Sepasang Sepatu Merah Jambu (Part 8)

Touch down, Bandung. Kata sebagian orang, kota ini adalah kota kenang-kenangan. Yang lain bilang ini kota seribu bunga dan kalau kata Vika, Bandung kota sejuta mantan. Yah, maklum saja, sebelum pindah ke Jakarta, teman Embun yang satu ini adalah salah satu siswi yang cukup berprestasi di salah satu sekolah favorit di Bandung. Dia selalu bercerita bagaimana pria-pria antri untuk berkenalan dengannya. Uwww… untuk Embun ini adalah sesuatu yang nggak masuk akal. “Apa-apaan anak SMP sudah memiliki mantan sejuta. Le to the bay alias lebhaay.” Ingat Embun sambil mempraktikkan gaya bicara Vika. Paling lama bertahan satu bulan, habis itu antrian selanjutnya silakan maju ke depan. Buweekk….” Untuk Embun sendiri, Bandung adalah… berburu dan… Fajar. Bagaimana Bandung di mata Fajar?

“Li, ayo bergerak! Kita masih harus keliling mencari toko sepatu yang kamu bilang. Kamu lapar nggak?” Kalimat Fajar membuat tatapan kosong Embun terisi dengan taburan bentuk hati di antara wajah pria yang duduk di sampingnya sedari tadi.

“Lapar.” Kata Embun disusul bunyi perutnya yang bergemuruh.

Sekilas tampak pria gondrong ini menutup bibirnya sambil pura-pura memperbaiki rambutnya yang turun membelai pipinya.

Bergegas mereka melangkahkan kaki menuju bagian luar stasiun Bandung. Embun menarik napas dalam-dalam menikmati udara kota tempat ia akan bertualang bersama Fajar. Hari ini sedikit mendung sehingga sejuk tak perlu dipaksa untuk menggelitik masuk melalui hidung Embun. Sambil memesan dua mangkok soto ayam, Fajar berpikir kendaraan apa yang sebaiknya ia gunakan untuk memudahkan pencarian mereka karena angkot atau taksi sepertinya bukan pilihan yang tepat. Apalagi Bandung saat ini beda tipis macetnya sama Jakarta dan kondisi paling parahnya adalah Fajar sedang membawa tuan putri keluarga Ramdhan. Bahaya kalau lecet sedikit. Yeaahh!

“Halo, Mar? Kamu di Bandung nggak?”

“Telpon siapa, Mas?”

Fajar menaruh telunjuknya ke bibir meminta Embun untuk diam sejenak. omaigat, kenapa bibir itu tiba-tiba berubah jadi seksi?

“Iya. Mobil dipake nggak? Bawa tuan putri, nih.”

Samar-samar suara dari telepon genggam Fajar menyambung pembicaraan. Tiba-tiba Fajar menjauhkan telepon dan menatap wajah Embun.

“Naik motor oke nggak?”

Dua jempol langsung buru-buru diacungkan Embun yang perlahan menghirup masuk bihun ke dalam mulutnya.

“Mar, oke deh. Ini aku di stasiun. Gimana ambil motornya ya?”

Tak lama kemudian telepon dimatikan.

“Mas Fajar, emang kamu ngerti keliling Bandung?” Tanya Embun meremehkan.

Sambil menunggu jawaban Fajar, jemari Embun terus menari di atas layar datar ponselnya untuk mengupdate tempat di mana ia menikmati soto ayam paling nikmat sedunia. Bohong. Soto itu jadi soto paling wuenak karena ia menikmatinya bersama Fajar.

“Pak… nama warung soto ini apa ya?” Sambar Embun.

“Kamu tu kerjanya update melulu. Dapet apa, sih, dari update-an? Masalah Bandung, aku tau. Dulu aku suka hunting foto di Bandung, bareng sama Damar. Emangnya kamu, nggak pernah kemana-mana, wooo… ”

“Mas tau sendiri bapakku kayak gimana. I’m princess and you know about that. Ngerti ora? ” Sambil mengibaskan rambut Embun menatap Fajar yang menahan tawa.

Omaigat kuadrat!!!

Lagi-lagi bibir tipis itu melengkung, membentuk busur yang siap melepaskan panahnya ke jantung Embun. Aah… kalau begini ceritanya gimana Embun bisa tahaaaaann. Dalam hati, Embun yang sedang menikmati tetes terakhir es jeruknya berdoa sembari mengutuk manisnya senyum Bintang Fajar yang membuat degupan jantungnya tidak beraturan.

30 menit berselang, Damar, teman Fajar yang sejak tadi disebut-sebut namanya itu muncul. Tidak sendirian.

“Mar!!” Teriak Fajar memanggil temannya yang siang itu datang dengan motor nungging berwarna biru. Ih, kenapa mesti motor nungging, sih?
Wait!! Damar nggak sendirian, di tempat duduk penumpang terlihat wanita berambut pendek lurus berwarna hitam dengan kacamata anti ultraviolet serta tas ransel berwarna merah.

“Jar! Sebentar.” Balas Damar.

Sebenarnya ada sesuatu yang mengganggu pemandangan Fajar. Ia kembali memastikan wajah penumpang yang dibawa Damar. Wanita itu, berlari meninggalkan Damar dan melambai ke arah Bintang Fajar. Embun yang masih terkesima dengan motor yang dikendarai Damar, tidak terganggu dengan raut wajah Fajar yang perlahan berubah.

“Hai… Nilam.”

“Hai, Jar. Pacar kamu?” Balasnya sambil menawarkan telapak tangan yang begitu putih dan terlihat sangat lembut.

“Embun Awali Ramdhan. Panggil Embun aja. Mbaknya siapa?”

Embun yang sedikit risih dengan sikap agresif Nilam pun perlahan mulai menempel pada Fajar.

“Nilam Laksana Nugraha. Mantan pacar orang yang lagi sama kamu ini. Hahaha.”

Dan Bandung untuk Fajar… adalah luka.

To be continue

Advertisements

2 thoughts on “Sepasang Sepatu Merah Jambu (Part 8)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s