Selesai

Api tidak mungkin menjilat lidahnya sendiri. Namun, apa yang terjadi padanya ketika bertemu denganmu yang kerap membara? Nampak ia keluar dari sisiku menggebu ingin mengitari tubuhmu. Memaksa raga untuk mendekatimu. Merasakan kehangatanmu.

Namun, dalam waktu yang sama memeringatiku bahkan berbalik mengancamku untuk tidak sekali-kali mendekat karena akan lenyap jiwa jika aku menyentuhmu.

Nyatanya, aku tak lagi mau jatuh cinta.

Aku berusaha menghilangkan birunya menjadi sebuah oranye yang cukup menghangatkan saja, tak perlu membakar. Tak perlu terbakar. Sudah cukup aku terbakar oleh setiap ketidakpastian. Karena kepastian hanya kata yang ada di mulutku, kini dan nanti. Karena kepastian hanyalah aku, yang selalu mengharapkan apa yang terlalu sulit untuk aku dapatkan dan kepastian hanyalah sebuah harapan. Harapan pasti selalu ada, tanpa kita tahu bagaimana wujud nyatanya. Sesuai atau tidak, semua manusia toh tetap memilikinya.

Kembali aku menjauhkan diri dari apimu. Aku tak ingin biru kembali. Kembali aku menjauhkan diri, aku tak mau disakiti.

Sebab, nyala biru dapat memberiku hidup. Namun, ia juga yang akan membakar habis aku sampai tak lagi kau dengar suara jantung berdegup. Sejentik jari memantik, maka perasaanku untuk mencinta akan kembali bergelora. Tapi, apa dayaku mendekati baramu? Kau ada bukan untuk menghidupkanku.

Ku putuskan untuk merapikan satu persatu pecahannya. Hatiku pecah karena panasnya. Aku membersihkan darah demi darah pada tiap pinggirnya. Luka demi luka. Ku pisahkan mana yang besar dan terlalu besar. Hatiku tak pernah kecil untuk seseorang. Bodoh.

Kemudian logikaku datang, kembali mempertanyakan kenapa aku masih menyimpan satu demi satu. Satu demi satu. Aku bilang, aku ingin mengumpulkannya menjadi sebuah keabadian. Ku jadikan sebuah buku dan ku tulis nomor seri di sampulnya dengan senyuman.

image

Photo by Eg65

“Bodoh! Lupakan!” Katanya.

Kemudian ia mengacak-acak semuanya.

Kembali aku merapikan satu demi satu. Membersihkan darah di setiap pinggirannya. Setiap kali ku pungut, setiap kali pula darah menempel di sana. Dan kembali aku terluka.

Kini, kuselesaikan semuanya.

Sudah ku simpan rapi di lemari. Tak lagi berserakan di dekat kaki. Jika suatu saat kau ingin mengingat kembali, coba lihat saja pecahannya berdasarkan nomor seri. Aku tak mau kembali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s