Sarapan yang Menyenangkan

“Ninta bangun ninta… Jgn mimpi om John bon cabe melulu.”

Pesan pertama yang ku baca pagi ini. Haaah… koko yang satu ini, entah kenapa pagi-pagi membuyarkan ketenangan tidurku melalui pesannya di grup social chat kami.

“Baru banguuuunn.. baru tdr jam 3 oii.” Balasku setengah memejamkan mata sambil berusaha untuk menyamankan kembali posisi dengan memeluk guling erat-erat.

PING…

Tanda pesan diterima kembali terdengar.

“Sarapan yuk nin.” Ujarnya singkat. Aku tahu, perutnya pasti sudah dikosongkan dan kembali minta diisi dalam waktu singkat.

“Baru melek Kokoo. Sarapan apa, kamana?” Tanyaku sekaligus agar dibalas satu kali pesan saja dan bunyinya tak mengganggu kelopak mataku yang sedang beradu untuk memaksa aku kembali ke alam mimpi.

PING… PING… PING… PING

Dan dalam waktu sekejap suara itu menjadi berkali-kali lipat. Haaah… ternyata Windy menyahuti ajakan Ko Hendry, sang pemimpin grup.

“Sarapannn daerahhh gw donggg. Jemputtt ekeee. Hahaha.” Yah, manusia periang ini muncul dan hanya dengan membaca pesannya saja, aku sudah bisa membayangkan bagaimana cara, nada dan gaya bicara temanku yang satu ini. Yaaaa… sedikit sengau, manja dan sedikiiiit panjang diujungnya.

15 menit bersiap-siap, ko Hen sudah tiba bersama Freed kesayangan kami semua di depan Alfamart yang terletak tidak jauh dari kos-kosanku. Mobil ini jelas memiliki sejarah untuk kami anak muridnya, khususnya saya yang selalu diantar jemput setiap pergi dan pulang mengikuti kelas.

“Novita mana? Nggak diajak?” Tanyaku menggoda dia yang baru saja mengganti status menjadi in relationship dengan Novita. Hihihi… aku paling suka melihat dia malu-malu. Nggak pantes. Hahaha.

“Dia kerja. Nanti mungkin makan siang aku jemput.” Jawabnya sambil tersipu.

Sarapan bersama di luar rumah saat hari libur tiba sebenarnya adalah salah satu tradisi di rumahku dulu. Tanpa perlu mandi, cukup cuci muka dan sikat gigi dan kemudian papa dan mama akan memboyong aku dan kedua adik lelakiku ke mobil. Rasanya menyenangkan menemukan hal ini, di pagi ini, bersama keluarga yang baru.

Freed kami pun melaju menuju Mangga Besar, kediaman Windy bersama keluarganya. Belum tahu mau makan apa. Yang jelas akan selalu ada cerita di setiap perbincangan kami. Siang, malam, pagi, petang. Tak ada waktu yang kami lewati tanpa bercanda. Bahkan jam 12 malam tak bisa mengusir kami jika sedang seru membahas sesuatu.

“Belok kanan, Ko. Nanti di depan lewatin dua gang dulu baru kelihatan rumah si Windy.” Jelasku sambil mengingat-ingat apa peta menuju rumah Windy. Sejujurnya, sedikit lupa bagaimana cara menuju rumahnya, but thanks to my long term memory, kami tidak tersesat. Maklum, baru satu kali menjemput Windy di rumah dan waktu itu malam hari.

“Hai, cewek! Hahaha.” Sapaku menggoda Windy saat ia membuka pintu Freed.

“Kok aku nggak dibukain pintu sih, iiihh.” Tukasnya saat masuk ke dalam mobil. Dia ingin sekali diperlakukan bagai ratu, tapi kami hanya bisa memperlakukannya seperti Windy apa adanya. Hahaha. Sorry Win.

Setelah menimbang-nimbang akan pergi makan ke mana, kami pun memutuskan untuk makan di bakmi bule dekat rumah Windy. Bakmi karet dengan rasa yang gurih dan bakso gorengnya yang benar-benar lezat.

Makanan datang, pembicaraan pun dimulai. Windy yang sangat antusias tak perlu pikir panjang untuk bertanya status baru ko Hendry.

“Jadi, gimana ceritanya? Perasaan baru kemarin malam minta bantuin eeh udah jadian aja.”

Tawa kami pun pecah karena pertanyaan Windy yang to the point. Kemudian dengan pasrah Ko Hen menceritakan bagaimana ia menyatakan perasaannya. Dengan cara yang biasa saja karena menuruti perkataanku. Whaat??? Perkataanku?

“Iya. Kamu bilang biasa aja? Lagian ya nggak apa-apa juga sih. Nanti biar nggak kebanting kalau pas lamaran. Kata Mikha juga gitu. Makanya kemarin tu, gw butuh Windy. Yang biasanya ngomong ginii aja koooo, ginii aja kooo… hahaha”

Entah darimana, pembicaraan kami pun mulai masuk ke area keluarga. Windy pun bercerita bagaimana kondisi keluarganya setelah ditinggalkan oleh papa tercinta beberapa minggu lalu. Bagaimana pergumulannya dengan pasangannya, bagaimana ia berusaha agar kondisi di rumah tetap nyaman sepeninggalan papanya. Orang yang paling mengerti dan mau mendengarkan dirinya.

Bercerita panjang lebar, pengunjung warung makan bakmi semakin banyak. Tiba-tiba, saat asyik bercerita ada seorang anak laki-laki datang menghampiri kami, usianya mungkin sekitar 6 atau 8 tahun.

“Permisi, mau minta cuka.” Ucapnya.

“Oh, silakan.” Jawab Windy sambil mengambil cuka dan aku memberikan pada anak tersebut sebagai perpanjangan tangan.

Anak itu berjalan kembali ke mejanya. Ku lihat ayahnya sambil duduk mengunyah mi, mengacungkan jari jempolnya dan mengatakan “Good. Hebat kamu berani minta cuka ke meja orang lain.” Dan si anak pun tersenyum bangga. Sekilas tidak ada yang spesial, tapi, untuk orang yang sejak kecil jarang sekali mendapat pujian bahkan untuk hal besar yang aku lakukan, momen ini adalah momen yang mencuri hati dan pikiranku. Aku selalu ingin menangis dan tak bisa melepaskan arah pandang mataku jika ada kejadian seperti ini. Apalagi, jika anak itu perempuan. Aku selalu membayangkan itu adalah aku dan papaku. Papa yang sejak SD sering tidak pulang, papa yang waktu aku SMP akhirnya memutuskan untuk tidak lagi tinggal serumah. Papa yang selalu aku rindukan kepulangannya.

Wajah istrinya tampak sedikit meremehkan pujian yang ia berikan pada anak bungsunya. Karena menurut istrinya si anak bungsu berani meminta cuka adalah hal biasa dan sudah sewajarnya dia berani. Tapi, si ayah kembali menjelaskan bahwa tidak mudah untuk seorang anak kecil bicara di depan orang dewasa apalagi orang dewasa yang tidak ia kenal. Aku bahagia melihatnya.

Karena hal tersebut aku sempat lama tidak memperhatikan perbincangan Windy dan Ko Hen. Entah sudah sampai di mana pembicaraannya, tapi aku berusaha merespon dengan cepat apa yang Windy ucapkan. Aku fokus kembali.

“Kalau urusan begini, kamu tanya Ninta. Dia jago ni kalau masalah yang begini-begini.” Ko Hendry tiba-tiba menunjuk aku.

“Kalau boleh saran, Win… ” Aku memulai pembicaraan kami. Windy dan mamanya adalah tipikal yang serupa. Sehingga aku mengatakan, dibutuhkan kerendahan hati dan kerendahan nada suara saat harus bicara dengan karakter seperti itu. Sependapat denganku, Ko Hen pun mengatakan bahwa terkadang orang hanya butuh diperhatikan, bukan menjadi bahan pertikaian. Yang menjadi bagian favoritku saat berkumpul bersama mereka adalah selain aku bisa menjadi diriku sendiri, aku juga bisa belajar ditegur dan menegur teman-teman yang lain. Dan jangan anggap ini hal mudah. Kalau kata Ko Hen, jadi orang Kristen itu susah.

“Dulu aku, Win, sampai bertanya-tanya. Kenapa harus aku harus hormat sama orangtua seperti itu? Kenapa harus aku yang mengasihi duluan? Kenapa harus aku yang traktir dia, dia tidak pernah peduli sama hidupku. Tapi, jadi pengikut Kristus berarti kita mau memberikan kasih untuk orang lain.” Jelasnya sambil mengaduk mi.

LOVE NEVER FAIL. Kata-kata ini sangat tepat untuk menggambarkan bagaimana dengan kasih kita semua yang pernah tersakiti mendapatkan pemulihan. Dan satu lagi, SPECIAL PERSON NEEDS SPECIAL TREATMENT. Jadi, kalau dalam hidupmu kamu merasa “Kok hidup gw gini banget ya. “SPECIAL” banget rasanya, percayalah ada sesuatu yang besar yang disiapkan Tuhan untuk kamu. Dan lagi, SPECIAL TREATMENT yang kamu dapatkan nggak akan lebih dari kemampuanmu, nggak akan lebih.

Ku lihat mata yang berkaca-kaca saat Ko Hen menjelaskan kehidupannya. Tidak, dia tidak menangis. Tapi air mata mulai keluar sedikit lebih banyak di kelopak matanya yang kecil. Maklum dia Chinese.

Windy pun kembali merenungkan setiap kata-kata yang keluar dari bibir kami. Kami menyayangi dia. Kami mengasihi dia.

Hampir satu jam lebih kami menikmati sarapan ala kami. Dan kami masih betah untuk saling menguatkan. Aku pun melontarkan sebuah pertanyaan yang selama ini menggangguku. Seakan membuat aku tidak yakin pada penyertaan Tuhan.

“Aku boleh nanya sekarang? Aku jujur galau dengan sebuah statement. Salah satu temanku pernah bilang bahwa, Tuhan menginginkan sebuah keluarga utuh. Dan menurut prinsip dia Tuhan menginginkan keluarga yang utuh. Aku sempat menjawab bahwa aku ingin papaku kembali, tapi jika ia tidak kembali ke rumah sampai kapanpun, aku sudah rela karena ada rencana Tuhan yang pasti tidak aku ketahui. Tapi, kemudian dia tidak membalas lagi, mungkin karena ia pikir prinsip kami sudah berbeda sehingga tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Kemudian, aku teringat lagi kata-kata “Jadilah sesuai dengan apa yang kau imani.” Apa dengan seperti itu aku tidak beriman pada janji Tuhan? Apa aku jadi seorang yang meragukan Tuhan? Apa aku salah kalau mempersiapkan kemungkinan terburuk dalam hidupku dan belajar percaya bahwa Tuhan akan kasi kondisi yang lebih baik? Jujur aku jadi galau karena hal ini. ”

Pertanyaan ini terlontar dari benakku. Aku benar-benar butuh bantuan. Dan untuk menjawabnya, pemimpin kami yang benar-benar hobi makan ini membutuhkan waktu yang cukup membuatku deg-degan. Dengan lugas ia mengatakan bahwa apa yang temanku katakan dan yang aku katakan tidak ada yang salah. Justru, keduanya harus saling berdampingan. Ia menjelaskan kondisinya di mana ia sedang menunggu kabar dari sebuah perusahaan yang akan merekrutnya menjadi pemimpin besar. Sayangnya, karena proses yang cukup lama, ia mulai bimbang.

“Aku tetap mengharapkan posisi itu. Aku imani bahwa posisi itu pasti aku dpaatkan kalau Tuhan sudah kasi. Tapi, bukan berarti aku nggak bersyukur dan tidak melakukan yang terbaik lagi di pekerjaanku yang sekarang. Sama Nin. Berharaplah yang tinggi, imani, dan papamu akan pulang. Tapi, tetap serahkan semuanya sama Tuhan. Kamu cukup lakukan bagianmu.”

JAWABAN.

Matahari semakin terik, tanda hari semakin siang dan kami harus pulang. Kami bertiga kemudian menghampiri meja kasir dan membayar makanan kami. 74 ribu untuk bertiga.

Masuk ke dalam mobil, kami pun segera mengantarkan Windy dan melanjutkan perjalanan pulang. Selama perjalanan, Ko Hen kembali mengatakan, “Kalau tanpa Tuhan, kita ini bukan siapa-siapa ya. Nggak nyangka hidup kita bisa jadi berguna buat orang lain.” Sambil mengingat, ya benar, jika tanpa Tuhan, mungkin aku sudah gila dengan semua kejadian yang terjadi dalam keluargaku.

Semakin dekat menuju Alfamart, aku berkata sambil sedikit menahan air mata. “Koko tahu nggak, tadi aku sempet liatin keluarga yang anaknya minta cuka itu. Biasa… aku baper sama hal-hal gitu.”

“Tau kok. Tadi kan gw ngeliatin lo nggak lepas mandangin mereka.”

“Lah? Keliatan ya? Hahaha.”

Intensitas membuat kita semakin saling mengenal. Inilah yang terjadi dalam kelompok Community of Leadership kami, yang dipertemukan dalam kelompok 8, beberapa bulan lalu. Kalau tidak pernah ketmu dan saling bercerita, mungkin kami tak seintim ini.

“Thanks, Ko.”

Kemudian aku menutup pintu dan menunggu sampai mobil abu-abu itu meninggalkan aku. Ini juga salah satu budaya yang diajarkan keluargaku, saat ada tamu jangan tinggalkan mereka sampai mereka pergi hilang dari pandangan mata. Sarapan kali ini benar-benar menyenangkan.

Advertisements

4 thoughts on “Sarapan yang Menyenangkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s