “nggak banget”. Ketika rasa insecure saya timbul, saya merasa pasangan saya nggak membutuhkan saya, saya terlalu excited dengan hubungan kami dan dia nggak sebegitunya, ketika hubungan lagi down saya beberapa kali meragukan ketika pasangan saya bilang dia sayang sama saya, dan masih banyak lagi. Padahal nggak gitu.

But, thank God. Dia selalu kasih saya jalan keluar. Saya selalu diingatkan untuk TIDAK mengambil tindakan sebelum berdoa. Saya ini anaknya mellow luar biasa, sedangkan dia tipikal yang cuek. Jadi, ketika saya sudah berhasil menghandle diri saya, baru saya minta penjelasan dari dia. Kalau tidak, yang ada hanyalah kemenangan atas egoisnya saya.

Seringnya saya menemukan jawabannya nggak seperti yang saya pikirkan. Walau kadang ada juga yang benar, tapi tidak seburuk itu. Ujungnya, saya nangis karena saya merasa sedih, senang, terharu, atau malah merasakan kalau rasa sayang saya ke dia bertambah lagi. Yup, saya memang terkenal cengeng, jangankan menghadapi hal begini, ketika saya mendapatkan kata Thank You dari keponakan saya, dan saya merasakan kalau itu ia ucapkan tulus dari hatinya, otomatis mata saya berkaca-kaca. Dasar cengeng!

Ya, sekali lagi, berdoa itu penting. Ketika masalah sudah selesai, jangan jadi lemah untuk berdoa. Ingin meminta pengertian, berdoalah. Ingin agar pasangan kamu berubah, berdoalah. Ingin jalan keluar dalam masalahmu, berdoalah. Ingin menyerahkan hati dan hidupmu untuk dikontrol, berdoalah. Karena ketika kamu berdoa, kamu masuk ke dalam sebuah medan perang. Berperanglah, entah untuk melawan dirimu sendiri atau tidak. Berperanglah dan menangkan pertempuran itu.

While you are praying, you jump into the battlefield!

At the end, i wish  saya naik level setiap kali saya berhasil lulus dari beberapa proses seperti ini.

Dear my partner, i wish you to know that i’ve been learn everyday to be the best version of me. Maybe, i’ve always asked you about everything, but, thank you for understanding me and say “Jangan gitu naa…” . Sometimes, i feel that you didn’t love me that much just because you’re not telling me or shows me. But, please gimme time, enjoy the process. We just start the journey, we just sailed. Lavya 🙂

 

 

Xox,

Ninta.

Janji yang Tersembunyi

comforting-bible-verses-hebrews-10-23

Source: http://urnsnw.com

Waktu kamu masih kecil, tentu kamu pernah bermain cilukba dengan orangtua mu. Saat itu, kamu mungkin percaya bahwa orangtua kamu hilang dan saat membuka mata, mereka kembali ada di sana.

Begitu juga waktu kamu belajar berjalan, orangtua kamu juga suka memancingmu dengan mainan atau makanan kesukaanmu. Saat kamu sudah berjalan mendekatinya, tiba-tiba orangtua kamu menutupnya dengan kain atau menyembunyikannya.

Saat itu, kamu pasti berhenti dan berpikir “Kemana makanan itu pergi?” Namun, setelah dibuka kembali kamu mulai berjalan menghampiri makanan tersebut.

Satu kali mungkin kamu tertipu, tetapi setelah dua atau tiga kali hal itu terjadi padamu, kamu tentu tahu bahwa makanan atau mainan itu tetap ada di sana sehingga tanpa ragu kamu akan menghampirinya walau tidak kelihatan.

Inilah yang terjadi saat bangsa Israel berjalan bersama Musa. Jika dalam beberapa kali cerita sekolah minggu kamu mendengar Musa hanya menggunakan tongkatnya untuk membelah lautan, kenyataannya tidak semudah itu.

Salah satu pendeta mengungkapkan bahwa untuk membuktikan janji penyertaan Tuhan, Musa harus masuk perlahan ke dalam air. Mulai dari kaki, betis, sampai air membasahi pundaknya, Beberapa orang pasti tidak percaya pada tindakan Musa. Jika saya jadi Musa pada saat itu, mungkin saya juga mulai bertanya, “Kok lautnya nggak terbelah juga, ya Tuhan?” Rasanya seperti janji Tuhan tidak terlihat. Katanya akan meneyertai, kok ini sudah masuk ke laut, lautnya nggak terbelah juga.

Tapi, apakah Musa mundur?

Tidak. Ia terus maju sampai air laut tiba di batas hidungnya. Kemudian laut perlahan surut dan terbelah membentuk jalan yang dapat Musa dan bangsa Israel lalui untuk menyebrang.

Sampai di sini saya ingin bercerita bagaimana saya sempat meragukan janji Tuhan buat saya.

Seminggu sebelum partner saya datang ke Jakarta untuk meminta saya menjadi pasangannya, waktu itu, kami mengalami masalah. Sampai saat ini, masalah itu masih ada, tetapi waktu itu saya sempat benar-benar ragu untuk menerima dia menjadi pasangan saya.

Masa lalu saya memang tidak baik, saya pernah membangun relasi dan harus putus setelah hampir 6 tahun. Alasannya adalah karena kami tidak mendapat blessing dari orangtua dia dan saya sudah cukup untuk maju. Saya pernah merasakan bagaimana saya berjuang dalam hal itu dan saya tidak mau hal seperti ini terjadi lagi.

Ditambah, dengan kondisi keluarga saya, saya cukup meragukan bagaimana saya bisa dipimpin oleh seorang laki-laki. Ditambah lagi, saya sudah cukup mandiri untuk menjalani hidup sendiri. Saya bisa. Saya mampu.

Hal ini membuat saya bertanya-tanya akan janji Tuhan tentang dia yang akan menjadi pasangan saya. Dalam hati saya sempat bilang, “Kalau kondisinya begini lagi, saya males deh Tuhan. Nggak usah aja apa, ya?”

Padahal, Tuhan udah janji. Padahal, ini Tuhan lagi mau uji. Padahal, Tuhan lagi tutup aja makanannya.

Sampai pada suatu malam penerbangan menuju Bali. Sepanjang malam saya berdoa minta Tuhan kasih jawaban saya harus bagaimana. Begitu mendarat saya menangis. Perasaan saya saat itu memang sedang campur aduk. Kesal, bingung, marah, sedih, sayang.

Sepanjang minggu saya bergumul sebelum bertemu dengan dia di Jakarta. Kemudian, saya mengungkapkan hal ini ke dia dan dia bertanya kenapa saya merasakan hal ini. Memang betul karena ada masalah, namun dia tahu kalau saya memikirkan hal lain selain itu.

“Aku tahu kamu pernah disakiti sama mantan kamu, tapi Aku bukan dia. Jadi, jangan pernah mikir kamu berjuang sendiri.”

Kemudian saya mulai berpikir (lagi-lagi mikir), mereka orang yang berbeda. Dia sempat bilang juga kalau saya adalah orang yang berbeda dengan mantannya, jelas saja kami pasti tidak memiliki sikap yang sama. Saya pun mulai belajar untuk mempercayai dia.

Tepat di 21 Mei 2017, dia di Jakarta dan kami gereja bersama. Entah kenapa Tuhan bicara sama saya lewat firman ini.

“Ninta, janji itu jelas-jelas di depan mata kamu. Tapi, hanya karena tersamarkan oleh “kain” bukan berarti janji itu pergi dan nggak ada di situ.”

Saat mendengar ini, saya nggak mau lihat wajah partner saya. Gengsi lah! Hahaha. Tapi, akhirnya saya ungkapkan ke dia kalau saat di gereja saya sadar kalau firman ini untuk saya. Dan saya minta maaf untuk hal-hal yang terjadi kemarin.

Lalu, apakah masalah itu kini selesai?

Tidak. Setiap hari kami sama-sama terus belajar mengenal pribadi satu sama lain. Kami masih terus berargumen, kami saling bertukar pendapat, saya masih terus belajar untuk nurut sama dia, dia masih terus belajar untuk nggak cuek sama saya.

Belajar menjadi pendamping yang baik itu nggak mudah tapi bukan berarti nggak mungkin. Ini yang harus diingat, ketika dalam segala hal tak ada yang berpihak padanya, pastikan kamu ada di sana.

Dan tentang janji Tuhan, Dia adalah setia. Sekali Ia berjanji, Ia tidak pernah mengingkari. Bagaimana dengan kamu, apakah kamu pernah meragukan janji Tuhan?

Seharusnya, jangan.

god-keeps-his-promises

 

Xox,

Ninta.

And It Move Forward To Little

240_F_100816058_dV2bA8Tu8LQeh1RpZYJt0ZHdtgwa68AZ

Dear morning,
I come with a lot of burden
Buried deep in sorrow

Now, I sit on my bed
Hope for a miracle
Bowed down and struggle with myself
Struggle to find the answers of every bug in my head

I start it with tears and question
I start talk to you and cry
I start cross my finger and pray

“What should i do?”

Still bowed and that sentence come again and again
One and two
I ask
And numbers come to find the answers

You come
You hug me
You told me to open my ear, open my heart, open my mind

“Calm down…”

And it move forward to little

“Can you explain to me?”

I ask again
I don’t hear anything
I try to keep on silent

“I listen…”

I switch off everything in my mind
I let You in, i let You doing something in me

And like the wind You cover me
I feel peace in one second
And everything has gone

You whisper to me and i know
I know,
You tell me again to trust in You

“God is too wise to be mistaken
God is too good to be unkind
So when you don’t understand
When don’t see his plan
When you can’t trace his hand
Trust His Heart…”

 

“When you can’t trace his hand, trust His heart”

 

Writer

Some people read your handwriting because they want to know you,

Sometimes, they just want to judge you.

You can’t handle what they want,

Just write what you want…

Because, they don’t know you

They even don’t mind what’s in your mind,

So, don’t ask them to enjoy it.

Just write,

because you want to.

writing

Source: christabanister.com

 

Dare to Speak

Pernah nggak ngalamin ketika pasangan kamu nangis-nangis nggak jelas atau marah tiba-tiba dan kamu nggak punya clue apapun tentang apa yang terjadi sama dia.

First, say sorry! It works.  Hahaha…

Nah, dari pihak yang “ngambek nggak jelas” (you know who) apa langkah selanjutnya yang harus kamu lakukan? Masa mau ngambek melulu. Please, lah.

Kejadian begini baru aja kejadian di aku dan dia. Tapi, nggak drama seperti yang kalian bayangkan, kok. Nggak juga ribut besar sampai heboh. Are you ready?

Jadi, pada saat itu dia harus pergi sampai malam (larut malam banget) untuk latihan musik dan dia tahu aku agak nggak enak badan. Dia udah bilang beberapa kali sejak dulu untuk nggak usah ditungguin. Dia juga menjelaskan kalau biasanya dia pulang latihan, cuci kaki cuci muka, tidur.

Then, yang di sini, kekeuh maunya nungguin karena terbiasa seperti itu. Selain terbiasa, saya juga cukup bersedia untuk menunggu walau sampai larut malam dan terkantuk-kantuk.

Sambil menunggu dia latihan musik, saya mencuci baju, makan, dan mengambil kesempatan untuk nonton drama korea 1 episode dan dilanjutkan membaca buku yang masih tertunda. Sembari baca buku, mulai nih rasa ngantuk datang. Sesekali dia di sana kasih kabar. But, i enjoy my time with my book sampai ternyata tiba waktunya dia pulang. Sesampai di rumah, dia memberi tahu saya untuk segera istirahat.

Kelihatannya fine aja kan? Di manakah masalahya?

Masalahnya adalah i’m an Act of Service person. Jadi, menurut saya menunggu dia untuk sampai di rumah merupakan salah satu cara saya menunjukkan kalau saya sayang sama dia. Sedangkan menurut dia, ini bukan nomor satu atau nomor dua karena saya bisa istirahat adalah “hadiah” (mungkin) untuk saya. Saya nggak sakit, saya bisa tetap sehat itu “sesuatu” buat dia.

Ketika dia menolak untuk saya tunggu (beberapa kali), jujur saya merasa tertolak. “Oh, jadi tindakan saya ini justru membebani dia? Oh, jadi dia keberatan kalau kita telponan. Oh, dia biasanya bisa langsung istirahat sekarang harus ini itu dulu…” , oke, this is my bad side, i admit it.

Ini sama halnya seperti dia yang bahasa kasihnya gift dan saya berulang kali bilang “Nggak perlu kasih saya apa-apa. Saya nggak butuh hadiah…” seorang teman yang memiliki bahasa kasih ini pernah share bahwa sikap seperti itu bisa menciptakan perasaan “tertolak” dan ini nggak baik.

Sedikit penjelasan, love language dia adalah Words of Affirmation & Gift. Sedangkan saya Act of Service & Quality Time. Kalau kamu mau tahu love languange  kamu apa, klik ini.

Bisa nggak hal ini jadi masalah? Bisa. Kalau kamu mau jadiin ini masalah.

Untuk meredam hal ini, akhirnya saya bicara sama dia.

Kak,
Aku tau kamu udah capek. Aku tau kamu juga nggak pengen aku capek. Tapi, this is one of my way to show you that i love you. You know I’m an Act of Service person.

Ini sama halnya ketika aku nggak minta kado, tapi kamu mauuu banget kasih aku kado. Bcz that’s your love language.

Have a good rest, ❤ you

Percaya nggak kalau kalimat ini muncul setelah saya berdoa? Selesai membaca pesan terakhir kalau dia sudah sampai dan istirahat, saya juga berdoa sebelum tidur. Tapi, ya doanya rada-rada “galau” gitu. Hahaha. Yah, intinya sudah pasrah kalau dia sudah tidur. Bener aja dia baca di pagi hari dan kaget kenapa saya ngomong seperti ini.

Kelihatannya aneh ya? Kayak gini aja harus dibicarakan.

No, when you know yo’re with right person, you don’t have to be careful (or afraid) of what you say. Ditambah lagi, dia adalah orang dengan bahasa kasih Words. Dengan kata-kata yang baik, alasan yang tepat, pesan yang ada di dalam hati dan kepalamu bisa ditangkap dengan baik.

024667180c6812ef3d4d4049b0ca062c

Source: Pinterest

Nah, saya mau ajak kalian untuk membandingkan dengan kalau saya bilang seperti ini,

Kak,
Kenapa sih aku nggak boleh nungguin? Kamu nggak suka aku nungguin kamu?

Iya, aku bisa tidur nanti setelah kamu sampai di rumah. Yang penting aku nungguin kamu. Aku biasanya begini kalau sayang sama orang.

Pesan yang mau kamu sampaikan sama, kamu sayang sama dia, kamu mau tahu kalau dia aman sampai di rumah. Tapi, coba bandingkan kalimat pertama dengan kalimat kedua. Dan bandingkan lagi dengan kalau hanya karena kamu merasa rasa sayangmu ditolak, akhirnya kamu BT’, kamu ngambek, kamu diam, dan kamu bilang “Nggak. Aku nggak apa-apa”. Panjang bro masalahnya.

714a70e90d01b11b1484bd0e612d65ae.jpg

Source: Pinterest

Girls, come on!

Ketika kamu berpasangan (apalagi LDR) jangan persulit hidupmu. Kalau marah, ngambek, dll jangan terhanyut. Bilang kamu marah, kamu sebel BESERTA ALASANNYA. Yakin deh, kamu bisa mendapatkan tanggapan yang baik dari dia juga.

Bukan gitu,  aku cuma nggak pengen kamu sakit, kan kemarin masih nggak enak badan. Kalau sakit2, aku jauh lho.

He said that. Yah, saya juga tahu kalau itu maksudnya dia.

Tapi, yang membuat saya senang (dan agak heran), dia paham maksud saya. Saya dapetin ini waktu saya memeriksa media sosial saya. Saya menemukan ini,

I got it, should have treat her better.

Berarti pesan saya tersalurkan dengan baik. Bukan hanya supaya saya nggak marah atau kita jadi ada masalah, tapi paham benar alasan saya melakukan hal itu.

Berani membangun hubungan, berarti kamu menyadari benar kamu sudah dewasa. Dewasa dalam artian kamu siap untuk menjadi versi dirimu yang lebih baik setiap hari untuk dirimu dan orang lain. Siap menerima hal-hal yang disampaikan pasanganmu dan siap mengatakan apa yang ada di pikiranmu tanpa memberikan hint yang memaksa si dia untuk menebak “Kenapa dia nggak suka? Kenapa dia marah?” dan berusaha mengurangi kalimat, “Aku nggak apa-apa,” padahal apa-apa banget.

Once again, these words is for me too. Yuk, belajar menyadari bahwa segala sesuatu bisa dikomunikasikan. Semua maksud bisa disampaikan sebab komunikasi yang baik dapat mengubah segalanya.

Ps: Hati-hati dengan emosi dan intonasi nada bicaramu, ya. 🙂

 

Xox,

Ninta.

Mental Jomblo

Ketika kamu jomblo, bersikaplah seperti jomblo. Ketika kamu sudah memiliki komitmen dengan seseorang, jangan bawa-bawa lagi mental jomblomu!

Hmm… Saya pernah mendengar kalimat ini dalam sebuah pertemuan di hari Minggu bertema relationship. Waktu itu masih single dan available, terus sempat berpikir “Mental jomblo itu kayak apa, sih?”

Kalau menurut kamu, apa sih mental jomblo?

Menurut saya, mental jomblo itu adalah mental yang masih mikirin aku, aku, dan aku aja.  Status saya saat ini single and not available alias sudah berkomitmen. How we met? Soon i’ll share with you, guys. Okei, dengan keadaan sekarang setelah lama sendiri, ini sangat sangat sangat sulit. “Aku” nya kadang masih terbawa-bawa kalau nggak dikeplak biar sadar.

Kenapa sulit? Saya terbiasa untuk mengambil keputusan sendiri, saya tahu bagaimana cara saya menyenangkan diri saya, fokus saya hanya tertuju pada saya dan apa yang saya lakukan. Pokoknya semua tentang saya. Tapi, saat itu saya selalu berdoa sama Tuhan untuk pasangan hidup dan saya bilang “Tuhan, saya sudah siap untuk punya pasangan lagi.” Tapi, ini kan kata saya, bukan kata Tuhan.

Saat ini, seperti diceritakan sebelumnya, saya sudah dikasih kesempatan sama Tuhan untuk membangun berelasi (kembali). Bisa saya bilang hubungan saya berjalan dengan lancar dengan banyak “pelajaran”. Baiknya Tuhan, kami sama-sama diizinkan untuk saling mengenal karakter personal melalui banyak hal, termasuk melalui masalah-masalah. Iya, walaupun baru tapi masalah sudah ada (banyak) saja.

Kita berdua terpisah di dua kota, ini aja sudah jadi masalah. Kita berdua sama-sama aktif. Kita berdua punya love languange yang berbeda. Untuk masalah ex, kita berdua sama-sama pernah membangun hubungan selama hampir 5 tahun dengan masalah yang berbeda tentunya, dan sebagainya.

Nah, suatu malam dia bercerita tentang masalah yang mengganggu dia. Padahal saat itu bisa dibilang saya sendiri juga lagi sedikit kesel sama dia. Then, he said that he’s not oke. 

Mental jomblo ini bilang, “Bodo amat. Aku ini lagi kesel sama kamu. Nggak usah ngomong gimana-gimana dulu. Let me calm my self. Please, leave me alone. Aku lagi baca Alkitab, aku mau tenangin diri sama Tuhan dll. Mo tidur ya tidur aja. Ya, aku kan begini. Biasa juga bla bla bla.”

But, seriously kamu bakal biarin dia begitu? Then, i pray. I ask God for the peaceful from Him.

“Kakak kenapa?”

Satu hal yang bisa saya ambil dari kejadian itu adalah bagaimana saya mengalahkan ego untuk marah, lari, dan nggak peduli dan berbalik untuk belajar mengerti. Mental saling support ini jelas harus dibangun saat kamu sudah nggak jomblo lagi. Kalau dulu kamu bisa nggak peduli, saat kamu sudah menjadi team mate with someone,  your presence is the real strength for him or her.  Gimana kalian berdoa untuk menguatkan satu sama lain, ini penting. Ingat, selain Tuhan (He’s always be the first), saat ini kamu punya prioritas yang lain.

Relationship isn’t​ just about the status. It is about intimacy, support, and a shoulder to cry on. – ME

Nggak bermental jomblo menurut saya juga bicara tentang me-manage hubungan dengan baik. Nggak gampang curiga karena takut kehilangan dia kayak kehilangan gebetan, nggak mudah menyalahkan tanpa menanyakan alasan, nggak menuntut ingin terus diperhatikan seperti waktu kamu tebar pesona sama gebetan-gebetanmu. Nggak gampang tertarik sama orang lain hanya karena sesuatu yang mungkin nggak dimiliki kamu atau pasanganmu.

Memiliki dan menjaga relasi melebihi hal-hal di atas. Belajar dari pengalaman yang lalu, Ninta yang sempat membangun hubungan selama 5 tahun itu adalah Ninta yang mencari pengakuan, Ninta yang berusaha mencari perhatian, Ninta yang tanpa sadar menjadikan pasangannya untuk bahan pameran, Ninta yang nggak banyak melibatkan Tuhan dalam hubungannya, Ninta yang selalu merencanakan tanpa mau peduli rencana Tuhan. Ogah lah begitu lagi karena setiap hari kita harus jadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin, kan? 🙂

That’s!

Jadi, Mblo! Please, ketika kamu sudah nggak sendiri lagi nantinya, pastikan kamu sudah siap untuk mengubah mentalmu. Kamu juga benar-benar mantap dan mau diajar sama yang mempertemukan kamu dan pasanganmu. Jangan sampai waktu sama Dia jadi hilang karena kamu sibuk sama pasanganmu, ini paling penting.

Yeah… I’m not perfect, yet i realize that this words is for me too. So, buat kamu yang masih single available pastikan kalian siap untuk langkah selanjutnya. Buat kalian yang posisinya sama seperti saya saat ini, yuk, pelan-pelan buang mental jomblomu supaya hubungan kalian bisa makin sehat.

Xox,

Ninta

Ps:
Hati-hatilah ketika kamu memiliki komitmen dengan seorang penulis. Semua yang ia rasakan bisa menjadi sebuah cerita yang dapat dibagikan. :p
You know that, right Dit?

We Are God’s Poem

9d92633483dcab784ee9dc8e51c17030

Source: Pinterest

 

Berapa banyak dari kamu yang pernah dikatakan jelek, dijauhi karena tidak pintar, nggak punya teman karena tak punya orangtua yang lengkap atau karena warna kulitmu berbeda dengan warna kulit teman-temanmu?

Hal ini jelas mengarah pada pembulian. Data KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) menunjukkan terdapat peningkatan jumlah anak sebagai pelaku kekerasan (bullying) di sekolah dari 67 kasus pada 2014 menjadi 79 di tahun 2015.

Pembulian terhadap orang lain kerap dianggap wajar terjadi di lingkungan sekitar kita, tapi tahukah kamu kalau hal ini adalah penghilangan identitas terhadap seseorang? Identitas yang jelas kita miliki, yang sudah diberikan oleh pencipta kita sejak kita masih ada di dalam kandungan?

Beberapa hari yang lalu ketika mengikuti chapel pagi, salah satu teman saya menceritakan tentang identitas.

Efesus 2:10 (TB)
Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Setelah membacakan ayat ini, kami semua diajak untuk membuka versi bahasa Inggris dari ayat ini.

Ephesians 2:10

For we are God’s handiwork, created in Christ Jesus to do good works,which God prepared in advance for us to do. (NIV)

Kata God’s handiwork atau workmanship berasal dari bahasa Yunani “POIEMA”, kata ini menjadi akar kata “Poem” atau sajak;syair dalam bahasa Indonesia.

Sajak atau syair biasa digunakan atau diciptakan untuk menyampaikan hal-hal yang indah. Ini adalah karya alami yang akan tercipta ketika kamu sedang merasakan jatuh cinta. So, you should know that you’re beautiful because you’re created by God’s love.

How magnificent to think that we are “God’s POEM, created for good works in Christ”, each with our own rhythm and cadence, a work of art by a Master Artisan. – Pinterest.

Tuhan menciptakan setiap kita dengan keunikan masing-masing. Kita ini adalah blue print nya pencipta kita, yaitu Dia. And that’s our identity. Kita semua adalah ciptaan yang indah dan berharga.

ef5d010b61266e8d281367d68cacbef7

Namun, identitas kita yang luar biasa ini seringkali dirusak oleh LABEL yang diberikan orang lain pada diri kita.

Kamu nggak bisa! Nggak mungkin kamu bertahan! Kamu bodoh! Kamu berbeda! Kamu nggak punya masa depan! Kamu anak yang kacau! Kamu nggak akan bisa begini begitu ini dan itu… silakan tambahkan sendiri daftar yang mungkin pernah kamu terima atau kamu katakan pada orang di sekitarmu.

Abaikan kata-kata di atas!

For now, i wanna tell you that we’re precious.

Jangan pernah rusak gambar diri kamu, identitas kamu, bahkan masa depan kamu hanya karena apa kata orang.

Beberapa saat mengikuti chapel, teman yang lain kemudian bercerita tentang seorang anak berusia 25 tahun yang mengalami pelecehan seksual sejak ia kecil. Awalnya ini hal ini hanyalah kesalahpahaman di keluarganya, namun kabar ini pun menyebar dengan cepat karena ia tinggal di sebuah daerah yang kecil. Ia pun menjadi bahan bully oleh teman-teman di sekitarnya dan berujung pada pemerkosaan yang sebenarnya yang dilakukan oleh salah satu anggota keluarga anak ini.

Sejak saat itu, ia pun kehilangan jati dirinya.

Akibatnya, setiap kali ia menjalin hubungan ia merelakan dirinya menjadi pelampiasan yang katanya cinta. PSK, inilah kata yang selalu ada di kepalanya. Beberapa kali menjalin hubungan ia selalu melakukan hubungan seksual karena yang ia tahu ia adalah seorang PSK.

Dari luar, anak ini terlihat kuat dan tegar. Ia bahkan rajin melakukan pelayanan di tempat ibadah. Tetapi, rantai ini tak pernah lepas darinya. Dia tersiksa. Jika hal ini tidak diselesaikan, bisakah kalian bayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya? Pada masa depannya? Pada anaknya kelak? Yaa… ini akan menjadi satu lingkaran yang tak akan pernah putus. Ia akan melampiaskan rasa amarahnya, rasa kecewanya pada generasi selanjutnya, dan seterusnya.

Kamu yang membaca tulisan ini bisa jadi adalah korban atau pelaku dari kegiatan “Penghilangan Identitas” ini. Yuk, bantu dirimu sendiri dan orang-orang di luar sana dengan tidak sembarangan memberikan LABEL.

Saya menulis hal ini karena saya pernah mengalaminya dan saya pun berhasil lepas dari LABEL yang selama ini dikatakan orang pada saya. Saya adalah korban dan saya berhasil melewati hal ini. Kalau saya berhasil, kenapa kamu tidak?

First of all, hal yang bisa kamu lakukan adalah mengakui semua kesalahan yang sudah kamu lakukan akibat pemberian label yang orang lain lakukan. Apapun itu, sebutkan satu-satu di hadapan Tuhanmu.

Second, MAAFKAN DIRIMU SENDIRI. Ini perlu kamu lakukan sebelum kamu menjalani proses memaafkan orang lain. Ini yang saya lakukan. Ketika saya tahu saya bersalah, saya mengakui apa yang pernah saya lakukan, saya kemudian memaafkan diri saya dan kembali menyadari bahwa saya adalah ciptaan Tuhan yang luar biasa.

GUE UNIK DAN GUE BLUE PRINTNYA TUHAN!

I praise you because I am fearfully and wonderfully made;
your works are wonderful, I know that full well. – Psalm 139:14 (NIV)

Next, bangun kembali hubungan yang sudah jauh dengan penciptamu, sadari bahwa kamu adalah ciptaan Dia yang jelas diciptakan INDAH dan LUAR BIASA. Kembali belajar mencintai dirimu dan penciptamu.

Margaret Maxwell, istri dari John Maxwell seorang motivator terkenal berkata, “Tidak ada orang lain yang bisa membuatmu bahagia. Baik itu pasangan hidupmu, sahabatmu, uangmu, hobimu. Semua itu tidak bisa membuatmu bahagia. Karena yang bisa membuat dirimu bahagia adalah dirimu sendiri. Kamu bertanggung jawab atas dirimu sendiri.”

Ingat, hati dan kebahagiaanmu akan terpenuhi secara utuh kalau kamu dekat-dekat dengan sumbernya. Teman, sahabat, pacar, bahkan orang tuamu sekalipun nggak akan pernah bisa memberikan kamu kebahagiaan yang utuh karena mereka pun seorang manusia.

Temukan kembali identitasmu yang hilang karena kita adalah ciptaan Tuhan yang indah dan diciptakan untuk menyebarkan keindahanNya.

 

 

Xox,

Ninta.