Jumat di Jakarta

Selayaknya kota besar di hari Jumat tentu tak terhindarkan dari sebuah kepadatan lalu lintas. Kau tahu ini hari Jumat. Semua orang mengembangkan senyumnya hari ini. Ada yang tetap setia di kantor untuk lembur karena malas bermacet-macetan, ada pula yang ingin cepat pulang dan berkumpul dengan keluarga di rumah, namun ada pula yang tak sabar untuk menyatakan cinta seperti laki-laki yang berada di depanku ini. Kami sama-sama mengantre bus dengan tujuan Kuningan. Berkali-kali ku lihat ia mengetik kata “Sejujurnya aku sudah lama suka sama kamu…”, lalu ia hapus kembali. Ia ketik lagi dengan lebih lugas, kamu mau jadi pacarku? Lalu dia hapus lagi. Terakhir, ia pun memberanikan diri untuk mengajak perempuan berparas ayu itu bertemu di sebuah kafe di bilangan Kuningan. Payah! Ujung-ujungnya dia hanya mengetik bahwa ia ingin bicara mengenai klien yang mereka temui akhir pekan lalu. Payah! Aku rasa dia tidak akan berani pulang hari ini sebelum ia menyatakan cintanya pada wanita yang menurutku usianya sedikit di atas pria muda yang berdandan bak Jung Yong Hwa ini.

___

Oke. Kita bertemu di kafe waktu itu ya! ^^,), kemudian perempuan dengan rambut terurai panjang dan polesan Amsterdam itu tersenyum bahagia.

“Siapa?” tanya temannya.

“Aku bingung mengatakannya. Dibilang teman yaa… iya. Dibilang lebih ya, belum juga sih!”

Kemudian Ayu, nama yang tepat seperti gambaran wajahnya, membayangkan akan seperti apa pertemuan mereka sore nanti. Ia sudah mempersiapkan make-up terbaiknya dan juga tak lupa ia berlatih tersenyum di depan cermin. Berkali-kali ia bersolek menanti waktu yang terus berputar.

“Kalau bukan siapa-siapa, ngapain senyum-senyum?”

“I know. I think he’s special.”

Tak lama ponsel terkini dengan layar tipis nan lebar milik Ayu bergetar. Wajahnya mendadak muram. Alex. Nama itu merusak suasana hatinya. Ia tak ingin hari ini rusak karena masa lalu yang tak kunjung berakhir ini.

“Ya?”

“Apa kabar?”

“Baik.”

Lalu diam seribu bahasa. Alex, kesempurnaan yang sama sekali tak bisa Ayu miliki. Namun, ia tak pernah menyesal meninggalkan seorang manusia yang berdiri di atas dua perahu. Kalau mau selamat, ya, pilih salah satu. Jalankan keduanya maka kau akan mati tenggelam di dasar samudera, begitu kata terakhir yang diungkapkan Ayu pada Alex.

“Kapan bisa bertemu lagi?”

“Tidak tahu, aku rasa Tuhan tidak akan pernah mengizinkanku pulang lagi agar aku tidak bertemu denganmu.”

“Jadi, kau tidak akan pulang hari ini?”

“Tidak. Untuk selamanya.”

“Tapi, Tuhan tidak pernah melarang untuk sekadar bertanya kabar bukan?”

___

Hari ini hari Jumat. Sebagai seorang muslim aku harus menunaikan kewajibanku. Aku menepikan mobil dinas yang ku kendarai ke arah Kuningan, di sana ada sebuah masjid kecil tempat aku biasanya menunaikan ibadah shalat Jumat. Setelah itu, aku akan bertemu Pak Mamat, bapak angkatku di Jakarta yang sempat membantuku ketika aku belum menemukan tujuan hidupku menjadi seorang polisi. Saat ini, aku bahkan sudah bertunangan dengan seorang pramugari maskapai penerbangan ternama. Aku tak sabar menanti hari ini, aku akan berdoa dengan khusyuk untuk wanitaku.

Banyaknya kasus penerbangan yang wara-wiri dengan isi mengumbar sensasi membuat aku ketar-ketir setiap kali wanitaku pamit untuk lepas landas. Pukul dua ku laju mobil ini begitu cepat, panggilan mendadak dari atasan untuk mengamankan jalan tol yang mendadak ramai mengharuskan aku membantu teman-teman yang bertugas di sana. Tol sejak siang ini sudah cukup padat. Sebuah pesan membuatku merogoh saku, sialnya hadiah dari tunanganku itu meluncur cepat ke bawah kemudi. Aku abaikan pesan singkat darinya. Pasti ia hanya ingin pamit untuk siap-siap terbang.

Aku berpikir untuk berhenti sejenak, namun padatnya lalu lintas menuntutku menentukan prioritas. Ku lihat sebuah bus besar semakin dekat dengan mobilku. Ia melambat namun bus besar dengan corak bunga anggrek putih itu tampak tidak berjalan lurus. Ada apa dengan si pengemudi? Semakin lama bus yang ia kendarai semakin menyerong ke kiri tanpa kendali. Aku segera membunyikan sirine untuk memberikan peringatan. Aku mencoba untuk menyusul bus tersebut untuk melihat apa yang terjadi dengan sang sopir. Kalau dibiarkan sepertinya akan berbahaya untuk kendaraan lainnya. Namun, mendadak sopir itu membanting setir ke arah sebaliknya dan menghimpitku. Kemudian gelap.

“Sayang… maaf. Aku tidak dapat menemuimu hari ini. Aku tidak bisa pulang hari ini.”

___

Jumat yang ku tunggu-tunggu sudah datang. Hari ini istriku mengabarkan bahwa dia melahirkan di kampung. Putra pertama yang kami tunggu-tunggu setelah 7 tahun telah lahir. Aku sangat senang. Ia akan menjadi penerus keluargaku, menjadi tumpuan hidup kami kelak dan menjadi kebanggaanku. Aku akan menyekolahkannya tinggi-tinggi. Suatu saat ia akan menjadi orang penting di Jakarta ini. Rasanya pantas kini aku berbangga menyandang gelar seorang ayah.

Walau aku hanya bekerja menjadi  sopir bus rekreasi, namun ini adalah pekerjaan halal yang dapat ku lakukan setelah aku meninggalkan gelar sopir truk. Jika saja kalian tahu bagaimana kelamnya kehidupan seorang supir truk… hmmh.  Ponsel sederhanaku berbunyi sangat nyaring.

“Halo,” ku dengar suara merdu istriku. Ia menyampaikan kabar bahwa anak kami telah lahir dengan selamat. Saking bahagianya aku tak sadar bahwa bus yang aku kendarai semakin berbelok ke kiri dengan kecepatan yang cukup kencang. Jalanan memang padat, namun masih ada jarak untuk bus sebesar ini tergolek jika tidak aku kendarai dengan hati-hati.  Aku banting setir kembali ke kanan.

KRAAAK!

__

Beberapa jam sebelum melakukan penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Jakarta, seorang pramugari terlihat sibuk mengutak-atik telepon genggamnya. Ia berkali-kali mengangkat telepon genggamnya sambil tersenyum manis dan sedikit menggoda dengan bibir tipisnya yang ia bentuk bulat penuh. Ya, seperti meminta ciuman yang penuh kerinduan.

Namanya saja perempuan yang sedang merindu, rasanya waktu menunggu benar-benar ingin ia habiskan agar cepat pula ia menjumpai cintanya. Bekerja sebagai pramugari tentu tidak sebebas wanita yang memiliki profesi lain. Yang jam lima sore sudah bisa dijemput, berdandan dan menikmati makan malam romantis.  Ini menurutku.

Setelah berfoto beberapa kali, ia memilih foto terbaiknya. Sedikit dia berikan sentuhan fade di sana-sini sehingga hanya bibirnya yang memenuhi layar ponsel tersebut. Lekas ia mengirimkan foto itu kepada salah seorang pria yang wajahnya terpampang dalam aplikasi pesan. Ia menuliskan caption berbunyi tunanganku sedang bertugas, dia tidak pulang hari ini.

“Sial! Aku salah kirim!”

Advertisements

4 thoughts on “Jumat di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s