Terjebak Jakarta

Kisah ini tentang Alea. Perempuan muda, pengejar karir, pencapai prestasi, dikelilingi cinta dan tak lupa, kesempurnaan menyelimuti tubuhnya. Ia adalah wanita muda yang dinamis, bahkan tak ayal membuat air liur jatuh dari mulut pria-pria klimis.

“Aaah!!! Prolog macam apa yang barusan ku buat? “, ujar Ladya setengah membanting laptop peninggalan kakaknya.
Ia pun kembali menghapus deretan kata yang baru sebentar menghiasi layar putih di depannya, mengusap-usap hidungnya, mendorong kacamatanya pada posisi yang seharusnya, menggenggam mouse berwarna pink pudar yang kembali ia geser sembarangan ke kanan dan ke kiri di atas mouse pad hitam miliknya sambil mengangkat sebelah kakinya yang berguna untuk penopang dagu (dan mungkin kepalanya) yang sudah mulai lelah berpikir.

Lima menit terakhir ia kembali memutar-mutar “tikus” miliknya, inspirasi tak juga datang menghampirinya. Sudah segala cara ia lakukan untuk mencari inspirasi. Semua lagu galau sudah ia dengarkan untuk membangun mood yang ia inginkan. Mulai dari yang bergendre jazz hingga sedikit metal. Tak juga ia dapatkan sepenggal kata untuk menggambarkan kesedihan seorang wanita Jakarta yang ditinggal mati kekasihnya.

Alasannya cuma satu, Ladya sedang jatuh cinta. Dan menurut teori bagaimana mungkin seorang perempuan yang sedang dipenuhi endorfin bisa menuliskan kisah ratap tangis seseorang yang ditinggal mati kekasihnya dan berakhir pada kutukan pada Jakarta.

Ladya pun kembali melamun.

Ia sesap sedikit kopi yang kenyataannya memang hanya tinggal setetes. Bukannya kopi di dalam toples habis, Ladya hanya malas mengisinya kembali ke dalam gelas.

Perihal membuat kopi (lagi) itu membuat tubuh gempalnya harus bangkit dari lantai hangat berkarpet Spongebob, berjalan sekitar tiga meter, mengambil sendok kecil untuk menuang kopi dan gula ditambah lagi berjinjit untuk mengambil krim dan berdiri 1 menit untuk menyeduhnya dengan air panas, kemudian akhirnya kembali ke tempat duduknya semula. Menurut teori Ladya, hal itu akan menghilangkan minatnya untuk menulis (lagi). Ia akan kehilangan posisi terbaiknya saat ia mendapatkan inspirasi. Tapi, ia hanya malas. Toh, sampai saat ini ia belum menemukan judul yang tepat untuk novel ketiganya. Ladya memiliki teori, judul yang baik akan menciptakan hasil yang terbaik pula.

Kali ini, Ladya kembali membuka mesin pencari yang kata orang dapat memberimu jawaban atas setiap pertanyaan yang diajukan.

Googling!“, Ladya berujar.

Ia mulai memasukkan kata pengkhianat, cemburu, dan luka. Beberapa blog, berita bahkan lirik lagu tentang pengkhianatan cinta mulai muncul.

“Ohh!! Apa yang harus ku lakukan dengan artikel ini? Aku sedang jatuh cinta!!!”, rengeknya sambil menjatuhkan kepalanya ke kasur. Kini ia menatap langit-langit. Ia mulai menutup matanya. Dan tertidur.

Satu jam.

Dua jam.

Pukul 3 dini hari. Ladya tersentak karena materi awal yang seharusnya ia selesaikan malam ini tak kunjung berawal.

Ia terjebak janji pukul 09. 00 pagi. Ia terjebak akan kata-katanya sendiri. Ia sedang jatuh cinta pada Jakarta yang kembali menuntunnya pada cinta.

Ia menutup kertas digital pertama dan membuka kembali dengan lembar yang baru. Tanda ia kini yakin mampu.

Terjebak Jakarta…|

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s