Janji yang Tersembunyi

comforting-bible-verses-hebrews-10-23

Source: http://urnsnw.com

Waktu kamu masih kecil, tentu kamu pernah bermain cilukba dengan orangtua mu. Saat itu, kamu mungkin percaya bahwa orangtua kamu hilang dan saat membuka mata, mereka kembali ada di sana.

Begitu juga waktu kamu belajar berjalan, orangtua kamu juga suka memancingmu dengan mainan atau makanan kesukaanmu. Saat kamu sudah berjalan mendekatinya, tiba-tiba orangtua kamu menutupnya dengan kain atau menyembunyikannya.

Saat itu, kamu pasti berhenti dan berpikir “Kemana makanan itu pergi?” Namun, setelah dibuka kembali kamu mulai berjalan menghampiri makanan tersebut.

Satu kali mungkin kamu tertipu, tetapi setelah dua atau tiga kali hal itu terjadi padamu, kamu tentu tahu bahwa makanan atau mainan itu tetap ada di sana sehingga tanpa ragu kamu akan menghampirinya walau tidak kelihatan.

Inilah yang terjadi saat bangsa Israel berjalan bersama Musa. Jika dalam beberapa kali cerita sekolah minggu kamu mendengar Musa hanya menggunakan tongkatnya untuk membelah lautan, kenyataannya tidak semudah itu.

Salah satu pendeta mengungkapkan bahwa untuk membuktikan janji penyertaan Tuhan, Musa harus masuk perlahan ke dalam air. Mulai dari kaki, betis, sampai air membasahi pundaknya, Beberapa orang pasti tidak percaya pada tindakan Musa. Jika saya jadi Musa pada saat itu, mungkin saya juga mulai bertanya, “Kok lautnya nggak terbelah juga, ya Tuhan?” Rasanya seperti janji Tuhan tidak terlihat. Katanya akan meneyertai, kok ini sudah masuk ke laut, lautnya nggak terbelah juga.

Tapi, apakah Musa mundur?

Tidak. Ia terus maju sampai air laut tiba di batas hidungnya. Kemudian laut perlahan surut dan terbelah membentuk jalan yang dapat Musa dan bangsa Israel lalui untuk menyebrang.

Sampai di sini saya ingin bercerita bagaimana saya sempat meragukan janji Tuhan buat saya.

Seminggu sebelum partner saya datang ke Jakarta untuk meminta saya menjadi pasangannya, waktu itu, kami mengalami masalah. Sampai saat ini, masalah itu masih ada, tetapi waktu itu saya sempat benar-benar ragu untuk menerima dia menjadi pasangan saya.

Masa lalu saya memang tidak baik, saya pernah membangun relasi dan harus putus setelah hampir 6 tahun. Alasannya adalah karena kami tidak mendapat blessing dari orangtua dia dan saya sudah cukup untuk maju. Saya pernah merasakan bagaimana saya berjuang dalam hal itu dan saya tidak mau hal seperti ini terjadi lagi.

Ditambah, dengan kondisi keluarga saya, saya cukup meragukan bagaimana saya bisa dipimpin oleh seorang laki-laki. Ditambah lagi, saya sudah cukup mandiri untuk menjalani hidup sendiri. Saya bisa. Saya mampu.

Hal ini membuat saya bertanya-tanya akan janji Tuhan tentang dia yang akan menjadi pasangan saya. Dalam hati saya sempat bilang, “Kalau kondisinya begini lagi, saya males deh Tuhan. Nggak usah aja apa, ya?”

Padahal, Tuhan udah janji. Padahal, ini Tuhan lagi mau uji. Padahal, Tuhan lagi tutup aja makanannya.

Sampai pada suatu malam penerbangan menuju Bali. Sepanjang malam saya berdoa minta Tuhan kasih jawaban saya harus bagaimana. Begitu mendarat saya menangis. Perasaan saya saat itu memang sedang campur aduk. Kesal, bingung, marah, sedih, sayang.

Sepanjang minggu saya bergumul sebelum bertemu dengan dia di Jakarta. Kemudian, saya mengungkapkan hal ini ke dia dan dia bertanya kenapa saya merasakan hal ini. Memang betul karena ada masalah, namun dia tahu kalau saya memikirkan hal lain selain itu.

“Aku tahu kamu pernah disakiti sama mantan kamu, tapi Aku bukan dia. Jadi, jangan pernah mikir kamu berjuang sendiri.”

Kemudian saya mulai berpikir (lagi-lagi mikir), mereka orang yang berbeda. Dia sempat bilang juga kalau saya adalah orang yang berbeda dengan mantannya, jelas saja kami pasti tidak memiliki sikap yang sama. Saya pun mulai belajar untuk mempercayai dia.

Tepat di 21 Mei 2017, dia di Jakarta dan kami gereja bersama. Entah kenapa Tuhan bicara sama saya lewat firman ini.

“Ninta, janji itu jelas-jelas di depan mata kamu. Tapi, hanya karena tersamarkan oleh “kain” bukan berarti janji itu pergi dan nggak ada di situ.”

Saat mendengar ini, saya nggak mau lihat wajah partner saya. Gengsi lah! Hahaha. Tapi, akhirnya saya ungkapkan ke dia kalau saat di gereja saya sadar kalau firman ini untuk saya. Dan saya minta maaf untuk hal-hal yang terjadi kemarin.

Lalu, apakah masalah itu kini selesai?

Tidak. Setiap hari kami sama-sama terus belajar mengenal pribadi satu sama lain. Kami masih terus berargumen, kami saling bertukar pendapat, saya masih terus belajar untuk nurut sama dia, dia masih terus belajar untuk nggak cuek sama saya.

Belajar menjadi pendamping yang baik itu nggak mudah tapi bukan berarti nggak mungkin. Ini yang harus diingat, ketika dalam segala hal tak ada yang berpihak padanya, pastikan kamu ada di sana.

Dan tentang janji Tuhan, Dia adalah setia. Sekali Ia berjanji, Ia tidak pernah mengingkari. Bagaimana dengan kamu, apakah kamu pernah meragukan janji Tuhan?

Seharusnya, jangan.

god-keeps-his-promises

 

Xox,

Ninta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s