Pak, Aku Masih Mau Sekolah

Hidup di desa sebagai mantan ketua RW membuat namaku cukup dikenal oleh warga setempat. Belum lagi, aku adalah duda beranak satu yang cukup pintar mengatur uang. Aku tak merokok. Aku tak suka berjudi. Kalau aku berkumpul bersama para ayah di desa ini, paling malam jam 12 aku akan pulang. Apapun alasannya. Namaku, Sapto.

Istriku, Ai, sudah cukup lama meninggal. Aku sangat mencintaimya. Dia tak tergantikan di dalam hatiku. Ai dan aku memiliki seorang putri yang cantik. Namanya, Ayu.

Tahun ini, ia menginjak usia 22. Sayangnya, sekalipun ia belum pernah berpacaran.

Yah, ini yang menjadi beban terbesarku. Setiap orang yang datang berkunjung ke rumahku bertanya kapan Ayu akan dipinang. Siapa pria beruntung yang akan menjadi calon suaminya. Yang paling menyedihkan, suatu sore saat aku bersantai di teras rumahku, Pak Beno ketua RW yang baru berkata, “Pak Sapto, ingat usia mu. Kamu sudah pantas timang cucu. Apa Anda bohong kalau Ayu tak punya pacar? Kalau kamu mau, saya bisa menjadikan Ayu sebagai istri ketiga saya. Saya bisa membiayai hidupnya. Kita pun bisa jadi besan.”

Cih! Walau dia cukup baik menjadi seorang RW, orangtua mana yang mau anaknya menjadi cadangan. Tak akan ku biarkan anakku jatuh ke tangan yang tidak tepat. Menurutku.

Sejak lulus SMA, Ayu sering mengambil beberapa kursus ke kota. Ia memiliki seorang teman laki-laki bernama Agus. Ia sering belajar bersama Agus. Sejujurnya, aku tak suka ia bermain dengannya. Agus membuat Ayu banyak bermimpi. Sampai-sampai pernah suatu waktu Ayu merengek memintaku untuk mengizinkannya menyebrang laut hanya untuk mengejar ilmu.

“Ayu ingin jadi orang berguna, Pak! “, rengeknya.

“Ayu, kamu tega ninggalin Bapak sendiri di desa? Kalau kamu ikut kursus yang lain akan Bapak izinkan. Tapi, tidak untuk menyebrang lautan. Kehidupan di seberang laut sana menyeramkan, Yu!”

Ini semua gara-gara Agus! Bocah tengik itu memaksa Ayu untuk mengikuti langkahnya untuk menjadi tenaga administrasi di sebuah bank.

Ayu, anakku itu adalah wanita berhati lembut. Bahkan sebenarnya, untuk memarahi dia aku tak mampu. Aku tak ingin anak semata wayangku pergi meninggalkan rumah ini. Apa jadinya hidupku?

Ayu, anakku, selain memiliki hati yang lembut, ia juga memiliki paras yang sama dengan namanya. Tubuh yang tidak terlalu tinggi namun cantik kulitnya. Ia pun salah seorang murid unggulan di sekolahnya dulu. Namun, terlepas dari segala keunggulannya, umur 22 belum ada yang punya, membuat aku tak punya muka. Ini desa! Ia anak desa. Kembang desa. Bukan wanita kota yang pergi pagi pulang malam dan menghabiskan hampir seluruh hidupnya tenggelam dalam tumpukan pekerjaan. Aku tak mau hidup Ayu seperti itu.

***

Malam ini. Aku masih saja belum bisa tidur, padahal malam sudah larut.

Entah setan apa yang menghampiriku. Ku putuskan untuk melangkahi takdir.

Kala itu, Ayu sedang tidur. Dan aku sedang gundah gulana memikirkan masa depan anak semata wayangku ini.

“Hamili anakmu. Agus akan bertanggung jawab, ” bisik setan dalam diriku.

Ya, benar. Nanti, ku katakan saja bahwa Agus pelakunya. Ia pasti mau, Agus sepertinya mencintai anakku, Ayu. Hampir setiap datang ke rumah mereka selalu bercanda dan tak lupa Agus memberikan buku-buku kesukaan Ayu. Ayu senang belajar. Ayu senang membaca. Tak heran ia menjadi bintang di sekolahnya, dulu. Aku yakin, ia pasti mau bertanggung jawab.

***

Ku dengar isak tangis Ayu.

“Ada apa nduk?”, tanyaku lembut.

“Entahlah, Pak. Rasanya sakit sekali waktu Ayu buang air kecil tadi,” jelasnya.

***

Sebulan, dua bulan berlalu.
Ayu hamil.
Ayu sadar perutnya mulai membesar. Tetapi, aku semakin bingung, Agus tak kunjung datang. Biasanya, dua minggu sekali lelaki bertubuh tinggi yang memiliki rambut klimis itu datang berkunjung bersama roti dan buku baru kesukaan anakku.

“Kamu melakukannya dengan Agus, Nduk?”, tanyaku dengan rasa bersalah dalam hati.

“BAPAK! Bapak nuduh macem-macem? Ayu ini anak berpendidikan, Pak!” Ayu menjawabku dengan lantang.

Isak tangisnya mulai terdengar dari luar kamar. Aku tak berani menemaninya di dalam ruang kamarnya yang berwarna merah muda, warna yang sama dengan warna celana dalamnya malam itu.

***

Akhirnya aku tau, dua bulan lalu, terakhir kali ia menemui Ayu untuk memberikan undangan pernikahan.

BODOH! Jijik aku dengan diriku sendiri.

Saat itu, pasti hati Ayu hancur berkeping-keping. Aku tau benar anakku mencintai Agus karena aku pernah menemukan Ayu menyisir rambutnya berulang kali dan tersenyum di depan cermin berkali-kali saat tahu Agus akan datang.

Gadisku, maksudku, anakku… menahan semua rasa sakitnya sendiri. Dan… apa yang telah aku lakukan padanya. Mutiara hatiku.

Hancur kini masa depan anakku.

Bapak macam apa aku ini? Bagaimana aku bertanggung jawab dengan perbuatanku? Ya, Tuhan!

***

Pagi ini, aku tak mendapati lantai basah di kamar mandi. Ini sudah pukul 9, mungkinkah Ayu belum bangun? Kata orang, saat hamil wanita lebih suka tidur-tiduran dibandingkan melakukan aktivitas di luar rumah. Aku ingat saat istriku mengandung Ayu. Ia tetap cantik dalam balutan daster kesayangannya.

“Yu…  sudah bangun, nduk?” tanyaku sambil mengetuk pintu kamarnya.

Hening.
Tak ada jawaban.

Ku intip anakku yang terbaring membelakangiku.

Ku goncangkan sedikit badannya.

Dingin.
Tubuhnya dingin, tapi ia tak berkeringat.

Ya, Tuhan. Apa yang terjadi pada putriku?
Ku buka selimutnya.

Aku terhuyung dan langsung terduduk di lantai. Kaki ini tak mampu lagi menumpu berat tubuhku. Tempat tidur itu bersimbah darah.

Ayu meninggal.
Ayu, anakku, tewas bunuh diri. Apa yang ia lakukan?
Apa yang aku lakukan?

“Aarrggghhh!!!!”

Aku takut. Aku takut akan hidup sendiri. Aku takut akan dosaku. Aku takut akan kesalahan yang ku perbuat.

Mendengar teriakanku, warga segera datang mendobrak pintu ruang tamu.

Aku tak sadarkan diri.

***

Entah berapa lama aku tertidur. Saat tersadar, Mbok Ami memberikanku sepucuk surat.

“Ini, ada di tangan Ayu. Mbok nggak bisa baca.”, ucap wanita renta yang tinggal dua rumah di belakang rumahku. Ia yang membantuku membesarkan Ayu.

Butuh waktu sepuluh jam untuk mempersiapkan batinku membaca sepucuk surat yang ia tinggalkan.
Ini benar-benar merobek hatiku.

Pesannya, “Pak, aku masih mau sekolah.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s