“Aku sudah sampai di kosan, ya!”

Entah kenapa setiap pukul 22.00 WIB aku akan langsung membuka salah satu media sosial yang berlambang burung ini. Mencari salah satu nama untuk menemukan postingannya yang berkata “Aku sudah sampai di kosan, ya!”. Setelah membacanya? Aku akan me-reply dengan jawaban “Iya, Bang.”. Padahal, aku tidak mengenalnya, hanya sekali pertama bertemu saat surat cintaku di bacakan di depan umum dengan sebuah amplop oranye segar polos. Di dalamnya, ku ungkapkan semua kata dan rasa, di atas selembar halus polos berwarna merah muda. Aku lebih suka menamainya merah muda, karena merah jambu rasanya tak semerah itu. Itu menurut ingatan masa kecilku.

 

“Aku sudah sampai di kosan, ya!”

Aku tersenyum-senyum sendiri membaca balasanku tadi malam atas kicauan lelaki bertubuh tinggi dengan brewok di wajahnya itu.

“Iya, Bang.” dengan segera aku mengetik kalimat singkat ini di belakang namanya. Entah ini untuk keberapa kalinya aku iseng membalas hal demikian.

Kalau dipikir-pikir, kelakuanku beberapa bulan ini yang setiap malam menguntit akun miliknya merupakan hobi baru yang membuat hari-hariku cukup berwarna. Oranye dan merah muda seperti warna surat dan amplop saat aku pertama kali bertemu dengannya.

Saat itu, aku ingat dia menggunakan ikat kepala dan tampak sangat berantakan. Tapi, banyak ku baca gelagat dan hatinya, ia bahkan lebih lembut dari pemuda masjid yang aku kenal pernah menyambangi pintu hatiku. Mungkin itu bukan dirinya, kata orang bisa jadi ini hanyalah sebuah pencitraan, tapi aku jatuh cinta pada setiap tulisannya. Entah kenapa, aku senang membaca dan menunggu kicauannya yang berkata “Aku sudah sampai di kosan, ya!”. Sebenar-benarnya, aku berpikir pada siapa ia tujukan ucapan setiap malam itu.

Kembali aku memainkan layar ponselku naik turun, aku senang membaca leluconnya. Ya, aku rasa dunia maya ini dapat mengisi kekosongan ku kala berhimpit dengan bau-bau tak jelas dan tangan-tangan nakal yang menggodaku sepanjang perjalan pulang dari kantor. Minimal aku bisa tersenyum untuk beberapa saat dan membuat telingaku mendadak tuli dengan semua ocehan dan keluhan orang-orang yang katanya lelah. Mereka pikir cuma mereka yang lelah?

Pukul 21.45 malam ini, beberapa menit lagi aku akan segera membalas kicauannya. Malam ini ia sedang lembur, banyak deadline tulisan yang harus ia selesaikan, sepertinya. Perlahan aku membenahi rambutku yang menutupi layar ponselku, sudah terlalu panjang memang. Aku buka foto si pemilik akun “Aku sudah sampai di kosan, ya!” itu. Selama ini tak pernah aku lupa bagaimana parasnya dan atribut yang selalu melekat di kepalanya itu, saat dulu pertama kali bertemu. Ikat kepala merah dan baju hitam, celana jeans sobek dan sepatu keds dengan merek berlambang bintang yang kumal. Entah bagaimana wangi tubuhnya, saat itu kami berjauhan. Aku benar-benar jatuh cinta pada tulisannya. Bahkan ketika tulisan itu hanya sekadar “Aku sudah sampai di kosan, ya!” . Aku selalu menanti semua tulisannya.

Malam ini, untuk pertama kalinya aku me-mention dirinya dan berkata “Bang, aku kangen. Kapan ada tulisan baru lagi?”. Lalu, berharap-harap cemas seperti anak ABG. Padahal dia bukan siapa-siapa ku. Hanya saja, tulisannya telah lama mencuri hatiku.

Pukul 22.05, tak juga ada balasan dan ucapan “Aku sudah sampai di kosan, ya!” . Kemana dia?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s