Di Mana Senternya?

Sudah tahu ceroboh, aku masih saja sembarangan meletakkan barang. Sudah tahu takut gelap, aku masih saja tidak tepat waktu membayar listrik. Tapi, seingatku pulsanya baru saja diisi kemarin. Lalu apa yang salah?

Kalau sudah begini kejadiannya lalu panik sendiri. Daya di telepon genggam pun menunjukkan warna merah.

Tidak ada harapan!

Satu-satunya yang bisa ku lakukan adalah berteriak minta tolong. Padahal hari ini semua orang pergi. Lalu siapa yang akan menolongku?

Satu per satu bulir air jatuh membasahi pipiku. Aku cuma bisa berusaha kembali berteriak meminta tolong. Masalahnya aku tidak tahu, apakah ini pemadaman listrik sekomplek atau hanya rumahku yang tidak nyala listriknya.
PLAAAAK!

“AAAAAAAAAAAA……. ”

Suara apa barusan? Ku raba kakiku yang terkena benda tadi. Sakit, kaget, takut! Dengan setengah mati ku raih benda tersebut dan…

KLIK

Seketika aku melihat terang.

“Ah… ” ku lihat foto ayah yang terkena cahaya tepat di atas kepalaku. “Thanks dad! You’re all i need. You’re always be my flashlight.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari http://www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s