Belajar dari Sopir Travel

image

Hari ini aku dan salah satu teman dekatku tiba di Medan. Kedatangan kami tentu ada tujuannya. Yup, nggak lain nggak bukan untuk menghadiri pernikahan sahabat kami yang lainnya. Tapi ada yang unik dari perjalanan Kuala Namu – Tebing Tinggi bersama bapak ini.

Landing tepat pukul 09. 00 WIB kami langsung diarahkan oleh teman kami yang akan menikah untuk mencari Paredep Taxi, informasi awal mengenai harga sekitar Rp30.000-50.000, -. Setelah menemukan pintu keluar bandara, Tuhan baik banget menemukan kami dengan seorang mas-mas atau abang-abang yang kerjanya tolah-toleh melulu. Melihat pakaiannya yang berwarna merah bertuliskan PAREDEP lantas kami langsung menyambangi dan bertanya apakah ada taxi yang langsung jalan. Awalnya, dia menunjuk sebuah inova. Saya dan teman saya bingung.

Dia pun mengarahkan kami pada seorang sopir yang menggunakan kemeja putih dan terlihat cukup tua. Saya coba tawar harga apakah bisa menjadi Rp40. 000, – saja. Dengan wajah tegas dan nada suara yang lantang dia bilang tidak ada tawar-menawar harga karena harga ini sudah dari sananya. Katanya lagi, kalau kami menanyakan seperti itu kami berarti belum pernah naik taxi Paredep tersebut.

Lantas, kami pun membayar Rp55. 000, -/orang sesuai dengan tarif yang ditentukan. Lama menunggu,  mobil yang kami tumpangi ini tidak jalan juga. Sebel juga sih karena sopir itu nungguin mobilnya sampai penuh. Ditambah lagi, aku dan temanku kebagian kursi paling belakang berbarengan dengan koper-koper penumpang lain. Euwwh.

Eh… untungnya, penumpang terakhir punya badan agak besar dan dia minta tukeran duduk sama kita yang potongan badannya lebih kecil. Yeiy!  Duduklah kami di samping sopir dengan suguhan layar tancap,  benar-benar layar tancap yang isinya balapan antara sopir travel kita dan kendaraan lain di jalanan.

Mobil mulai jalan. Si bapak mulai bertanya, “Orang Batak dek?”. Pertanyaan ini membuka obrolan kami sepanjang dua jam ke depan menuju Tebing Tinggi.

Kami bercerita mulai dari kenapa kami ingin ke Tebing Tinggi, pertemanan say dan sahabat-sahabat saya, dan kehidupan si bapak sopir sendiri yang kami panggil “Abang”.

“Abang kerja jadi sopir udah lama?”
Kemudian ia bercerita panjang lebar pengalamannya sejak 2001 menjadi seorang sopir. Dari pekerjaan ini, ia pun bertemu dengan pujaan hatinya yang nembuahkan 5 orang anak untuk mereka. Anak bungsunya, kembar. 🙂

“Gimana ceritanya dapetin istri yang sekarang?”
Dulu katanya, istrinya adalah penumpang setia angkot yang ia tarik. Karena ia suka, ia tak pernah menarik tarif, khusus untuk dia. “Lama-lama waktu yang lain tak melihat, ku kedipkan saja mataku sama dia. Haaa. Sukak pun dia lama-lama sama aku… hahaha. Ku ajak dia nonton bioskop. Ku beliin dia Carvile. Ku senangin lah pokoknya dia. Awalnya kami nggak disetujuin, tapi sekarang aku jadi kesayangan mertua pun. Hahaha. ”

“Trus, selain narik mobil travel ada usaha lain nggak di rumah?”
Ia mengatakan ia tak punya usaha lainnya. “Makanya miskin terus dek. ”

“Memangnya, setoran berapa? Setiap hari nyetor apa sebulan sekali?”
Sayangnya, dari setiap kali ia menarik mobil tipe inova atau pregio, ia hanya menerima gaji Rp100. 000, -/hari. Katanya lagi, cuci motor saja sudah habis Rp20. 000, -. Kadang kalau bawa Rp50. 000, – ke rumah si istri suka ngambek. “Sukak nggak cakap kami. Hahaha. Tapi, ya ada saja uang tambahan. Bahkan di rumah ada 3 kereta (re:motor). Bahkan aku bisa kredit-kredit tv dan lain-lain. Berkat itu nggak kemana-mana. Apa yang memang harusnya sudah terjadi ya terjadi saja. Tuhan sudah merencanakan semuanya kok (ada bahasa bataknya tapi saya lupa). Anak saya yang paling besar puji Tuhan dapat sponsor dari orang Kanada. Sekarang bisa sekolah dan mau melanjutkan ke SMA.
Yang penting, kerja halal. Masak iya kita mau mencuri? Yaah… tapi sekali lagi, berapapun yang kami dapatkan tak perlu khawatir, tetap cukup-cukup saja. Kami bisa makan setiap hari. Salahnya dulu sih waktu jadi sopir yang gajinya lebih dari yang sekarang justru boros.”

“Nggak cari kerja tempat lain??”
Ada sih travel lain yang katanya memberi gaji lebih besar. Tetapi, pulang ke rumah hanya bisa 3 hari sekali. Kalau kata si abang sopir,  dia lebih baik sedikit gajinya tapi setiap hari bisa pulang ke rumahnya, di Siantar. Karena dia tak mau kehilangan waktu bersama istri dan anak-anaknya.

Selain itu kami juga banyak membicarakan tentang program sponsor belajar untuk anak Indonesia. Seperti yang didapatkan anaknya melalui sebuah lembaga gereja. Ia juga banyak bercerita tentang kehidupan jalanan di Medan. Bagaimana sopir-sopir lain mengejar setoran sampai-sampai mengabaikan keselamatan penumpang.

Tak lama, kami sampai di daerah tempat tujuan kami. Abang itu bilang, hotel tempat teman kami menikah itu adalah hotel pertama di daerah tersebut.

Sampai.

Barang kami diturunkan dan dengan senyum ramah kami menutup pembicaraan kami dengan terima kasih. Lambaian tangan. Dan kata “Hati-hati di jalan,  Bang. ”

Ya… aku harap hari ini dia bisa pulang membawa uang lebih untuk istri dan anak-anaknya.

Anyway, selalu ada pelajaran yang bisa kita petik dari orang yang kita temui. Hari ini, bersyukur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s