(Sometimes) The Answer is Pray

“Har, apa yang kamu nggak suka dari Ninta?”

“She’s overthinking.”

“Kalau kamu, Nin?”

6301285382075

Source: Divineheartcouples

Suatu waktu, kami berdua bertemu dengan pemimpin komsel saya dan membahas beebrapa hal ini. Menurut kalian ada yang aneh nggak dengan pertanyaan di atas?

Menurut saya, sedikit aneh. Di mana-mana, ketika kamu menemukan pasangan yang sedang berbahagia, yang ditanyakan pasti, “Apa sih yang membuat kamu suka sama dia? Apa kelebihan dia yang membuat kamu jatuh cinta?” Dan beragam pertanyaan menyenangkan lainnya.

Tapi, hal di atas tidak ada salahnya juga jika ditanyakan di awal kalian saling membangun hubungan, lho. Kenapa? Walau masih baru, kalau kalian harus benar-benar mengenal masing-masing pribadi. Kalian harus tahu apa yang kalian nggak sukai dari pasangan kalian masing-masing. Ini bisa menjadi bahan evaluasi kalian nantinya saat sudah melewati beberapa masa. Apakah ada perubahan atau tidak.

Kalau kata Tulus,

“Jangan cintai aku apa adanya… tuntutlah sesuatu biar kita jalan ke depan…”

Mengetahui kelemahan dan mengevaluasinya bukan berarti kamu menuntut pasangan kamu berubah tanpa alasan yang jelas. Ada beberapa hal yang bisa dan tidak bisa diubah. Untuk hal yang sulit diubah, kamu harus bisa menentukan toleransimu untuk yakin bisa menerimanya jika suatu saat kamu sudah menikah dengan dia. Tapi, untuk beberapa hal yang masih bisa disesuaikan, usahakanlah. Karena kunci dari sebuah hubungan adalah MENGUSAHAKAN, dan indahnya hubungan adalah sebuah hasil dari usaha itu.

Kalau begitu, bagaimana dengan saya? Iya, saya adalah tipikal orang yang memandang jauh ke depan. Iya, kejauhan alias overthinking. Somehow, hal ini berguna untuk meramal masa depan. Tapi, lebih banyak wastednya karena hanya menimbulkan kecemasan. Come on, Ninta, have faith!

Beberapa kali saya dan pasangan saya mengalami konflik, salah satu penyebabnya adalah pikiran saya yang nggak saya kontrol, nggak saya serahin sama Tuhan, dan nggak saya filter baik-baik. Alhasil, saya sendiri yang tersiksa. But, lately saya belajar banyak untuk menangani hal ini. Gimana caranya? Berdoa!

While i face the distance between me and him, i pray
While i missing him so much, i pray
While  i want him but can’t, i pray
While i overthinking, i pray
While i can’t reach him, i pray
While i want to be loved but can’t, i pray
While i want to say something, but don’t know how to tell it, and get mad,
I pray

Do you think it is easy?
I surely can say NO!
But…
Is it help me?
I surely can say YES!

Kebanyakan kita berdoa mungkin hanya untuk memulai dan mengakhiri hari. Berdoa untuk mengucap syukur dan memohon sesuatu. Tapi, pernah nggak kalian berdoa sama seperti kalian curhat dan bicara langsung sama teman sendiri? Pernah nggak kalian berdoa untuk rasa kesal, bete’, cemburu, sakit, pedih, sakit, yang kalian alami? Pernah nggak berdoa supaya pasangan kalian bisa mengerti kalian lebih lagi, memaafkan kalian lebih lagi, menghormati kalian lebih lagi? I do.

Pengalaman mengajarkan saya nggak cuma untuk berdoa, saya bahkan berteriak sama Tuhan. Saya berteriak dan menangis untuk minta kekuatan melawan diri saya sendiri. Capek? Iya, capek. Bayangkan saja kamu harus melawan ego kamu sendiri. Kenapa kamu harus? Karena untuk menjaga suatu hubungan kita perlu dua orang yang sama-sama normal. Bukan yang satu “gila” yang satu normal, apalagi kalau dua-duanya “gila”.

Ibarat mendayung sepeda, kalau kayuhannya nggak seimbang, apa sepedanya bisa jalan? Nggak. Belajarlah melawan diri sendiri. Demi keuntungan siapa? Keuntungan bersama.

Beberapa waktu yang lalu saat saya dan pasangan mengalami miscommunication, saya menyempatkan waktu untuk menonton WAR ROOM yang direkomendasikan kakak saya (sambil nungguin dia yang nggak ada kabarnya karena satu dan lain hal). Film ini menceritakan bagaimana kekuatan doa membawa perubahan dalam relationship.

Saya sendiri tertegur karena jelas selama ini saya menghanyutkan pikiran dengan pikiran yang “nggak banget”. Ketika rasa insecure saya timbul, saya merasa pasangan saya nggak membutuhkan saya, saya terlalu excited dengan hubungan kami dan dia nggak sebegitunya, ketika hubungan lagi down saya beberapa kali meragukan ketika pasangan saya bilang dia sayang sama saya, dan masih banyak lagi. Padahal nggak gitu.

But, thank God. Dia selalu kasih saya jalan keluar. Saya selalu diingatkan untuk TIDAK mengambil tindakan sebelum berdoa. Saya ini anaknya mellow luar biasa, sedangkan dia tipikal yang cuek. Jadi, ketika saya sudah berhasil menghandle diri saya, baru saya minta penjelasan dari dia. Kalau tidak, yang ada hanyalah kemenangan atas egoisnya saya.

Seringnya saya menemukan jawabannya nggak seperti yang saya pikirkan. Walau kadang ada juga yang benar, tapi tidak seburuk itu. Ujungnya, saya nangis karena saya merasa sedih, senang, terharu, atau malah merasakan kalau rasa sayang saya ke dia bertambah lagi. Yup, saya memang terkenal cengeng, jangankan menghadapi hal begini, ketika saya mendapatkan kata Thank You dari keponakan saya, dan saya merasakan kalau itu ia ucapkan tulus dari hatinya, otomatis mata saya berkaca-kaca. Dasar cengeng!

Ya, sekali lagi, berdoa itu penting. Ketika masalah sudah selesai, jangan jadi lemah untuk berdoa. Ingin meminta pengertian, berdoalah. Ingin agar pasangan kamu berubah, berdoalah. Ingin jalan keluar dalam masalahmu, berdoalah. Ingin menyerahkan hati dan hidupmu untuk dikontrol, berdoalah. Karena ketika kamu berdoa, kamu masuk ke dalam sebuah medan perang. Berperanglah, entah untuk melawan dirimu sendiri atau tidak. Berperanglah dan menangkan pertempuran itu.

While you are praying, you jump into the battlefield!

At the end, i wish  saya naik level setiap kali saya berhasil lulus dari beberapa proses seperti ini.

Dear my partner, i wish you to know that i’ve been learn everyday to be the best version of me. Maybe, i’ve always asked you about everything, but, thank you for understanding me and say “Jangan gitu naa…” . Sometimes, i feel that you didn’t love me that much just because you’re not telling me or shows me. But, please gimme time, enjoy the process. We just start the journey, we just sailed. Lavya 🙂

 

 

Xox,

Ninta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s