Namaku Laura, Bukan Cinderella.

Sinar matahari pagi kembali datang menyapaku lembut. Hangatnya membantuku membulatkan tekad untuk segera duduk dan melakukan ritual di pagi hari. Aku Laura. Laura Lazarus.

Aku kemudian bangkit dari posisi nyaman tidurku, aku duduk dan merasakan kasur empuk milikku yang berbalut seprai warna hijau dengan motif bunga-bunga kecil kesukaanku. Aku mulai memeriksa setiap bagian tubuhku. Pertama, ku sentuh mataku dan aku bersyukur bahwa mendapati keduanya tetap berada di tempat seharusnya. Turun ke bawah, ku pegang pipi kananku, aah… besi itu masih menopang bentuk wajahku. Ku belai rambutku, tidak… tak ada lagi darah di sana. Tanganku lengkap. Badanku sedikit ku gerakkan ke kanan dan ke kiri, aman. Kakiku… kaki kananku masih seperti ini. Dengan tulang yang bukan lagi tulangku dan dengan sedikit pemanis berupa jahitan di sekitarnya membuat luka akibat tragedi 2004 itu masih terlihat jelas. Tapi, aku bersyukur untuk kondisiku saat ini.

“Terima kasih, Tuhan.”

Hanya kalimat ini yang dapat dan selalu ku ucapkan setiap hari.

“Ma… bisa tolong Laura? Laura mau siap-siap.”

Mama. Wanita perkasa yang memberi nama Lazarus pada namaku. Yang dalam cerita Alkitab kalian pasti tahu bahwa ia adalah orang yang dibangkitkan dari kematian. Dan ajaibnya hal ini juga terjadi padaku.

Saat itu aku berprofesi sebagai pramugari. Ini sudah menjadi cita-citaku sejak aku kecil. Aku tumbuh menjadi anak yang pintar dan cantik, namun hal ini justru membuat aku jatuh dalam kesombongan. Bahkan, aku selalu merasa lebih pintar dari orang tuaku. Aku pun sempat malu jika mama berada di dekatku atau di lingkunganku. Namun, peristiwa pada bulan November malam itu mengubah segalanya.

Pesawat di mana aku bertugas tergelincir saat hendak mendarat di Bandar Udara Adisumarmo, Solo, Jawa Tengah. Teriakan, tangis dan potongan tubuh berserakan di mana-mana. Aku merasakan tubuhku tak lagi dapat bergerak. Namun, sesaat kemudian aku masih berperang untuk mendapatkan kehidupan. Aku berdoa dan minta pada Tuhan untuk hidup sekali lagi. Aku ingin minta maaf pada mama. Tuhan menolongku. Aku hidup. Aku merintih dan ada yang membawaku keluar dari tumpukan jenazah. Aku dibawa ke rumah sakit terdekat dan menerima perawatan. Aku ingat, sahabatku, ia tewas saat itu juga dengan kondisi mengenaskan. Wajah ayunya tak dapat lagi ku kenali. Aku pun sempat merasakan ada yang aneh pada arah pandanganku. Aku mengalami koma selama 3 hari.

Beberapa saat setelah kondisiku lebih stabil, papa mengungkapkan sebuah fakta bahwa semua penumpang kelas bisnis tidak selamat. Seketika aku teringat akan doaku, aku mau hidup dan Tuhan menjawabnya. Mujizat itu ada.

Sekarang, aku tak bisa berbuat apa-apa. Hal ini membuat aku malu akan keberadaanku di depan mama. Ya, Mama, sosok yang selalu tidak aku pedulikan. Mama yang tersakiti karena kata-kata dan sikapku. Tapi, dialah satu-satunya yang tidak pernah meninggalkan aku. Bahkan, dengan lembut ia mengatakan bahwa ia sudah memaafkanku. Mama…

PING

Telepon genggamku menunjukkan gambar hati merah manyala. Aku tersenyum. Wajahku memerah, kali ini bukan karena pipi yang robek atau cipratan darah. Tapi karena pompa jantungku yang berpacu lebih cepat saat membaca namanya. Pieter.

Entah apa yang ia lihat padaku, tapi satu yang aku tahu dirinya adalah jawaban atas setiap doa yang ku lantunkan. Sebuah kado yang dikirimkan Tuhan, melalui setiap baris permohonan dari mamaku tersayang. Mama yang meyakinkan aku, “Laura, jodohmu ada. Tenang saja.”

Memang saya sempat berpikir, siapa lagi yang mau menerima saya? Saya tidak sempurna. Tapi, saat mama bilang jodohku jauh, ada di tengah-tengah pepohonan, kadang aku tertawa, tapi aku percaya, Tuhan mendengar doa mama dan menjawabnya melalui sepatu yang tertinggal.

Sepatu? Hahaha. Iya, seperti masuk ke dalam cerita dongeng, Tuhan menulis kisah cintaku.

Saat itu aku sedang giat melayani dan membagikan kabar baik melalui pengalamanku bersama Tuhan. Aku menulis buku, membuka penerbitan kecil, terbang ke sana ke mari dan… entah bagaimana di suatu hari, Tuhan membuat aku lupa membawa sepatuku. Sepatuku tertinggal saat aku melayani di kota tempat tinggal Pieter. Entah bagaimana caranya, Tuhan membawa dia datang di hadapanku.

Kalau bukan karena kasih, apa yang membuatnya mau mengantarkan sepatuku yang tertinggal, transit berkali-kali, menghabiskan waktu dan biaya untuk mengantarkan sepatu itu sampai di tanganku? Tuhan benar-benar romantis! ๐Ÿ™‚

Ini pasti skenarioMu, kan? Ucapku dalam hati sambil memandang ke atas, memastikan bahwa Tuhanku, Bapaku, melihat kerlingan mata anaknya yang kini semakin jatuh cinta atas perbuatanNya waktu itu. Bak cerita Cinderella yang bertemu pangeran, begitulah aku dan dia bertemu.

Setelah mengenal, pribadinya membuat aku kembali percaya bahwa Tuhan tak pernah tidak mendengar seruanku. Siang ini, ia mengajakku berjalan-jalan. Seperti biasa, aku agak enggan untuk menikmati dunia luar dengan bermodal kursi roda seperti ini. Secara manusiawi, wajar aku merasa risih saat aku harus menikmati dunia dengan kursi roda.

“Bagaimana kalau kita makan saja? Atau… ”

Jawabannya, tidak. Ia tetap membawaku berjalan-jalan. Ia terus membahagiakanku seakan-akan aku adalah gadis yang sempurna. Akhirnya, kami memasuki salah satu department store. Sambil melihat barang-barang, aku merasa ada yang aneh dengan kursi rodaku

“Kursi rodaku… kenapa, ya?”

Pieter membantuku memeriksa bagian dari kursi roda yang sebenarnya memang cukup ringkih. Aku memilih kursi roda ini karena ringan dan mudah dibawa. Setelah menemukan masalahnya, koko, begitu aku memanggilnya, segera memperbaiki bagian baut yang rusak agar aku dapat kembali duduk dengan nyaman.

“Laura, aku nggak pernah malu dorongin kamu!” Kemudian ia menutupnya dengan senyum.

Ia adalah pasangan yang luar biasa yang dikirim Tuhan. Seseorang yang tidak memandang kelemahanku. Cacatku. Ketidaksempurnaanku. Dan aku berterima kasih untuk kesediaan hatinya dan ketulusan cintanya. Tuhan, lagi-lagi Engkau begitu romantis.

“Aku tahu itu. Terima kasih, Ko.” Aku pun membalas senyumnya, menatap matanya dalam-dalam dan sekali lagi mengucap syukur untuk segala yang terjadi dalam hidupku.

Ini baru langkah awal dalam hubungan kami. Dalam waktu dekat kami berencana akan mengucapkan janji sehidup semati.

Jujur, aku tidak tahu bagaimana rasanya nanti. Tapi, aku pernah merasakan bagaimana rasanya mati.

Bersama Tuhan, aku dan pangeran utusannya akan mengarungi seluruh kehidupan. Dia bukan pangeran berkuda putih. Dia adalah pangeran dengan obeng dan baut yang akan menjaga serta memastikan aku dapat duduk dan berkeliling dunia bersamanya untuk menyampaikan pesan dari surga.

Biarlah di dalam kelemahanku, kuasaMu, menjadi sempurna. Harapanku, impianku dan masa depanku, ku taruhkan dalam tanganMu.

Yeremia 29:11
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

image

Pict: @Learryhanata

Ps: Cerita ini dikutip dan mendapat izin dari Laura Lazarus, berdasarkan kisahnya sebagai ex-pramugari Lion Air yang mengalami kecelakaan di Solo pada tahun 2004.

Advertisements

One thought on “Namaku Laura, Bukan Cinderella.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s