Menjual Kenangan

Sebatang demi sebatang ku hisap kenikmatan dunia yang tersisa dalam sebungkus kotak bergambar leher bolong ini. Jijik! Hari ini aku memutuskan untuk cuti setelah seminggu menyelenggarakan pameran di negeri ginseng, ah, bukan, negeri K-pop mungkin lebih tepat untuk menggambarkan betapa terkenalnya negara itu kini. Sambil memandang ke sekitar, tiba-tiba ku rasakan bajuku ditarik-tarik.

“Korannya om?” tawarnya.

“Ah, tidak.” Jawabku singkat.

“Kalau tidak suka koran, aku punya jualan lain. Kenangan.” anak kecil yang ku duga berusia 10 tahun ini mengangkat sebuah album foto lama yang terlihat berat beserta daftar harganya.

Jujur, sebagai seorang fotografer andal aku sangat tertarik dengan tawarannya. Aku pun mulai penasaran seperti apa isi album usang berwarna coklat itu. Ku ambil dan ku taruh di pangkuanku. Satu per satu ku buka, setiap halamannya dihiasi foto-foto profesional dengan kamera yang memang tidak berasal dari masa ini. Aku pun berhenti di tengah halamannya, aku menemukan foto hitam putih dengan seorang anak kecil yang terlihat sedang berjongkok di dalamnya.

Ku perhatikan dengan saksama wajahnya yang sedang memandangi sepotong kecil burger di atas pembungkus di pinggir tong sampah. Sepotong kecil yang tampak sangat nikmat. Sekali gigit ditambah lima tenggak air mineral rasanya dapat mengenyangkan perut anak itu untuk seharian bertempur menjual berita yang mulai basi di sore hari.

“Yang ini paling mahal.” Tunjuk anak berbaju kuning lusuh bercelana seragam sekolah dasar ini dengan berani. Ia tahu aku sangat tertarik dengan hal yang ia suguhkan di hadapanku, sial! Hahaha.

“Saya beli yang ini, kamu mau jual berapa?” Tantangku.

“Ehm… Sebenarnya saya tidak menjual  yang ini, khusus yang ini, karena ini yang paling berharga untuk Bapak saya.” Kata anak ini polos.

Setelah ku lihat lagi, wajahnya tak asing bagiku. Ia sangat mirip dengan pria yang mengangkat derajat kehidupanku dua puluh tahun yang lalu. Pria yang ia sebut bapak adalah orang yang memberikanku lebih dari sekadar makanan. Ia memberikan aku kehidupan. Masih ku ingat jelas pria paruh baya yang mengajariku bagaimana menangkap momen untuk menjadikannya sebuah kenangan. Apa yang terjadi padanya?

“Kalau kamu mau belajar dan bisa menangkap itu, itu dan itu dengan baik, aku rasa kamu tidak perlu menunggu makanan di dekat tong sampah lagi. Zaman semakin maju, sekarang berat bawa kamera, nanti aku rasa kamera akan semakin kecil ukurannya. Makin canggih.” Ingatku akan kata-katanya kala aku masih hidup layaknya pria kecil di depanku ini. Nasihat Bapak dulu, aku harus menangkap lah hal-hal yang baik, yang tidak baik buang saja ke tong sampah. Hanya itu.

“Kenangan yang baik dibawa, kenangan yang pait dan tidak mengenakkan buang saja! Ke tong sampah!” Tegas ia mengatakan pada aku yang berusia 8 tahun saat itu.

“Om kenal dengan Bapak saya?” tanya anak di depanku.

“Kenal. Kenal sekali. Sisa jualan kamu hari ini boleh saya beli semua? Kamu sekarang tinggal di mana? Dengan siapa?” tanyaku sambil menawarkannya sebotol minuman.

“Di mana saja, Bapak saya sudah tidak ada. Saya tinggal bersama tetangga saya. Dulu sebelum meninggalkan saya entah ke mana, Ibu bilang ini harta kesayangan Bapak. Jadi, kalau saya tidak punya uang saya bisa jual ini. Tapi, khusus foto yang ini tidak boleh dijual karena ini kesayangan Bapak, dulu. Kenapa om mau beli foto ini? Om kenal sama anak ini?” Kemudian ia menenggak hampir setengah isi botol air minum yang ku tawarkan. Ia tampak sangat kehausan di bawah terik matahari siang ini.

“Mirip nggak sama saya?” tanyaku dengan mata berkaca-kaca.

“Ah, nggak mungkin. Om ganteng gini. Anak ini pasti masih menjual koran seperti saya, paling-paling dia sekarang sudah jadi OB di kantor itu. Atau bisa jadi sudah jadi gembel atau… hahaha.” ia tertawa seraya melihat wajahku yang mulai basah dengan air mata.

Aku pun tersenyum.

Ia terdiam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s