Untuk Venus

Ini cerita Kandita.

Usianya menginjak 28 tahun, beberapa jam yang lalu. Dengan tinggi 180 cm dengan berat badan 67 kg sebuah tas ransel berwarna oranye menggantung di pundaknya. Matanya bulat dan sembab. Ia memiliki rambut pendek, tergerai lurus dan bervolume tepat di bawah telinga. Membuat wajah nya yang berbentuk hati semakin tampak.

“Americano.”

One Americano, please!

Serentak semua orang di balik etalase menari, seakan mengikuti nada yang dibawakan oleh aroma kopi yang menguak di tiap helanya. Menghipnotis tubuh dan pikiran mereka, para barista pun mulai bergerak berirama. Kandita mengabaikan pertunjukan ini dan memusatkan perhatiannya pada tangannya yang sedari tadi menggeser-geser layar ponsel pintar pribadinya. Sejak semalam, nama yang ia nantikan tak kunjung muncul.

Sementara itu, Kandita mulai terganggu dengan bias cahaya yang datang ke matanya hingga membentuk siluet samar atas apa yang ada di depannya. Sama samarnya dengan harapan yang ia miliki terhadap Amadeo. Mata bulatnya lupa ia tutupi dengan Rayban Aviator pemberian Amadeo. Ya, Amadeo, nama lelaki yang bertanggung jawab untuk apa yang terjadi pada mata gadis manis ini. Dia adalah laki-laki dalam hidup Kandita yang memutuskan untuk meneruskan karier bermusiknya ke Inggris dan membiarkan violinis berwajah hati ini menunggu pagi, siang, malam tanpa kabar. Setiap harinya. Kadang, satu dua balasan, mungkin hanya sekadar. Sekali waktu mereka asyik berdiskusi, mereka asyik tertawa lewat media. Namun, dalam waktu 24 jam semua bisa jadi berbeda. Dua musim berlalu. Keduanya tak menemukan jalan untuk maju.

Pikirnya, “Mungkin dia sibuk.” “Mungkin ia sedang bersama teman-temannya.” “Mungkin ia tak melihat pesanku.” “Mungkin waktunya yang tidak tepat.” “Mungkin…”

Mungkin kamu memang bukan prioritasnya. Tiba-tiba pikirannya mulai berbicara. Kandita tak tahu pasti apakah ini hatinya atau pikirannya. Yang jelas mereka mulai beradu pendapat.

Mungkin kamu bukan orangnya.

Tidak, mungkin ia hanya sedang tak punya waktu. Mungkin waktu yang salah. Mungkin waktu yang tidak tepat untuk membuat kata jodoh menjadi penengah di antara nama mereka.

“Mungkin, ya… mungkin aku yang bodoh,” bisiknya sambil mengeluarkan selembar uang dari dompetnya, menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Kandita berpindah tempat menunggu kepekatan yang ia percaya dapat menyembuhkannya, sesaat. Pekat yang mungkin tidak lebih pekat dari harapannya akan cinta.

Kandita mulai membulatkan perasaannya untuk benar-benar menerima kenyataan bahwa ia memang tidak punya kesempatan untuk lebih dekat dengan Amadeo. “Bahkan, semesta enggan berkompromi denganku.” Ucapnya sambil memandang pengunjung kedai kopi sore ini yang kebanyakan sibuk di depan laptop. Suasana yang benar-benar tidak ia harapkan saat ini. Mereka, entah benar-benar bekerja atau hanya menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan untuk sementara mengabaikan kehidupan.

“Kandita, Americano.”

Dengan tangan sedikit bergetar, ia meraih cup bertuliskan Kaditya. Ejaan nama yang salah secara sengaja untuk membuat konsumennya mengingat momen itu dan “memaksa” orang yang empunya nama menceritakan pada orang-orang bahwa ejaan bahkan nama yang salah itu terjadi di kedai kopi ini.

Kopi dan ponselnya ia letakkan berdampingan. Nama yang ia tunggu tak juga muncul. Kandita mulai mempertanyakan harapan. Tatapannya perlahan mulai kosong memandang kedua benda di depannya. Ia menunduk, air mata Kandita perlahan mengalir membelai pipinya yang halus. Ia sembunyikan isaknya. Perihnya, hanya dirinya yang dapat merasakan.

Kamu dan kopi di depanku, pada akhirnya sama-sama meninggalkan getir. Seandainya, meraihmu semudah jemariku meraih dan merengkuh gelas ini.

Tapi, jika itu yang terjadi… ku rasa benar aku yang bodoh. Mengapa tak ku tinggalkan saja?

Kandita berdiri dan pergi. Ia mencoba tersenyum… tanpa gelas di tangannya.

**********

Ini cerita Pradipta.

Pecinta alam berusia 30 tahun yang masih saja tak jelas kapan akan menerima kata “I love you” dari Dimas, rekan sekantornya. Pekerjaan memaksa mereka bersama hampir setiap hari membuat keduanya merasa nyaman satu dengan yang lain. Namun, apakah cinta muncul setelah rasa nyaman? Tak bisa kah cinta datang ketika ada rasa ingin tahu yang terus berlompatan?

Pradipta yang suka jika nama lengkapnya disebutkan sudah duduk sejak 30 menit yang lalu di kedai kopi ternama di bilangan Sarinah ini. Ia sedang asyik menjilat krim yang ada di atas gelasnya. Tanpa ia sadar, seorang wanita dengan ransel oranye sedari tadi melempar tatap padanya.

Yah… untuk Pradipta saat menikmati minuman dengan krim, pantang untuk mengaduk apalagi menghabiskannya bersama-sama.

“Krim adalah pemanis yang tidak memiliki rasa,” demikian pemahamannya, “Aturannya, krim harus dihabiskan terlebih dahulu kemudian nikmati minuman manisnya.”

Pradipta bukan penikmat kopi, tapi ia tak bisa menolak jika ditawarkan kopi dari kedai yang satu ini. Pradipta adalah penikmat pantai sampai saat beberapa hari yang lalu.

Ia menutup matanya saat percakapannya bersama Dimas dua hari yang lalu mengalami automatically play layaknya DVD player yang memutar sebuah lempengan untuk menghasilkan gambar.

“Menikmati pantai itu, salah satu pekerjaan yang paling nikmat di dunia, Ta. Kalau ada yang membayarku untuk menikmatinya seumur hidup, aku mau,” ujar Dimas seraya merapikan rambutnya ke belakang. Perlahan, Pradipta menangkap mata Dimas tajam menatap wajahnya yang sedikit berbalur pasir. Dengan telunjuknya, Dimas menjatuhkan butir demi butirnya dan membuat jantung Pradipta dipastikan dalam keadaan abnormal.

“Apaan… cara orang zaman sekarang menikmati hari itu di kafe, pakai wifi dan update status. Hahaha. Di pantai kayak gini, isinya sampah semua.”

Pelan tapi pasti, Pradipta menarik napas panjang dan mengeluarkannya dalam sebuah kalimat sambil mencium aroma laut yang ingin dia ingat karena ia pikir ini akan menjadi momen puncak antara dia dan Dimas. Pria berkulit sawo matang yang beberapa bulan ini semakin dekat dengannya.

Rasanya tak ada hari yang ia lewatkan tanpa ajakan makan dari Dimas. Tak ada film terbaru yang tak pernah Pradipta tonton tanpanya. Tak ada penjaja nasi goreng pinggiran yang tak pernah tidak mereka komentari rasanya. Keduanya adalah penggemar nasi goreng. Bedanya, Dimas suka dengan telur ceplok sedangkan Pradipta dadar tanpa bawang.

“Semua kenangan yang dibuang dari dalam pikiran dan hati.” Celetuk Dimas.

“Haa?”

“Iya. Sampah. Pantai adalah tempat di mana banyak orang buang sampah sembarangan. Kayak kita sekarang, lagi duduk di atas sampah orang lain. Kenangan-kenangan manis dan pahit yang entah sengaja diciptakan di atas pasir ini. Lalu ditinggalkan atau dibuang. Sampah…”

Pradipta diam mencerna.

“Hmmmh…. kadang-kadang aku nggak ngerti apa yang kamu pikirin, Mas.”

“Nggak apa-apa. Kamu nggak perlu ngerti semua yang ada di kepalaku. Yang penting kamu ada di sini sama aku. Gali sampah, yuk?” Dimas melempar senyum.

“Idih. Ogah! Ntar yang ada malah nemuin bikini orang yang ketinggalan. Hahaha.”

Dan kenyataannya saat ini, Pradipta sedang menutup senyumnya dengan jemari lentiknya. Matanya awas memandang sekitar, berjaga-jaga tak ada yang menyadari bahwa ia sedang jatuh cinta.

Where are you now when i need you… kalimat ini terus berulang dari ponsel Pradipta.

“Lola? Iya kenapa, La?”

“Ta, kamu di mana?”

“Di coffee shop biasa. Kenapa?”

“Ngapain?”

“Dimas ngajak ketemuan.” Kata Pradipta sambil memainkan gelas yang mulai berembun di depan matanya. “Kali ini mungkin dia baru benar-benar akan… ”

“Stop sama khayalan-khayalan lo, Ta! Sampai kapan juga Dimas nggak akan bilang kalimat yang lo harapin.”

Seketika Pradipta merasakan tenggorokannya mengering. Jarinya berhenti bermain.

Tiga puluh menit kemudian, Lola datang memberikan penjelasan. Penjelasan yang membuatnya semakin yakin bahwa krim di atas sebuah minuman hanya berfungsi sebagai pemanis.

“Kemarin gue liat Dimas jalan sama Mira. Karena gue nggak pernah tau apa hubungan kalian sebenarnya, akhirnya memutuskan untuk memanggil Dimas sekalian menagih laporan perjalanan. Gue cuma pengen konfirmasi tentang hubungan kalian.” Lola menjelaskan dengan posisi duduk tegak, sama seperti posisi duduknya setiap menghadapi permasalahan serius di meeting kantor.

“Terus? Dua hari yang lalu gue sama Dimas baru aja nikmatin pantai berdua. Hihihi… ” Jelas Pradipta masih sambil tersenyum. Namun ada tanya besar dalam hatinya.

“Hmmm… iya tau. Gue nekat nanyain Dimas tentang Mira dan tentang elo. Dimas bilang… dia nggak pernah se-care yang elo ceritain ke gue, dia nggak pernah nonton berdua sama elo. Dia bilang, kemarin kalian ke pantai barengan sama tim kreatif. Bukan kalian berdua aja. Intinya Ta, dia nggak ngaku kalau dia…”

Apa ini? Aku… aku…

Pradipta mengepalkan tangannya menahan tangis dan emosi yang perlahan membuat tubuhnya terasa panas dan terguncang. Matanya kini mulai berair dan… jemari yang tadinya ia gunakan untuk menutupi senyumnya kini ia gunakan untuk melindungi seluruh wajahnya dari sorotan orang di sekitarnya. Langit mendadak gelap. Untuk beberapa saat Pradipta menunduk.

“Ta… gue tau ini sakit. Maaf kalau gue ngehancurin semua kebahagiaan lo. Tapi, Ta… selagi Dimas, Kevin, James atau siapa pun pria yang ada di samping elo saat elo sakit dan bahagia nggak ngucapin sendiri dari mulutnya keputusan untuk menyerahkan hatinya buat elo, elo nggak boleh membawa hati lo terbang tinggi-tinggi.”

Ya… pada akhirnya, mereka yang belum sempat aku miliki hanya berperan sebagaimana krim di atas minuman. Pemanis kehidupan yang tak memberikan manis barang setitik.

Pradipta diam.

“Hai, Dimas…” Lola membantu Pradipta memberi sapa yang jadi pertanda bahwa semua sedang tidak baik-baik saja.

Dimas menjawab tanpa senyuman.

**********

Tasya, ini tentang dia.

Perawakan Tasya mungil dengan lesung pipi di sebelah kiri wajahnya. Rambut bergelombang kecoklatan dengan kawat berwarna pink menempel pada jajaran gigi putihnya. Saat ini, sudah beberapa saat dari masa kritis yang dialaminya karena menunggu Kris.

“Sya, berapa lama?” Tanya Gina lembut sambil membelai rambut Tasya. Menyingkirkannya dari alat bantu napas yang sekarang berada tepat di hidung mungil Tasya.

“3 jam… 3 jam aku nungguin keputusan dia untuk datang atau tidak menjemput aku.”

What? 3 jam? Yang seperti itu yang kamu harapkan untuk masa depanmu?”

“Tapi… dia sibuk meeting. Habis meeting dia ada… ”

“Keputusan iya apa nggak itu nggak butuh waktu lama. Ngetik iya atau nggak, jadi apa nggak itu nggak butuh waktu 3 jam, Sya!”

“Tapi, aku nggak apa-apa nunggu.” Balas Tasya yang memang keras kepala dan entah darimana memiliki kekuatan untuk menunggu orang bahkan hingga dua tahun.

Saat itu, Charles, pacar Tasya sebelum Kris, memiliki jarak PDKT terlama. Gina yang selalu menjadi tempat Tasya mengadu hanya bisa memberikan nasihat untuk meninggalkan atau menunggu. Dua tahun terlalu lama untuk Gina namun tidak untuk Tasya. Tasya yang menurut Gina jelas tidak jelek dan memiliki banyak sahabat laki-laki, memiliki kekuatan aneh yang terpendam. Menunggu.

“Iya, sampai-sampai kamu harus masuk rumah sakit gara-gara kedinginan kena hujan dan angin. UGD, Sya. It’s not a joke! Kamu juga bego, bukannya nunggu di dalam kafe.”

“Aku… lagi nggak punya uang yang cukup untuk sekadar dihambur demi menyesap segelas kopi.”

“Bohong. Bilang aja kamu takut kalau kamu masuk ke dalam coffee shop itu kamu akan ketemu Bara yang selalu menghubungi kamu itu kan? Kenapa nggak telepon gue? Aaah! Tasya, yang dibayar untuk menunggu dan bertanggung jawab atas waktu orang lain itu cuma abang jaket ijo. Kalau lo emang mau jadi penunggu setia, go get the job and you will paid, you’ll get the star not scar, honey!”

Suara Ji, panggilan Tasya untuk Gina, melengking dan melemah seketika di telinga Tasya. Ji pun berhenti dan menyilangkan tangannya di depan dada setelah beberapa suster meletakkan jarinya di depan bibir dan menatap tajam ke arahnya.

Karena terburu-buru ingin bertemu Kris, Tasya lupa membawa dompet. Untuk Tasya, Kris selalu nomor satu. Ia selalu diam dan menunggu. Siang itu, satu-satunya yang Tasya miliki adalah selembar uang yang ia temukan di kantong celananya dan beruntungnya cukup untuk membayar ongkos bajaj yang ia tumpangi. Sambil menunggu, Tasya sengaja membunuh waktu dengan memperhatikan beberapa pengunjung coffee shop siang itu. Yang paling menarik perhatiannya adalah gadis manis dengan senyum menawan yang asyik menjilat krim di atas minumannya. Aksinya, sedikit menghibur Tasya sebelum ia kembali menunduk dan menghitung detik penantiannya akan kepastian Kris untuk menepati janjinya.

Tasya tak pernah mengira hari yang tadinya cerah mendadak gelap dan hanya dalam waktu sesaat angin dan hujan menyelimuti tubuhnya. Tak bisa berbuat apa-apa dan keinginannya kuat untuk menunggu Kris membuat Tasya tak bergerak sedikit pun dari sana. Hasilnya, Kris tak kunjung tiba dan menunggu membuat Tasya harus kembali bernapas menggunakan alat bantu.

Aku tau… semua orang pasti rela menunggu demi sebuah tujuan. Namun, jika tujuan tak kunjung memiliki kepastian, apalagi yang dapat dijadikan nilai?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s