Ke(me)nangan Babo

Terengah-engah aku berlari menuju pintu keberangkatan luar negeri dengan tali sepatu yang belum diikat dan tas ransel yang menganga setengah. Selalu saja begini setelah melakukan rapat tengah malam bersama klien-klien gila itu. Kapan mereka tidur? Apa karena mereka jualan kopi, lantas kadar ngantuk mereka tidak sama dengan orang lain? Atau mereka sudah kebal terhadap rasa kantuk? Tentunya… karena mereka penjual kopi. Hahaha. Haah… basa-basi berjam-jam hanya untuk mencicipi secangkir kopi yang bahkan aromanya saja tak membuatku terangsang. Hidungku tak mengembang dan mengempis seperti saat pertama kali aku jatuh cinta pada kopi dalam gelas kaleng babo.

Jika saja beberapa tahun yang lalu aku tidak menunda penerbanganku ke Korea, aku pasti tak akan sempat menghabiskan waktu bersama babo. Dan aku tak akan mengenal apa itu jatuh cinta.

Usiaku saat itu 24 tahun dan aku sangat ingin terbang ke Korea. Aku belum jatuh cinta pada kopi, saat itu. Tabunganku sudah sangat cukup dan aku siap terbang. Namun di malam Natal, Bapak dan Mamak mengatakan kalau kami sekeluarga harus terbang ke Ende, Nusa Tenggara Timur, untuk menemui babo. What??? Setelah sekian lama aku menabung, tepat saat itu juga aku harus pulang kampung?

Memang benar, aku punya visi untuk kembali ke kampung halaman bersama segenap keluarga besarku sebelum menginjak usia 25 tahun, tapi kenapa harus di saat aku memenangkan undian tiket gratis ke Korea untuk bertemu dengan idolaku?

“Aku nggak bisa terima, Mak! Kapan lagi kakak bias pergi ke Korea gratis? Ini nggak bias diuangin, Mak!!!!”

“Kak, kita semua sudah sepakat. Tante Lila, Om Theo, Salsa, Jony, Katya. Semua yang di Bali juga sudah sepakat dan bilang sama babo dan mamo kalau kita akan ke sana.”

Saat itu, aku merasa aku tidak bias berkata apa-apa lagi. Mungkin nasibku akan bertemu jodoh orang NTT dan bukan orang Korea. Dari mamak, aku memang memiliki sedikit darah Korea. Bapak sendiri campuran India, Portugis, NTT. Mungkin kalian tidak bias membayangkan bagaimana rupa aku dan kedua adikku yang ternyata penggila drama korea juga. Baiklah, begini… kulitku putih, mataku sipit, hidungku mancung, rambutku sedikit mirip dengan Chibi Maruko Chan, aku tidak terlalu tinggi dan aku memiliki rahang bapak yang sangat khas NTT-India. Masih belum terbayang juga? Abaikan. Yang jelas, aku sangat menyukai ekspresi wajahku. Kata orang, wajahku seperti komik. Seperti apa itu?

Hmmmh… Kembali mengingat penerbangan SIAL pertamaku ke Ende setelah aku akhirnya dengan rela melepas gelar pemenang jalan-jalan ke Korea, setelah bertahun lamanya aku tidak menginjak tanah Flores yang terkenal dengan sanitasi yang buruk, kelaparan di mana-mana, stunting, dan maraknya kematian anak sebelum usia 5 tahun. Mungkin, pandanganku terlalu buruk tentang kampung halamanku, padahal di sini terdapat berbagai wisata alam yang menggugah turis mancanegara. Ada kampung adat Wologai yang terletak di desa Wologai Tengah, Benteng Portugis (That’s why bapak memiliki keturunan Portugis), Monumen Pancasila tempat perenungan Soekarno, Presiden pertama kita, Museum Tenun Ikat, dan yang paling tenar yaitu Danau tiga warna atau Danau Kelimutu yang dijadikan objek gambar di mata uang Indonesia. Tapi, tetap saja ini adalah perjalanan yang tidak aku inginkan. Kenapa kita nggak ke kampung mamak yang di Korea aja? Walaupun mamak memang sudah campuran Jawa-Korea, tapi kan lebih asyik.

Penerbanganku waktu itu dimulai dari bandara Soekarno-Hatta menuju Bali. Dari sana, kami harus transit satu hari untuk menunggu pesawat ke Ende. Tiba di Ende perasaanku masih sedikit bercampur aduk, senang karena ketemu babo dan mamo yang sudah puluhan tahun tidak jumpa namun juga sedih karena harus kehilangan tiket ke Korea. Semua saudara menghiburku, “Babo kangen sama kamu. Kamu sudah besar dan secantik ini, apa tidak ingin lihat babo? Babo sudah tua…”. Yah, alasan sudah tua dan rasa rindu adalah hal yang selalu dibawa-bawa.

Satu hal yang ku ingat dari kakekku yang dipanggil babo ini. Setiap pagi pukul lima dan sore di waktu yang sama, ia akan duduk di depan teras sambil bernyanyi dan minum kopi. Alhasil, kenangan yang tertinggal di kepalaku tentang sosoknya adalah bau kopi. Setiap kali aku mencium aroma kopi dalam segelas Americano, Aceh Gayo, Mandailing, Toraja atau kopi bungkus kecil instan, yang terbayang adalah aroma tubuh babo yang memelukku saat aku hampir kehilangan nyawaku. Saat tubuhku sempat hanyut karena banjir bandang dan ia satu-satunya yang tidak meninggalkanku. Ini juga salah satu alasan kenapa aku sampai sekarang tidak mau belajar berenang. Ende memang terkenal rawan bencana alam, namun Ende juga memiliki cerita cinta yang menenggelamkan antara aku dan babo, antara cucu dan kakeknya.

Setelah menempuh perjalanan selama 10 menit, aku sampai di daerah Kopoone, Ende, Flores, NTT. Perjalanan dua jam dengan pesawat kecil membuatku sedikit mabuk. Aku ingin langsung menenggak segelas kopi. Ya, segelas dan bukan secangkir. Di kampungku, aku dan keluargaku dulu terbiasa mengolah kopi sendiri. Tak jauh dari rumah babo, terdapat banyak tanaman kopi yang bias dibilang menjadi milik bersama. Kebun ini diurus oleh semua warga dan siapa pun boleh menikmatinya. Hari-hariku masih cukup lama di sini, maka aku memutuskan untuk memanggil ojek dan meminta kakak ojek mengantarkanku sampai ke kebun. Di sana, naik ojek tak perlu bayar mahal, lima ribu rupiah sudah bisa ke mana saja, jauh maupun dekat.

Sesampai di kebun aku benar-benar menikmati setiap aroma dari kopi-kopi mentah. Bau tanaman yang khas dan aroma daun-daunnya. Bahkan bau tanah Ende yang benar-benar berbeda dengan tanah di pulau lainnya. Ada aroma kekuatan dan cinta yang melebur jadi satu di dalamnya. Tanah ini pula yang menghasilkan kopi-kopi nikmat yang sejak dulu selalu dikirimkan ke kediamanku di Jakarta. Semenjak itu lah aku mulai jatuh cinta pada kopi. Walau lama tidak pulang ke Ende, aku masih ingat cara yang diajarkan babo untuk mengolah kopi. Setelah dipanen, biji-biji kopi yang baik dipisahkan dari biji kopi yang buruk. “Pergaulan yang buruk merusak kamu yang baik. Sama seperti kopi-kopi ini, kopi yang buruk bisa merusak kualitas kopi yang baik,” terngiang nasihat babo padaku.

Menghabiskan beberapa hari di Ende membuatku banyak berbincang dengan babo, khususnya jam lima sore di depan rumah. Ia banyak bertanya kehidupanku di kota besar dan terutama jodohku. Hah! Aku paling malas menjawabnya, namun, sambil menyesap kopi buatan tangannya sendiri, babo berkata, rasa cinta itu sama seperti rasa kopi, bukan masalah pahitnya, tapi rasa yang ditinggalkannya setelah kamu meminum seluruhnya. Ada rasa yang berbeda di sana.

“Tuhan kasi kita indera perasa. Semua orang kembali pada satu kopi karena rasa yang pernah ditinggalkannya. Bukan sekadar aroma yang tercium lalu hilang, tetapi rasa yang membekas yang akan membawa kamu untuk mencoba dan mencoba lagi rasa tersebut. Itu cinta. Tidak ada kapoknya,” kata babo yang asyik melemparkan beras untuk ayam yang berkeliaran bebas di depan rumah kami.

Apa benar?

Jika dipikir-pikir, aku mulai jatuh cinta pada kopi dan selalu kembali padanya karena… Ahh, ya, benar saja. Ini semua tentang rasa. Pahit itu hanya awalnya, jika kita bisa mencerna dan memisahkan rasa kopi yang sesuai dengan ingin kita, maka akan ada banyak pilihan yang tertera. Aku memang bukan pemilih kopi, namun kopi NTT buatan babo adalah yang paling menyiksa. Karena ada balitan cinta dan rindu akan kampung halaman di dalamnya.

KRINGGGGGG KRINGGGGG

Nyawaku kembali ke tempat di mana aku baru saja menyesap secangkir kopi sambil menunggu penerbanganku yang ternyata dinyatakan delay.

“Halo, Maya speaking…”

“Hai, Maya. Lo lagi duduk pakai sepatu keds warna merah, parka hijau lumut dan eeee… rambut sedikit berantakan?”

“Wait…” aku menatap gadgetku lekat-lekat, Ko Andre. Damn! Ada sekitar sepuluh nama Andre di telepon genggamku dan saat ini aku benar-benar butuh tahu Andre mana yang sedang membuntutiku. I’m no make up for now! Secepat abang ojek online menyambar permintaan penumpang, secepat itu pula tanganku merogoh lipstick halal dengan warna favoritku, red. I’m ready, though. Attack!

“Ini Andre….eeee…” sambil merapikan sedikit garisnya yang keluar dari bibir tipisku.

“Andre Ferdian. Lupa? Aku ke sana ya!”

Tuhan!!!!!!

Jangan bilang karena aku terlalu banyak minum kopi ingatan ku sama sekali tidak berfungsi. Aah, aku tidak menyalahkan kopi. Dari dulu memang aku tak pandai menghapal nama dan wajah orang.

“Hai, May…”

Dia menyunggingkan senyumnya dan mengulurkan tangan. Ah, aku ingat sekarang. Dia adalah salah satu teman baruku saat aku pulang ke Ende waktu itu. Aku sempat mengiranya turis bule, maklum, ia tinggi dan berperawakan seperti Hemsworth bersaudara dan aku sama sekali jauh dari Miley Cyrus.

“Hai Ndre. Long time no seeeeee….” Kataku sambil kembali mengumpulkan memori di Danau Kelimutu.

Saat itu dengan bodohnya aku terlalu banyak gaya untuk memposting bahwa aku baik-baik saja di Ende, bahkan aku menggunakan #enjoyendewalausendiri dalam setiap foto yang kuunggah. Sayangnya, lima menit setelah foto terakhirku aku terpeleset dan tak ada yang menolongku saat itu, karena semua saudaraku sudah kembali ke tempat mobil pick up kami (ya, aku tidak benar-benar sendiri. You know, pencitraan is everywhere).

Andre datang di saat yang tepat. Ia menolongku dan membawaku ke parkiran mobil. Entah terlalu bahagia, keluargaku meninggalkan aku di sana. Mereka tak sadar kalau aku tidak bersama mereka. Telepon? Jangan harap, begitu turun gunung Anda akan kehilangan sinyal kehidupan. Andre bagaikan malaikat di tengah kecerobohanku, mengantarkanku pulang ke rumah babo. Terlihat babo dan mamo yang cemas bahkan menangis karena tak menemukanku di mobil dengan terpal biru yang biasa digunakan untuk mengangkut sayur ke pasar.

Tentu saja, Andre disambut dengan baik di keluargaku. Ia pun akrab dengan babo hanya dalam waktu sepuluh menit. Yang mereka bicarakan tak bukan tentang kopi. Andre sendiri memiliki kebun kopi di wilayah Ende, beberapa kali dalam setahun ia pasti datang untuk memeriksa tanaman warisan dari ayahnya.

“Kamu mau ke mana?”

“US. Kamu?

“Wah, kebetulan. Pesawatnya delay kan?”

“Kok kamu tahu?”

“We’re in the same boat. I mean plane. Hahaha”

“Hah? Seriusan? Thank God! Aku nggak mati bodoh sendirian di sini.”

“Babo apa kabar?”

Seketika menggenang air mata di pelupuk mataku.

“Hei, are you okei?”

“I’m okei. Babo sehat, kebun kopinya yang tak sehat. Pelebaran jalan dan beberapa pembangunan gedung membuat babo yang tak tahu apa-apa selain kopi hanya bisa pasrah menyerahkan sebagian kebun kopinya hilang.”

“Lalu?”

Andre tampak serius memperhatikan mataku. Tuhan, aku nggak kuat kalau begini caranya.

“Yah, bisnis kopi keluarga kami pun mengalami sedikit kendala.”

“Kamu tahu nggak, aku rasa ini bukan kebetulan. Aku sudah lama ingin mengajak babomu bekerja sama dengan ku. Tapi, aku sedikit ragu karena babo tampaknya benar-benar ingin mengelola kebunnya sendiri. Kalau kamu mau, kita bisa bekerja sama memajukan kopi Ende, kopi kita.”

Kita katanya……

Haaaahh! Bagaimana mungkin aku bisa merasakan indahnya cinta di tengah pembicaraan memilukan ini.

“Mungkin… kita bisa membahasnya sambil makan siang?”

“On me, ya! Yuk…”

Andre pun berjalan selangkah di depanku.

Babo, aku akan berusaha untuk menyelamatkan kopi kita. Kopi jam lima yang selalu membuat aku merindukan babo, kopi sederhana di dalam secangkir kaleng tua, kopi yang diramu dengan tawa dan kenangan manis akan masa kecil bersama babo, kopi kebanggaan babo yang akhirnya berhasil membawaku sampai ke Amerika.

 

kopi

Source: Pinterest

Babo, ini untuk babo. Ini kemenangan atas cinta dan harapan untuk tanah Ende, kemenangan atas usaha babo menjaga dan mencintai setiap tanaman kopi di kampung kita. Maya janji akan membawa harum nama Indonesia lewat kopi tanah Ende.

Karena dalam segelas kopi terdapat perjuangan, cinta , dan kesetiaan akan nusa dan bangsa.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s