Aku Seekor Ikan

Senja diufuk barat mulai meremang perlahan. Turun dan tenggelam.

Aku, seekor ikan di malam-malam. Bercerita pada bintang. Aku menatap langit malam dan berbicara bagai sesenti jarak atara muka.

“Langit malam, bisakah aku terbang?”

Seekor ikan pun diam.

Diam-diam dalam hatinya, ia ingin terbang. Setiap senja, ia melihat kawanan burung terbang melintasi danau tempat ia tinggal. Cantik.

Keinginannya bermula saat salah satu dari kawanan burung itu menghampirinya, ia tersipu. Seekor burung mulai menyapanya, menceritakan bagaimana rasanya terbang diangkasa. Satu hari, dua hari, semakin sering seekor burung menemuinya.

Tanpa terasa dimulailah drama di mana ikan ingin terbang bersamanya. Burung pun Ingin berenang bersama.

“Dalam kawananku, harus selalu berpasangan. Kenapa kau harus lah seekor ikan dan aku seekor burung?,” kata burung itu sambil sesekali mencelupkan kepalanya untuk menggoda sang ikan.

Ikan yang mulai menyukai burung menjadi temannya berkeinginan untuk memiliki sayap serupa. Ia menyayangkan siripnya yang indah.

“Ini indah, tapi aku tak bisa terbang bersamanya,” kata ikan sembari melambai pada burung yang harus kembali dalam kawanannya.

Burung adalah satu-satunya yang pernah ia temui dan dapat berbagi khayalan satu sama lain. Ikan lain hanya menganggapnya bodoh dan tidak masuk akal jika ingin terbang dan bersatu dengan burung.

“Mereka hidup diudara! Kita di air, tak semestinya kau berpikir sejauh itu! Apalagi ia telah memiliki pasangan untuk terbang. Mau ditaruh di mana kau? Paling-paling dalam mulutnya, lalu dimakan!”

Itulah seruan yang sering ia terima ketika ia mengatakan ingin terbang bersama burung.

Sang ikan pun akhirnya menepi untuk menepati janjinya bertemu bersama burung. Berhari-hari burung terus menemani ikan dipinggir kolam.

“Aku rindu terbang,” serunya. “Aku harus mencari makan melintasi kota, jika aku tinggal sebentar apa kau akan baik-baik saja?”

“Ya, aku janji. Kita bertemu lagi disini. Senja dan pinggir danau ini. Aku akan menunggumu,” ucap seekor ikan pada burung.

Kepala mereka beradu, inilah satu-satunya cara menunjukkan pertautan hati. Walau terbatas namun tetap saja mereka saling bersama. Sesekali memang burung harus pergi dan menemani kawanannya yang terbang mencari makan. Ya, sekumpulan burung yang harus terbang berpasangan.

Walau terkadang ikan bersedih karena harus ditinggal pergi oleh seekor burung, ia tetap setia menantinya. Ketika senja datang, kerap kali ikan akan berenang dengan lincahnya. Ia terlalu semangat sampai kadang badannya tergores batang atau tanaman di dalam danau. Tapi, ia gembira. Dan seekor burung pun pasti akan berkata-kata lucu untuk menghibur ikan yang terluka.

Ikan semakin mencintainya. Mereka saling membahagiakan. Burung pun jatuh cinta.

“Bisakah kita bersama?” tanya burung pada ikan. “Aku bisa membawamu terbang jika kau mau,”

“Tapi aku bisa mati jika keluar dari kolam ini, mengapa tidak kau saja yang tinggal bersamaku di danau?”

“Aku rasa itu tidak mungkin, aku mungkin bisa bertahan beberapa saat tetapi tetap saja aku harus kembali pada kelompokku,” burung kembali bersedih.


Langit mulai gelap, suara penghuni pinggir danau semakin membuat ikan yang sedang berfikir merasakan kegalauan.

Tiba-tiba dalam lamunannya, seekor katak datang menghampiri.

“Ada apa ikan?”

“Aku ingin terbang,” kata ikan.

Lalu percakapan mereka pun menemukan solusi. Katak menyampaikan pada ikan tentang keajaiban embun pagi setelah hujan. Hujan selalu menyisakan keajaiban yang dibawa embun. Ikan tidak pernah tahu akan hal itu. Katak berkata padanya jika ia meminta permintaan apapun akan terkabul, tetapi tetap saja, semua permintaan akan ada risikonya. Yaitu luka.

Ikan yang melihat secercah harap agar bisa bersama burung pun tak lagi muram. Ia pulang dan tidur, menanti datangnya pagi untuk berbicara pada embun akan permintaannya.


Pagi-pagi benar ikan terjaga. Berenang secepat mungkin berlomba dengan datangnya mentari. Pagi ini tidak seperti biasanya. Ia memang selalu menyapa tuan matahari, tapi kali ini ia datang untuk menemui ibu embun pagi hari.

“Embun… Embun..!,” serunya kegirangan, “Aku ingin terbang!”

Embun yang masih sibuk membantu dedauan pagi itu tersentak kaget. Ya, setiap pagi, selain cahaya matahari, embun pun sibuk membangunkan dan menyegarkan dedaunan agar manusia dapat menghirup udara segar.

“Untuk terbang tak hanya butuh sayap, juga persediaan oksigen. Sistem pernafasan kalian berbeda,” jelas embun sembari menghampiri ikan yang tersenyum lebar pagi itu.

Warna jingga si ikan mulai terpancar kala sinar matahari terpantul melalui tubuh mungilnya. Ikan jingga mulai bertanya mengenai terbang, karena ia tahu embun jatuh dari langit dengan menggunakan sayap khayalan. Ya, sayap khayalan yang abadi dan membawa mereka turun ke bumi secara perlahan. Tidak tiba-tiba lalu mati karena terjatuh. Tak banyak yang tahu kalau embun bisa terbang.

Kemudian embun menjelaskan satu-satu apa yang harus dilakukan ikan pada saat ia terbang, namun tetap saja embun tak yakin ikan mau menerima konsekuensi dari semuanya. Perlahan siripnya yang berfungsi sebagai sayap akan robek. Semakin lama ia terbang semakin robek siripnya jika ia kembali ke danau.

Ikan mulai ragu. Tapi ia menyanggupinya.

Selepas itu ikan kegirangan dengan mengepak-ngepakkan siripnya bagai burung ia pulang ke rumahnya. Diam-diam, banyak ikan dalam danau itu yang tak setuju akan permainannya. Ia dianggap gila dan menentang kenyataan. Namun ikan tahu apa yang ia perbuat. Ini karena cintanya pada senja dan burung putih.

Sore datang lagi, ikan berenang ke tepi danau. Tepat disana terlihat bayangan putih menantinya dengan kepak sayap melebar. Ya, cintanya datang. Burung putih itu membawakan cerita dan lelucon baru untuk ikan. Ia juga berbagi kesedihannya. Ikan tak mau kalah dan menceritakan perjuangannya.

“Benarkah kau akan terbang bersamaku?” tanya burung bahagia.

“Ya, kita akan terbang bersama,” ikan menimpali.

“Aku senang, maaf aku tak bisa menemanimu beberapa hari ini di tepi danau. Aku menghadapi banyak masalah bersama pasangan terbangku. Mereka menyuruhku untuk membuatnya bertelur secepatnya, padahal aku masih ingin bersamamu. Tapi mereka takut musim bertelur akan lewat, sehingga haru menunggu 2 musim lagi,”

Ikan terdiam. Bisakah posisi itu ia gantikan? Mengapa ia tak bisa terbang? Mengapa ia harus bertelur didalam air dan burung putih harus bertelur diatas sarang? Mengapa ia berwarna jingga dan burung putih harus berwarna putih? Tak bisakah mereka bersama-sama?

Seringnya burung putih membawakan kebahagiaan pada ikan jingga selalu membuatnya terkesima. Burung putih yang selalu menyelamatkannya dari gangguan nyamuk-nyamuk kala malam dengan kibasan sayapnya. Burung putih yang selalu menari dan berdendang kala malam menghantuinya. Burung putih lah yang menghampirinya kala ia terdiam di tepi danau tanpa ada yang tahu. Burung putih itulah yang mengatakan ia pun mencintai senja dan memberanikan kepalanya tercelup-celup ke air hanya untuk memberikan kasih sayang pada ikan. Menahan nafas memang, namun ia sayang. Diam-diam pergi dari kawanan dan harus dimarahi ketika ketahuan terbang sendiri.

Bagi ikan jingga semua itu berarti. Ia tak pernah disayangi sampai seperti itu. Ia tak pernah dimengerti sampai tingkat khayalan tertinggi selain bersamanya. Ia tak pernah tertawa lepas sebelum ia bertemu burung putih, tapi mengapa ia haruslah seekor burung putih.


Pagi datang lagi. Ikan jingga dan burung putih sudah berdiri di tepi danau bersama menuggu embun yang akan memberikan magis pada cinta mereka.

Embun datang. Jantung kedua makhluk ciptaan Tuhan ini semakin berdegup kencang. Mereka dapat bersama. Itu yang mereka inginkan. Embun datang membawa sebuah kantong kecil berisi embun murni yang dapat membuat sirip ikan menjadi sayap dan ia dapat terbang serta bernafas di darat.

“Sekali lagi, terlalu banyak. Apakah kau yakin?” tanya embun padanya.

“Ya, aku yakin. Aku ingin melihat dunia bersamanya.”

Burung putih tahu risiko apa yang akan ditanggung oleh ikan jingga jika melakukan hal itu. Namun ia diam, ia ingin juga membahagiakan ikan dan menikmati hari bersamanya, padahal ini salah.

Wuzz..

Seketika ikan menutup mata karena silau akan cahaya dari dalam kantung tersebut. Embun murni itu tidak dapat bekerja sendiri, ia memerlukan ekstrak sinar matahari untuk membuatnya bertahan, berarti tak bisa ikan terbang melayang jika malam datang.

“Senja akan memisahkan kalian,” kata embun pada mereka setelah menebarkan embun murnipada ikan jingga.

Tiba-tiba saja ikan jingga terangkat dari dalam danau. Burung putih menangkapnya lalu memeluknya erat. Inilah pertautan antar sayap dan sirip mereka pertama kali setelah sekian lama. Tak pernah ikan jinggamenyangka ia dapat memeluk tubuh hangat burung putih. Dan tak pernah terbayangkan oleh burung putih kalau ikan jingga akan menemaninya terbang. Ini diam-diam menjadi doanya setiap malam pada Sang Maha.

Hari itu, khusus untuk hari itu, burung putih pergi meninggalkan kawanannya. Ia ingin diam berdua bersama kesayangannya. Pertama-tama burung putih menggendong ikanjingga karena ikan kecil itu terlihat ketakutan. Baru kali ini ia pergi jauh meninggalkan teman-temannya di danau sana. Untuk pertama kalinya ia melihat danau, dunianya, begitu cantik dari ketinggian. Ia melihat luasnya ladang hijau, ia melihat rumah-rumah tua hunian manusia yang membuatnya berdecak kagum.

Ia memeluk erat-erat leher burung putih. Ia takut jatuh karena masih belum mahir benar menggunakan siripnya sebagai sayap.

“Bagaimana? Indah kan? Ayo coba kepakkan siripmu, ” ajak burung putih pada ikan yang sedari tadi hanya diam dan menikmati keindahan.

Perlahan tapi pasti burung putih itu melepaskan ikan untuk belajar terbang bersamanya. Mereka mengitari kota siang itu. Berjam-jam terbang membuat ikan jingga kelelahan, mereka berhenti disebuah pohon yang menghadap ke tengah kota.

“Kota ini semakin ramai, ikan. Dulu tidak seperti ini keadaannya. Aku seringkali memperhatikan perubahan demi perubahan dari kota ini, semakin jahat saja. Dulu aku pernah terbawa ke dalamnya, namun aku segera pergi dan tak mau seperti itu lagi,” cerita burung putih sembari menyelimuti ikan dengan sayapnya.

“Lalu, bagaimana manusia menjalani hari dengan setiap kejahatan disekitar mereka?” tanya ikan sederhana pada burung putih.

“Mereka berdoa. Itu yang sering ku lihat, banyak cara mereka berdoa. Bersujud, bernyanyi, bahkan menangis. Sama seperti ketika aku meminta pada Sang Maha akan kebersamaanku denganmu. Ikan… ” burung putih sejenak menahan pernyataannya.

“Ya? Ada apa?” ikan melihat ke arah mata burung putih itu.

“Kamu spesial, jangan pernah bersedih karena tak dapat terbang bersamaku. Kita bisa saling bertemu, lewat doa pada Sang Maha. Aku akan terus ada disampingmu. Demi Sang Maha aku mencintaimu,” ucap burung putih singkat dan kemudian mereka saling menautkan kepala.

Ya. Hanya seperti itu caranya. Doa seperti manusia dapat membuat mereka masih saling bercinta.

Tak terasa waktu tertelan juga oleh daya tarik bumi yang membuatnya menjadi malam, ikan mulai lemas. Segera burung membawa ikan jingga kembali ke danau.

“Selamat tinggal. Besok aku tak dapat mengunjungimu aku harus pergi jauh bersama kawananku dan pasanganku, sehat-sehat. Tunggu aku,” pesa burung selalu setiap kali mereka akan berpisah.

Ikan jingga hanya tersenyum bahagia. Ia sangat mencintai senja sore itu kala mereka duduk berdua diatas pohon bercerita tentang kehidupan dunia. Namun, ketika cahaya redup, redup pula kebahagiaan mereka, mereka harus berpisah kembali.

Ketika ia kembali ke danau, ia merasakan perih pada siripnya. Seperti terbakar. Perlahan ia melihat sedikit demi sedikit siripnya seperti tersisir oleh cahaya bulan. Sakit, perih, ikan menangis. Tetapi segera sesaat perih itu tak terasa lagi. Namun ia menyayangkan siripnya yang terluka.


Setelah sekian lama mereka berpetualang dengan cinta berbeda dunia, tibalah kekacauan dalam hati dan pikiran keduanya.

Mendadak bumi bekerjasama dengan Sang Maha, kenyataan harus ditegakkan. Satu hari, dua hari, seminggu sudah burung tak datang lagi padanya. Ia cemas tak dapat melihat burung putih melayang-layang diatas danaunya. Perasaannya mulai terganggu kala ia menghitung waktu bahwa itu adalah musim burung-burung putih bertelur. Ia merasakan kesesakan dalam hatinya. Ia memutuskan untuk menemui embun pagi kembali, ia sangat ingin bertemu dengan burung putih.

Malam itu ikan jingga tidak pulang ke huniannya. Ia tidak pulang kebawah teratai lebar tempat ia menikmati hari-harinya. Perasaannya dirundung rindu. Akhirnya, ketika semua penghuni danau tertidur, ia memutuskan untuk pergi ketepi danau menunggu pagi datang. Ia tak mau membuang waktunya untuk bertemu embun dan segera terbang mencari burung putih.

Tak lama berselang, pagi datang seakan membantu ikan jingga untuk segera bertemu embun. Terkantuk-kantuk ikan kecil yang lincah itu menyambangi embun disebuah pohon.

“Aku ingin terbang lagi,” rengeknya.

Embun yang sedang sibuk karena kesiangan untuk membantu menyegarkan dunia pun berhenti sejenak dan melotot pada ikan jingga itu. Ia tak habis pikir kenapa ikan jingga ini masih saja keras kepala, itu hanya akan melukai dirinya sendiri. Ia tak suka melihat ikan kecil itu terluka. Untuk penyembuhan sebelumnya saja masih belum sempurna.

“Apa kau yakin? Ini menyakitkan sayang.” ucap embun lembut namun tegas.

“Ya, aku cemas bagaimana keadaannya sekarang.”

Tak lama, cinta yang ditunggu datang juga, burung putih datang menyambangi danau ikan jingga. Ikan jingga pun tersentak, Antara senang, kesal, cemas, rindu. Semua menyatu. Ia merengut.

“Maaf,” ujar burung putih membujuknya.

“Mengapa menghilang? Kamu tidak tahu apa yang aku pikirkan. Sudah tahu aku cemas, aku rindu, aku kesal!” ikan jingga mulai berkaca-kaca.

Dipeluknya erat kepala burung putih yang menunduk menuju kepalanya di air. Ia mulai menangis dalam pelukannya. Burung pun perlahan menjelaskan bahwa mereka sebaiknya tidak bersama lagi. Ini semua ia lakukan karena ia menyayangi ikan jingga, ia tak mau ikan kecil itu terus terluka. Burung pun menyadari ia tidak dapat terus menerus menemui ikan jingga dipinggir danau. Kenyataan menghantamnya saat ia terbang.

“Aku tahu ini sakit, tapi aku lebih sakit melihat siripmu terluka hanya untuk bersamaku, kita hidup di dua dunia berbeda. Aku pun harus terbang melintasi kota-kota bersama pasangan dan kelompokku. Bagaimana aku bisa melihat kau terus terluka jika menungguku? Aku memang tak pantas, aku pun sakit, tapi akan lebih sakit jika aku memaksakan ini semua. Kau tahu, aku menyayangimu. Aku mau kau bahagia, tapi mungkin bukan denganku, aku burung kau ikan, akan terus begini sakitnya jika kita tak saling meninggalkan,” panjang lebar burung putih itu menjelaskan semua isi hatinya.

Selama ini diam-diam burung putih mengetahui risiko apa yang akan diterima ikan jingga jika terus menerus ia memakai embun murni untuk terbang bersamanya. Namun, ia pun tak dapat menyelam ke dalam air demi bersama ikan jingga. Tak ada yang bisa ia lakukan. Ya, dua dunia berbeda, kenyataan kedua ciptaan Tuhan ini tak diciptakan untuk hidup dalam habitat yang sama.

Ikan jingga perlahan menepis sayap burung putih. Campur aduk hatinya. Meletup-letup rasanya. Matanya semakin basah di dalam danau itu. Ia masih tidak percaya apa yang dikatakan oleh burung putih. Antara bahagia hatinya karena rasa sayang burung putih itu padanya, namun bagaimana bisa dia meninggalkan cintanya pada burung putih itu.

Teringat kembali dia akan kenyataan, ya, inilah kenyataan. Ia adalah seekor ikan jingga di dalam sebuah danau, sedangkan yang ia cinta dan mencintainya adalah sekor burung yang hidup berpasang-pasangan dalam sebuah kelompok tinggi di angkasa. Ia hidup di bawah sedangkan burung putih itu tak dapat menyelam. Jika ia menemaninya terbang, ia yang akan mati karena tak mampu hidup di atas. Cara bernafas mereka berbeda. Cara makan dan cara hidup mereka berbeda, tak bisa disamakan apalagi disatukan. Inilah kemenangan kenyataan atas kedua cinta makhluk ciptaan Tuhan itu.

Melawan kenyataan namanya jika ikan pergi ke alam burung putih itu, ia akan mati. Jika burung itu meninggalkan kawanannya dan pergi bersama ikan itu, burung putih pun akan mati. Mereka saling menyayangi, mereka saling mencintai. Namun ada konsekuensi di dalam cinta mereka. Ikan terus mencintai burung putih itu, dalam satu periode. Demikian juga burung putih melakukan hal yang sama, walau kini ia harus pergi meninggalkan ikan dan hidup bersama pasangan dan kawanannya, terbang.

Berpisah. Inilah yang yang harus mereka hadapi. Ikan jingga perlahan berenang menjauh. Tak dihiraukannya apa yang burung putih katakan padanya. Bukan, bukan ia membenci burung putih itu, namun tersentak hatinya. Bingung adalah kata yang tepat menggambarkan perasaan ikan jingga saat itu, beberapa kali sempat memang menyadari kenyataan memang tak bisa dilawan, tetapi rasa cinta keduanya masih sangat kuat mengikat.

Ikan jingga menangis. Sudah, ia tak dapat berfikir mengenai cinta lagi. Yang ia tahu, kenyataan mengalahkan segalanya. Siapa yang akan disalahkan?

Siapa yang mau dijadikan kambing hitam dalam hubungan keduanya. Salah cintanya? Salah burung putih karena pikiran bahwa ia tak mencintai ikan jingga lagi? Salah kenyataan menciptakan mereka berbeda? Atau siapa, apa, dan mengapa harus ada yang dipersalahkan? Mengapa harus banyak yang disakiti? Diri sendiri sudah cukup sadar diri. Ini hanya akan berakhir menyakitkan untuk keduanya jika dilanjutkan.

Ikan menghilang ke dalam sudut gelap danau. Burung putih masih terdiam di pinggir kolam. Ikan kecil bersembunyi di balik tanaman dalam danau. Ia menjerit, tetapi hanya buih-buih yang melayang ke atas. Pecah satu-satu tanpa suara ke udara.

Perpisahan itu terus disesali burung putih. Terpatri dalam hatinya untuk terbang berputar 3 kali setiap kali melintasi danau itu sebagai tanda dia masih mencintai ikan jingga itu. Namun, mereka tak bisa bersatu.

Ia akan terus berputar 3 kali diatas danau itu. Entah sampai kapan ia mampu melakukannya. Ikan jingga pun berjanji dalam hati, tanpa diminta, buih-buih akan mengirimkan doa yang diucap dari dalam hati dan danau, pada udara, agar ketika pecah gelembung buih itu menyatu dia dengan udara yang selalu dihirup oleh burung putih.

Berdamailah dengan kenyataan. Mungkin ini lebih baik daripada tenggelam karena luka pada sayap khayalan. Aku seekor ikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s