Is It True, “It’s a woman that makes a man who he is” ?

Pertama-tama, saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan. Apa yang ada di kepala kalian ketika membaca cerita di bawah ini?

One night President Obama and his wife Michelle decided to do something out of routine and go for a casual dinner at a restaurant that wasn’t too luxurious. 

When they were seated, the owner of the restaurant asked the President’s secret service if he could please speak to the First Lady in private. They obliged and Michelle had a conversation with the owner.

Following this conversation, President Obama asked Michelle, “Why was he so interested in talking to you?“ She mentioned that in her teenage years, he had been madly in love with her. 

President Obama then said, “So if you had married him, you would now be the owner of this lovely restaurant?” Michelle responded, “No, if I had married him, he would now be the President Of The US.”

Believe it or not, sometimes it’s a woman that makes a man who he is!


Suatu hari di bangku SMA saya ditanya oleh seorang guru, “Ninta, cita-citamu apa?”

Entah kenapa satu-satunya cita-cita yang terlintas di kepala saya adalah menjadi ibu rumah tangga yang baik. Yeah, you can say anything about it. Kemudian guru saya kembali bertanya, “Ibu rumah tangga yang baik seperti apa?”.

Saya kembali menjawab dengan mengatakan bahwa saya akan menjadi istri yang bisa mendukung kesuksesan suami saya, saya bisa menjadi asisten manajerial di rumah saya, saya bisa menjadi ibu yang mendukung potensi yang dimiliki anak saya. Saat itu, saya belum bisa menjawab selengkap ini, tetapi saya ingat benar ketika saya menjawabnya saya hampir mengeluarkan air mata. Karena rasanya impian saya terlalu bodoh.

Saya berpikir, apa yang salah dengan menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga. Hal ini terlintas karena saya mengenal dua sosok ibu yang menjadi panutan saya. Salah satunya tentu ibu saya sendiri, ibu yang lain adalah ibu dari sahabat saya yang sudah hampir seperti ibu saya sendiri. Saya melihat bagaimana kehebatan kedua wanita ini.

Ibu teman saya. Dia adalah ibu rumah tangga, tetapi dia juga aktif mengikuti kegiatan sosial, ia juga salah seorang pengurus di sebuah lembaga, ia juga sigap mengantar anak-anaknya pergi kemana pun mereka harus pergi. Saat menginap di rumah mereka, saya juga melihat bagaimana sang ibu tidak lepas berdoa dan beribadah. Ibuku dan ibunya memiliki kesamaan, pasangan mereka sama-sama orang yang keras kepala. Ya, ayah kami.

Hal-hal yang saya lihat sepanjang hidup saya itulah yang mendorong saya untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik. Asisten sekaligus manajer yang baik untuk mendorong suami saya kelak mengeluarkan segala potensi yang ada dalam dirinya. Menjadi tim sukses untuk anak saya dan menjadi teman yang luar biasa bagi lingkungan dan orang-orang dalam hidup saya sendiri.

Mudah? No! It will be hard.

Saya sudah pernah mengalami hal ini. Suatu waktu saya diizinkan menjadi seorang pendamping untuk seseorang yang saya tahu dia sangat luar biasa. Kami berpasangan selama beberapa tahun.

Saat itu, kami berkuliah dan mengambil jurusan yang berbeda. Saya ekonomi dan dia tekhnik. Kami menjalin relasi sejak SMA. Saat itu, sebenarnya dia sudah diterima di salah satu universitas ternama di Surabaya. Dengan segala nilau dan kemampuan finansial yang memadai, sebenarnya dia cukup bisa memilih di mana ia akan berkuliah. Beda dengan saya. Saya bahkan tidak berani mencoba tes diberbagai universitas karena dana yang tidak cukup. Saya hanya bisa mengikuti 1 kali tes dan itu harus lulus.

Saya lulus, diterima di Bandung. Kami sudah mempersiapkan diri untuk berhubungan jarak jauh. Beragam perjanjian kami susun. Nyatanya, ia tidak mau menjalaninya. Katanya, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk masuk di universitas ternama (juga) di Bandung. Setiap hari kami hanya beberapa kali berkomunikasi. Setiap hari ia menghabiskan waktunya untuk belajar. Satu pesan yang saya ingat, “Saya belajar mati-matian demi kamu. Demi kita bisa sama-sama di satu kota.” Nyatanya, Tuhan mengabulkan.
Tidak sia-sia perhatian, ruang dan waktu yang saya berikan untuk dia. Dia semangat meraih mimpinya juga.

Saat itu, kami melalui hari-hari yang luar biasa. Saya di kampus saya dan dia di kampusnya. Kami jarang bertemu. Bisa jadi 2 kali seminggu paling banyak atau bahkan 1 kali seminggu. Jika sibuk, kami cukup bertemu 2 kali sebulan saat gereja. Setelah itu, kami berpisah kembali. Jarak tempat tinggal kami cukup jauh. Semakin menuju tingkat akhir, ia semakin sibuk. Sempat saya ngedumel, “Saya diduakan sama pelajaran-pelajarannya.” Tetapi, mengingat tujuan kami saat itu, saya kembali pasrah dan melapangkan dada serta terus mendukung dia dalam doa dan daya.

Pada semester akhir, dia menceritakan tentang sebuah lomba rancang pabrik yang diikuti oleh senior-seniornya di kampus. Lantas, saya bilang kenapa dia tidak ikut saja di semester depan. Dia tidak berpikir ke sana karena yang ikut dalam lomba tersebut adalah orang-orang yang dikenal pintar dan selalu menjadi rangking besar di angkatannya. Aku lupa saat itu dia peringkat berapa, tapi kemampuannya cukup bisa diperhitungkan. Namun, saya terus memotivasi, membantu dan mendorong dia untuk percaya diri mengkuti lomba tersebut. Saya harap, benar saya yang membuatnya seperti itu.

Tiba-tiba dia datang membawa kabar bahwa dia mendaftarkan diri dan masuk dalam proyek B. After all, dia jadi tidak acuh pada saya. Banyak waktu yang kami korbankan. Namun, dia bilang, “Kalau saya juara 1, nanti kamu saya belikan BB ya. ”

Singkatnya, dia menjuarai perlombaan tersebut. Walau akhirnya hadiah yang ia terima tidak bisa membeli sebuah hp, tapi saya sangat bangga melihat prestasi yang ia hasilkan. Saya bangga akan hasil jerih lelahnya dan waktu yang kami korbankan. Dan rasanya, ketika dukungan itu diberikan 100% ditambah dengan doa, rasanya yang tak mungkin jadi mungkin.

Sekarang, kami sudah berpisah. Dan dia menjadi seorang pegawai di Pertamina.

Ya, ini sedikit cerita tentang dia. Lalu, aku bagaimana? Aku masih menunggu seseorang yang dapat aku dukung (kembali) untuk melejit seperti saat aku mendukung dia. Seseorang yang juga bisa mendukung dan mau bersama-sama mewujudkan impian-impian kami.

Beberapa waktu yang lalu, saya menyaksikan video pasangan sejati yang ditinggalkan oleh suaminya. Ada istri dari alm. Sopan Sofyan dan Frans Tumbuan dan istri alm. Chrisye. Dari ketiganya, yang menarik hati saya justru cerita istri alm. Chrisye.

Saat itu, ia bercerita bagaimana awalnya ia bertemu dan menikah dengan penyanyi legendaris ini. “Saat meminta, Chrisye bilang dirinya butuh pendamping. Maukah kamu menjadi pendamping saya seumur hidup?”

Ia tidak meminta Yanti menjadi istrinya (saja). Kenapa pendamping? Karena ia sadar betul bahwa dirinya butuh seseorang yang tidak akan pernah meninggalkan dia dan selalu percaya pada apa yang ia kerjakan untuk mereka berdua. Tidak menuntut apalagi merengek. Tidak hanya mencintai tapi juga mendampingi dan menjadi penolong saat dia tidak bisa melakukan apa-apa dengan hidupnya. Pendamping yang akan selalu menuntun dirinya, yang memberikan ketenangan dan rasa aman. Rasa aman.

Untuk orang-orang seperti ini, dibutuhkan wanita bermental baja. Yang tidak cengeng apalagi rewel dengan keadaan. Yanti pernah bercerita bahwa saat bekerja, Chrisye bahkan tidak mau siapapun ada di studionya, termasuk istrinya. Kalau istrinya merasa tidak dihargai dengan hal ini, mungkin Chrisye tidak berkarya sebaik kita mengenal prestasi-prestasinya.

Nah, suatu waktu Chrisye merasa tidak yakin dan tidak mampu pada apa yang ia lakukan di studio. Ia memanggil Yanti ke studionya, menyuruhnya duduk di sana menemaninya dan memintanya melantunkan doa sepanjang ia bekerja. Di titik terendahnya, Chrisye tau siapa yang dapat ia andalkan.

Pesan yang saya dapat untuk diri saya sendiri dan siapa pun yang membaca, menjadi seorang perempuan yang utuh bukan hanya perihal menjadi ibu rumah tangga atau wanita bekerja. Bukan juga punya anak lama atau segera. Bukan sekadar bangga akan harta dan jabatan yang dimiliki oleh Anda atau suami.

Tetapi bagaimana hidupmu dapat menjadi “sesuatu yang berharga” untuk orang lain. Bagaimana hidupmu membawa dampak untuk (calon) suami dan keluargamu kelak. Bagaimana pengetahuan yang kamu miliki dapat menciptakan sikap dan tutur kata yang santun yang akan dikeluarkan oleh anak-anakmu yang dapat dengan baik diterima oleh orang lain. Bagaimana di saat terpuruk, justru kamu menjadi orang yang dapat diandalkan oleh pasanganmu. Bagaimana imanmu dapat membangkitkan iman orang lain di sekitar mu.

Dan saya percaya bahwa kesuksesan pasangan Anda, turut dipengaruhi oleh bagaimana Anda bersikap dan memperlakukan hubungan yang sedang dibina saat ini. Salut untuk para istri. Salut untuk para wanita. 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Is It True, “It’s a woman that makes a man who he is” ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s