15 Menit Bersamamu

“Violet, di depan kafe biasa, pukul 14.50. Don’t be late!

Pesan singkat dari Ruth muncul di layar telepon genggamku. Hadiahku sudah datang! Hadiah ulang tahun yang paling ku nantikan tepat di usiaku yang lewat satu tahun dari seperempat abad. Sebuah hadiah yang akan mengubah duniaku. Bergegas aku meninggalkan ruangan berpendingin dengan keadaan yang… ups… berantakan. Setidaknya, tidak demikian dengan penampilanku siang ini. Hahaha.

Berdiri di depan sebuah kafe mencari sosok Ruth di balik kaca memang tidak mudah untuk seseorang perempuan dengan tinggi 156 cm sepertiku. Aku harus melihat lebih lebar karena jarak pandang yang terhalang ini. Tapi, sepertinya ia belum datang.

Yah, lagi-lagi aku terlalu cepat, tapi tak masalah. Aku selalu bersemangat dan datang terlalu cepat untuk hal apapun. I’m that girl!

Aku memutuskan untuk duduk di bagian teras kafe agar lebih mudah berteriak jika saja Ruth, yang selalu terlambat, masuk ke kafe bergaya klasik dengan sentuhan warna hijau muda, coklat dan merah tua hampir pada semua perabotnya. Kafe ini tidak menyediakan life music, pemiliknya hanya akan membuatmu terbang ke masa John Lenon dan kawan-kawannya masih dalam formasi lengkap. Di sini, suara Pharell William tak masuk dalam kategori favorit.

Aku membuka kacamata pelindung ultra violet berwarna coklat yang sedari tadi melindungi mataku dari ciuman-ciuman kecil matahari. Silau. Sedikit ragu, namun aku bisa merasakan jantungku berdebar lebih cepat. Aku melihat sosok yang sudah lama ingin ku temui. Benarkah itu dia?

Dengan jaket hitam serta sepatu Keds andalannya, ia berjalan menyebrangi jalanan tempat aku berdiri saat ini. Berjalan pasti, ia memperbaiki letak kacamatanya. Mendorongnya pas sampai ke tulang hidung bagian atas. Aku suka, favorite. Aku terus memperhatikan. Ia terus berjalan tanpa memerhatikan aku yang sedaritadi melakukan pengintaian padanya. Seperti biasa, ia memberikan senyumnya untuk orang-orang yang sedang melintas berlawanan arah dengannya, favorite. Aku cemburu pada angin. Kenapa? Angin bahkan tak melewatkan kesempatan untuk membelai rambut hitamnya. Huh!

Gareth. Aku kembali bertemu denganmu, Gareth. Pria dengan tinggi sekitar 165 – 170 cm, kulit kuning langsat, dengan senyum manis, mata bulat dan tatanan busana yang tidak kekinian tapi tetap original. Tepat di bulan favoritku, September. Di mana aku bisa melihat Blue Moon. Ah, aku terlalu banyak menggunakan kata favorit. Entahlah, aku menyukai semua yang terjadi dalam hidupku, semua yang ada di hadapanku saat ini.

“Hai… Gareth.” sapaku sedikit ragu. Selama ini kami cukup sering berkomunikasi namun sulit untuk semesta mempertemukan kami secara tiba-tiba seperti siang ini. Aku bisa menghitung berapa kali kami beradu pandang dulu, tak lebih dari lima kali. And yes, Gareth, kamu masih sama seperti saat jabat tangan pertama kita.

“Halo… Tatyana. Aku tidak mungkin salah.” Senyumnya cukup menggantikan titik-titik dari pertanyaan, “Siapakah wanita yang berdiri tepat di depan Anda sekarang?”. Hahaha. Aku malu.

“Yah… that Tatyana. Sedang apa di sini?”

Aku mencoba mengatur kata-kata, berharap setiap mantra dapat membuatnya sedikit bertahan lama. Aku amati matanya yang sedikit tersembunyi karena kacamata. Aku menulusuri setiap lekuk pada wajahnya. Pipi, hidung, bibir bahkan giginya. Jujur, aku menyukai setiap perpaduan yang ada pada wajahnya, suara bariton yang khas menjadi salah satu signature saat ia mengucapkan namanya, Gareth. Tuhan, bolehkah ku rekam setiap inci dari wajahnya ini? Bolehkah suara ini yang menjadi pengantar tidurku di setiap malam? Aku bersumpah, aku tak akan berhenti membaca agar memoriku terus terlatih dan aku tak kehilangan sedikitpun bagian dari wajah dan kesempurnaannya.

“Yah, aku baru saja dari toko musik di seberang sana. Kamu?” Tanya Gareth padaku sambil menunjukkan CD musik yang baru saja dia beli. Dalam waktu beberapa detik entah kenapa tak ada tulisan apapun yang terbaca, semuanya berwarna hitam putih. Beberapa kali aku mengedipkan mata dan kembali mengatur fokus penglihatanku pada CD yang ada di tangannya. Ada nama Steven Sharp Nelson di sana.

“Aku menunggu Ruth, temanku. Kami berjanji untuk bertemu di kafe ini. Ada buku yang harus ku ambil. Kamu ke sini hanya membeli CD? Hmm… Bagaimana kabarmu? Bagaimana dengan… beasiswa?” Tanyaku bertubi-tubi.

Oh, Tuhan! Gareth, maaf. Bukan aku tak bisa berhenti bicara, aku hanya takut kau tak punya barang semenit lebih lama jika aku berhenti bertanya. Sebentar saja, sebentar lagi ya, Gareth. Aku sedang menyimpan gambar dirimu dari ujung kepala hingga ujung kaki, secara utuh. Prosesnya masih berjalan 60 persen.

“Ya. Tadi aku memang sengaja ke toko kaset di seberang untuk membeli CD ini. Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Dan, aah… masalah beasiswa, ujiannya sekitar lima bulan lagi.” Jawabnya. Singkat namun tak lepas dari tatapan yang penuh senyuman itu.

Aaah… i shoud… i mean, may i come in to your show before you go?” Tanyaku ragu.

Gareth, tahukah kamu betapa aku menginginkan sebuah kursi yang berada tepat di depanmu ketika kau memainkan lagu-lagu gubahanmu? Dapatkah kau bayangkan bagaimana jantungku akan berdebar lebih kencang daripada suara drum yang mengiringi konsermu? Bisakah kau merasakan dukungan yang ku berikan? Gareth… bolehkah?

Sure. Why not? Datang saja. It would be a pleasure for me, thank you.” Jawabnya lembut.

Aku mulai menikmati percakapan kami. Entah bagaimana dengan dia. Dia merapikan jaketnya. Dia memeluk tubuhnya. Dia menggerakkan tangannya saat berbicara. Dia memegang kembali CD yang ia tunjukkan padaku. Dia menatap mataku. Aku lihat jam tanganku dan awas terhadap orang di sekitarku, kalau-kalau Ruth tiba.

Ah, kenapa aku melakukan itu?

PING

Aku mengambil telepon genggam dan membuka satu pesan.

Tatyana Violeta!!! Meja 29. I see you, who’s that tall guy?

Pesan dari Ruth membuat semuanya kacau. Damn! Baru 15 menit???

“Eeee…Okay, Gareth. Hmm… Ruth texted me. I got to go. See you when i see you!” Ujarku sambil melambaikan dan menunjukkan telepon genggam ku. Aku tersenyum. Aku membalikkan badanku. Ku letakkan tangan kiriku ke bagian tubuh yang bekerja ekstra saat ini. Senyumku semakin mengembang. Aku bahkan sudah lupa bahwa yang ku tunggu-tunggu hari ini adalah hadiah ulang tahun yang diterbangkan langsung oleh Ruth dari kota impianku, London.

Sebentar lagi, Tuhan.

Aku berbisik dan melemparkan pandanganku kembali ke arah Gareth. Ia berjalan semakin jauh. Gareth, sesuai dengan namanya yang berarti kelembutan, and the same gentleness makes me fall into him.

“Bye, Gareth.” Bisikku.

Love is a quite voice. Still your mind, now I’m yours to choose…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s