Firasat dan Hujan

Tetes demi tetes hujan turun mengejar aku yang justru sedang berlari menghindarinya. Cepat-cepat aku berteduh di bawah sebuah atap warung berwarna biru. Pelan-pelan ku geser satu per satu orang yang sudah berteduh di sana sebelumnya, aku dan semua orang yang ada di bawah atap seluas atap teras depan rumahku itu pun bergeser-geseran sembari berusaha melindungi dokumen-dokumen penting yang bersampul coklat dalam pelukan hangat mereka.

Ku ambil pemutar musikku, aku berusaha menikmati hujan yang turun hari ini. Hujan kedua di bulan November.

Kemarin, ku lihat awan membentuk wajahmu
Desau angin meniupkan namamu
Tubuhku terpaku

Semalam bulan sabit melengkungkan senyummu
Tabur bintang serupa kilau auramu
Aku pun sadari ku segera berlari

Cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi
Firasatku ingin kau tuk cepat pulang
Cepat kembali jangan pergi lagi

Akhirnya bagai sungai yang mendamba samudera
Ku tahu pasti kemana kan ku bermuara
Semoga ada waktu sayangku

Ku percaya alam pun berbahasa
Ada makna di balik semua pertanda
Firasat ini rasa rindukah ataukah tanda bahaya
Aku tak peduli ku terus berlari

Cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi
Firasatku ingin kau tuk cepat pulang
Cepat kembali jangan pergi lagi

Dan lihatlah sayang
Hujan turun membasahi seolah ku ber air mata

Cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi
firasatku ingin kau tuk cepat pulang
cepat kembali, jangan pergi lagi ku hanya ingin kau kembali
firasatku ingin kau tuk cepat pulang, pulang
cepat kembali, jangan pergi lagi

Aku pun sadari kau takkan kembali lagi…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s