Looking Blessings Behind Broken Hearts

image

“Tuhan, berkati aku untuk jadi berkat untuk orang lain.”, kalimat ini begitu sering terngiang khususnya untuk aku dan teman-teman pembaca yang mengaku sebagai pengikut Kristus. Ya, diberkati dan memberkati. Lalu apa hubungannya dengan patah hati?

Insight ini baru saja aku dapatkan tadi malam ketika bertemu seorang teman yang memiliki pergumulan yang sama denganku. Kami bergulat dengan harapan dan cinta. Di usia ini, prempuan, aktif, single tentu tak lepas membicarakan hal-hal tentang cinta. Tapi, tunggu dulu. Jangan menyerah membaca tulisan ini. Tulisan ini bukan sebuah curhatan melainkan pikiran yang aku dapatkan setelah melalui satu jam pembicaraan bersama seorang teman.

Pernahkah kamu mendengar cerita dari teman atau seorang sahabat seperti ini, “Dulu, kalau bukan karena dekat sama aku dia nggak mungkin jadian sama pacarnya sekarang.” atau “Kenapa aku selalu jadi batu loncatan untuk orang lain mendapatkan pasangan? Ketika mereka akhirnya mengikat sebuah komitmen, lantas aku hanya menjadi penonton dengan predikat patah hati.”

Ketahuilah, aku bahkan mengalami hal tersebut. Jika dilihat runutannya, hampir semua pengalamanku bersama orang-orang yang sempat dengaku berujung demikian. Aku dekat, aku suka, semakin dekat, semakin intens tiba-tiba semua berakhir dengan alasan apapun. Ada yang baik-baik hingga saat ini tetapi ada juga yang bahkan tak jelas keberadaan orangnya. Namun, tak lama berselang mereka pasti, pasti, mendapatkan status baru dalam relationship mereka. Entah dengan siapa pun, jadi aku nggak heran kalau tiba-tiba dalam waktu dekat si gebetan sudah memiliki gandengan.

Seperti “batu loncatan” bukan?

Kita batunya dan mereka adalah kodok yang melompat untuk menyebrang. Seekor kodok yang berjuang melintasi arus kehidupan dan akhirnya memiliki akhir yang bahagia ketika bertemu dengan tujuannya.

Kalau dipikir-pikir, “God, why me?”. Dari mata dunia, mereka mungkin akan berpikir, “Mungkin emang bukan jodoh lo aja.” atau “Ya, mungkin emang dianya nggak suka lagi,” atau yang paling sering diucapkan adalah, “Mungkin lo nya aja yang ke-GRan.”

How? Yang mana yang pernah menjadi statement kalian atau yang pernah kalian terima dari orang lain?

Guys, just so you know kalau Ben dalam Filosofi Kopi nggak pernah main-main sama kopi, apalagi Tuhan yang menciptakan perasaan cinta dalam hati kita. Tuhan nggak pernah main-main dengan setiap orang yang Doi tempatkan di hati bahkan hidup kita, tapi tujuannya untuk apa, hanya dia yang tahu. Setiap orang di dalam hidup kita memiliki masanya sendiri. Ada yang 2 tahun, lalu hilang. Ada yang bahkan hanya satu jam. Tetapi, poinnya apa hal yang bisa kamu berikan pada orang tersebut atau apa hal yang bisa kamu dapatkan dari orang tersebut, you choose it.

Tadi malam, kalimat dari temanku ini sempat membuat aku berpikir.Setiap hari kita berdoa untuk meminta berkat dan hikmat agar kita bisa menjadi berkat untuk orang lain. Tapi, ketika orang lain mendapatkan berkat, jodoh misalnya, melalui kita, trus kita menyangkal. Berkat tidak melulu bicara tentang uang kan?” . Jawaban ku cuma satu, “Iyeehh.”

Nah, Bukankah menjadi “batu loncatan” tersebut sama halnya dengan menjadi berkat untuk orang lain?

Tell me, “Tapi berarti dia yang dapat enaknya dan aku yang dapat paitnya, donk?” atau “Apa kabar sama hatiku?” apa lagi, oh mungkin ini, “Jadi patah hati itu berkat juga? Konyol!” Tetapi, fakta tentang Dia memang nggak pernah bisa diselami, konyol!

Jangan dipikir aku sedang tidak mengalami atau tidak pernah mengalami hal ini. Jika dilihat dari sisi lain tentang hal ini adalah God knows best! Dia tahu yang terbaik buat kita, kamu, eloooh. Bisa jadi, cowok atau cewek yang lagi kamu PDKTin ini justru menjadi si “batu loncatan” untuk meningkatkan kapasitas berpikirmu, atau “batu loncatan” untuk memperbesar kapasitas kesabaranmu, atau mungkin dengan kehadiran gebetanmu dalam hidupmu, tanpa sadar kamu jadi pribadi yang lebih sabar bahkan imanmu bertumbuh. Kamu semakin dekat sama Tuhan ketika dia nyakitin kamu, ketika dia nggak balas pesanmu, ketika kamu harus menunggu, ketika dia cuekin kamu, ketika akhirnya dia memutuskan untuk tidak lagi berteman denganmu. Sulit memang, but remember God has His own way to challange you and make you a winner of your problem, termasuk masalah hati.

Jadi, sekarang mulailah dengan apa yang kamu miliki. Orang-orang di sekitarmu, kemampuanmu, kapasitasmu kembangkan semuanya. Just blossom and the bees will come.

Patah hati? Iya. Nggak terima? Pasti. Ngambek? Apalagi. Tapi, Dia di sana hanya akan tersenyum melihat tingkah kita karena Dia tahu kapan waktu yang tepat untuk mempertemukan kita dengan orang tersebut. It’s oke menjadi “batu loncatan” untuk percintaan orang lain, yang salah justru ketika kita menjadi “batu loncatan” yang tidak membuat si kodok melompat jauh lebih tinggi dari hidup yang sebelumnya setelah bertemu kita.

Semua ada masanya, semua ada waktunya.
Be useful, not useless. Be blessed to be a blessing.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s