The Unexpected

aa35

Source: Mojarto.com

 

I am walking in a foggy road
With a hand of a trusty man and God’s voice
But, it’s too unclear to lived
And i’m start shaking

“God…”

I call Him
I call Him because i’m too affraid to see the road

I don’t want to see that man’s face
A man who hold me tight
I can’t face him in this condition
I buried my face in his arms
I’m afraid
But, i can’t let his hand apart from mine

He hold it tighter
He said to me, “Trust me.”
I still don’t want to see his smiley face
Then, he take me even farther

I start to realize
One thing i should do is
To listen in His voice and still walk to face the storm with this guy

Storm will always there, even hurricane
But, we must keep moving

Yes, i should be afraid
No, i should not need to stop

God’s voice is never failed. But, He doesn’t promise it will be easy to be passed
Hold on!

I know your deeds. See, I have placed before you an open door that no one can shut. I know that you have little strength, yet you have kept my word and have not denied my name. – Revelation 3:8

The Man and His Ransel

I pray to meet him because i think this is my last chance to catch him on the field. Someone who will forgotten in the middle of the night.

And here he is… the man with his ransel.

Then… i am just a girl who spot her sight to her toes. Sometimes, get a little confident to face everything in front of her. Then, i call his name again. Is he there, God? But, it looks like impossible because the time is over.

Forget it.

It is not.

Suddenly…

He passes me by.

I look through him.

I stop a little time.

Black t-shirt and khaki pants.

And his ransel in his one wide shoulder.

With two of best friend just hanging his attention to his busy-ness.

I’m nervous.

I play with my mineral water plastic bottle.

Just to catch his attention.

He still focus on something in his hand.

Aaah… it’s oke.

The fact… this is the power of pray.

He answered my pray before and I enjoy everything.

I’m happy to see you, the man and his ransel.

I think… Sometimes people is not forget about you. They just not pay more attention about you.

Selesai

Api tidak mungkin menjilat lidahnya sendiri. Namun, apa yang terjadi padanya ketika bertemu denganmu yang kerap membara? Nampak ia keluar dari sisiku menggebu ingin mengitari tubuhmu. Memaksa raga untuk mendekatimu. Merasakan kehangatanmu.

Namun, dalam waktu yang sama memeringatiku bahkan berbalik mengancamku untuk tidak sekali-kali mendekat karena akan lenyap jiwa jika aku menyentuhmu.

Nyatanya, aku tak lagi mau jatuh cinta.

Aku berusaha menghilangkan birunya menjadi sebuah oranye yang cukup menghangatkan saja, tak perlu membakar. Tak perlu terbakar. Sudah cukup aku terbakar oleh setiap ketidakpastian. Karena kepastian hanya kata yang ada di mulutku, kini dan nanti. Karena kepastian hanyalah aku, yang selalu mengharapkan apa yang terlalu sulit untuk aku dapatkan dan kepastian hanyalah sebuah harapan. Harapan pasti selalu ada, tanpa kita tahu bagaimana wujud nyatanya. Sesuai atau tidak, semua manusia toh tetap memilikinya.

Kembali aku menjauhkan diri dari apimu. Aku tak ingin biru kembali. Kembali aku menjauhkan diri, aku tak mau disakiti.

Sebab, nyala biru dapat memberiku hidup. Namun, ia juga yang akan membakar habis aku sampai tak lagi kau dengar suara jantung berdegup. Sejentik jari memantik, maka perasaanku untuk mencinta akan kembali bergelora. Tapi, apa dayaku mendekati baramu? Kau ada bukan untuk menghidupkanku.

Ku putuskan untuk merapikan satu persatu pecahannya. Hatiku pecah karena panasnya. Aku membersihkan darah demi darah pada tiap pinggirnya. Luka demi luka. Ku pisahkan mana yang besar dan terlalu besar. Hatiku tak pernah kecil untuk seseorang. Bodoh.

Kemudian logikaku datang, kembali mempertanyakan kenapa aku masih menyimpan satu demi satu. Satu demi satu. Aku bilang, aku ingin mengumpulkannya menjadi sebuah keabadian. Ku jadikan sebuah buku dan ku tulis nomor seri di sampulnya dengan senyuman.

image

Photo by Eg65

“Bodoh! Lupakan!” Katanya.

Kemudian ia mengacak-acak semuanya.

Kembali aku merapikan satu demi satu. Membersihkan darah di setiap pinggirannya. Setiap kali ku pungut, setiap kali pula darah menempel di sana. Dan kembali aku terluka.

Kini, kuselesaikan semuanya.

Sudah ku simpan rapi di lemari. Tak lagi berserakan di dekat kaki. Jika suatu saat kau ingin mengingat kembali, coba lihat saja pecahannya berdasarkan nomor seri. Aku tak mau kembali.

Untuk Venus

Ini cerita Kandita.

Usianya menginjak 28 tahun, beberapa jam yang lalu. Dengan tinggi 180 cm dengan berat badan 67 kg sebuah tas ransel berwarna oranye menggantung di pundaknya. Matanya bulat dan sembab. Ia memiliki rambut pendek, tergerai lurus dan bervolume tepat di bawah telinga. Membuat wajah nya yang berbentuk hati semakin tampak.

“Americano.”

One Americano, please!

Serentak semua orang di balik etalase menari, seakan mengikuti nada yang dibawakan oleh aroma kopi yang menguak di tiap helanya. Menghipnotis tubuh dan pikiran mereka, para barista pun mulai bergerak berirama. Kandita mengabaikan pertunjukan ini dan memusatkan perhatiannya pada tangannya yang sedari tadi menggeser-geser layar ponsel pintar pribadinya. Sejak semalam, nama yang ia nantikan tak kunjung muncul.

Sementara itu, Kandita mulai terganggu dengan bias cahaya yang datang ke matanya hingga membentuk siluet samar atas apa yang ada di depannya. Sama samarnya dengan harapan yang ia miliki terhadap Amadeo. Mata bulatnya lupa ia tutupi dengan Rayban Aviator pemberian Amadeo. Ya, Amadeo, nama lelaki yang bertanggung jawab untuk apa yang terjadi pada mata gadis manis ini. Dia adalah laki-laki dalam hidup Kandita yang memutuskan untuk meneruskan karier bermusiknya ke Inggris dan membiarkan violinis berwajah hati ini menunggu pagi, siang, malam tanpa kabar. Setiap harinya. Kadang, satu dua balasan, mungkin hanya sekadar. Sekali waktu mereka asyik berdiskusi, mereka asyik tertawa lewat media. Namun, dalam waktu 24 jam semua bisa jadi berbeda. Dua musim berlalu. Keduanya tak menemukan jalan untuk maju.

Pikirnya, “Mungkin dia sibuk.” “Mungkin ia sedang bersama teman-temannya.” “Mungkin ia tak melihat pesanku.” “Mungkin waktunya yang tidak tepat.” “Mungkin…”

Mungkin kamu memang bukan prioritasnya. Tiba-tiba pikirannya mulai berbicara. Kandita tak tahu pasti apakah ini hatinya atau pikirannya. Yang jelas mereka mulai beradu pendapat.

Mungkin kamu bukan orangnya.

Tidak, mungkin ia hanya sedang tak punya waktu. Mungkin waktu yang salah. Mungkin waktu yang tidak tepat untuk membuat kata jodoh menjadi penengah di antara nama mereka.

“Mungkin, ya… mungkin aku yang bodoh,” bisiknya sambil mengeluarkan selembar uang dari dompetnya, menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Kandita berpindah tempat menunggu kepekatan yang ia percaya dapat menyembuhkannya, sesaat. Pekat yang mungkin tidak lebih pekat dari harapannya akan cinta.

Kandita mulai membulatkan perasaannya untuk benar-benar menerima kenyataan bahwa ia memang tidak punya kesempatan untuk lebih dekat dengan Amadeo. “Bahkan, semesta enggan berkompromi denganku.” Ucapnya sambil memandang pengunjung kedai kopi sore ini yang kebanyakan sibuk di depan laptop. Suasana yang benar-benar tidak ia harapkan saat ini. Mereka, entah benar-benar bekerja atau hanya menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan untuk sementara mengabaikan kehidupan.

“Kandita, Americano.”

Dengan tangan sedikit bergetar, ia meraih cup bertuliskan Kaditya. Ejaan nama yang salah secara sengaja untuk membuat konsumennya mengingat momen itu dan “memaksa” orang yang empunya nama menceritakan pada orang-orang bahwa ejaan bahkan nama yang salah itu terjadi di kedai kopi ini.

Kopi dan ponselnya ia letakkan berdampingan. Nama yang ia tunggu tak juga muncul. Kandita mulai mempertanyakan harapan. Tatapannya perlahan mulai kosong memandang kedua benda di depannya. Ia menunduk, air mata Kandita perlahan mengalir membelai pipinya yang halus. Ia sembunyikan isaknya. Perihnya, hanya dirinya yang dapat merasakan.

Kamu dan kopi di depanku, pada akhirnya sama-sama meninggalkan getir. Seandainya, meraihmu semudah jemariku meraih dan merengkuh gelas ini.

Tapi, jika itu yang terjadi… ku rasa benar aku yang bodoh. Mengapa tak ku tinggalkan saja?

Kandita berdiri dan pergi. Ia mencoba tersenyum… tanpa gelas di tangannya.

**********

Ini cerita Pradipta.

Pecinta alam berusia 30 tahun yang masih saja tak jelas kapan akan menerima kata “I love you” dari Dimas, rekan sekantornya. Pekerjaan memaksa mereka bersama hampir setiap hari membuat keduanya merasa nyaman satu dengan yang lain. Namun, apakah cinta muncul setelah rasa nyaman? Tak bisa kah cinta datang ketika ada rasa ingin tahu yang terus berlompatan?

Pradipta yang suka jika nama lengkapnya disebutkan sudah duduk sejak 30 menit yang lalu di kedai kopi ternama di bilangan Sarinah ini. Ia sedang asyik menjilat krim yang ada di atas gelasnya. Tanpa ia sadar, seorang wanita dengan ransel oranye sedari tadi melempar tatap padanya.

Yah… untuk Pradipta saat menikmati minuman dengan krim, pantang untuk mengaduk apalagi menghabiskannya bersama-sama.

“Krim adalah pemanis yang tidak memiliki rasa,” demikian pemahamannya, “Aturannya, krim harus dihabiskan terlebih dahulu kemudian nikmati minuman manisnya.”

Pradipta bukan penikmat kopi, tapi ia tak bisa menolak jika ditawarkan kopi dari kedai yang satu ini. Pradipta adalah penikmat pantai sampai saat beberapa hari yang lalu.

Ia menutup matanya saat percakapannya bersama Dimas dua hari yang lalu mengalami automatically play layaknya DVD player yang memutar sebuah lempengan untuk menghasilkan gambar.

“Menikmati pantai itu, salah satu pekerjaan yang paling nikmat di dunia, Ta. Kalau ada yang membayarku untuk menikmatinya seumur hidup, aku mau,” ujar Dimas seraya merapikan rambutnya ke belakang. Perlahan, Pradipta menangkap mata Dimas tajam menatap wajahnya yang sedikit berbalur pasir. Dengan telunjuknya, Dimas menjatuhkan butir demi butirnya dan membuat jantung Pradipta dipastikan dalam keadaan abnormal.

“Apaan… cara orang zaman sekarang menikmati hari itu di kafe, pakai wifi dan update status. Hahaha. Di pantai kayak gini, isinya sampah semua.”

Pelan tapi pasti, Pradipta menarik napas panjang dan mengeluarkannya dalam sebuah kalimat sambil mencium aroma laut yang ingin dia ingat karena ia pikir ini akan menjadi momen puncak antara dia dan Dimas. Pria berkulit sawo matang yang beberapa bulan ini semakin dekat dengannya.

Rasanya tak ada hari yang ia lewatkan tanpa ajakan makan dari Dimas. Tak ada film terbaru yang tak pernah Pradipta tonton tanpanya. Tak ada penjaja nasi goreng pinggiran yang tak pernah tidak mereka komentari rasanya. Keduanya adalah penggemar nasi goreng. Bedanya, Dimas suka dengan telur ceplok sedangkan Pradipta dadar tanpa bawang.

“Semua kenangan yang dibuang dari dalam pikiran dan hati.” Celetuk Dimas.

“Haa?”

“Iya. Sampah. Pantai adalah tempat di mana banyak orang buang sampah sembarangan. Kayak kita sekarang, lagi duduk di atas sampah orang lain. Kenangan-kenangan manis dan pahit yang entah sengaja diciptakan di atas pasir ini. Lalu ditinggalkan atau dibuang. Sampah…”

Pradipta diam mencerna.

“Hmmmh…. kadang-kadang aku nggak ngerti apa yang kamu pikirin, Mas.”

“Nggak apa-apa. Kamu nggak perlu ngerti semua yang ada di kepalaku. Yang penting kamu ada di sini sama aku. Gali sampah, yuk?” Dimas melempar senyum.

“Idih. Ogah! Ntar yang ada malah nemuin bikini orang yang ketinggalan. Hahaha.”

Dan kenyataannya saat ini, Pradipta sedang menutup senyumnya dengan jemari lentiknya. Matanya awas memandang sekitar, berjaga-jaga tak ada yang menyadari bahwa ia sedang jatuh cinta.

Where are you now when i need you… kalimat ini terus berulang dari ponsel Pradipta.

“Lola? Iya kenapa, La?”

“Ta, kamu di mana?”

“Di coffee shop biasa. Kenapa?”

“Ngapain?”

“Dimas ngajak ketemuan.” Kata Pradipta sambil memainkan gelas yang mulai berembun di depan matanya. “Kali ini mungkin dia baru benar-benar akan… ”

“Stop sama khayalan-khayalan lo, Ta! Sampai kapan juga Dimas nggak akan bilang kalimat yang lo harapin.”

Seketika Pradipta merasakan tenggorokannya mengering. Jarinya berhenti bermain.

Tiga puluh menit kemudian, Lola datang memberikan penjelasan. Penjelasan yang membuatnya semakin yakin bahwa krim di atas sebuah minuman hanya berfungsi sebagai pemanis.

“Kemarin gue liat Dimas jalan sama Mira. Karena gue nggak pernah tau apa hubungan kalian sebenarnya, akhirnya memutuskan untuk memanggil Dimas sekalian menagih laporan perjalanan. Gue cuma pengen konfirmasi tentang hubungan kalian.” Lola menjelaskan dengan posisi duduk tegak, sama seperti posisi duduknya setiap menghadapi permasalahan serius di meeting kantor.

“Terus? Dua hari yang lalu gue sama Dimas baru aja nikmatin pantai berdua. Hihihi… ” Jelas Pradipta masih sambil tersenyum. Namun ada tanya besar dalam hatinya.

“Hmmm… iya tau. Gue nekat nanyain Dimas tentang Mira dan tentang elo. Dimas bilang… dia nggak pernah se-care yang elo ceritain ke gue, dia nggak pernah nonton berdua sama elo. Dia bilang, kemarin kalian ke pantai barengan sama tim kreatif. Bukan kalian berdua aja. Intinya Ta, dia nggak ngaku kalau dia…”

Apa ini? Aku… aku…

Pradipta mengepalkan tangannya menahan tangis dan emosi yang perlahan membuat tubuhnya terasa panas dan terguncang. Matanya kini mulai berair dan… jemari yang tadinya ia gunakan untuk menutupi senyumnya kini ia gunakan untuk melindungi seluruh wajahnya dari sorotan orang di sekitarnya. Langit mendadak gelap. Untuk beberapa saat Pradipta menunduk.

“Ta… gue tau ini sakit. Maaf kalau gue ngehancurin semua kebahagiaan lo. Tapi, Ta… selagi Dimas, Kevin, James atau siapa pun pria yang ada di samping elo saat elo sakit dan bahagia nggak ngucapin sendiri dari mulutnya keputusan untuk menyerahkan hatinya buat elo, elo nggak boleh membawa hati lo terbang tinggi-tinggi.”

Ya… pada akhirnya, mereka yang belum sempat aku miliki hanya berperan sebagaimana krim di atas minuman. Pemanis kehidupan yang tak memberikan manis barang setitik.

Pradipta diam.

“Hai, Dimas…” Lola membantu Pradipta memberi sapa yang jadi pertanda bahwa semua sedang tidak baik-baik saja.

Dimas menjawab tanpa senyuman.

**********

Tasya, ini tentang dia.

Perawakan Tasya mungil dengan lesung pipi di sebelah kiri wajahnya. Rambut bergelombang kecoklatan dengan kawat berwarna pink menempel pada jajaran gigi putihnya. Saat ini, sudah beberapa saat dari masa kritis yang dialaminya karena menunggu Kris.

“Sya, berapa lama?” Tanya Gina lembut sambil membelai rambut Tasya. Menyingkirkannya dari alat bantu napas yang sekarang berada tepat di hidung mungil Tasya.

“3 jam… 3 jam aku nungguin keputusan dia untuk datang atau tidak menjemput aku.”

What? 3 jam? Yang seperti itu yang kamu harapkan untuk masa depanmu?”

“Tapi… dia sibuk meeting. Habis meeting dia ada… ”

“Keputusan iya apa nggak itu nggak butuh waktu lama. Ngetik iya atau nggak, jadi apa nggak itu nggak butuh waktu 3 jam, Sya!”

“Tapi, aku nggak apa-apa nunggu.” Balas Tasya yang memang keras kepala dan entah darimana memiliki kekuatan untuk menunggu orang bahkan hingga dua tahun.

Saat itu, Charles, pacar Tasya sebelum Kris, memiliki jarak PDKT terlama. Gina yang selalu menjadi tempat Tasya mengadu hanya bisa memberikan nasihat untuk meninggalkan atau menunggu. Dua tahun terlalu lama untuk Gina namun tidak untuk Tasya. Tasya yang menurut Gina jelas tidak jelek dan memiliki banyak sahabat laki-laki, memiliki kekuatan aneh yang terpendam. Menunggu.

“Iya, sampai-sampai kamu harus masuk rumah sakit gara-gara kedinginan kena hujan dan angin. UGD, Sya. It’s not a joke! Kamu juga bego, bukannya nunggu di dalam kafe.”

“Aku… lagi nggak punya uang yang cukup untuk sekadar dihambur demi menyesap segelas kopi.”

“Bohong. Bilang aja kamu takut kalau kamu masuk ke dalam coffee shop itu kamu akan ketemu Bara yang selalu menghubungi kamu itu kan? Kenapa nggak telepon gue? Aaah! Tasya, yang dibayar untuk menunggu dan bertanggung jawab atas waktu orang lain itu cuma abang jaket ijo. Kalau lo emang mau jadi penunggu setia, go get the job and you will paid, you’ll get the star not scar, honey!”

Suara Ji, panggilan Tasya untuk Gina, melengking dan melemah seketika di telinga Tasya. Ji pun berhenti dan menyilangkan tangannya di depan dada setelah beberapa suster meletakkan jarinya di depan bibir dan menatap tajam ke arahnya.

Karena terburu-buru ingin bertemu Kris, Tasya lupa membawa dompet. Untuk Tasya, Kris selalu nomor satu. Ia selalu diam dan menunggu. Siang itu, satu-satunya yang Tasya miliki adalah selembar uang yang ia temukan di kantong celananya dan beruntungnya cukup untuk membayar ongkos bajaj yang ia tumpangi. Sambil menunggu, Tasya sengaja membunuh waktu dengan memperhatikan beberapa pengunjung coffee shop siang itu. Yang paling menarik perhatiannya adalah gadis manis dengan senyum menawan yang asyik menjilat krim di atas minumannya. Aksinya, sedikit menghibur Tasya sebelum ia kembali menunduk dan menghitung detik penantiannya akan kepastian Kris untuk menepati janjinya.

Tasya tak pernah mengira hari yang tadinya cerah mendadak gelap dan hanya dalam waktu sesaat angin dan hujan menyelimuti tubuhnya. Tak bisa berbuat apa-apa dan keinginannya kuat untuk menunggu Kris membuat Tasya tak bergerak sedikit pun dari sana. Hasilnya, Kris tak kunjung tiba dan menunggu membuat Tasya harus kembali bernapas menggunakan alat bantu.

Aku tau… semua orang pasti rela menunggu demi sebuah tujuan. Namun, jika tujuan tak kunjung memiliki kepastian, apalagi yang dapat dijadikan nilai?

15 Menit Bersamamu

“Violet, di depan kafe biasa, pukul 14.50. Don’t be late!

Pesan singkat dari Ruth muncul di layar telepon genggamku. Hadiahku sudah datang! Hadiah ulang tahun yang paling ku nantikan tepat di usiaku yang lewat satu tahun dari seperempat abad. Sebuah hadiah yang akan mengubah duniaku. Bergegas aku meninggalkan ruangan berpendingin dengan keadaan yang… ups… berantakan. Setidaknya, tidak demikian dengan penampilanku siang ini. Hahaha.

Berdiri di depan sebuah kafe mencari sosok Ruth di balik kaca memang tidak mudah untuk seseorang perempuan dengan tinggi 156 cm sepertiku. Aku harus melihat lebih lebar karena jarak pandang yang terhalang ini. Tapi, sepertinya ia belum datang.

Yah, lagi-lagi aku terlalu cepat, tapi tak masalah. Aku selalu bersemangat dan datang terlalu cepat untuk hal apapun. I’m that girl!

Aku memutuskan untuk duduk di bagian teras kafe agar lebih mudah berteriak jika saja Ruth, yang selalu terlambat, masuk ke kafe bergaya klasik dengan sentuhan warna hijau muda, coklat dan merah tua hampir pada semua perabotnya. Kafe ini tidak menyediakan life music, pemiliknya hanya akan membuatmu terbang ke masa John Lenon dan kawan-kawannya masih dalam formasi lengkap. Di sini, suara Pharell William tak masuk dalam kategori favorit.

Aku membuka kacamata pelindung ultra violet berwarna coklat yang sedari tadi melindungi mataku dari ciuman-ciuman kecil matahari. Silau. Sedikit ragu, namun aku bisa merasakan jantungku berdebar lebih cepat. Aku melihat sosok yang sudah lama ingin ku temui. Benarkah itu dia?

Dengan jaket hitam serta sepatu Keds andalannya, ia berjalan menyebrangi jalanan tempat aku berdiri saat ini. Berjalan pasti, ia memperbaiki letak kacamatanya. Mendorongnya pas sampai ke tulang hidung bagian atas. Aku suka, favorite. Aku terus memperhatikan. Ia terus berjalan tanpa memerhatikan aku yang sedaritadi melakukan pengintaian padanya. Seperti biasa, ia memberikan senyumnya untuk orang-orang yang sedang melintas berlawanan arah dengannya, favorite. Aku cemburu pada angin. Kenapa? Angin bahkan tak melewatkan kesempatan untuk membelai rambut hitamnya. Huh!

Gareth. Aku kembali bertemu denganmu, Gareth. Pria dengan tinggi sekitar 165 – 170 cm, kulit kuning langsat, dengan senyum manis, mata bulat dan tatanan busana yang tidak kekinian tapi tetap original. Tepat di bulan favoritku, September. Di mana aku bisa melihat Blue Moon. Ah, aku terlalu banyak menggunakan kata favorit. Entahlah, aku menyukai semua yang terjadi dalam hidupku, semua yang ada di hadapanku saat ini.

“Hai… Gareth.” sapaku sedikit ragu. Selama ini kami cukup sering berkomunikasi namun sulit untuk semesta mempertemukan kami secara tiba-tiba seperti siang ini. Aku bisa menghitung berapa kali kami beradu pandang dulu, tak lebih dari lima kali. And yes, Gareth, kamu masih sama seperti saat jabat tangan pertama kita.

“Halo… Tatyana. Aku tidak mungkin salah.” Senyumnya cukup menggantikan titik-titik dari pertanyaan, “Siapakah wanita yang berdiri tepat di depan Anda sekarang?”. Hahaha. Aku malu.

“Yah… that Tatyana. Sedang apa di sini?”

Aku mencoba mengatur kata-kata, berharap setiap mantra dapat membuatnya sedikit bertahan lama. Aku amati matanya yang sedikit tersembunyi karena kacamata. Aku menulusuri setiap lekuk pada wajahnya. Pipi, hidung, bibir bahkan giginya. Jujur, aku menyukai setiap perpaduan yang ada pada wajahnya, suara bariton yang khas menjadi salah satu signature saat ia mengucapkan namanya, Gareth. Tuhan, bolehkah ku rekam setiap inci dari wajahnya ini? Bolehkah suara ini yang menjadi pengantar tidurku di setiap malam? Aku bersumpah, aku tak akan berhenti membaca agar memoriku terus terlatih dan aku tak kehilangan sedikitpun bagian dari wajah dan kesempurnaannya.

“Yah, aku baru saja dari toko musik di seberang sana. Kamu?” Tanya Gareth padaku sambil menunjukkan CD musik yang baru saja dia beli. Dalam waktu beberapa detik entah kenapa tak ada tulisan apapun yang terbaca, semuanya berwarna hitam putih. Beberapa kali aku mengedipkan mata dan kembali mengatur fokus penglihatanku pada CD yang ada di tangannya. Ada nama Steven Sharp Nelson di sana.

“Aku menunggu Ruth, temanku. Kami berjanji untuk bertemu di kafe ini. Ada buku yang harus ku ambil. Kamu ke sini hanya membeli CD? Hmm… Bagaimana kabarmu? Bagaimana dengan… beasiswa?” Tanyaku bertubi-tubi.

Oh, Tuhan! Gareth, maaf. Bukan aku tak bisa berhenti bicara, aku hanya takut kau tak punya barang semenit lebih lama jika aku berhenti bertanya. Sebentar saja, sebentar lagi ya, Gareth. Aku sedang menyimpan gambar dirimu dari ujung kepala hingga ujung kaki, secara utuh. Prosesnya masih berjalan 60 persen.

“Ya. Tadi aku memang sengaja ke toko kaset di seberang untuk membeli CD ini. Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Dan, aah… masalah beasiswa, ujiannya sekitar lima bulan lagi.” Jawabnya. Singkat namun tak lepas dari tatapan yang penuh senyuman itu.

Aaah… i shoud… i mean, may i come in to your show before you go?” Tanyaku ragu.

Gareth, tahukah kamu betapa aku menginginkan sebuah kursi yang berada tepat di depanmu ketika kau memainkan lagu-lagu gubahanmu? Dapatkah kau bayangkan bagaimana jantungku akan berdebar lebih kencang daripada suara drum yang mengiringi konsermu? Bisakah kau merasakan dukungan yang ku berikan? Gareth… bolehkah?

Sure. Why not? Datang saja. It would be a pleasure for me, thank you.” Jawabnya lembut.

Aku mulai menikmati percakapan kami. Entah bagaimana dengan dia. Dia merapikan jaketnya. Dia memeluk tubuhnya. Dia menggerakkan tangannya saat berbicara. Dia memegang kembali CD yang ia tunjukkan padaku. Dia menatap mataku. Aku lihat jam tanganku dan awas terhadap orang di sekitarku, kalau-kalau Ruth tiba.

Ah, kenapa aku melakukan itu?

PING

Aku mengambil telepon genggam dan membuka satu pesan.

Tatyana Violeta!!! Meja 29. I see you, who’s that tall guy?

Pesan dari Ruth membuat semuanya kacau. Damn! Baru 15 menit???

“Eeee…Okay, Gareth. Hmm… Ruth texted me. I got to go. See you when i see you!” Ujarku sambil melambaikan dan menunjukkan telepon genggam ku. Aku tersenyum. Aku membalikkan badanku. Ku letakkan tangan kiriku ke bagian tubuh yang bekerja ekstra saat ini. Senyumku semakin mengembang. Aku bahkan sudah lupa bahwa yang ku tunggu-tunggu hari ini adalah hadiah ulang tahun yang diterbangkan langsung oleh Ruth dari kota impianku, London.

Sebentar lagi, Tuhan.

Aku berbisik dan melemparkan pandanganku kembali ke arah Gareth. Ia berjalan semakin jauh. Gareth, sesuai dengan namanya yang berarti kelembutan, and the same gentleness makes me fall into him.

“Bye, Gareth.” Bisikku.

Love is a quite voice. Still your mind, now I’m yours to choose…

Namaku Laura, Bukan Cinderella.

Sinar matahari pagi kembali datang menyapaku lembut. Hangatnya membantuku membulatkan tekad untuk segera duduk dan melakukan ritual di pagi hari. Aku Laura. Laura Lazarus.

Aku kemudian bangkit dari posisi nyaman tidurku, aku duduk dan merasakan kasur empuk milikku yang berbalut seprai warna hijau dengan motif bunga-bunga kecil kesukaanku. Aku mulai memeriksa setiap bagian tubuhku. Pertama, ku sentuh mataku dan aku bersyukur bahwa mendapati keduanya tetap berada di tempat seharusnya. Turun ke bawah, ku pegang pipi kananku, aah… besi itu masih menopang bentuk wajahku. Ku belai rambutku, tidak… tak ada lagi darah di sana. Tanganku lengkap. Badanku sedikit ku gerakkan ke kanan dan ke kiri, aman. Kakiku… kaki kananku masih seperti ini. Dengan tulang yang bukan lagi tulangku dan dengan sedikit pemanis berupa jahitan di sekitarnya membuat luka akibat tragedi 2004 itu masih terlihat jelas. Tapi, aku bersyukur untuk kondisiku saat ini.

“Terima kasih, Tuhan.”

Hanya kalimat ini yang dapat dan selalu ku ucapkan setiap hari.

“Ma… bisa tolong Laura? Laura mau siap-siap.”

Mama. Wanita perkasa yang memberi nama Lazarus pada namaku. Yang dalam cerita Alkitab kalian pasti tahu bahwa ia adalah orang yang dibangkitkan dari kematian. Dan ajaibnya hal ini juga terjadi padaku.

Saat itu aku berprofesi sebagai pramugari. Ini sudah menjadi cita-citaku sejak aku kecil. Aku tumbuh menjadi anak yang pintar dan cantik, namun hal ini justru membuat aku jatuh dalam kesombongan. Bahkan, aku selalu merasa lebih pintar dari orang tuaku. Aku pun sempat malu jika mama berada di dekatku atau di lingkunganku. Namun, peristiwa pada bulan November malam itu mengubah segalanya.

Pesawat di mana aku bertugas tergelincir saat hendak mendarat di Bandar Udara Adisumarmo, Solo, Jawa Tengah. Teriakan, tangis dan potongan tubuh berserakan di mana-mana. Aku merasakan tubuhku tak lagi dapat bergerak. Namun, sesaat kemudian aku masih berperang untuk mendapatkan kehidupan. Aku berdoa dan minta pada Tuhan untuk hidup sekali lagi. Aku ingin minta maaf pada mama. Tuhan menolongku. Aku hidup. Aku merintih dan ada yang membawaku keluar dari tumpukan jenazah. Aku dibawa ke rumah sakit terdekat dan menerima perawatan. Aku ingat, sahabatku, ia tewas saat itu juga dengan kondisi mengenaskan. Wajah ayunya tak dapat lagi ku kenali. Aku pun sempat merasakan ada yang aneh pada arah pandanganku. Aku mengalami koma selama 3 hari.

Beberapa saat setelah kondisiku lebih stabil, papa mengungkapkan sebuah fakta bahwa semua penumpang kelas bisnis tidak selamat. Seketika aku teringat akan doaku, aku mau hidup dan Tuhan menjawabnya. Mujizat itu ada.

Sekarang, aku tak bisa berbuat apa-apa. Hal ini membuat aku malu akan keberadaanku di depan mama. Ya, Mama, sosok yang selalu tidak aku pedulikan. Mama yang tersakiti karena kata-kata dan sikapku. Tapi, dialah satu-satunya yang tidak pernah meninggalkan aku. Bahkan, dengan lembut ia mengatakan bahwa ia sudah memaafkanku. Mama…

PING

Telepon genggamku menunjukkan gambar hati merah manyala. Aku tersenyum. Wajahku memerah, kali ini bukan karena pipi yang robek atau cipratan darah. Tapi karena pompa jantungku yang berpacu lebih cepat saat membaca namanya. Pieter.

Entah apa yang ia lihat padaku, tapi satu yang aku tahu dirinya adalah jawaban atas setiap doa yang ku lantunkan. Sebuah kado yang dikirimkan Tuhan, melalui setiap baris permohonan dari mamaku tersayang. Mama yang meyakinkan aku, “Laura, jodohmu ada. Tenang saja.”

Memang saya sempat berpikir, siapa lagi yang mau menerima saya? Saya tidak sempurna. Tapi, saat mama bilang jodohku jauh, ada di tengah-tengah pepohonan, kadang aku tertawa, tapi aku percaya, Tuhan mendengar doa mama dan menjawabnya melalui sepatu yang tertinggal.

Sepatu? Hahaha. Iya, seperti masuk ke dalam cerita dongeng, Tuhan menulis kisah cintaku.

Saat itu aku sedang giat melayani dan membagikan kabar baik melalui pengalamanku bersama Tuhan. Aku menulis buku, membuka penerbitan kecil, terbang ke sana ke mari dan… entah bagaimana di suatu hari, Tuhan membuat aku lupa membawa sepatuku. Sepatuku tertinggal saat aku melayani di kota tempat tinggal Pieter. Entah bagaimana caranya, Tuhan membawa dia datang di hadapanku.

Kalau bukan karena kasih, apa yang membuatnya mau mengantarkan sepatuku yang tertinggal, transit berkali-kali, menghabiskan waktu dan biaya untuk mengantarkan sepatu itu sampai di tanganku? Tuhan benar-benar romantis! 🙂

Ini pasti skenarioMu, kan? Ucapku dalam hati sambil memandang ke atas, memastikan bahwa Tuhanku, Bapaku, melihat kerlingan mata anaknya yang kini semakin jatuh cinta atas perbuatanNya waktu itu. Bak cerita Cinderella yang bertemu pangeran, begitulah aku dan dia bertemu.

Setelah mengenal, pribadinya membuat aku kembali percaya bahwa Tuhan tak pernah tidak mendengar seruanku. Siang ini, ia mengajakku berjalan-jalan. Seperti biasa, aku agak enggan untuk menikmati dunia luar dengan bermodal kursi roda seperti ini. Secara manusiawi, wajar aku merasa risih saat aku harus menikmati dunia dengan kursi roda.

“Bagaimana kalau kita makan saja? Atau… ”

Jawabannya, tidak. Ia tetap membawaku berjalan-jalan. Ia terus membahagiakanku seakan-akan aku adalah gadis yang sempurna. Akhirnya, kami memasuki salah satu department store. Sambil melihat barang-barang, aku merasa ada yang aneh dengan kursi rodaku

“Kursi rodaku… kenapa, ya?”

Pieter membantuku memeriksa bagian dari kursi roda yang sebenarnya memang cukup ringkih. Aku memilih kursi roda ini karena ringan dan mudah dibawa. Setelah menemukan masalahnya, koko, begitu aku memanggilnya, segera memperbaiki bagian baut yang rusak agar aku dapat kembali duduk dengan nyaman.

“Laura, aku nggak pernah malu dorongin kamu!” Kemudian ia menutupnya dengan senyum.

Ia adalah pasangan yang luar biasa yang dikirim Tuhan. Seseorang yang tidak memandang kelemahanku. Cacatku. Ketidaksempurnaanku. Dan aku berterima kasih untuk kesediaan hatinya dan ketulusan cintanya. Tuhan, lagi-lagi Engkau begitu romantis.

“Aku tahu itu. Terima kasih, Ko.” Aku pun membalas senyumnya, menatap matanya dalam-dalam dan sekali lagi mengucap syukur untuk segala yang terjadi dalam hidupku.

Ini baru langkah awal dalam hubungan kami. Dalam waktu dekat kami berencana akan mengucapkan janji sehidup semati.

Jujur, aku tidak tahu bagaimana rasanya nanti. Tapi, aku pernah merasakan bagaimana rasanya mati.

Bersama Tuhan, aku dan pangeran utusannya akan mengarungi seluruh kehidupan. Dia bukan pangeran berkuda putih. Dia adalah pangeran dengan obeng dan baut yang akan menjaga serta memastikan aku dapat duduk dan berkeliling dunia bersamanya untuk menyampaikan pesan dari surga.

Biarlah di dalam kelemahanku, kuasaMu, menjadi sempurna. Harapanku, impianku dan masa depanku, ku taruhkan dalam tanganMu.

Yeremia 29:11
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

image

Pict: @Learryhanata

Ps: Cerita ini dikutip dan mendapat izin dari Laura Lazarus, berdasarkan kisahnya sebagai ex-pramugari Lion Air yang mengalami kecelakaan di Solo pada tahun 2004.

Hujan Pertama di Bulan Oktober

Hujan deras akhirnya membasahi ibu kota yang akhir-akhir ini terus bercinta dengan sang surya. Semua orang terlihat sibuk menarik napas, menghirup petrichor yang lama dinanti-nantikan.

Malam ini, ia sedang menuju apartment tempat ia tinggal sejak tiga tahun terakhir. Ia adalah seorang pluviophile, sehingga ia sengaja memperlambat langkah untuk benar-benar menikmati rintik hujan yang menempel pada baju kerjanya.

Seperti tersedot lorong waktu, ia kembali ke waktu hujan di bulan ini, saat ia masih kecil, di bulan Oktober.

Pada hari hujan siang-siang, saat ia pulang sekolah kala itu, ia sedang duduk diam memandang ke arah jendela yang perlahan mulai buram karena embun. Di dalam bus yang penuh dengan teriakan anak-anak sekolah, ia mulai bertanya dalam hati.

Hari ini hujan deras, apakah mama akan menjemputku di halte? Aku ingin seperti teman-teman yang lain…

Bus yang ia tumpangi sampai di tujuan. Sedikit maju mundur memperbaiki posisi, bus yang panjang itu akhirnya berhenti. Pintu dibuka. Seperti kera-kera kecil, teman-temannya mulai melompat mengambil barisan. Ia pun memanjat kursi dan mengusap-usap kaca sebentar untuk melihat apakah ada payung yang ia kenali di antara kerumunan payung di tempat pemberhentiannya.

Aaah… itu mama!

Serunya dalam hati. Ia bergegas mengikuti barisan di dalam koridor Mercedes-Benz besar itu. Ia mengaitkan kedua tangannya pada tali tas yang ia lekatkan di bahunya. Senyumnya mengembang. Sebentar lagi ia akan bertemu mamanya yang sudah menjemput dengan payung di halte berwarna biru, yang padat dengan ibu-ibu bahkan para ayah yang sedang kebagian jatah libur sehingga membantu istri mereka menjemput anak-anaknya.

Seperti rintik hujan yang jatuh ke pelukan bumi, demikian satu persatu anak berseragam putih merah turun dan mendapatkan diri mereka jatuh dalam pelukan orangtua di bawah payung. Beberapa dari mereka bahkan langsung digendong menuju mobil yang sudah disiapkan agar mereka tidak basah apalagi sakit.

Sebentar lagi giliranku!

Selangkah demi selangkah, ia menuruni tangga menuju pintu keluar bus tersebut, namun harapannya mulai pudar ketika ia tahu tak ada satu pun payung yang mendekatinya. Payung besar berwarna biru yang tadi ia lihat, bukan milik mamanya. Dengan wajah tertunduk, ia berlari menuju atap halte yang sekarang… mulai sepi. Satu per satu mobil pun pergi meninggalkan parkiran.

Imannya, mamanya sedang berjalan menuju tempat di mana ia duduk kedinginan dengan rambut yang lepek serta seragam sekolah yang basah dan buku-buku di dalam tas yang perlahan melekuk karena hujan yang menembus masuk ke dalam tas miliknya. Ia masih berharap sambil sesekali melihat ujung jalanan, siapa tahu mamanya muncul.

Mama kemana? Mama lupa aku sudah pulang sekolah? Kenapa mama tidak menjemputku? Aku akan menunggu sebentar lagi. Mungkin mama sedang masak agar sampai di rumah aku bisa segera makan.

Kata-kata itu menjadi doanya di tengah hujan di bulan Oktober. Lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit bahkan hampir satu jam ia menanti datangnya payung yang akan membawanya pulang.

Seperti bosan memandang ia yang tak kunjung pergi dari halte berbentuk rumah itu, hujan pun mengucapkan salam perpisahan. Semakin teriris hatinya. Dengan gerimis kecil yang masih setia menemani, ia putuskan untuk melangkah dan berjalan kuyu menuju kediamannya. Rumah sederhana berwarna putih pucat.

Sebenarnya, tidaklah terlalu jauh. Hanya melewati beberapa belokan dan sampai. Tapi, yang ia harapkan adalah kedatangan mamanya. Seperti orangtua anak lain yang menjemput, memeluk kemudian membawakan tas anaknya serta berjalan menerjang hujan bersama-sama.

Aku ingin menikmati hujan dengan mama. Tapi, kenapa ia tidak datang? Apa salahnya sesekali tak membiarkanku pulang sendirian. Apa karena kata mama, aku anak mandiri, jadi aku tidak dijemput?

Ia sampai di pintu belakang rumahnya. Pintu dari bahan kayu triplek yang lapisan luarnya sudah mulai terkoyak akibat peristiwa malam itu antara mama dan papanya.

Aku pulang.

Seperti biasa ia memberikan salam. Tapi, nada bicaranya benar-benar menunjukkan ia sedang tidak ingin bicara. Ia masih menunduk. Membuka sepatu. Menahan air mata. Perlahan ia mengangkat kepala. Dilihatnya wanita berusia 37 tahun itu menoleh untuk menjawab salamnya. Di tangan kanannya terlihat sendok sup berwarna putih. Dari aromanya ia tahu mamanya sedang memasak soto ayam, makanan favoritnya. Ia sedikit terhibur.

Kenapa aku nggak dijemput??!

Ia tak lagi kuat menahan emosi di dalam hatinya. Genangan air yang sedari tadi ia tahan pun menerobos keluar dari mata bulatnya. Ia sesenggukan dan mulai menangis semakin kencang. Wajah mamanya hanya tertunduk. Wanita berambut panjang itu terdiam sebentar.

Cepat ganti baju. Mandi. Nanti kamu masuk angin.

Melihat wajah mamanya berbalik memungut sepatunya yang berserakan, ia tercengang.

Ia menghapus air mata yang tadi mengalir deras, yang bahkan mengalahkan derai hujan yang membasahi tubuhnya beberapa waktu lalu. Ia kemudian berlari memeluk tubuh mamanya. Tubuh yang penuh dengan lebam biru dan kemerahan. Ia menahan air matanya tapi ia kehilangan kekuatan untuk mengontrolnya.

Dirasakannya hangat tubuh wanita yang dipanggilnya mama itu. Ia eratkan pelukannya, tak lama ia kendurkan. Ia takut biru di balik baju dasternya akan terasa semakin menjadi-jadi.

Ia pun lekas berganti baju dan masuk ke kamar mandi, membasuh tubuh kurusnya dengan air hangat. Ia tak ingin mamanya kehabisan tenaga untuk mengurusnya kalau-kalau ia sakit.

Suara gemuruh dari perut yang belum sempat diisi sejak siang tadi, membuyarkan lamunannya. Ia pun kembali dari masa lalu.