Can I Trust You?

trust

“Whether it is a friendship or relationship, all bonds are built on trust. Without it, you have nothing,” – Unknown.

Baru saja teman saya, Michael, mengunggah sebuah tulisan yang berjudul Kamu Cemburuan? Waspada Gejala Othello Syndrome. Dalam tulisan ini dikatakan bahwa hubungan percintaan yang sehat harus dibangun atas rasa saling percaya dan akan sangat aneh, apabila satu orang membangun hubungan dengan orang yang tidak bisa dipercayai.

Fakta yang lebih menarik, hari Minggu lalu saya kembali belajar tentang kepercayan. Bagaimana kita dapat membangun kepercayaan terhadap orang lain? Ada rumusnya, lho!

“Trust is character plus competence over time.” – KG.

1. Karakter
Bagaimana bisa Anda dapat membagikan cerita penting yang terjadi dalam hidup Anda pada seseorang yang baru saja dikenal. Anda bahkan tidak tahu apakah orang tersebut bisa menjaga rahasia Anda atau tidak. Bahkan, terkadang ketika kita memiliki hubungan yang baik atau hubungan keluarga atau orang tersebut mungkin sahabat yang sudah mengenal kita sejak kecil, tidak menjamin kita bisa memberikan kepercayaan seratus persen. Apa yang menjadi pertimbangan kita? Karakter. Karakter seperti apa?

“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan…” -Amsal 16:32.

Sabar merupakan salah satu karakter yang dicari orang. Ketika kita mencurahkan isi hati kita pada orang yang tidak sabar, respon yang kita terima tentu kurang mengenakkan. Siapa yang tak suka dengan orang yang sabar? Saat ini kita hidup dalam zaman yang spektakuler dan impresif sehingga kita harus karakter yang berkualitas. Bayangkan, pasti Anda akan lebih suka berteman dengan orang yang sabar. Selain itu, akan lebih enak memimpin orang yang sabar dan akan lebih nyaman dipimpin  oleh orang yang sabar.

Ketika kita bisa menunjukkan karakter kuat dalam diri kita, kita menjadi orang yang tepat janji, tidak bocor, bisa menghormati orang lain maka banyak orang yang akan menaruh kepercayaan pada kita, dengan catatan tidak dalam waktu yang instan.

Honor precedes influence

2. Kompetensi
Banyak orang mengatakan, “Ah…saya tidak sempurna.” Benar. Anda memang tidak sempurna. Tetapi, apa yang dapat kita perbuat dalam ketidaksempurnaan kita? Apakah kita tetap dapat mengasihi orang lain? Apakah kita tetap bisa memaafkan orang lain? Apakah kita bisa tetap menepati janji kita pada orang lain? Kita harus bisa. Apakah kita cakap atau tidak, apakah kita dapat melakukan tanpa bertanya, apakah kita mau diajar?Beberapa pelayanan melakukan tahapan seleksi. Ini bukan masalah punya hati untuk melayani atau tidak, tetapi apakah kita memiliki kompetensi di bidang tersebut? In my humble opinion, ini juga dilakukan untuk menghindari terjadinya Anda menjadi “batu sandungan” untuk orang lain. Misalnya, tentu akan butuh pertimbangan ekstra ketika bagian penyambutan menerima orang yang tidak bisa senyum. Bisa-bisa, orang yang disambut justru feeling bad  ketika bertemu dengan si penyambut. Contoh lainnya, mungkin Anda bisa coba membayangkan dan mengaitkannya dengan lingkungan pekerjaan atau lingkungan pertemanan Anda.

Jadi, sama halnya dengan kepercayaan, tidak semua orang bisa mendapatkan kepercayaan jika memang dia tidak kompeten.

3. Konsistensi (Over Time)
Kepercayaan membutuhkan waktu. Inilah sebabnya dalam dunia pekerjaan maupun pelayanan kita mengenal kata probation atau percobaan. Dengan waktu yang diberikan, kita dapat melihat apakah orang yang akan kita berikan kepercayaan dapat memanfaatkannya dengan baik, apakah ia konsisten dengan apa yang ia lakukan, apakah ia dapat dipercaya.

Beberapa ayat ini dapat membantu kita untuk membangun kepercayaan di dalam hidup:
– Yakobus 1:4 Saat kita memang belum matang, jangan meminta-minta untuk diberikan lebih cepat. Steadfastness!

– 1 Korintus 15:58 Immovable = consistent. Apapun yang kita lakukan untuk Tuhan secara konsisten, tentu tidak akan sia-sia.

-Lukas 16:10 Orang yang dapat dipercayai dalam hal kecil maka bisa dipercaya juga dalam hal besar.

– Matius 25:21 Orang yang bisa dipercaya tidak akan peduli apakah dia diberikan kepercayaan untuk hal besar atau hal kecil. Karena ia tahu, ia mampu dan sudah diberikan kepercayaan.

– 1 Korintus 4:1-2

Pertanyaannya, banyak orang yang bilang bahwa dirinya baik hati. Tetapi, siapakah yang dapat dipercaya? Amsal 20:6.

“Konsistenlah dalam karakter dan kompetensi kita, suatu hari hal ini akan dipakai untuk memengaruhi orang lain.” – KG

Setelah membahas jauh tentang earn trust, saya berikan plot twist untuk Anda. Bandingkan dengan pembahasan di atas 🙂

Earn dalam bahasa inggris merujuk pada bekerja dan mendapat upah. We must work on our character and competence over time to earn trust.

Prinsip lainnya adalah gift.

Saat kita diberikan kado atau hadiah, kita tidak perlu membayar lagi apa yang kita terima. Kita memberikan hadiah pada orang lain karena kita mau, mampu mungkin bisa jadi karena kita suka pada orang yang kia berikan hadiah (wink ;D). Kita memberikannya secara cuma-cuma, bukan karena orang tersebut menginginkan kado dari kita. Dan ini adalah hak sang pemberi.

And, what is gift? Gift is a grace. 

Terlepas dari karakter kita, kemampuan kita dan konsistensi kita selama ini membangun hubungan denganNya, Yesus sendiri memberikan kepercayaan dalam hidup kita. He gives us!

Jadi, apa yang harus kita perbuat?
Filipi 1:27, Hendaklah hidup kita berpadanan dengan kabar baik (injil) ini. Saat kita sudah menerima kepercayaan, show the world that we deserve it.

Selalu ada kesempatan, selalu ada pengampunan yang sesuai dengan level kepercayaan yang sudah dipercayakan pada hidup kita.

Words by Kenny Goh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s