What Are Words

Beberapa saat terakhir, hal ini benar-benar mengganggu pikiranku.  Dan akibatnya di tengah kesibukan yang membuat mata cukup lelah, aku selalu “gemas” dan bertanya kapan aku punya waktu untuk menulis kegelisahan ini.

Lagi-lagi tentang cinta. Lagi-lagi ini tentang lagu cinta. Di tengah kerinduanku untuk menulis cerita fiksi, ada hal yang ingin aku bagikan. Mungkin juga bisa menjadi perenungan atau bahkan pertanyaan.

Sedikit curhat, menginjak usia seperempat abad lebih satu tahun tanpa seorang pendamping membuat beberapa teman dan keluarga mulai bertanya-tanya. Tentunya, pertanyaan “Kapan menikah?” sudah serupa koda tiga kali, bahkan mungkin lebih. Bukan tidak memikirkan, tapi ada hal-hal lain yang menurutku masih menjadi misteri. Di samping tentunya si pasangan yang juga masih misterius.

Menikah atau pernikahan menurutku adalah sebuah hal besar yang tentu harus dipikirkan secara matang. Ibarat belanja di toko, barang yang sudah dibeli TIDAK DAPAT DITUKAR kembali. That’s not easy.
Dalam sebuah pernikahan terdapat janji atau komitmen untuk setia sampai mati. Dalam susah senang. Dalam sehat maupun sakit.

Di sini aku mengajak kalian berpikir, siapkah kalian mengikatkan kehidupan kalian, mengikatkan kehidupan kita, pada kehidupan orang lain? Bahkan sampai maut memisahkan? You’ll keep your WORDS as long as you live with him/her.

Iseng dengerin The Piano Guys, membuat saya menemukan sebuah lagu berjudul What Are Words yang dipopulerkan Chris Medina tentang sebuah janji atau komitmen. Begini sebagian liriknya:

What are words
If you really don’t mean them
When you say them

What are words
If they’re only for good times
Then they’re done

When it’s love
Yeah, you say them out loud
Those words, They never go away
They live on, even when we’re gone

Chris Medina sendiri menghidupi lagu ini. Pria berambut ikal ini adalah salah satu kontestan dari ajang pencarian bakat di Amerika. Dia sudah bertunangan dengan seorang Juliana. Kisah cinta dan kebahagiaan mereka sempat kandas ketika beberapa bulan setelah Chris melamar pacarnya dan berjanji untuk menikahinya di 2 tahun ke depan akhirnya harus dikesampingkan karena ternyata sang kekasih mengalami kecelakaan yang menyebabkan gangguan pada otaknya.  Kehidupan Juliana dan Chris berubah total. Cinta Chris diuji hanya dalam hitungan bulan, kalian bisa cari kisah lengkapnya di mesin pencari. Satu hal yang membuat saya kagum,  nyatanya hal ini tidak sedikit pun mengirangi rasa cinta Chris padanya. Di akhir lagu, jujur saya tidak bisa menahan air mata ketika ia mengungkapkan…

I’m forever keeping my angel close.

Tak hanya terjadi pada Chris, dalam kehidupan nyata, seorang sahabat saya bercerita tentang bagaimana temannya yang baru saja menikah dua minggu lalu mengalami sebuah ujian JANJI PERNIKAHAN. Dua minggu setelah hari bahagia tersebut, sang wanita positif mengalami stroke yang melumpuhkan sebagian tubuhnya.

Jika melihat dari kedua sisi, saya membayangkan jika saya berada pada sepatu sang wanita.

Bagaimana saya menjadi saya yang kehilangan seluruh kemampuan diri sebagai seorang individu, seorang wanita dan seorang istri untuk suami saya. Apa lagi yang harus saya lakukan? Kehidupan bagaimana lagi yang akan saya jalankan? Bagaimana saya membahagiakan keluarga kecil saya? Masih bisakah saya bermimpi untuk melakukan hal ini itu bersama pasangan saya?

Jika berada pada sepatu si pria, mungkin hanya satu pertanyaan terbesar saya. “Apa yang harus saya lakukan?”.

Bagaimana sebuah janji pernikahan diuji memang tak pernah ada yang tahu. Apa agenda Tuhan akan hal ini pun tak ada yang tahu. Hanya saja, siapkah kita menerima pasangan kita seutuhnya kelak?

Ketika tak lagi kita bisa tertawa karena leluconnya. Ketika tangannya sudah gemetar saat akan membelai kita. Ketika dia sudah tak bisa lagi menjadi dia yang dulu sebelum semua ujian terjadi.

Masihkah kita mau mengatakan, “Aku mencintaimu.”, “Aku akan setia mendukungmu.”, “Kamu adalah segalanya untukku.”

Sampai saat ini aku masih terus berpikir, mengucapkan janji sehidup semati tak semudah perkara siapa yang akan membiayai pesta pernikahan. Tetapi, siapkah kita menggenapi janji Tuhan melalui apa yang kita dan pasangan kita perbuat nantinya.

Is it too hard to think about it? Yeah, getting married is not easy as licking the lollipop candy.


 

23 Juni 2015

Menerima kabar bahwa teman dari sahabatku yang baru saja menikah dan terkena stroke itu akhirnya pergi meninggalkan dunia ini. Satu yang bisa aku petik, ia dan suaminya menggenapi janji pernikahan, setia sampai maut memisahkan. Selamat jalan, kak. Cinta Tuhan terlebih besar untukmu.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s