Saat Uang Koin Bercerita

image

Salah satu pekerjaan yang cukup berat untuk saya lakukan adalah berbenah kamar. Jujur saja. Namun, ketika mengerjakannya ada saja kebaikan Tuhan yang diingatkan di dalam kepala yang membawa saya pada setiap kenangan, khususnya pada masa kecil. Kenangan perjalanan iman saya bersama Dia.

Setelah mengganti seprei, membereskan tas kerja, lemari, cucian dan menyapu, saya membereskan beberapa printilan yang ada di kamar, salah satunya pot uang koin ini. Ini adalah uang koin yang saya kumpulkan setelah sebelumnya salah satu tabung koin saya penuh dan belum punya tabung koin yang baru.

image

Konsep menyimpan uang koin ini saya pelajari dari mama. Kata mama, uang-uang ini juga bernilai. Kalau ada apa-apa pasti bermanfaat. “Kumpulkan!” Itu katanya saat kami tak punya uang dulu.

Masih jelas teringat bagaimana mama menyimpan uang receh di bawah baju. Dan ketika saya dan adik-adik ingin minta jajan tapi nggak diberi, kami memungut uang itu diam-diam dan membeli jajanan kesukaan kami. Hahaha…

Uang receh ini juga punya cerita lain.

Suatu hari, kami benar-benar tidak punya persediaan makanan dan uang. Melihat ke bawah tumpukan baju, hanya ada beberapa uang lima puluh rupiah yang untuk membeli mie instan atau telur pun tak cukup. Saya ingat, saya berjalan ke luar rumah dan sambil berjalan dalam diam saya berdoa dalam hati. “Tuhan, uangnya tinggal segitu. Tolong kasi makan kami.” Mujizat terjadi. Entah dari mana mama dapat indomie, nasi dan telur. Kami senang.

Cerita lain tentang koin ini adalah saat saya kuliah. Bertahan hidup dengan uang jajan yang tidak pasti setiap bulan memmbuat saya cukup sering membongkar tabungan koin saya. Tiga ribu, lima ribu, lima belas ribu. Semua saya bawa dalam kantung. Bersyukur para penjual makanan di sekitar kampus mengerti kondisi anak-anak yang mereka layani. “Anak kosan”, label ini menyelamatkan kesehatan saya yang bermodal uang koin.

Satu yang paling menyentak saya ketika membereskan koin ini ke dalam pot dan kantung kecil yang selalu saya bawa adalah suatu masa entah masih kecil, entahremaja, di rumah, sebelum pergi beribadah raya di hari Minggu.

Saya ingat percakapan antara saya dengan mama tentang persembahan. Ninta kecil ingin beribadah dan minta uang persembahan. Tiba-tiba mama memberikan uang koin. Shock!

“Maaa… kok persembahannya uang receh?”

“Nggak apa-apa.”

“Tap, malu… nanti bunyi.”

“Hahahha… nanti pas masukin uangnya, kakak taruh paling bawah supaya jangan bunyi.”

Begitu kira-kira percakapannya.

Saya yang tidak mengerti apa-apa saat itu hanya bisa ngedumel dalam hati. Karena saya sering lihat di saat teman-teman memberi persembahan hingga nominal lima ribu rupiah, saya hanya bisa memberikan lima ratus paling banyak dua ribu. Mama punya tiga anak dan untuk dirinya sendiri, berarti ada empat orang yang memberikan persembahan. Jika masing-masing memberi lima ribu rupiah dan ada dua kantung persembahan maka itu jumlah yang cukup banyak dan hampir mungkin jumlah tersebut sedang tidak ada di dompet mama, saat itu.

Tapi, dengan hal tersebut saya tetap pergi gereja dengan hati berbunga-bunga. Yaaa… berbunga-bunga… sampai tiba saatnya memberi persembahan.

Kantung persembahan ada di depan saya. *deg deg*

Saya mengambil uang koin saya. *deg deg*

Menggenggamnya erat. *deg deg*

Meletakkannya ke dasar kain kantung. *deg deg*

Dan memperbesar suara nyanyian saya supaya orang di sebelah tidak mendengar dentingnya. *deg deg*

Ternyata, saya menyenggol kantungnya dan terjadi bunyi…

Crinnng criingg

That sound!

“Hahaha… ” kemudian pura-pura tak melihat teman di sebelah saya.

Entah harus sedih atau malu. Yang jelas setiap ingin memberi persembahan saya berusaha kejadian tersebut tidak terulang kembali. Entahlah. Mungkin mama juga melakukan hal yang sama saat itu. Membenamkan persembahannya sedalam-dalamnya.

Hahaha… ya, itu kisahnya.
Lalu, mengapa kisah tersebut menyentak saya? Karena saya sempet ngambek gara-gara hal ini.

Roma 12:1 (TB)  Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Mama pernah menceritakan tentang hal ini. Menenangkanku dengan kata-kata seperti ini.

“Ingat janda miskin di Alkitab? Tuhan nggak lihat jumlahnya, kak. Tapi, Tuhan lihat gimana hati kita saat memberi. Ini yang kita punya… nggak usah malu. Kakak jadi anak baik, Tuhan sudah senang.”

Tentang hal persembahan ini juga menjadi bahan presentasi saya saat menerima baptis dewasa.

Kini, saat berbenah diingatkan kembali bahwa sesungguhnya persembahan bukanlah tentang nominal, bukanlah bendanya karena ini adalah barang mati, bukanlah penyerahan seluruh harta apalagi deposito dan reksadana. Namun terlebih bagaimana hati di dalamnya. Kerelaan yang menyertainya yang dapat memberkati orang-orang yang menerimanya nanti. Dan tentang hidup itu sendiri.

Persembahan bicara tentang hidup yang menjadi berkat. Bicara tentang ibadah, hubungan kita dengan Sang Pencipta. Mengenai ucapan syukur atas apa yang sudah kita terima dari satu-satunya sumber pemberi kehidupan.

Mengutip catatan firman milik saya, dikatakan demikian:

Kalau kita mengerti anugerah Tuhan dalam hidup kita, maka kita akan bersyukur pada Tuhan. Sebab, persembahan yang mati tidak bisa mengungkapkan rasa syukurnya pada Tuhan,
tetapi (kita) persembahan yang hidup bisa.

Contohnya ketika kita diberi, respon kita pasti langsung bilang terima kasih. Dan smakin banyak diberi, semakin kita bisa brsyukur. Ini akan membuat kita semakin bersyukur lagi dan lagi. Sehingga mengucapkan rasa syukur itu menjadi suatu hal yang natural karena kita tahu di luar Tuhan kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Semakin besar jumlah usia, semakin didewasakan mengenai ucapan syukur yang satu ini. Bagaimana saya memanfaatkan hidup saya sebagai persembahan yang hidup yang terus bersyukur atas kehidupan kekal yang saya miliki. Bagaimana “gemerincing” kehidupan si uang koin ini terdengar dan menyenangkan hati sang Pemilik. ☺

Di gereja tempat saya bertumbuh saat ini, tak ada lagi kantung persembahan. Tak ada lagi bunyi gemerincing. Tak ada rasa terintimidasi ketika tidak memasukkan tangan ke dalam kantung. Yang ada hanya sebuah kotak besar di pinggir ruang gereja beserta amplop.

Tak ada peringatan “Letakkan persembahan di sini.” Yang ada hanya kesadaran masing-masing pribadi untuk menghampiri kotak-kotak tersebut. Ini benar-benar menuntut kedewasaan setiap orang tentang rasa syukurnya.

Karena tak hanya jiwa yang dituntut menjadi semakin dewasa, kerohanian pun demikian. Ceritaku tentang uang koin dan suaranya sampai di sini dulu, namun penyertaan Dia, Sang Maha, akan terus ada untuk kita. 🙂

Xox,
Ninta.

Advertisements

One thought on “Saat Uang Koin Bercerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s