What is Generosity?

011c77682dba825e70f8dd78c7be616f

Pinterest

Those who refresh others will themselves be refreshed.

Logikanya, 5-2 adalah 3. Tetapi, terdapat perhitungan yang berbeda ketika kita memiliki 5 dan harus memberi (-) 4 maka kita akan mendapatkan (=) 10. Bisakah kalian bayangkan bagaimana rumusnya?

Inilah yang terjadi pada saat kita melakukan sesuatu yang disebut kemurahan hati atau bahasa gaulnya generosity. Jujur saja, ini saaaaangat mengganggu pikiran saya sebelum tidur jika tidak langsung dituangkan. Maka saya memutuskan untuk segera membuka laptop dan memulai dengan sebuah kalimat pembuka yang  menurut saya cukup menarik.

Mengapa di dalam bermurah hati, yang seharusnya kita berkurang justru kita menjadi berlebih? Menurut psikolog Anna Surti Ariani, MPsi, ketika seseorang berbagi, dia tidak akan berkurang melainkan berlebih. “Saat seseorang berbagi maka orang yang memberikan sesuatu juga diuntungkan. Secara emosional, kita juga ikut merasakan kebahagiaan saat berbagi. Mungkin kita merasa dengan berbagai ada sebagian rezeki (berkat) kita yang berkurang tapi itu bikin orang lain bahagia dan kita pun bahagia,” jelasnya dalam sebuah media gathering.

be2cc00f38ea4d5430d41ed68026d1ce

Pinterest

Ya, karena di dalam buku kehidupan pun tercatat bahwa orang yang menyegarkan orang lain, akan disegarkan.

Di tempat saya bertumbuh dengan jelas diajarkan bahwa murah hati tidak hanya berbicara masalah uang/materi, tetapi melibatkan waktu, tenaga, pikiran, bahkan perhatian. Dari sekian banyak yang jelas menjadi perhatian saya, ada salah satu hal yang terus nyangkut di pikiran ini. Dari sekian banyak pelayanan di gereja saya, terdapat pelayanan yang menurut saya ini hampir sama dengan seorang fulltimer gereja di gereja lainnya. Entahlah, jabatan dari pelayanan ini adalah Date Leader atau pemimpin komunitas.

Jujur, saya pernah dekat dengan seorang DL. Abaikan cerita cintanya dan perhatikan hal ini, dia adalah seorang yang aktif di kampusnya. Dia seorang kakak untuk dua adiknya. Guru untuk murid-muridnya. Dan teman (curhat) untuk siapa pun yang mungkin menghubunginya bahkan kadang untuk hal-hal yang mungkin orang tersebut bisa menyelesaikan sendiri. Tapi, dia masih bisa meladeni pesan yang saya kirimkan untuk dia, dengan baik. Saya sempat mengikuti jadwalnya Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat sampai Minggu, saya berpikir, kapan dia punya waktu sendiri? Kapan dia bisa melakukan ini dan itu. Bisa, tetapi pasti jumlahnya tidak sebanyak yang dimiliki orang lain. Ya, waktu. Di sini sangat jelas kalau saya adalah tipikal manusia yang sangat menghargai kualitas waktu dengan seseorang, karena ini memang salah dua dari bahasa kasih saya. Untuk saya, waktu adalah hal yang sangat berharga, lebih dari materi lainnya. Orang yang dapat membagikan waktunya untuk orang lain adalah orang yang kaya, IMHO.

Bisa dibayangkan juga, seorang DL bahkan harus rela tidur larut malam untuk tetap “melayani”. Mungkin, karena anggotanya benar-benar butuh dukungan. Hal ini tidak bisa “ditolak” karena ini adalah bagian dari komitmen yang sudah diambil. Dan untuk saya yang masih member, membayangkannya saja sudah membuat saya ………….. yah, begitu lah. Tetapi, semua member suatu saat akan menjadi DL, so we must prepare it.

Selain cerita di atas, saya benar-benar belajar hal generosity dari mama dan papa saya. Walau mereka sudah berpisah tinggal, tapi saya sangat ingat bagaimana papa tidak ragu untuk membantu orang lain dan keluarganya (walau kadang masih terselip modus), tapi tidak dengan mama. Kami hidup cukup cenderung kurang, but mama selalu mengajarkan bahwa berbaik hati akan membuahkan sukacita.

Hal yang paling berbekas adalah ketika dalam kepanitiaan remaja saya menjadi ketuanya, bisa dibilang semacam DL tetapi dengan tanggung jawab yang lebih ringan, waktu itu. Entah bagaimana Tuhan memberikan kesempatan tersebut pada saya dan semua berjalan TIDAK baik-baik saja. Kebanyakan, semua anak menolak saat ditunjuk menjadi ketua karena harus megurus tempat ibadah, jadwal ibadah, jadwal pelayan, dan segala meeting dan printilan yang ada.

Suatu waktu, saat saya mencari rumah teman-teman yang bisa ketempatan untuk dijadikan rumah ibadah, tidak ada satu pun yang bisa, dengan banyak alasan. Kebanyakan, ibu-ibu mereka keberatan karena harus menyiapkan konsumsi untuk puluhan anak remaja yang akan beribadah di rumahnya, entah nasi goreng, mpek-mpek, tekwan, dsb. Saya mulai panik dan bingung karena harus segera lapor ke gereja di mana tempat ibadah remaja blok saya diadakan. Mama datang dan mengatakan, “Di rumah kita saja…”

Saya langsung menatap dan berkata dalam hati , “Tapi, kita nggak punya uang, rumah kita cukup kecil, nggak ada AC, apa teman-teman mau datang?” tapi yang keluar dari mulut saya adalah, “Mama mau masak apa?”. “Bihun goreng saja, kesukaan kamu.” Dan kejadian ini terjadi berulang setiap kali kami tidak mendapatkan tempat, Mulai dari bihun goreng, molen buatan sendiri, mpek-mpek buatan sendiri, kue kukus, bolu, dll mama sediakan. Saya akhirnya bertanya, “Ma, kenapa banyak orang yang lebih kaya dari kita tapi nggak mau rumahnya ketempatan buat ibadah? Kenapa harus kita terus dan susah sekali cari orang buat rumah ibadah?”

Mama menjawab kira-kira begini, “Nggak apa-apa. Selagi ada. Kalau memang susah cari tempat ibadah, ya, rumah kita saja.” Intinya, mama bilang rumah yang dijadikan rumah ibadah itu pasti diberkati Tuhan dan apapun yang kita lakukan untuk Tuhan itu nggak akan pernah sia-sia. Tuhan lihat dan Tuhan pasti tidak akan diam.

I LOVE YOU TO THE MOON AND BACK AND GO TO THE MOON AGAIN, TO MARS, JUPITER, SATURNUS, URANUS, NEPTUNUS, PLUTO, BEKASI and back mom…

Sejak tertanam di “rumah” saya yang baru ini pula saya punya impian, suatu saat ketika Tuhan percayakan sebuah tempat tinggal sendiri yang memadai untuk saya (dan pasangan), saya mau memberikannya untuk perluasan jaringan komsel. My momma teach me about that…

Dan mungkin ini adalah mimpi terbesar saya jika saya diberi kesempatan untuk tetap tinggal di Jakarta, jika saya berpasangan nantinya, dan jika saya terus dan terus bertumbuh hingga melayani lebih lagi di gereja ini. Saya mau rumah saya jadi rumah doa, di mana Tuhan bisa pakai semua yang ada. Gampang, ya, ngomongnya?

Ya, bicara memang mudah. Tetapi, pengorbanan bukanlah pengorbanan jika tidak ada yang “mati” atau dikorbankan dari diri kita.Ini mimpi besar saya, apa mimpi besar kalian?

Kemurahan hati tidak harus selalu dalam bentuk yang besar dan terlihat. Saat ada yang sharing kamu memberi perhatian, saat temanmu butuh didengarkan padahal kamu baru pulang date jam 12 malam kamu samperin kamarnya, saat kamu harus buang pulsa dan waktumu untuk tanya kabar orangtua yang jauh di sana dan mengorbankan waktu PDKTmu karena nggak balas whatsapp-nya dia kurang lebih dua jam, saat kamu harus rela molor 15 menit menyentuh kasur karena kamu harus ikut antar teman-teman pulang. That’s generosity.

Jadi, kemurahan hati apa yang sudah kita lakukan saat ini? Kemurahan hati apa yang paling sering kalian lakukan? Dan apa purpose kita ketika kita generous kepada orang lain?

Lukas 6:38
Berilah maka kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncangkan dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu.

51d178a97103be432b0e75385f208af5

Pinterest

Ps: Jangan lupa untuk tetap gunakan hikmat. Pilih tanah yang tepat sebelum menabur, agar generosity tidak menjadi boomerang untuk diri kita sendiri.

Xox,
Ninta.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s