Jakarta Sehabis Hujan

Banyak yang berpikir bahwa Jakarta tidak ada indah-indahnya. Sekadar kemacetan dan bising belaka. Hedonisme bercampur dengan peluh dan keringat. Miskin kaya semua ingin dipandang. Tak ada indah-indahnya. Bahkan tanpa disadari, Jakarta ini seperti laut kutukan. Di mana-mana orang memaki, di mana-mana orang mencari sesuap nasi.

Aku sedang berdiri di bawah jembatan menunggu hujan reda sore ini. Sudah cukup reda dibandingkan satu jam yang lalu, tetapi kini giliran riuh klakson menerpa kuping kami, orang-orang yang berteduh di bawah jembatan, yang harus rela menanti hujan hingga benar-benar berhenti sembari menunggu bus atau kendaraan umum menuju rumah melintas. Kadang terciprat sedikit air dari jalanan, kadang ikut terkena makian, kadang kami benar-benar menikmati waktu ini bersama pasangan.

Pasangan? Jangan tanyakan pasangan padaku. Aku masih sendiri. Kembali fokus pada Jakarta. Aku melihat di sekelilingku, apa yang baik dari Jakarta, khususnya sehabis hujan seperti ini. Aku memandang ke seberang dan melihat seorang pedagang sedang kelimpungan memberikan uang kembalian. Dagangannya yang cukup hangat dengan kuah kaldu memenuhi mangkok sudah tentu menggiurkan. Apalagi cuaca sedang dingin-dinginnya. Aku tersenyum. Seandainya tidak hujan, tentu dagangannya tak selaris sekarang.

Bergeser sedikit dari tempat pedagang tersebut, aku melihat banyak tawa anak kecil yang rela hujan-hujanan sedang berlari ke depan pintu gedung kantor di sekitarnya sambil berteriak, “Payungnya om, tante. Payungnya. Lima ribu saja,”. Para ojek payung ini memang tidak mematok harga tetap biasanya. Tapi, ada juga yang idealis dengan harga tiga hingga lima ribu. Cukup membantu mereka yang benar-benar tak ingin kebasahan barang setitik air saat masuk ke mobil atau berpindah ke tempat lainnya. Mereka hanya tertawa saat mengikuti payung yang digunakan oleh pelanggannya. Sesekali bersenda gurau sambil mencipratkan air hujan ke wajah temannya. Saat hujan sudah mulai berhenti, mereka satu-persatu menghilang. Entah kembali menjadi pengamen atau kembali ke rumah. Beberapa ada yang langsung menggunakan uangnya untuk sekadar menikmati bakso atau mi ayam. Satu mangkok bertiga atau berempat.

Aku kembali memeriksa telepon genggam. Tak ada koneksi. Aku lupa membeli pulsa. Tiba-tiba sesosok anak kecil mencolek tanganku, “Tisunya, Tante?”. Aku mengambil dompet dan memberikan pecahan dua ribuan, ia tersenyum dan berlari menjajakan kembali dagangannya.

“Mau ke mana, Mba?” Sebuah suara yang cukup berat dengan perawakan putih berkumis tipis menatapku.

“Oh, Slipi.”

Pria dengan tas besar, entah apa isinya.

“Mas…?”

“Saya Nino.”

“Bukan, maksud saya Mas mau ke mana?”

“Oh, hahaha. Tidak kemana-mana. Di sini saja menunggu hujan berhenti.”

“Oo… Ngapain?”

Dia menjelaskan bahwa ia adalah seorang pengejar senja. Di dalam tasnya yang besar tersedia kamera dan beberapa lensa. Pantas saja ia rela membuka jaketnya yang anti air untuk menutupi tas besar dalam pelukannya. Ia hanya mengenakan topi yang dipakai terbalik untuk melindungi kepalanya dari titik hujan. Nino bercerita bahwa dia sangat menikmati Jakarta. Warga Filipina yang sudah lama menetap di Jakarta ini seperti terhipnotis dengan segudang kisah di balik kota Jakarta. Ia pemburu waktu. Ia menceritakan agendanya ke depan. Memotret ini, itu. Semua aktivitas kota Jakarta, pagi, siang, malam bahkan sebelum matahari muncul membangunkan pagi.

Dia mengatakan juga pada suatu saat dia pernah berteduh di tempat kami berdiri tanpa membawa ‘senjata’nya, berjongkok sedikit dan ia mendapatkan pemandangan yang luar biasa yang dihadiahkan langit. Dengan perspektif yang ia miliki, katanya sudut pandang itu sangat indah sehabis hujan.

“Senja di balik gedung tinggi, sehabis hujan. Sayang waktu itu aku tidak membawa apa-apa. Ponsel pun mati total. Hahaha.”

Hujan benar-benar berhenti. Suara bising masih berotasi, tak kalah dengan semerbak wangi yang muncul dari sela pakaian hingga kepala orang-orang yang masih berdiri di sana-sini. Apak. Nino kemudian pamit sebentar untuk mencari-cari spot yang tepat di tempat ia pernah mengalami hal indah itu, ia tak mau lagi melewatkan momen yang harus diabadikannya hanya dalam beberapa detik. Sementara itu, aku kembali menatap lekat jalanan yang mulai padat merayap. Daerah bundaran ini memang menjadi ladang peperangan setiap umat mulai pukul lima hingga tujuh malam, hujan tidak hujan.

Sesekali aku kembali melirik Nino lalu melirik ke balik gedung dan melihat langit, berurutan. Senja perlahan memang muncul. Aneh, setelah hujan beberapa jam senja masih mau menampakkan ronanya. Aku terkesima. Indah. Jakarta sehabis hujan ternyata memang menyimpan banyak keindahan.

“Lihat, indah bukan?” Nino memamerkan hasil tangkapannya.

Kami berdua tersenyum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s