Tapi, Aku Takut…

“Hah, sendiri? Orangnya yang mana? Yakin? Nggak ada yang nemenin? Laki-laki ya? Aku harus bilang apa? Nanti di sana gimana? Yang lain aja deh. Kalau salah? Kalau ini kalau itu… ”

Entah karena faktor latar belakang yang tidak baik kalau dikambing hitamkan atau faktor lain yang menjadi pendukung, saya memiliki beberapa problem. Sebut saja, ketakutan. Dulu, ketakutan yang paling besar adalah:

1. Takut sendirian.
2. Takut laki-laki.
3. Takut bayar.

Karena takut sendirian, saya biasanya berusaha menenangkan rasa cemas saya dengan tarik-buang napas, berdoa (lebih tepatnya ngajak ngobrol Tuhan) dan ditutup dengan mencari teman-teman yang saya tahu dukungannya akan sangat memberikan ketenangan untuk saya. Because, i know they trust me. Yah, walaupun nggak 100% jadi tenang, tapi minimal bisa menghindari tindakan ceroboh seperti jatuh, nyangkut, numpahin minuman, dan kejadian-kejadian clumsy lainnya.

Takut sama laki-laki. What? Ninta takut sama laki-laki??? Emang bisa? Jawabannya, bisa. Mungkin gerogi kali ya… Dan jujur hal ini seringkali mengganggu performa kerja di awal karena saya harus berhubungan dengan makhluk dari Mars ini. Ingat benar, dulu untuk berurusan mengenai teknis, kalau harus ngobrol atau minta tolong sama “Mas-mas”, saya terlebih dulu akan berusaha sendiri sampai benar-benar nggak bisa, nyerah, give up, baru deh menghubungi laki-laki. Saya sulit berkomunikasi dengan guru laki-laki, partner kerja laki-laki, atau mentor laki-laki, penjaga makanan (waiter, cashier) laki-laki.  Sebisa mungkin saya hindari atau kurangi frekuensinya. Entahlah. Dulu, waktu ambil data di rumah sakit (skripsi) saya pernah beberapa kali tidak makan siang karena saat jam makan siang semua laki-laki makan di kantin dan penjual makanan di kantin itu, laki-laki. Akhirnya, saya memutuskan untuk membawa bekal di hari lain.

Takut bayar. Lagi-lagi membawa masa lalu, ya, masa sekarang juga masih terhubung, saya takut bayar. Saya sangat mencintai seni. Misalkan ada pameran atau pertunjukan atau masuk ke sebuah tempat pameran saya tidak akan berani untuk masuk. Padahal, kuncinya adalah bertanya apakah masuk ke sana pakai biaya atau tidak. Saya ingat, dulu saya ingin sekali masuk melihat-lihat sebuah galeri lukisan dan hampir 4 tahun saya ada di kota tempat galeri tersebut, saya hanya berani melihat dan mengagumi dari luar. Saya takut, saya tidak pantas atau tidak mampu jika ada syarat yang harus dipenuhi.

Tapi, di sisi lain, saya tidak takut untuk mandiri. Tinggal jauh dari orangtua. Saya tidak takut untuk bicara di depan. Dan cukup bisa mengungkapkan pendapat. Dan lainnya.

Wait.

Tapi, kemampuan yang tadi saya sebutkan saya dapatkan sejak di bangku kuliah. Saat saya tahu dan tanamkan pada diri saya,  “Ini adalah waktu untuk berubah dan mempelajari perubahan itu sendiri.”

Saya mulai membiasakan untuk melakukan segalanya sendiri, saya justru menantang diri saya untuk melawan ketakutan saya dan tetap berkomunikasi dengan Tuhan, untuk membantu saya menentukan ke mana saya harus jalan. Di mana saya harus duduk saat bergabung dengan kelompok baru. Siapa yang sebaiknya saya ajak berkenalan dan lainnya. Silly? Yes. That’s me. But, it works.
🙂

Then, sebenarnya saya mau cerita apa sih?

I wanna tell you about What to do when you don’t know what to do. By: Ps. JOSE CAROL.

Rasa takut sebenarnya adalah rasa cemas yang muncul akan apa yang akan terjadi atau apa yang kita alami. Nah, rasa takut justru datang saat kita tidak mengharapkannya. Akhirnya, ketika ketakutan datang, kita suka nggak tau mesti gimana.

Fear = The absence of FAITH.

Jadi, apa yang seharusnya dilakukan saat rasa takut ini terjadi?

1. Tempatkan Tuhan di antara dirimu & tantanganmu.

Manusia-TUHAN-kesulitan.

Roma 10:17, Yes 41:10 Jangan takut.

Saya juga akhirnya menemukan, bahwa alasan ketika saya bisa melawan rasa takut itu atau tidak lagi ragu bukan karena ada orang yang back up atau karena saya kuat tapi karena saat saya panik dan tidak ada yang bisa diajak bicara saya akan mulai komat-kamit “Tuhan, ini masuknya lewat mana? Tuhan, aku duduknya mending di mana? Tuhan, ini aku sendirian, tolongin… “.
Saya mulai membangun keyakinan bahwa Tuhan Yesus adalah Dia yang menyertai kita. Saya dan kamu.

Ps. Jose bilang, katakan ini pada diri sendiri setiap kali takut menyergap: I’ll tell my self that God is with me.

 

Don’t panic.
I’m with you.
There’s no need to fear.

 

Mzm 34:5-11
Mzm 34:18-23

I’ll rescue you, EACH TIME. Itu loh! Each time, itu bukan kata saya. Itu kata Tuhan.

Fil 4:13
Amsl 14:27
Mat 10:3

Tuhan nggak bilang kita hidup nggak ada masalah. Tapi, Dia janji saat ada masalah Dia akan kasi kelegaan. 🙂

2. Tingkatkan pengharapanmu.
Beda dengan iman, iman kita dapatkan dari firman. Iman adalah karunia yang kita terima. Sedangkan pengharapan adalah keputusan.

Nah, HOPE is the decision you make inside of you.

Iman tanpa perbuatan adalah mati. Jadi, yang membuat kita akhirnya melangkah adalah pengharapan. Pengharapan akan masa depan Ninta yang lebih baik. Ninta bisa jadi pribadi yang lebih baik dan harapan untuk semakin dekat dengan Allah.

Kabar baiknya, si iblis nggak bisa curi iman kita tapi kabar buruknya ia akan memutuskan pengharapan kita. Kenapa?

Karena pengharapan adalah JANGKAR bagi jiwa kita. Tanpa jangkar maka sebuah kapal akan hanyut, bukan berlayar. Kita akan terhanyut dalam arus dunia.

Iblis membuat kita putus asa. Capek. Jenuh dan membuat kita kehilangan harapan karena kecewa. Hal ini berlaku untuk pekerjaanmu, keluargamu dan relasimu (yang jomblo jangan baper 😁).

Hei, hidup terlalu singkat untuk kecewa. Jadi, jangan izinkan kekecewaan menghalangi kita untuk berharap.

“Tapi aku nggak dipanggil-panggil di setiap perusahaan yang aku lamar. Kenapa bukan aku yang dipanggil? Kenapa temenku?”

“Si A udah nikah, B udah punya anak, C kemarin baru jadian. Gw? Capek aah… ”

Please, don’t. Justru saat kita takut (lagi) tinggikan harapan kita.

3. Tenggelamkan diri dalam kasih.
Ps. Jose bilang kita manusia diciptakan sebagai makhluk emosional. Kita perlu kasih dan dikasihi. Salah satu caranya adalah dengan pelukan.

image

Ketika kita takut, kadang yang kita butuhkan hanyalah pelukan.
There’s miracle in a hug.

Tambahan dari saya, jika tidak bisa memeluk atau mendapatkan pelukan di saat itu, kata-kata “Percaya, kamu pasti bisa. Kamu bisa. Aku yakin kamu bisa.” memiliki khasiat yang sama. Ketika ada orang-orang yang percaya pada kita, secara tidak langsung kita pun terbangun. Makanya kita butuh komunitas yang dapat memeluk dan menguatkan kita.

Tenggelamkan diri kita di dalam kasih itu, kasih Yesus. Bukan justru menenggelamkan diri dalam hal yang tidak seharusnya seperti drugs, sex, atau hal-hal lain yang tidak semestinya.

4. Yang terakhir adalah langkah yang paliiiiinggggg mujarab.

Lakukan point 1-3 berulang kali sampai kita tahu kita menjadi pemenang.

Guys, saya nggak bilang saat ini saya sudah nggak pernah takut lagi. But, at least when fear come to me, i never quit. I bring my fear to God and He’ll handle it. Struggle? Yes. But, try to always doing that 3 points in our life.

Let’s do it, together!

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s