Ini Bukan Tentang Aku. Ini Kebahagiaanku.

Aku dan kesendirian adalah cerita lampau di masa kelam.
Kemudian aku mulai bertemu dia yang menemani aku tanpa lelah. Aku jatuh cinta. Aku bisa bercerita.
Setiap napasnya membantu aku menunjukkan pada dunia apa yang aku rasakan.
Sedih, marah, kesal, tidak percaya, ragu, cinta dan perhatian tak bisa ku sembunyikan darinya.
Setiap belaiannya membuat bebanku terasa lebih ringan.
Jika aku dipaksa memutuskan untuk setia… maka aku akan setia pada kata. Ya, aku jatuh cinta pada kata sejak aku dibungkam untuk bicara.

Hanya kata, satu-satunya yang terus melingkupiku tanpa peduli rasa.

Banyak manusia di sekelilingku terlalu banyak menawarkan tawa pada apa yang terjadi dalam hidupku. Lalu aku memutuskan mundur dari masa ke masa.

Dulu… bagi sebagian orang kehidupanku adalah cela.

Tidak sekarang. Semua orang berlomba memahami padahal mereka tak pernah benar-benar merasakan. Topeng. Semuanya.

Bersyukur aku terus jatuh cinta pada kata-kata. Aku tak menghiraukan setiap tawaran perlindungan palsu yang terus menghujam atau kepura-puraan yang akhirnya berlalu menemui ajalnya. Ia terkuak.

Dulu, kehidupanku bagaikan kusta. Tak ada satu pun yang rela keturunannya berada di dekatku. Aku adalah dia yang menjijikkan.

“Jangan dekat-dekat. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya!!! Jangan bermain dengannya!!! Rumahnya bobrok seperti kapal usang yang dirambati tanaman liar. Banyak ular di sana! Jangan jatuh cinta dengan anaknya!!! Masih banyak wanita lain yang lebih indah. Bahkan dapat membawa keturunan yang baik untuk nama baik keluarga kita.”

Aku dan kesendirian adalah cerita lama. Aku melangkah dalam gelap, tapi aku tidak pernah takut ketika tak satu pun dapat ku lihat. Aku hanya perlu menunggu dan berusaha mencari cahaya untuk melenyapkan apa yang mereka katakan sebagai kekelaman. Kata menjelma sebagai puisi.

Kata orang aku munafik. Kata orang aku sakit. Sebagian orang mengatakan aku perlu cinta.

Aku kini belajar lebih baik untuk menikmati kesendirian sebagai kesiapan. Karena toh pada akhirnya semua orang akan berpisah dan menjadi tunggal. Tak ada yang ingin ditinggalkan, termasuk aku, anak kecil yang terbiasa diam dengan tulisan.

Maka janganlah kebisuan menjadi kehancuran. Biarkan hening pecah karena kebahagiaan dan aku menari dalam kata sehingga tidak ada lagi kesendirian dalam tulisan.

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s