Uap Kopi Sang Pengembara

Satu detik, dua detik, tiga detik. Aku menghirup semakin dalam kenikmatan dunia yang bisa kunikmati tanpa harus menyentuhnya. Sama seperti ketika aku menikmati dia. Dia yang tak pernah bersatu dalam cangkir kehidupanku. Yang tak pernah bisa ku cicip sedikit tawanya. Yang tak pernah bisa ku sesap manisnya. Yang tak pernah bisa ku tapaki jemarinya dengan ciuman setiap pagi kala aku membuka mata.

Setiap saat aku hanya bisa bertanya dan membayangkan, bagaimana pagi tanpa senyumnya. Lalu aku menemukan jawaban ketika ia meninggalkan pagiku tanpa sapanya. Ku rasa takkan ada lagi musim semi karena dingin tak pernah berlalu.

Ku tutup kedua mataku mengingat hangat tatapnya, ia membuat aku bahkan tak bisa tersenyum. Kaku. Aku terpana saat dia berbicara lembut padaku. Hatiku tenang. Namun, tak mampu membalasnya dengan kelembutan yang sama. Aku selalu berpaling.

Setelah beberapa jam aku diam menikmati pemandangan di bawah tenda oranye tempat aku beristirahat saat ini, aku kembali mengetatkan kasutku. Aku sudah cukup kuat untuk melanjutkan perjalananku mencari dia. Dia pernah mengatakan padaku ingin pergi ke suatu negeri yang kaya akan ilmu. Di sana kaya akan cinta dan kasih. Kaya akan orang-orang yang dapat membuatnya semakin kuat untuk menjalani hari tanpa peduli apa kata manusia lain. Dipenuhi tawa lepas yang tak pernah berakhir dan wangi bunga yang selalu berbeda setiap harinya.

“Hidup bukanlah apa yang dikatakan orang lain.”, itu katanya padaku sebelum aku akhirnya memutuskan untuk menaruh hati dan pikiranku padanya. Sampai sekarang, aku masih bertanya di mana negeri seindah itu? Terlambat.

Ku kemas dan ku kencangkan tas yang sudah kugendong di atas punggungku. Aku melanjutkan perjalanan ku sambil menengadah ke atas lalu ke bawah, mencari utara untuk menentukan langkah ke tenggara. Seperti bisa membaca hatiku,  langit perlahan kehilangan senyumnya. Muram.

Hujan turun menghujam permukaan bumi yang kering.

Sekali waktu aku pernah memikirkan, apakah hujan adalah bentuk hukuman atas cinta? Sebab air pergi jauh meninggalkan bumi ke langit.

Ku rasa, hati bumi yang lembut pecah dan terluka saat itu. Terlalu jauh jarak mereka walau masih bisa saling menatap.

Kering dan mulai terbelah. Saat itu, bumi pun berteriak pada langit memohon untuk mengembalikan cintanya agar mereka dapat kembali bersatu di bawah. Air yang telah berubah menjadi uap lembut pun diam-diam merindukan keintiman dengan bumi. Dia rindu akan canda bumi yang menggetarkan permukaan laut.

Namun, kehendaknya bukanlah kehendak sang pencipta. Dengan segala permohonan dan adu genderang yang bertabu di langit, sang pencipta pun memberikan izin dengan syarat. Suratannya ia tak bisa mengalir. Ia harus jatuh, terhempas dan merasakan sakit agar bisa meresap kembali ke tanah, hati bumi. Untuk bisa kembali bercinta dengannya.

Jika itu kisah antara air dan bumi, aku lebih suka menamakan kisah cintaku bagai uap kopi. Yang memberikan aroma kekuatan walau hanya lewat baunya dan akan semakin kuat saat aku merasakan tiap tetesnya.

Ia memberikanku kekuatan dengan cintanya.

Aku kembali berteduh. Aku akan menemukanmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s