Dear, Ghita.

“Dear, Ghita”

Sampai lonceng berbunyi tanda pukul 00.00 WIB aku tak sanggup melanjutkan kalimat yang seharusnya sudah berubah menjadi baris sejak tiga jam yang lalu. Sebabnya selalu sama, tiap kali aku meletakkan jariku di atas papan yang dihiasi huruf dan angka berwarna hitam ini aku selalu terbang entah ke mana.

Ghita, dia membawaku pergi setiap kali aku ingin memintanya untuk meninggalkanku.

“Ghita, aku sudah rela melepaskanmu. Pergilah!”

Dalam hati aku berujar demikian. Tapi, baru saja jari telunjukku ingin mengetikkan susunan namanya, ia kembali mengajakku terbang meninggalkan waktu saat ini. Sebelumnya, ia menarikku ke sebuah pohon. Tempat kami pertama kali bertemu, dua tahun yang lalu. Saat itu ia sedang asyik mendengarkan ipod padahal ia sedang berada di dalam pesta ulang tahun salah satu temannya. Kebetulan, temannya adalah tetanggaku.

Baru saja aku menikmati reka ulang pertemuan kami, tiba-tiba aku melihat semua orang yang ada di kafe ini melihat aku yang bergeming sejak tadi di depan laptop berwarna merah. Aku tak kemana-mana. Daritadi aku hanya bermain dengan pikiranku saja. Sedangkan mereka, mereka mengira aku sedang serius dengan tugasku, sedang serius dengan proposal atau pun suntuk menunggu surat elektronik yang tak kunjung datang dari klienku.

Salah! Mereka salah. Sejak tadi, sebelum Ghita membawaku pergi aku sempat berteriak pada mereka, aku ingin bergerak dan pergi dari tempatku duduk saat ini. Di atas sofa berwarna coklat yang sangat dekat dengan pengeras suara di sudut kafe yang menjagokan kopi sebagai menu utamanya. Tapi mereka tak mendengar apa-apa. Aku kembali dibawa Ghita pergi dalam satu kedipan mata.

Aku kembali berbicara pada Ghita, aku memintanya sambil menguraikan air mata. Aku memohon padanya untuk melepaskanku. Aku sudah merelakannya. Pergi, Ghita! Kenapa tak kau izinkan aku menyelesaikan kalimatku? Aku ingin pergi meninggalkanmu. Aku sudah rela melepaskanmu.

Tubuhku mulai memberontak. Tapi, tidak seperti sebelumnya ketika aku memohon Ghita untuk tak membawaku pergi dari tempat dudukku. Aku merasakan perlahan dingin membalut kakiku. Sepatu yang ku gunakan seperti kemasukan air, becek rasanya. Sesak. Seperti tenggelam dalam lautan luas, Ghita menggenggam tanganku. Ia memegang erat tanganku. Dingin semakin memelukku, tanpa linu tanpa ngilu. Kali ini aku bisa sedikit bernafas tetapi udara dingin lah yang ku rasakan. Biarlah, setidaknya aku bisa mencuri nafas sedikit demi sedikit untuk memasukkan oksigen ke dalam darah dan otakku.

“Ghita, lepaskan aku!”

Reaksi oksigen membuatku kuat untuk mengungkapkan kalimat yang sejak tadi tertahan di tenggorokanku. Lagi dan lagi, tiba-tiba aku terpelanting dan dikelilingi suara riuh. Lagi-lagi aku terbawa ke alam yang lain. Ghita, ini di mana? Aku lelah Ghita!

Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit kemudian ku dengar suara Ghita menjauh.  Ghita berteriak kencang sekali, tetapi semakin jauh. Kupingku terlalu sakit dan suara itu terus berputar-putar di kepalaku. Ia tak mengizinkan aku pergi. Dia tidak membiarkan aku pergi.

Gelap.

Ini adalah tempat terakhir, i wish.  Aku mendengar tangis Ghita dan melihat ia menggenggam tanganku. Pergilah Ghita. Maaf aku tak sempat menyelesaikan kalimatku, aku sayang kamu.

 Aku merupakan seorang asing di sini

Surga adalah rumahku

Dunia hanyalah sebuah padang yang suram

Surga adalah rumahku

 
Dukacita dan bahaya berdiri mengancam

Mengitariku dalam setiap sisi

Surga adalah tanah airku

Surga adalah rumahku

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s