Sepasang Sepatu Merah Jambu (Part 7)

Bersusah payah menghindar dari Ibuk, Fajar akhirnya tertangkap berduaan dengan Embun. Namun, pikiran mereka ternyata terbalik dengan yang terjadi. Ibuk hanya diam dan berlalu menuju dapur. Embun panik! Jangan-jangan ibu terlalu shock sampai-sampai nggak bisa ngomong sama sekali.  Mereka terdiam. Mereka bertatapan. Huuuh~ Anyway, perjalanan menuju kota kembang akhirnya terlaksana juga. Tentu tidak gratis, ada harga yang harus Embun bayar untuk hal ini. Perjalanan menuju kota kembang terasa cukup lama. Embun sebenarnya memilih untuk naik mobil travel saja yang bisa ngebut wuss wuss wusshh, tetapi Fajar ngotot ingin naik kereta. Dia mengatakan pada Embun bahwa naik kereta adalah hal yang menyenangkan ketimbang naik mobil travel yang cuma bikin jantungan.

“Gimana?”

“Gimana apanya?” Ketus Embun pada Fajar yang asyik menikmati pemandangan melalui layar kamera khusus fotografinya. Sesekali ia terlihat berdecak dan mengangkat alis saat melihat Embun yang manyun sepanjang jalan.

“Ya, enak kan naik kereta api tuuutt…tuuutt…tuuuttt. Nggak ada lagunya naik travel wusshh wusshh wushh…” Canda Fajar untuk membujuk Embun yang sedari tadi selain manyun, dia juga bersandar pada tangannya secara bergantian. Bosan melihat ke kiri, ia mengganti tangan dengan segera ke arah sebaliknya.

“Bisa menduduki sawah dan kali apalagi gunung, gimana nggak keren?”

Seketika embun meremas tangan Fajar. Untung kamera profesional itu tidak terlepas dari tangannya. Selama beberapa menit tangan Embun mencengkram lengan Fajar. Basah. Dilihat Fajar wajah gadis di sampingnya pucat dan menatap lurus kosong, ia tergeming. Fajar terus menatap wajah Embun. Embun diam.

Setelah melewati beberapa sungai dan gunung, Embun kembali relaks dan melepaskan tangannya yang sedari tadi melekat kuat di lengan pria yang menggunakan kemeja flanel bermotif kotak-kotak itu.

“Sekarang tahu kan kenapa aku benci naik kereta?!”

Sorry.” Fajar menghela nafas dan spontan ia menggenggam tangan mungil Embun.

Seperti yang kalian tahu, ketika perempuan tersetrum oleh sengatan cinta tentu saja ia akan melebih-lebihkan aksinya di depan sang pria. Tadinya, ini rencana awalnya, Embun ingin berpura-pura sesenggukan di depan Fajar dan meminta Fajar untuk membelikannya makanan, es krim or else. Tapi, dia memutuskan untuk mengurungkan niatnya itu untuk menjaga harga dirinya yang setinggi langit dan berpura-pura melepas tangan Fajar dan berpura-pura ngambek.

Selama perjalanan keduanya kini diam.

Fajar sendiri masih merasa bersalah karena ke-ngotot-annya yang membuat Embun terdiam hingga hampir setengah jam berlalu. Ngambek yang tak kunjung padam ini sebenarnya bukanlah ngambek yang serius, kok. Embun sendiri sebenarnya sedang menghindar agar Fajar tak mengetahui perasaannya. Ia sedang tersipu malu. Makanya ia memalingkan muka, melipat tangan dan tersenyum-senyum kegelian mengingat tangannya digenggam oleh Fajar.

“Kenapa aku jadi geli begini?” Bisiknya. Kemudian ia memasukkan gulungan tisu bekas ke kantong sampah yang sedang diedarkan oleh petugas tanda bahwa Bandung sudah dekat.

To be continue…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s