Please Tell Me It’s Not 17.15pm

Why people crying?

Favim.com-art-barbie-cool-girl-hair-286070

Kenapa Tuhan menciptakan air mata? Kenapa Tuhan nggak mengganti air mata itu dengan sesuatu yang lebih berharga yang bisa dijual seperti di drama-drama. Kenapa air mata itu memiliki makna?

Sejujurnya saya bukanlah tipikal orang yang bisa menangis sembarangan. Yup, pada dasarnya memang saya cengeng dan sensitif, but i never let people melihat saya menangis. Once saya bisa menangis sesuka hati saya di hadapan kamu, iya kamu, itu berarti saya sudah benar-benar nggak berdaya, nggak punya kekuatan ekstra, dan bahkan itu berarti aku sudah menunjukkan kelemahan yang paling saya nggak sukai. Satu lagi, itu artinya saya bisa percaya sama kamu sepenuh hati saya karena saya menyerahkan air mata saya ke kamu.

Air mata atau tangisan yang saya maksud di sini adalah ketika saya sudah benar-benar menyerah sama pertarungan di dalam diri saya. Untuk hal tertentu iya saya menangis. Misalnya, di pesta pernikahan. Saya paling ‘benci’ adegan salam-salaman sama orangtua. Karena saya pasti menangis. Jika itu terjadi, otomatis saya akan berbalik badan atau melihat ke langit-langit agar air mata ini nggak turun begitu saja.

giphy (11).gif

Ketika ada teman yang bersedih, saya biasanya berusaha untuk memeluk. Begitu saya meninggalkan dia, baru saya menangis sejadi-jadinya, karena saya merasakan apa yang dia rasakan. Jika kuat, saya akan tetap bersama dia tanpa suara agar tetap kuat menahan air mata di dalam kantungnya.

Dalam kondisi lainnya, saya bisa menutupi semuanya dengan tawa yang terpaksa. Dan kalau kamu peka, itu hanyalah tangis di balik tawa.

Kadang, saya menangis dalam bentuk pelukan. Saya tidak mengeluarkan air mata. Saya hanya meminta sebuah pelukan. Bentuk dukungan paling kuat. “Please, hug me!” ini kode saya. Ketika saya memeluk kalian, itu adalah ekspresi saya. Tapi, ketika saya mengeluarkan kalimat ini, berarti saya butuh saluran tenaga dari kalian.

Dalam sebuah kotbah Ps. Jose Carol yang bertema “What to do when you don’t know what to do”,  pelukan adalah salah satu langkah pasti untuk memulihkan kekuatan yang disarankan ketika kita nggak tahu harus berbuat apa. That’s why, we need others, we need community, we need DATE (komsel).

  • 3. Tenggelamkan dirimu dalam Kasih.
    Kita sebagai makhluk sosial kita butuh Kasih Tuhan. Kadang yang kita butuhkan bukan ide, khotbah dan nasihat, namun yang dibutuhkan adalah, seorang sahabat yang datang memeluk dan memberikan kasih. Ada sebuah kekuatan yang datang ketika dipeluk. Waktu engkau memeluk ada endorfin yang keluar dan menenangkan. Ada sesuatu yang bekerja dalam Kasih. Ada kekuatan yang keluar dari dalam diri kita.
    Inilah yang saudara butuh kan – Kasih, sebuah penerimaan yang tulus dan sebuah pelukan hangat dari seseorang.
    Courtesy: GR.Faith

Ketika kita membutuhkan kekuatan, ketika kita memeluk seseorang, kita nggak akan otomatis mendapatkan kekuatan itu kalau orang yang kita peluk nggak membalas pelukan kita. So, when i ask someone to hug me, itu sudah merupakan sebuah permohonan yang bersifat urgent and hopeless. Tentu saja saya nggak sembarangan meminta pelukan.

Pelukan ini akan mendatangkan kekuatan yang bisa menahan air mata ketika mereka adalah orang-orang yang benar-benar attached sama saya. Mereka adalah orang-orang yang kenal saya. Bukan hanya sekadar tahu.

Kenapa sih saat ini saya bisa sampai merasa begitu membutuhkan kekuatan?

Setiap manusia itu punya pembelajarannya sendiri. Dalam masa ini, sejujurnya Tuhan sangat-sangat membentuk pribadi saya melalui orang yang paling dekat sama saya.

Amsal 27:17 (TB) Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.

Tuhan pakai kita masing-masing untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan yang nggak baik kedepannya. Tapi, percayalah kalau partner kita (nanti) nggak punya tendensi yang jahat untuk menyakiti. Percaya saja. Dan sebagai manusia kita harus terus mau diubah alias nggak begitu-begitu. Tuhan jelas minta kita memperbaharui diri kita hari demi hari supaya makin sempurna (dewasa), otomatis kita bukanlah orang yang sama setiap saat. We change! Dan kita dituntut untuk terus berubah.

Tips: Ketika kamu masih pacaran, percayalah kamu harus buka telinga dan hati kamu lebar-lebar untuk menerima kritik dan saran. Selanjutnya, eksekusi antara kamu dan pasangan adalah keputusan kalian berdua. Bukan lagi orang lain. Dan jelas, setiap keputusan ada risikonya. Hal ini berbeda ketika kamu sudah menikah nanti, nama baik partnermu adalah tanggung jawabmu. Nggak bisa sembarangan orang tahu masalah internal kalian. Mungkin nanti kalau saya sudah merasakan pernikahan, saya bisa share sama kalian. Nah, jadi jangan malu atau takut salah di depan orang lain. Kalau ada yang harus diperbaiki, ya perbaiki.

Dalam menjalani hal ini, Tuhan sudah ngomong pesan yang sama dan berulang-ulang. Tentang masalah PERCAYA.

To trust God in the light is nothing, but to trust Him in the dark – that is FAITH. – Charles Haddon Spurgeon.

Dia bilang lagi dan lagi sama saya, “Kamu percaya nggak sama Saya?”.

Masalah percaya.
Dalam sebuah hubungan antara manusia, rasa percaya nggak bisa diterima begitu saja tanpa pembuktian atau usaha (gitu juga nggak sih ke Tuhan?). Waktu PDKT kamu pasti berusaha menginvestasikan segalanya supaya gebetan kamu percaya kamu bisa bahagiakan dia kan? Supaya si gebetan mau terima kamu.

Ketika sudah berpartner. jangan sampai hal itu hilang lho. Biasanya saya dan partner akan saling kasih kabar jalan sama siapa, atau saya kemana. Komunikasi. Untuk saya pribadi, ini adalah salah satu hal yang bisa saya lakukan untuk menjaga kepercayaan dia.

Kenapa sih mesti begitu? IMHO, hal ini penting (lagi dan lagi) karena rasa percaya itu BERSYARAT dan harus dibangun setiap saat (Marriage gathering 2017). Kebayang kan ketika kamu nggak mengomunikasikan ini dengan baik dengan pasangan kamu? Ini sulit (Yang pernah ngerasain boleh tunjuk diri sendiri :)).

Selain komunikasi, menjaga kepercayaan bisa kamu lakukan dengan menjaga apa yang sudah kamu bilang (integritas). Ketika kamu bilang cinta atau sayang sama orang, apakah kamu bisa benar-benar berintegritas sama apa yang kamu bilang? Apakah kamu melakukan usaha yang maksimal untuk partner kamu? Apakah kamu menyimpang ke kanan dan ke kiri? Ups.

Kalau saya tarik hubungan saya sama Pencipta saya, gimana sih caranya biar kepercayaan itu tetap ada? Komunikasi. Berdoa. Baca Alkitab (mau digital, mau shermon, mau buku fisik, apapun, pokoknya usaha baca). Dia pasti senang ketika komunikasi kita lancar. Ketika saya nggak lancar komunikasi sama Dia, percaya deh, saya bisa hilang arah dan nggak bisa dengar mana suara Dia dan mana suara saya sendiri. Kepercayaan saya ke Dia pun otomatis goyang, deuh. Jadi, sebisa mungkin saya akan mengusahakan untuk tetap ngobrol sama Dia. Walau sebentar atau ngantuk-ngantuk hehehe… Walau kadang malas pasti ada juga. Asli.

Integritas. Ketika saya bilang saya sayang sama Dia, apakah saya bisa tetap kontak dia ketika saya sibuk dan menyempatkan baca surat cintanya Dia? Atau saya memilih tidur dan akhirnya satu hari, dua hari, tiga hari, lama-lama saya lupa gimana relationship saya sama Dia. Kita sama pasangan saja kita nggak mau diginiin, masakan kita begitu sama Tuhan kita? Asli, ini berat ngomong seperti ini karena saya yang menulis ini juga masih berusaha untuk menghidupi apa yang saya tulis. At least, saya tahu rasanya makanya saya nggak mau gini lagi ke Dia. Karena saya tahu rasanya gimana.

Trus, sekarang saya gimana? Saya nggak lagi dalam suasana yang enak juga. Mana ada sih masa ujian yang enak. Tapi, nggak ada pemenang di ring tinju yang keluar sebagai pemenang tanpa memar dan luka-luka. So, sakit, BT, sebel, emosi, itu pasti terjadi ketika kita ada di dalam ring tinju. Problemnya, bisa nggak tetap percaya sama Tuhan ketika masa sulit ini ada? Bisa nggak kita menang dari ‘pertandingan’ kita, walau ‘berdarah-darah’ tapi memutuskan untuk kembali mengasihi dan mengusahakan yang terbaik untuk kebaikan bersama saat ini dan di masa depan. Rasa takut itu ada, tapi mana yang lebih besar? Rasa takutnya apa rasa percayanya?

Nulisnya gampang ya, tapi percayalah saya masih membutuhkan kekuatan untuk setia dalam berdoa, percaya, dan beriman sama Tuhan. Saya butuh kekuatan untuk menerima kalau setiap hari saya harus melewati pukul 17.15pm tanpa apa-apa. Saya butuh kekuatan untuk membuktikan kalau saya sayang sama Dia, dia juga. So, please send your hug in your prayer, every night, before you sleep, for me. 🙂

Thanks,
Xox

Ninta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s