Cacat Kok Jadi Mainan?

Kemarin adalah hari terakhir kelas Deeper Bible and we play a game. Bermain menjadi orang cacat. Cacat kok jadi bahan mainan sih? Karena melalui setiap kekurangan saat bermain peran, kita bisa mendapatkan banyak pelajaran. Permainan ini sebenarnya sederhana dan sudah sering saya mainkan. Tapi, entah kenapa selalu ada pesan berbeda yang didapatkan setiap kali memainkannya.

Setelah belajar materi terakhir kelas DB, sesi berikutnya kami dibagi menjadi tim yang beranggotakan 5 orang. Dari 5 orang ini dipilih lagi 1 orang yang menjadi ketua. Kemudian, semua orang akan mendapatkan peran cacat yaitu sebagai orang buta, tuli, bisu, lumpuh kaki dan lumpuh tangan. Setelah pembagian peran, kami semua harus berada dalam sebuah ikatan tali yang membentuk lingkaran (trik mudah katanya).

Setelah itu?

Karena sebelumnya belajar mengenai lukisan kata, maka setiap kelompok akan mendapatkan 1 buah ayat yang nantinya akan kami cocokkan dengan gambar yang sudah disebar di dinding, tiang maupun lantai untuk dicocokkan.

Tantangannya? Sudah jelas, setiap orang memiliki kekurangan! -_-” dan bagaimana caranya satu tim ini bisa tetap sama-sama menemukan gambar milik kami. Ego pun diuji. Hahahha.
Di sini saya berperan sebagai orang tuli, Viktor si ketua berperan sebagai orang lumpuh, Prica sebagai orang buta, Budi teman DATE (komsel)nya Viktor jadi orang bisu dan teman yang baru saja berkenalan di sana namanya Yopi, sebagai orang lumpuh tangan.
Kami mulai berbaris dan mengatur strategi. Viktor sebagai ketua berada di depan, saya yang tuli diurutan kedua tujuannya supaya bisa memandu Prica di belakang saya yang buta. Di belakang Prica ada Budi yang bisu, dan terakhir Yopi. Tapi, kalau si ketua yang lumpuh menuntun di depan akan terasa lama karena ia harus melompat-lompat menuntun kami. Akhirnya, Viktor pindah ke paling belakang dan saya berada di paling depan. Namun, karena cukup sulit akhirnya kami tidak membentuk barisan, sedikit melingkar namun posisi tidak berubah.

Permainan dimulai!
Kami mendapatkan ayat tentang roti hidup. Berarti, kami harus mencari gambar roti. Saya diminta untuk melihat dari gambar yang ada di depan kami terlebih dahulu. Ternyata, bukan. Akhirnya, kami mulai berkeliling mencari dan melihat setiap gambar yang kami temui. Saya sempat melihat ke belakang, ternyata saat kami berjalan dengan langkah kecil-kecil, teman-teman di belakang membantu Viktor melompat, mereka menyediakan bahunya untuk dirangkul sehingga Viktor tidak jatuh. Gambar demi gambar kami buka, tapi belum ketemu juga. Sampai akhirnya kami menuju lokasi yang cukup jauh dan membuat kami lelah.

Di saat ini kami bertemu dengan kelompok yang lain. Mereka sedang membuka gambar yang akan kami tuju.

“Eh, itu gambarnya apa?” Tanya saya.

Berharap itu adalah gambar roti tapi ternyata bukan.

“Oh… kalau yang ini gambar pelangi, yang ini musim gugur. Kalian cari gambar apa?”

“Baju perang.”

“Baju perang ada di sebelah sana. Di bawah. Makasi ya.” Kataku.

Kami pun memutuskan untuk berbalik arah. Walau saya di depan, saya tahu saya bukan ketua, sehingga saya kembali bertanya pada ketua saya arah mana yang akan kami ambil. Viktor yang lumpuh tiba-tiba berteriak kalau kakinya kesakitan dan mulai kesemutan. Waktu saya lihat, tali sepatunya sudah mulai terbuka ikatannya, bisa-bisa dia jatuh kalau terinjak.

“Istirahat dulu apa?”

Kami sempat berhenti beberapa detik sampai Viktor mengatakan untuk jalan lagi.
Kami kembali berkeliling.

Akhirnya, kami mencoba peruntungan untuk kembali ke daerah awal kami. Saya langsung tertuju pada gambar yang ditempel sangat tinggi di dinding dan butuh memanjat besi yang ada di bawahnya agar saya bisa melihat gambar apa yang ada di dalamnya.

“Aduh, aku pendek nih. Aku pendek. Manjat apa ya? Aaak… aku nggak nyampe.” Kemudian saya mencoba untuk melompat tapi gagal juga. Dengan inisiatif yang baik, Budi si bisu langsung memanjat dan membukanya. Ternyata ini gambar roti yang kami cari!!!!

Mungkin, pada saat itu Budi sudah mengatakan “Biar aku saja yang melihat gambarnya. Tapi, karena dia bisu jadi tidak bisa berbuat apa-apa. Ditambah lagi saya yang telinganya ditutup jadi memiliki pendengaran yang terbatas. Alhasil, dia langsung mencoba memanjat agar saya melihat bahwa dia sedang mengambil tindakan untuk menolong saya dan tim.

Permainan berakhir.
Setelah dilihat-lihat ternyata posisi gambar yang kami cari berada tepat di belakang barisan kami. Viktor sendiri langsung nyeletuk, “Gambar rotinya ada di belakang kita, lho. Tapi, kita muter kemana-mana dulu sampai akhirnya ketemu itu gambar.”

Apa hal baru yang saya dapatkan?

Di dalam hidup, Tuhan selalu menyediakan jawaban. Gambar roti adalah jawaban yang saya cari. Dia sudah menyediakannya.
Namun, untuk mendapatkan hal itu seringkali terasa sulit. Kita harus melalui perjalanan yang bahkan bisa saja membuat kita putus asa di tengah jalan dan mulai menyalahkan. Padahal, dalam setiap perjalanan yang kita lakukan Tuhan tidak pernah meninggalkan kita (sama seperti kakak-kakak mentor yang memperhatikan kami kalau-kalau ada yang butuh bantuan). Selain itu, saat-saat pencarian seringkali dipakai Tuhan untuk memberikan pelajaran tambahan untuk mengupgrade hidup kita. Masalahnya, mau melanjutkan perjalanan atau tidak?

Lalu, di perjalanan kita bisa bertemu dengan orang-orang yang sama susahnya dengan kita atau bahkan lebih susah daripada kita. Seperti saat saya bertemu dengan kelompok lain yang mencari gambar yang berbeda. Saya benar-benar ditegur. Saat kita dalam masalah, bukan berarti kita jadi tak peduli pada orang lain dan berpikir, “Urusan lo lah. Gw aja udah susah masih lagi mikirin lo.”

Kalau saat itu saya cukup egois untuk tidak bertanya (agar saya tak perlu membalas dengan memberikan informasi gambar yang sudah saya lihat) mungkin saya butuh effort ekstra menuju ke tempat mereka dan membuat teman-teman saya berjalan lebih jauh hanya untuk tahu apakah di sana ada gambar roti. Guys, saat kita dalam kesusahan dan tetap beejalan di dalam Tuhan, Dia sendiri yang akan memampukan kita untuk tetap bisa menolong orang lain dengan tulus. Saya teringat dengan apa yang mama saya lakukan saat menolong orang. Di rumah waktu itu hanya tersedia sedikit minyak dan beras dan belum tentu cukup untuk makan beberapa hari ke depan. Kemudian, mama teringat akan teman yang sedang sakit dan posisinya lebih susah dari mama. Mama akhirnya membagi sedikit beras dan minyak yang dia punya untuk keluarga temannya, mama cuma berpikir setidaknya 7 anak dari temannya ini bisa makan hari itu. Keesokan harinya saat mama pulang dari satu tempat dengan si bungsu, ada beras 10 kg dan 2 jerigen minyak di depan pintu masuk rumah. Sampai saat ini tidak ada yang tahu siapa yang meletakkannya karena sedikit orang yang tahu bahwa mama tinggal di bagian samping rumah, sehingga masuknya pun bukan melalui pintu depan. My God is awesome!

Tahukah kalian? Kelompok yang kami bantu itu akhirnya sampai lebih dulu di garis finish. Tapi, bukan itu poinnya. Got it?

Huaaahh…

Poin lainnya adalah untuk mencapai sebuah tujuan kita tidak akan bisa mengandalkan kekuatan sendiri. Saat saya akan mengambil gambar roti di atas dinding, kalau saya akhirnya nekat manjat kemungkinan saya bisa tergelincir, jatuh dan menimpa teman-teman saya. Tapi, karena ada si Budi yang baik hati, rajin menolong dan lebih tinggi dari saya pastinya, maka saya bisa melihat apa gambar dibalik kertas yang tertempel di dinding yang tinggi itu.

Satu lagi yang saya lihat dari Viktor sebagai ketua. Terlepas dari karakternya, dia yang kami pilih sebagai ketua tidak keberatan untuk pindah ke belakang dan dipimpin oleh orang lain. Dari belakang, ia tetap mengarahkan kami tetapi dia juga tidak keberatan untuk mendengar apa yang kami sarankan. Setinggi apapun jabatan yang kamu miliki, berusahalah untuk tetap mau mendengar. Ini pas banget sama kotbah Ps. Jeff minggu kemarin.

Thank God! Banyak pelajaran baru dari kelas ini dan permainan ini. Many thanks untuk Kak Peters dan tim yang dengan enjoynya ngajarin baca Alkitab. Dimulai dari Markus, ya! *suara goib macam Mbak Mas pom bensin* 😱

I wish, saya punya foto tim saat permainan kemarin. Sayangnya, kita nggak inget wefie karena asyik bermain. Hahaha. Jadi, ini foto rame-ramenya aja ya.

image
Pict taken from: @Butet_vanny

Sampai jumpa di Deeper Bible 2016 dengan konsep berbeda temans. đŸ™‚

Roma 12:4-5 (TB)
“Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama,
demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s