Beat Yourself! This is More Important Than Beating People

There is no challenge more challenging than the challenge to improve yourself!

 

There is no challenge more challenging than the challenge to improve yourself! Hal ini lah yang saya alami pada 22 November 2015 di Grand Indonesia. I beat my self!

Beberapa minggu sebelumnya, saya jalan-jalan di salah satu media sosial yang saya miliki dan muncul lah “Indonesia Menari 2015”. Penasaran sama judulnya, akhirnya dengan segera membuka tautan tersebut dan melihat sesuatu yang luar biasa. Sejak tahun 2012, Galeri Indonesia Kaya yang berada di GI, kerap mengadakan aksi menari massal yang terbuka untuk umum dan bebas dari biaya pendaftaran alias gratis. Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan perhatian masyarakat Indonesia pada budaya yang kita miliki.

Memiliki basic penari dan suka menari, saya pun tergerak mengikuti acara ini, tapi… Narinya sama siapa? Ada teman yang mau ikut juga nggak, ya? Narinya susah nggak, ya? Nanti diliatin banyak orang? Masa sendirian?

Pertanyaan-pertanyaan bodoh ini mulai muncul.

Actually, sejak kecil saya nggak pernah yang namanya ikut-ikut acara beginian. Masalahnya bukan karena tinggal di kota kecil, tapi karena mental yang terbangun adalah mental yang cupu kalau kata anak-anak sekarang. Nggak kompetitif, mental yang kurang mau mencoba dan yang paling sakti adalah mental peramal. Kenapa? Rasanya sudah bisa membayangkan pasti nanti di sana akan seperti ini, nanti paling juga salah, nanti juga nggak ada yang liat, papa mama akan biasa saja, tidak ada yang akan bangga sama aku dengan melakukan hal-hal seperti itu dan beragam alasan yang akhirnya kalau dituruti hanya membawa penyesalan. Penyesalan bodoh seperti, “Coba waktu itu ikut ya…”.

Semakin dilihat-lihat pendaftarannya, semakin tergugah untuk ikut dan mulai menumbuhkan perasaan “bodo amat” di dalam diri demi mencapai kebahagiaan. Toh, belum dicoba ini. Tulis nama lengkap, email, nomor telepon and done. Selesai daftar langsung sibuk nyebarin link Indonesia Menari 2015, niatnya mencari teman yang pada akhirnya nihil.

Ternyata, ada baiknya juga nonton film Korea, seperti salah satunya yang berjudul 20 Again. Lewat film ini saya belajar, jangan tunggu sakit kritis dulu baru mau merealisasikan wish list yang ada. Seperti wish tokoh utamanya untuk menari lagi di panggung besar, saya pun memiliki keinginan seperti itu. Menari dan berbahagia bersama orang-orang yang juga suka menari. It’s not about competition, it’s about croud and loud! Jadi, nggak perlu mikir lagi deh. If you love it, just do it!

Tepat 20 November 2015 saya datang ke technical meeting-nya. Praise The Lord, Dia selalu berikan saya teman baru. Di TM, saya bertemu dengan Nadia dan Shinta. Kami sama-sama penari individu dan penari yang sama sekali tidak berlatih di sanggar tari apa pun, kami hanya suka menari. Oia, Indonesia Menari terbagi menjadi dua bagian yaitu menari berkelompok dan menari individu. Penari berkelompok harus memiliki anggota minimal 10 orang. Alhasil, terdapat 1200 peserta baik kelompok dan individu yang bergabung untuk menari bersama di ajang ini.

Mengenai lomba, jujur baru sadar bahwa ini adalah perlombaan menjelang event berjalan. Tapi, karena dari awal niatnya untuk menari bersama sambil membantu melestarikan budaya Indonesia, tidak menjadi prioritas untuk saya menjadi juara.

22 November 2015, acara dimulai. Dari 300an peserta individu terpilih lah 16 besar yang akan kembali menari di final. 311 adalah nomor pendaftaran saya dan nomor tersebut juga disebutkan oleh pembawa acara untuk naik ke panggung final Indonesia Menari 2015. Speechless! Ya, saya dan 15 teman lainnya berkumpul menunggu babak final. Ternyata, Shinta juga masuk ke babak final. Di sini kami berkenalan dengan finalis lainnya seperti Novita yang sudah juara tahun lalu, Ifan yang juga juara tahun lalu, Tazul, Dinda si guru tari dan beberapa teman lainnya yang akhirnya membuat saya merasakan “Yeah, this is happiness!”. Bisa menari bersama ribuan orang sambil berteriak dan tertawa bersama.

Pada akhirnya, saya tidak terpilih dalam 5 besar peserta yang menang tapi saya bangga dan puas karena saya berhasil menang melawan diri saya sendiri. Dan ketika hal ini saya ceritakan pada mama, mama bangga dan sangat mendukung dengan apa yang berani saya lakukan. She laughs and proud of me, something that (maybe) i never get when i was a kid. So, for my babies in the future, let’s make mental exercise starts now. 

It is not about the final nor the numbers, it is about the process and doing something we love.

Berikut ini beberapa media yang meliput keseruan acara kemarin:

 

Beberapa foto yang diambil Andy dan our wefie:

Part of jali-jali from Jakarta

IMG-20151122-WA0007

Part of Poco-poco from North Sulawesi

IMG-20151122-WA0003

My supporter, YAY! Thank you Tia, Andy and Tanti

IMG-20151122-WA0006

Part of Janger from Bali

IMG-20151122-WA0002

From left Dinda, Me, Shinta and Novita

20151122_141601

Our wefie with Ifan, Ifan’s Friend and Tazul

20151122_141533

Yay! We made it and this is FUN!

Watch my dance in IG: @nintafryani 🙂

Advertisements

One thought on “Beat Yourself! This is More Important Than Beating People

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s