Bisikan Belinda

Matahari terasa hangat diwajahku. Mengecup satu demi satu dimulai dari kening, alis, mata, hidung, bibir hingga dagu. Merambat melalui kulitku dan mendesak masuk menghangatkan dadaku. Aku menyesap kopi kedua hari ini sambil membayangkan indahnya sore nanti. Ya, aku akan berjalan-jalan menghabiskan hari bersama Belinda. Kami akan menikmati waktu menanti senja dengan bergandengan tangan, sepanjang jalan tentunya. Berbagi minuman coklat jeli kesukaannya, berdendang seraya menebak setiap judul lagu yang kami dengarkan dari pengamen jalanan atau pun lagu yang diputar oleh pemutar musik di kafe tempat kami biasa menikmati lalu lalang padat manusia di tengah kota.

Ah, perkenalkan namaku Johansen. Mereka memanggilku Johan dan John untuk Belinda. Aku bekerja sebagai kepala administrasi, aku sekolah dengan normal, menghabiskan masa sekolahku lebih lama tiga tahun dari orang pada umumnya dan lulus dengan cumlaude di tangan lebih cepat satu tahun daripada mereka yang mengambil subjek yang sama denganku. Secara usia, aku cukup matang namun aku masih belum memiliki pasangan, sebab tak semua orang bisa menerimaku. Aku yakin itu.

Aku adalah orang yang percaya diri, saat ini aku mampu menghidupi diriku sendiri, aku bangga dengan hal itu di atas semua kekuranganku. Namun, ku pastikan padamu aku bukanlah orang yang rendah diri, hanya saja tidak semua orang bisa bertahan bersamaku.

Rambutku? Terasa bergelombang, tidak kering namun tak juga berminyak. Tubuhku cukup ideal, tidak kurus apalagi gemuk dan rasanya pas saat berada dalam rangkulan Belinda. Aku rajin melakukan sit up dan juga lari mengelilingi kompleks perumahan tempat aku menghabiskan hidupku empat tahun belakangan ini. Pekerjaan membuatku harus berpindah ke kota kecil ini. Setidaknya, lebih kecil dari kota kelahiranku, namun lebih modern dengan kehidupan para pekerja yang mampu pulang hingga tengah malam dan melanjutkan kesibukannya sebelum matahari muncul mencium kening anak-anak embun satu persatu.

Oh ya, di dekat kantorku terdapat sebuah kafe tua yang baru saja direnovasi. Tidak keseluruhannya, namun beberapa hal seperti langit-langit yang rapuh dan muram, dinding yang mulai terkelupas dan perabotan utama seperti meja dan kursi serta gelas dan piring saji yang digunakan tentunya. Jika dulu piringnya terbuat dari melanin, saat ini pemilik baru menggantinya dengan piring keramik. Pemilik kedai sebelumnya, akhirnya mau memutuskan untuk merelakan kedai kopi miliknya dibeli dengan harga yang cukup tinggi demi menyekolahkan anak tunggalnya. Jika tidak demi anaknya, ku rasa ia tetap menolak jika kedai tuanya dimiliki oleh orang lain. Ngomong-ngomong, di tempat inilah pertama kalinya aku dan Belinda bertemu seperti adegan-adegan di dalam film bertema romansa, bertabrakan. Hahaha. Pukul lima tepat hari ini kami kembali berjanji di tempat itu.

**********

Menuju pukul lima aku sudah siap duduk di meja dan kursi yang sudah dipersiapkan Dave, karyawan lama di sini. Tanpa memesan apapun ia tau apa yang menjadi menu favoritku. Dengan takaran lebih banyak kopi daripada krim, sedikit sentuhan karamel dan potongan buah ceri segar maka minuman kesukaanku pun tersedia di hadapanku. Tak lupa aku memesan minuman coklat jeli milik Belinda. Malam ini, aku dan dia akan menyaksikan sebuah pagelaran musikal terhebat tahun ini. Aku adalah penikmat musik dan kecanduan menikmati teater baru-baru ini.

“Ada dua anak perempuan yang sedang memandangimu, yang satu menggunakan baju biru, yang lain fusia. Sekarang mereka sedang berpura-pura mengambil gambar ke arahmu. Mereka mulai membicarakan bagaimana rupamu, katanya pria matang sepertimu masih saja belum memakai cincin.”

Terdengar senyum simpul Belinda di telingaku.

Belinda memang suka datang tiba-tiba dan langsung berbisik di telingaku. Ia selalu memberitahukan apa saja padaku. Apa yang aku tahu dan tidak tahu, kecuali tentang hatinya.

“Untuk apa? Hahaha. Memangnya ada yang salah dengan tidak memakai cincin?” Aku bertanya padanya.

“Untuk menarik perhatianmu. Hahaha. Wanita. Kalau kau belum memakai cincin di usia ini mereka akan mengatakan kau tidak laku atau mungkin kau penyuka sesama jenis. Kalau kau sudah pakai cincin, mereka akan mengatakan bagaimana rupa pasangan yang mendampingi laki-laki macam dirimu.” Jelasnya panjang lebar sambil menyeruput coklat jeli yang langsung disambarnya saat Dave akan meletakkannya di meja.

“Ayo, kita pergi. Aku lapar. Kau harus mentraktirku karena aku sangat lapar. Hahaha. Kita masih punya sekitar satu jam sebelum pertunjukan dimulai.” Seketika ia menggenggam tanganku, aroma tubuhnya segera menyebar menyegarkan indra penciumanku. Wangi citrus bercampur dengan mawar menyegarkan berpadu dengan wangi pepaya yang manis dari rambutnya. Aku suka aroma ini.

**********

Seorang petugas di depan pintu teater menyambut kami dengan ramah. Belinda tak melepaskan genggamanya dari jemariku.

“Selamat malam. Bisa saya lihat tiket Anda? ” Sapa petugas pintu teater yang menyambut kami. Dari nada suaranya, ia orang yang cukup ramah namun ia seperti sedang memiliki beban pikiran. Sedikit lesu dan berat.

“Silakan masuk. D5 dan 6. Lurus, naik ke tribun sebelah kanan. Selamat menikmati pertunjukan, Nyonya dan Tuan.” Dan ia mengakhiri kalimatnya dengan ciuman kecil dipunggung tangan Belinda. Begitulah yang dapat aku rasakan.

“Kau sudah siap, John?”

“Tentu, Bella.” Jawabku. Bella adalah panggilanku untuknya. Selain itu, pantas ia ku panggil Bella dengan segala keindahan yang dimilikinya.

Perlahan tapi pasti Belinda memasukkan setiap kata-katanya ke dalam telingaku. Nafasnya membuat jantungku menderu. Ia menjelaskan satu demi satu adegan yang kami saksikan di atas panggung. Tidak semua adegan, hanya saja ada beberapa detil adegan yang tidak nampak jelas untukku. Satu jam berlalu.

“Hei! Hei! Bisakah kalian tenang menikmati pertunjukan ini? Apa kau buta hingga wanita di sebelahmu harus terus menjelaskan apa yang terjadi? ” Tanya seseorang yang duduk satu barisan di depan tempat dudukku sedikit membentak namun tetap dalam suara yang terkontrol.

Aku tersenyum, “I am. Thank you for remind me.”

Entah apa yang Belinda katakan tanpa suaranya, yang pasti pria tersebut tak melanjutkan ocehannya.

It’s oke, Bella.” Aku menghela napas. Tersenyum dan menyisir sedikit poni Belinda dengan jariku untuk memastikan dirinya bahwa aku baik-baik saja. “Sekarang, apa yang dilakukan oleh si pemeran laki-laki utama saat tahu bahwa sahabatnya pergi meninggalkannya karena cinta yang ia pendam?” Aku menanti bisikanmu Belinda.

“Aah… John. Saat ini Anastasia berjalan perlahan menuju bandara. Settingan bandaranya persis seperti bandara pada umumnya dengan pilot dan pramugari figuran yang berlalu lalang. Anastasia kembali menoleh ke belakang. Aaah! Franciz berlari mengejarnya.” Bisik Belinda menggebu-gebu.

“Aah… apa Franciz berhasil menemukan Anastasia di antara orang-orang itu?” Musik kembali mengalun dan tokoh Franciz mulai menyanyikan kalimat yang menjadi dialognya. Ia mencari cintanya. Ia mencari sahabatnya. Anastasia.

Yesss!!! Franciz menemukannya, John. Mereka bergandengan dan berputar. Franciz mendekap Anastasia.” Bisiknya.

“Jangan pergi!” Ku dengar Franciz melanjutkan bujukannya meminta Anastasia untuk tidak meninggalkannya.

“Anastasia membuang pandang dari Franciz. Sepertinya ia benar kecewa terhadap perlakuan Franciz setelah selama ini. Yah, laki-laki memang seperti itu… ” ku potong kalimat Belinda, “Apakah kalimatmu barusan menggambarkan adegannya, Bella? ” Tanyaku memastikan.

“Hahaha. Tidak, John.”

Aku kembali mendengarkan setiap bisikan Belinda di telingaku. Aku merasa seperti masuk ke dalam adegan demi adegan yang hanya bisa ku bayangkan dengan telingaku. Aku selalu menyaksikan banyak hal dengan pendengaranku dan aku bangga akan hal itu.

Pada akhirnya, seperti cerita klasik pada umumnya, Franciz dan Anastasia bersatu. Seluruh pemeran drama musikal menutup penampilannya dengan sebuah lagu yang liriknya tertulis dalam buku asli dari cerita ini,

When you believe your destiny, do not give up. Love will comes when you’re ready. Do not doubt about the power of love. What’s gone will be gone but i am here for you, forever we’ll be together…

“Terima kasih, Belinda.” Aku menarik tangannya untuk mengucapkan terima kasih. Aku benar-benar menikmati drama musikal malam ini.

“Sama-sama… John.”

Ku rasakan tangannya menggenggam tanganku dan perlahan nafas hangat datang berputar di sekitar wajahku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s