Lepaskan Emosi dengan Menulis

“Dear diary… ”

Zaman sekarang, berapa banyak orang yang masih menuliskan kalimat ini di atas selembar kertas menggunakan pensil atau pulpen? Tentu tidak banyak lagi.

Kebanyakan saat ini, khususnya pada generasi Y atau generasi milenium (1980-2000 awal) lebih sering mengungkapkan perasaan serta emosinya melalui gadget atau media sosial. Tidak ada yang salah dengan hal ini, namun, untuk beberapa orang tertentu menulis di atas kertas dan membuat jurnal harian dalam sebuah buku akan lebih memuaskan hasratnya dalam menulis dan menumpahkan perasaan dibandingkan hanya sekadar mengumpat dengan kalimat kasar saat marah atau menyalurkan perasaannya menggunakan emotikon berbagai bentuk.

Menarik sedikit kisah pribadi saya, sejak kecil saya adalah anak yang cukup pendiam akibat tekanan. Saya tidak biasa untuk berbagi cerita dan cenderung berjalan menunduk. Saya suka menghabiskan waktu sendiri untuk merenung dan berpikir. Suatu waktu, saya menemukan pelampiasan saya. Buku catatan dan pena.

Sejak duduk di sekolah dasar, saya sudah menggunakan buku komunikasi sekolah menjadi diary saya. Saat tertekan saya menulis dengan sedikit menekan pena, saat senang saya menulis dengan ringan dan sering tersenyum, saat sedih saya menulis sambil membersihkan air mata yang menetes di atas kertas.

Faktanya, menulis apa yang ada di dalam pikiran dapat meredakan stres akibat tekanan yang datang dari dalam diri maupun dari luar.

Beberapa studi yang dilansir dari website University of Texas, Amerika Serikat, mengatakan bahwa menulis hal sehari-hari, pengalaman, dan masalah yang sedang dihadapi dalam sebuah jurnal dapat memperbaiki gangguan mood dan meningkatkan memori. Menulis dapat membuat orang menghadapi dirinya dan mengetahui apa yang ingin mereka capai. Selain itu, menulis juga dapat membantu kita lebih jujur dalam menilai diri sendiri. 

Lewat tulisan, Anda menemukan teman yang selalu menerima tanpa menghakimi. Karena tulisan adalah keluarga yang selalu menerima. – Anonim.

Jika berbicara tentang tekanan, stres, bahkan depresi, siapa saja yang dapat merasakannya? Jawabannya adalah semua orang, termasuk anak-anak (seperti pengalaman pribadi saya). Bagaimana mungkin anak dapat merasakan depresi? Salah satu faktor (eksternal) yang berperan penting bagi kejiwaan anak adalah peran orangtua.

Saya sering bersyukur dengan hobi saya yang satu ini. Jika pulang ke kampung halaman, saya paling senang membuka kembali buku-buku catatan saya yang disimpan rapi oleh mama. Saya paham, saya saat ini adalah hasil saya di masa lalu. Saya bersyukur, saya menemukan terapi yang tepat untuk depresi yang saya alami. Di puncak depresi saya, saya justru bisa menciptakan sebuah puisi berjudul “Natal Kelabu”. Saat itu adalah pertama kalinya saya menjalani Natal tanpa seorang ayah.

Pengalaman serupa pernah terjadi pada seorang ibu dua anak yang mengalami kasus KDRT. Anak pertamanya mengalami depresi sampai harus meminum obat. Tak ingin membahayakan kesehatan fisik anaknya, ibu dan anak ini kemudian menemukan hobi menulis dan berhasil menuangkan apa yang mereka rasakan sehingga mereka berhasil melalui masa sulit akibat trauma.

Mengutip pendapat Psikolog, Katharina Amelia Hirawan, ia berkata bahwa menulis merupakan terapi utama bagi penderita gangguan psikologis. Selain itu, Keren Baikie, Psikolog dari Universitas New South Wales menyatakan bahwa ketika kita menuliskan peristiwa yang penuh tekanan, emosi, dan bersifat traumatis, maka kesehatan fisik dan mental kita dapat menjadi lebih baik dibandingkan saat kita menulis topik yang netral. 


Salah satu petikan dari penulis kesukaan saya, Theoresia Rumthe, berkata,

“Menulislah dan jangan bunuh diri.” 

Pertama kali membacanya, saya langsung jatuh cinta. Ya, menulislah dan jangan bunuh diri. Sebab, dengan menulis kita dapat menciptakan manajemen emosi dan menjauhkan diri kita dari tindak negatif, seperti melukai diri sendiri atau bahkan bunuh diri.

Saat memulai sebuah tulisan harian, saya pribadi lebih menyukai kalimat, “Dear Lord…”, sebab saya suka menulis dan membayangkan bahwa saya sedang bercakap-cakap dengan Tuhan. Saat menulis, saya akan mengabaikan banyak hal, karena ini adalah waktu paling relaks dan membuat saya tenang.

Saat mendapatkan sebuah pemikiran, biasanya otak saya bekerja ekstra seakan ingin meledak jika tidak disalurkan. Saya bahkan tidak bisa tidur sebelum menuangkannya di atas kertas atau minimal mencatat poin-poin yang ingin saya utarakan sehingga membuat saya lebih tenang.

Bagaimana bisa menulis menciptakan ketenangan? Kalian bisa mencobanya saat kalian merasa sedih atau geram, ambil alat tulis di dekat kalian dan tuliskan sebuah kalimat. Tulisan tersebut tentu terlihat kacau awalnya, namun seiring kalimat demi kalinat dirangkaikan, maka emosi yang tadinya meledak perlahan kembali normal. Tarikan napas serta detak jantung juga menjadi lebih stabil.

Apakah kalian ingat saat di sekolah dasar hingga berkuliah, mau tidak mau kita dipaksa untuk mencatat? Bosan dan lelah sudah pasti dirasakan, namun segudang manfaat kita dapatkan melalui kegiatan ini.

1. Menulis dapat merangsang otak lebih peka mengenal huruf dan tulisan. Jika membaca hanya merangsang otak satu arah, menulis justru merangsang dwi fungsi otak secara maksimal sebab tidak mungkin orang menulis tanpa membacanya terlebih dulu.

2. Melemaskan otot jari. Berbeda dengan mengetik, menulis dengan pena dapat menjaga otot jemari secara keseluruhan. Tulisan Anda juga tetap terjaga kerapiannya.

3. Menulis mirip dengan melukis sehingga dapat meningkatkan kesadaran otak kanan. Ini bisa terlihat saat kalian bosan, biasanya secara tidak sadar akan menggoreskan pulpen untuk membentuk gambar atau coretan sederhana. Kegiatan ini sebenarnya terjadi bukan hanya karen bosan, malah untuk meningkatkan konsentrasi saat mendengarkan. Biasanya, saya melakukan hal ini di gereja. Jarang sekali melihat pendeta, saya lebih memusatkan konsentrasi pada telinga dan jari saya untuk menulis catatan kotbah dan berpikir jika ia menggunakan sebuah gambaran.

Dalam berelasi, sampai saat ini pun saya suka menulis surat. Dulu setiap merayakan hari jadi, saya senang menulis surat. Saya bisa dan lebih baik dalam menggambarkan apa yang saya rasakan dalam sepucuk surat. Jika tidak, saya suka meninggalkan catatan-catatan kecil untuk orang yang saya sayangi.

Pemulihan antara hubungan saya dengan ayah pun berawal dari sepucuk surat. Jadi, jika menulis dapat membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik, kenapa tidak untuk memulainya sekarang dan melakukannya secara kontinu?

Xox,
Ninta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s