Be Still.

WhatsApp Image 2017-04-08 at 6.52.09 PM.jpegBe still = Diam = Bergeming.

Dalam hal ini, diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Diam berarti tidak mengandalkan kekuatan diri sendiri, melepaskan semua kata “Tapi,”, dan membiarkan Tuhan mengambil kendali atas pikiran dan hati kita.

Ketika bicara tentang HARUS DIAM, rasanya mudah, ya. Tapi, praktiknya? LUAR BIASA.

Berbagi pengalaman aja, dalam membangun relasi bersama @haricahyadi_ it’s really not easy. We’ve met by God’s voice (people said that it’s supranatural things. Uncommon) and we still learn about one each other. Bcz of that, kami memutuskan untuk benar-benar dengar-dengaran sama maunya Tuhan, yang ketemuin kita.

Setiap hari, kita berdua sama-sama mendoakan tentang hubungan ini dan bertanya sama Tuhan tentang apa yang harus kami bereskan atau apa yang harus kami ceritakan saat kami telponan di malam hari. Sampai pada suatu hari kami bicara tentang pekerjaan.

At one point, Ninta ada di dalam kondisi AMBISIUS dalam sebuah hal mulai mengatakan “Tuhan, gini ya. Plannya adalah bla bla bla. 1, 2, 3.” as always, plan plan and plan. Dan menarik kesimpulan tanpa mau tahu apa sih yang Dia mau.

I take control of everything. Then, when we pray about that, entah kenapa saya merasa bahwa hal ini nggak berjalan lancar. Hal ini nggak membawa sukacita baik buat saya atau pun dia. AKHIRNYA MEMUTUSKAN KEMBALI UNTUK BERDIAM.

Tarik napas, buang napas “Jadi Tuhan, maunya gimana?”

Tawar menawar pun dimulai sampai akhirnya Tuhan hancurkan semuanya dan saya kembali tenang. After that, saya bicara sama dia tentang apa yang saya pikirkan dan saya terima dari Tuhan. Saya benar-benar merendahkan hati saya untuk menerima semua yang akan dia katakan dan saya juga benar-benar hati-hati dengan setiap kalimat yang saya akan utarakan.

Sejak siang hari, saya udah bilang sama dia nanti malam tolong ingatkan kalau saya mau bicara hal penting tentang “How God Lead Me To Find A New Job”. Percayalah, pembahasan kami tidak seberat itu, tapi entah kenapa Tuhan selalu buka hal baru setiap hari supaya saya dan dia saling belajar.

Malamnya, saya cerita panjang lebar sampai akhirnya saya bilang, “Kakak paham?” then, saya tanya sama dia tentang hal yang pernah kita bicarakan. Betapa kagetnya saya kalau ternyata dia sebetulnya tidak memiliki hati yang full pada apa yang kami (means saya) bicarakan. Oh, God! Please lah Ninta!

Akhirnya, dia bilang semua yang ada di pikiran dia tentang hal tersebut. Di satu sisi memang dia setuju, tapi di sisi lain ternyata ada hal yang memang sudah dititipkan Tuhan sama dia dalam pekerjaan yang saat ini dia lakukan.

WHAT??!

CAN YOU IMAGINE IF I”M NOT TAKES TIME TO PRAY AND COMMUNICATE WITH HOLY SPIRIT? Saya hanya akan membawa hubungan ini sesuai maunya saya. Bukan maunya Tuhan. Saya akan merusak visi nya Tuhan untuk dia yang harus dijalani melalui pekerjaan dia yang sekarang. Hmmmhh…

Saat berdoa dan berusaha melepaskan kekang yang saya pegang, memberikan semua kertas plan yang sudah saya atur ke Tuhan itu nggak gampang. Tapi, Tuhan bilang sama saya, “Kalau kamu mau ikut rencana Ku, semua akan baik-baik saja. Nurut deh!”

Nah, perencanaan yang saya buat ini sejujurnya dilandasi oleh rasa takut atau cemas saya. Nggak banget, kan? Iya.

Dari sini saya kembali belajar benar-benar bahwa melibatkan Tuhan dalam membangun relasi itu bukan hal yang sepele. Ini wajib!

Pelajaran lain adalah, semua hal yang berkaitan dengan perencanaan kita kalau kita serahkan sama Tuhan pasti akan mendatangkan kebaikan. Tapi, kalau semua yang kita lakukan itu nggak sesuai sama rencana Tuhan pasti cuma akan membuat kita gelisah. Bisa jadi nggak dapat dukungan dari orang sekitar. Bahkan, bisa-bisa kita memilih menjauh dari suara Tuhan karena yang kita mau dengar adalah suara kita sendiri.

Nggak kebetulan ayat Perjamuan Kudus minggu kemarin adalah…

Mazmur 32:8

“Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kau tempuh. Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.”

The question is…

Bagaimana caranya kita bisa mendengarkan suara Tuhan kalau kita nggak ambil waktu untuk DIAM?

Ps:
Saat kita ada dalam sebuah masalah, DIAMLAH! Be Still.
Diam bukan berarti badai nggak datang. Tapi, ketika badai terjadi KEPUTUSAN apa yang kita ambil? Kita yang mengendalikan masalah atau masalah yang mengendalikan kita. (JC)

So, be still!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s