Laut dan Penerjang di Masa Depan

Akulah laut.
Yang hidupnya keras. Kau masih bisa temukan kelembutanku dalam deburan ombak.
Aku adalah dia yang berjalan kemana kaki melangkah. Aku bebas.
Hidupku pasang surut sesuai dengan hukum alam yang berlaku. Aku tak bisa diam. Aku membiarkan rencana Sang Maha masuk dalam hidupku. Maka aku mempunyai tujuan.
Aku memiliki sejuta rahasia di dalam palung gelap yang dalam. Hatiku, ku simpan di dasar samudera.

Rama.
Dia lah pantaiku.
Seorang yang sangat tenang. Tempat aku melabuhkan rasa lelah sepanjang perjalanan. Ia adalah sosok lembut dan hangat. Kami bersatu dan disebut indah.
Mencintainya adalah sebuah kenikmatan terbesar dalam hidupku. Bersandar di dadanya adalah tempat perlindunganku. Aku tak butuh yang lainnya kecuali rangkulannya yang membuai aku sehingga aku bagai melayang di atas angin. Ringan. Hilang semua lelahku berputar dan menampar batu-batu karang.

image

“Rama. Bagaimana perjalanan kita? Masih sanggupkah kau menjadi pantaiku?”

“Kita coba. Aku yakin kita bisa. ”

Bertahun aku berjuang bersama Rama. Namun, tak kunjung batu karang terkikis oleh hangatnya cinta dan perhatian.

“Rama, jika aku tidak lagi kembali ke pantaimu… apakah kau akan setia menjadi pulau tanpa air laut? Yang dikeruk dan dijadikan daratan untuk menjadi milik yang lain?”

“Kita pasti bisa melewatinya. Kita berjuang.”

Bertahun aku berjuang bersama Rama. Namun, tak kunjung batu karang terkikis oleh hangatnya cinta dan perhatian.

“Rama. Aku mungkin mulai lelah. Bisakah kau menunjukkan padaku kekuatanmu? Apakah benar kehadiranku tak seindah dan semegah yang diharapkan oleh ayah dan ibumu?”

“Aku tau. Aku berusaha. Tunggu sampai nanti kita sudah bekerja. Mereka pasti punya pemikiran yang berbeda.”

Bertahun aku berjuang bersama Rama. Namun, tak kunjung batu karang terkikis oleh hangatnya cinta dan perhatian.

“Rama. Apa yang salah? Apakah ada laut lain yang lebih hebat daripada aku? Apakah laut tak bisa mengikis kerasnya batu karang? Sudahkah ia kehilangan kekuatannya? Haruskah aku pergi agar kau bahagia, Rama?”

“Bukan begitu. Mereka hanya butuh waktu.”

“Tapi, Rama. Kapan kau siap membawaku menyapa kerasnya batu karang? Kita pasti bisa kan, Rama?”

“Lautku.. Ayahku tak bisa menerima kerasnya kehidupanmu. Ia menginginkan pantai yang tenang. Bukan kehidupan laut yang penuh gelombang dengan segala petualangannya. Bisakah kau menjadi pantai sepertiku? Atau mungkin menjadi sesuatu yang indah yang hidup bersamaku di pantai. Jadilah buih dan tinggallah dalam setiap sisi hidupku. Bukan laut yang bebas terbawa hingga pergi ke samudra lepas. Aku tau aku mencintaimu. Kita bisa melalui ini. Tapi, tak semudah itu… ”

“Rama. Hidup bagiku adalah langkah menuju sebuah tempat yang mana aku harus melangkah.”

“Kau bisa melangkah bersamaku.”

“Namun, kau diam. Kau tidak kemana-mana.”

“Apa yang salah?”

“Ku rasa, tujuan kita memang sudah berbeda. Ku rasa aku tak harus bersamamu.”

“Tak bisakah kita pertahankan ini?”

“Dan akan ada yang terluka karena kita, Rama. Laut yang tak lebih berharga dari air kelapa saat kau dahaga.”

“BERHENTI. JANGAN PERGI.”

“Tidak, Rama. Aku harus pergi. Sesegera mungkin aku akan bertemu dengan seorang pelaut yang membutuhkan cinta dan dorongan dari laut untuk maju dan mencapai tujuan yang sama. Bahkan saat badai datang, kami tetap bergandengan. Karena dengan keyakinan penuh kami tahu bahwa badai pasti berlalu. Badai hanya bisa dilewati dengan dua cara. Maju terus, atau menunggu dan percaya badai akan reda.”

“Beberapa saat lagi. Ku mohon.”

“Rama. Kita sama, tapi tak bisa menjadi sejiwa.”

Bertahun aku berjuang bersama Rama. Namun, tak kunjung batu karang terkikis oleh hangatnya cinta dan perhatian.

“Rama.”

“Ya.”

“Jangan pernah sia-siakan dia.”

“Ya.”

“Rama.”

“Ya.”

“Kau bahagia?”

“Ya. Aku rasa kita memang tak sejiwa. Walau kita pernah cinta.”

“Rama. Suatu saat jika aku merindukanmu, bahkan terlintas kembali ingin bersamamu, ingatkan aku tentang perjuangan melelahkan kala itu.”

“Jika aku rindu, aku tak akan menyapamu.”

“Rama. Apa kau benar mengenal siapa aku?”

“Ku rasa tidak. Aku tak pernah mengerti betul tentang mu. Maafkan aku.”

“Demikian denganku. Tapi, kau baik Rama.”

“Kau juga. Kau bisa menutupi kekuranganku. Tapi, kita mungkin memang tak bisa sama-sama.”

“Ya, Rama.”

Dan laut pergi meninggalkan kenangan. Rama larut dalam kebahagiaan serta kebanggaan akan cinta yang baru.
Batu karang yang perlahan tua, mulai luluh akan cinta. Sang Maha memang tak pernah menjanjikan mereka akan berjalan bersama. Tapi, tak akan pernah ada yang salah dengan pernah berjuang bersama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s