Harapan Ada Bila Percaya

9ca4970ac1e74c9e4fddf15ef1930843

Source: Pinterest

Apa yang Anda pikirkan saat mendengar kata penjara? Kelam, menyeramkan, pembunuhan, orang jahat, dan mungkin masih banyak lagi kosa kata negatif yang akan keluar dari dalam pikiran Anda.

Nyatanya, dalam beberapa minggu yang lalu saya mendapati bahwa penjara juga memiliki kata yang positif. Kreatif, cita-cita, tawa, semangat, dan harapan.

Bersama beberapa teman, saya baru saja melakukan kunjungan ke penjara anak laki-laki. Saya ingat betul, awalnya ada teman yang mengirimkan broadcast message berisi ajakan untuk mendukung kegiatan ini. Entah kenapa, saat itu saya kurang tergerak bahkan cenderung mengabaikan. Namun, suatu hari pesan tersebut datang lagi dengan sebuah kalimat “Masa Lalumu, Bukan Masa Depanmu”. Ini sangat menyentuh saya, mengingat bagaimana hal ini menjadi salah satu panggilan saya dalam menjalani hidup. Bukan karena saya hebat, tapi saya pernah ada di posisi ini dan saya memiliki tujuan, mungkin visi yang sama, dengan mereka.

Singkat cerita, kami melakukan 3 kali pertemuan setiap Jumat selepas bekerja di salah satu gedung milik anggota tim kami. Pertemuan pertama, kami berkenalan tentunya karena banyak dari kami yang tidak saling mengenal dan kami sedikit membahas apa dan bagaimana penjara itu, siapa saja yang akan menjadi pembicara, bagaimana kebiasaan yang terjadi di penjara, dsb. Sampai pada akhirnya pembahasan mengenai nilai apa yang akan kami bagikan di sana, sesuai dengan misi kami, untuk mengenalkan dan menanamkan tentang gambar diri yang baik pada mereka.

IMG_20160809_232741

Pertemuan Pertama. Source: Tina

Pertemuan kedua, panitia mendatangkan pembina. Kami sadar bahwa kami tidak berpengalaman dalam hal ini. Ini adalah hal pertama yang mungkin untuk beberapa dari kami yang terjun menjadi suatu hal yang menegangkan. Para pembina sangat mendukung dan membantu kami dalam menemukan tujuan sederhana kami datang ke sana.

“Jika ada satu orang saja yang bertanya kapan kami kembali ke sana lagi,” ini ujar ketua acara.

Pertemuan ketiga, kami melakukan simulasi games, acara, hingga konseling dan penyembahan singkat.

IMG-20160731-WA0021

Simulasi untuk teman-teman yang tidak dapat hadir di hari Jumat. Source: Krisna

06 Agustus 2016. Hari di mana kami mendapatkan banyak keajaiban dan harapan di dalam penjara. Salah satu kegiatan kami di sana mengharuskan kami untuk menuliskan apa yang menjadi mimpi kami, harapan kami di masa depan. Namun, banyak dari kami kebingungan dan bahkan membutuhkan waktu yang lama untuk mengisinya. Tentu saja, saya menulis ingin menjadi penulis andal. Ini mimpi saya, bagaimana dengan Anda?

Masuk ke sesi pertama, kami diajak berkeliling, tur penjara, begitu mereka menyebutnya. Saya melihat banyak ruang kelas. Kelas memasak di dapur, kelas menjahit, kelas kerajinan tangan, kelas memotong rambut, bahkan kelas mekanik yang disponsori oleh salah satu perusahaan besar di Indonesia. Staf di sana berkata bahwa salah satu anak didik mereka memenangkan lomba yang diselenggarakan oleh perusahaan tersebut, hadiahnya adalah begitu ia bebas ia akan langsung menjadi montir di perusahaan tersebut. Bukan main!

DSC_8959

Tur Penjara. Source: Dimar

Pada paragraf sebelumnya, saya menegaskan kata anak didik. Ya, di sini mereka disebut anak didik karena tempat ini diharapkan dapat menjadi sekolah untuk mereka dan saat mereka lulus nanti, mereka dapat membangun masa depan mereka tanpa melihat kekelaman di waktu lalu.

Cerita seru, dimulai!

Setelah berjalan-jalan, kami berkumpul bersama anak didik di aula. Kami duduk menyebar di antara mereka. Saya salut dengan teman-teman saya yang keturunan tionghoa. Saya berpikir, bagaimana mereka menghilangkan rasa takut mereka dan perasaan lainnya saat berhadapan dengan mereka yang notabene berbeda warna kulit dan latar belakang agama. Apa mereka tidak takut? Tapi, kasih menutupi segalanya. Malahan, anak-anak usia remaja hingga usia remaja dewasa itu tampak asyik bersenda gurau. Salah satu di sebelahku bertanya, “Kak, mau ngapain ke sini?” dan aku menjawab “Mau ajak kalian main,” dan mereka sangat excited saat mendengarnya.

Kami bernyanyi bersama dan mengikuti Talk Show yang dibawakan oleh 4 narasumber luar biasa. Kak Andy, Kak Zico, Pak Bambang, dan Lucky. Sedikit cerita tentang mereka, Pak Bambang adalah mantan tahanan yang memiliki visi bahwa saat dia keluar dari penjara, ia ingin membangun sebuah rumah singgah untuk anak-anak yang bernasib sama dengan dia, yang setelah bebas belum siap untuk terjun kembali ke masyarakat. Rumah ini kini dikenal dengan nama Rumah singgah Socius, Bekasi, Jawa Barat. Kak Andy dan Kak Zico adalah mantan pemakai yang berhasil meninggalkan masa lalunya dan giat melakukan kegiatan positif untuk awareness di penjara. Lucky adalah seorang mentor mantan waria yang akhirnya kembali menemukan jati dirinya dan kini berprofesi sebagai make-up artist. 

DSC_9052

Talk Show. Source: Dimar

Saat mereka berbagi, anak-anak didik menjadi sangat antusias. Salah satu dari mereka ada yang langsung bertanya lokasi rumah Socius karena ia ingin ke sana setelah bebas. Tahukah Anda? Ia bercita-cita menjadi seorang penulis, ia tak cuma bermimpi, ia sudah menulis selama ia di penjara. Anak lainnya ikut bertanya, memiliki tato di lengan, ia ingin bertanya bagaimana Kak Andy yang tidak mempan masuk rehabilitasi, rumah sakit, dan lain-lain bisa lepas dari jerat narkoba. “Keluarga,” ini jawabnya. Keluarganya menjadi motivasi yang luar biasa untuk lepas dari narkoba.

DSC_9072

Sesi Tanya Jawab. Source: Dimar

Tak lama setelah sesi ini kami dibagi beberapa kelompok untuk bermain. Saya mendapatkan anak-anak dengan baju hijau, baju hijau adalah seragam yang dipakai anak-anak yang belum mendapatkan vonis, sedangkan oranye adalah untuk mereka yang sudah ditetapkan masa hukumannya. Saya dan fasilitator lainnya berkenalan dengan Asep, Ibra, Tegar, Pahlevi, Rachmat, Arman. Sayang, saat baru dimulai Levi mendapatkan kunjungan sehingga kami tak bisa bermain bersama.

Beberapa permainan kami lewati bersama-sama. Setiap permainan juga memiliki misi, lho. Seperti, mimpi atau tujuan bisa kita raih kalau kita berusaha, saat kita ingin maju jangan sampai kita mendengarkan apa kata orang tetapi percaya pada apa yang dapat kita lakukan, dan bagaimana pergaulan yang buruk dapat merusak kebiasaan kita yang baik. Oia, karena pernah tinggal beberapa waktu di Bandung, saya sempat berkomunikasi dan bermain dengan mereka menggunakan bahasa Sunda dan beberapa pertanyaan mereka lontarkan pada saya, seperti Bandungnya di mana, ngapain di Bandung dulu, dan yang paling unik adalah “Kakak piking bukan?” dan saya jawab, “Nteu, abdi mah hiking. Sukanya naik gunung…hahaha.”

Semakin lama menghabiskan waktu, saya mulai melihat setiap karakter dalam tim saya. Menjadi yang paling dominan, Asep akhirnya memimpin tim kami. Namun, ada yang berbeda dengan Ibra, Ibra cenderung pemalu dan tidak percaya diri. Sisanya, mereka menurut dan asyik saja dengan yang lainnya.

DSC_9158

Sesi Permainan. Source: Dimar

Oia, walau ini penjara anak laki-laki, kami turut mengundang beberapa teman dari penjara anak wanita.Ada 15 anak yang akhirnya belajar make-up bersama Lucky dan beruntungnya, kami mendapatkan sponsor dari sebuah merek kosmetik ternama di Indonesia. What a favor!

Waktu bermain dan belajar make-up pun usai. Saatnya sesi konseling dimulai. Karena dalam kelompok saya terdapat 5 anak dan 3 fasilitator, saya pun kebagian 1 anak, dan itu Asep. Entah kenapa saya mendapatkan dia. Sebelumnya, dalam kelompok besar kami membahas tentang siapa mereka dan apa yang menjadi mimpi-mimpi mereka.

  • Tegar: Ingin membuka rumah makan sunda dengan nama “Tamu Wajib Lapar”. Ya, Tegar jago memasak dan kami sangat mendukung mimpinya yang satu ini.
  • Arman: Ingin punya distro dan desain kaos sendiri dengan nama “BD (Beda) Design”. Dia suka menggambar dan mendesain kaos.
  • Asep: Pemain gitar listrik andal bersama bandnya “The Morning Time”. Dia sudah pernah manggung di alun-alun, lho.
  • Rachmat: Ingin berguna di keluarganya dan ingin kuliah di salah satu universitas di Madinah, dengan jurusan … saya lupa, yang jelas berhubungan dengan Alquran.
  • Ibra: Ingin membuka rumah makan padang-sunda.

Dalam konseling pribadi, Asep tidak banyak bicara sampai saya selesai bercerita tentang masa lalu saya dan apa yang pernah saya lewati. Ia bercerita bahwa ia melewati hal yang serupa. Setelah itu, kami membahas tentang bagaimana ia dapat menjadi dampak jika ia sukses menjadi orang yang berbeda di masa depan. orang yang memang diciptakan luar biasa dengan tujuan hidupnya sendiri. Kami membahas kata sukses, sukses melawan diri sendiri dan dapat mensukseskan orang lain.

Waktu begitu singkat, kami tidak bisa berbincang lebih jauh. Apalagi, kami mendengar bahwa tim kami menjadi pemenang karena kekompakan satu sama lain. WAH!

Tak lama, kami berpamitan dengan mereka. Saya ingat, saat akan berpisah saya mencari barisan kelompok saya dan anak-anak saya, disaat itu juga saya melihat Asep memandang ke arah saya, beberapa saat kami saling melihat dan saya tersenyum sambil melambai. Dalam hati, saya berkata “Semangat, Ya, Sep!” saya harap pesan ini sampai padanya.

Setelah kami meninggalkan penjara, kami kembali berkumpul untuk membagikan apa yang kami dapat di sana. Banyak pelajaran yang justru membuat kami terberkati. Tujuan awalnya kami ingin berbagi dengan mereka, namun malah mereka yang banyak memberi pelajaran untuk kami.

Salah satu hal yang membuat saya sedih adalah bagaimana anak didik wanita menceritakan asal-muasal mereka bisa menjadi penghuni. Wajah mereka cantik dan polos, salah satu di antara mereka pun menggunakan hijab. Mereka menjadi penghuni tak lain karena pacar mereka. Dimintai tolong untuk mengantarkan barang yang ternyata adalah narkoba. Belum lagi, saat sesi konseling salah satu fasilitator mengatakan bahwa yang mereka keluhkan bukan lah pekerjaan nantinya, namun jodoh. “Bagaimana dengan jodoh saya, Kak? Kalau mereka tahu latar belakang saya? Kalau pun mereka nerima, bagaimana dengan keluarganya?”

Untuk saya sendiri, apapun tindakan yang pernah mereka lakukan mereka tetap anak-anak yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian untuk mengubah dunia mereka. Karena kasih tak pernah gagal, kasih menutupi segala sesuatu. Saya juga belajar tentang komitmen, bagaimana berawal dari 6 orang yang memiliki misi namun misinya “tertolak”, tak menyurutkan semangat mereka. Bagaimana komitmen teman-teman yang tinggal jauh dari tempat meeting untuk tetap hadir, bagaimana teman-teman yang tak sempat datang meeting namun tak berkecil hati untuk ikut datang melayani, bagaimana usia tidak membatasi Tuhan berkarya (beberapa fasil sudah lebih senior dari kami dan mereka perempuan 🙂 ). Saya juga melihat langsung bagaimana Tuhan bekerja luar biasa untuk segalanya, mulai dari kebutuhan dana yang awalnya defisit dan rasanya tidak mungkin terkumpul dalam waktu singkat justru jadi berkelimpahan. Belum lagi kendaraan, fasilitator, ruang meeting, konsumsi, teman-teman baru dan pengalaman serta value yang luar biasa untuk masing-masing kami. LUAR BIASA!

DSC_8929

All Team. Source: Dimar

Penutup, salah satu tante (fasilitator) mengatakan bahwa ada seorang anak yang bertanya padanya kapan kami akan ke sana lagi, ia sangat berharap kami dapat mengunjunginya sebelum ia keluar di bulan Desember. Dan ini lah yang menjadi harapan kami, hal ini menjadi jawaban dari tujuan kami serta menjadi semangat baru untuk kami yang percaya bahwa mereka bisa menjadi orang yang lebih baik di dalam hidup mereka. Ini menjadi alasan kami untuk mempersiapkan kunjungan selanjutnya. #masalaluubukanmasadepanmu

Harapan ada, harapan ada… Bila kau percaya – GF

DSC_9024

Source: Dimar

xox,
Ninta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s