Hujan Pertama di Bulan Oktober

Hujan deras akhirnya membasahi ibu kota yang akhir-akhir ini terus bercinta dengan sang surya. Semua orang terlihat sibuk menarik napas, menghirup petrichor yang lama dinanti-nantikan.

Malam ini, ia sedang menuju apartment tempat ia tinggal sejak tiga tahun terakhir. Ia adalah seorang pluviophile, sehingga ia sengaja memperlambat langkah untuk benar-benar menikmati rintik hujan yang menempel pada baju kerjanya.

Seperti tersedot lorong waktu, ia kembali ke waktu hujan di bulan ini, saat ia masih kecil, di bulan Oktober.

Pada hari hujan siang-siang, saat ia pulang sekolah kala itu, ia sedang duduk diam memandang ke arah jendela yang perlahan mulai buram karena embun. Di dalam bus yang penuh dengan teriakan anak-anak sekolah, ia mulai bertanya dalam hati.

Hari ini hujan deras, apakah mama akan menjemputku di halte? Aku ingin seperti teman-teman yang lain…

Bus yang ia tumpangi sampai di tujuan. Sedikit maju mundur memperbaiki posisi, bus yang panjang itu akhirnya berhenti. Pintu dibuka. Seperti kera-kera kecil, teman-temannya mulai melompat mengambil barisan. Ia pun memanjat kursi dan mengusap-usap kaca sebentar untuk melihat apakah ada payung yang ia kenali di antara kerumunan payung di tempat pemberhentiannya.

Aaah… itu mama!

Serunya dalam hati. Ia bergegas mengikuti barisan di dalam koridor Mercedes-Benz besar itu. Ia mengaitkan kedua tangannya pada tali tas yang ia lekatkan di bahunya. Senyumnya mengembang. Sebentar lagi ia akan bertemu mamanya yang sudah menjemput dengan payung di halte berwarna biru, yang padat dengan ibu-ibu bahkan para ayah yang sedang kebagian jatah libur sehingga membantu istri mereka menjemput anak-anaknya.

Seperti rintik hujan yang jatuh ke pelukan bumi, demikian satu persatu anak berseragam putih merah turun dan mendapatkan diri mereka jatuh dalam pelukan orangtua di bawah payung. Beberapa dari mereka bahkan langsung digendong menuju mobil yang sudah disiapkan agar mereka tidak basah apalagi sakit.

Sebentar lagi giliranku!

Selangkah demi selangkah, ia menuruni tangga menuju pintu keluar bus tersebut, namun harapannya mulai pudar ketika ia tahu tak ada satu pun payung yang mendekatinya. Payung besar berwarna biru yang tadi ia lihat, bukan milik mamanya. Dengan wajah tertunduk, ia berlari menuju atap halte yang sekarang… mulai sepi. Satu per satu mobil pun pergi meninggalkan parkiran.

Imannya, mamanya sedang berjalan menuju tempat di mana ia duduk kedinginan dengan rambut yang lepek serta seragam sekolah yang basah dan buku-buku di dalam tas yang perlahan melekuk karena hujan yang menembus masuk ke dalam tas miliknya. Ia masih berharap sambil sesekali melihat ujung jalanan, siapa tahu mamanya muncul.

Mama kemana? Mama lupa aku sudah pulang sekolah? Kenapa mama tidak menjemputku? Aku akan menunggu sebentar lagi. Mungkin mama sedang masak agar sampai di rumah aku bisa segera makan.

Kata-kata itu menjadi doanya di tengah hujan di bulan Oktober. Lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit bahkan hampir satu jam ia menanti datangnya payung yang akan membawanya pulang.

Seperti bosan memandang ia yang tak kunjung pergi dari halte berbentuk rumah itu, hujan pun mengucapkan salam perpisahan. Semakin teriris hatinya. Dengan gerimis kecil yang masih setia menemani, ia putuskan untuk melangkah dan berjalan kuyu menuju kediamannya. Rumah sederhana berwarna putih pucat.

Sebenarnya, tidaklah terlalu jauh. Hanya melewati beberapa belokan dan sampai. Tapi, yang ia harapkan adalah kedatangan mamanya. Seperti orangtua anak lain yang menjemput, memeluk kemudian membawakan tas anaknya serta berjalan menerjang hujan bersama-sama.

Aku ingin menikmati hujan dengan mama. Tapi, kenapa ia tidak datang? Apa salahnya sesekali tak membiarkanku pulang sendirian. Apa karena kata mama, aku anak mandiri, jadi aku tidak dijemput?

Ia sampai di pintu belakang rumahnya. Pintu dari bahan kayu triplek yang lapisan luarnya sudah mulai terkoyak akibat peristiwa malam itu antara mama dan papanya.

Aku pulang.

Seperti biasa ia memberikan salam. Tapi, nada bicaranya benar-benar menunjukkan ia sedang tidak ingin bicara. Ia masih menunduk. Membuka sepatu. Menahan air mata. Perlahan ia mengangkat kepala. Dilihatnya wanita berusia 37 tahun itu menoleh untuk menjawab salamnya. Di tangan kanannya terlihat sendok sup berwarna putih. Dari aromanya ia tahu mamanya sedang memasak soto ayam, makanan favoritnya. Ia sedikit terhibur.

Kenapa aku nggak dijemput??!

Ia tak lagi kuat menahan emosi di dalam hatinya. Genangan air yang sedari tadi ia tahan pun menerobos keluar dari mata bulatnya. Ia sesenggukan dan mulai menangis semakin kencang. Wajah mamanya hanya tertunduk. Wanita berambut panjang itu terdiam sebentar.

Cepat ganti baju. Mandi. Nanti kamu masuk angin.

Melihat wajah mamanya berbalik memungut sepatunya yang berserakan, ia tercengang.

Ia menghapus air mata yang tadi mengalir deras, yang bahkan mengalahkan derai hujan yang membasahi tubuhnya beberapa waktu lalu. Ia kemudian berlari memeluk tubuh mamanya. Tubuh yang penuh dengan lebam biru dan kemerahan. Ia menahan air matanya tapi ia kehilangan kekuatan untuk mengontrolnya.

Dirasakannya hangat tubuh wanita yang dipanggilnya mama itu. Ia eratkan pelukannya, tak lama ia kendurkan. Ia takut biru di balik baju dasternya akan terasa semakin menjadi-jadi.

Ia pun lekas berganti baju dan masuk ke kamar mandi, membasuh tubuh kurusnya dengan air hangat. Ia tak ingin mamanya kehabisan tenaga untuk mengurusnya kalau-kalau ia sakit.

Suara gemuruh dari perut yang belum sempat diisi sejak siang tadi, membuyarkan lamunannya. Ia pun kembali dari masa lalu.

Advertisements

One thought on “Hujan Pertama di Bulan Oktober

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s