Sepasang Sepatu Merah Jambu (Part 6)

Bukannya tidak percaya pada kemajuan zaman, tapi Embun adalah salah satu dari sekian banyak orang yang tidak pernah percaya pada toko yang bentuk tokonya tidak kelihatan. Ia adalah orang yang harus mengalami dulu dengan baik setiap produk yang ia beli. Jika nyaman maka ia akan langsung membelinya. Ia juga termasuk orang yang sangat jeli, saat membeli baju, ada selembar benang yang keluar dari jahitan saja ia akan menggantinya . Nah, sekarang bagaimana caranya dia bisa memastikan bahwa sepatu untuk ibunya itu? Satu-satunya cara adalah mengajak Fajar menemaninya ke Bandung. Bintang Fajar, satu-satunya makhluk yang bisa dipercaya oleh kedua orangtuanya saat ini.

Sepanjang perjalanan dari mal ke rumah keduanya berdiam diri. Embun bingung bagaimana cara yang tepat meminta tolong pada Fajar. Boro-boro ditemani, yang ada cerita ini akan sampai duluan ke telinga ibunya. Fajar sendiri terdiam mengingat Jogja, ia rindu akan kedamaiannya. Ia rindu akan romantika para pemuda di sana. Seniman jalanan yang berdendang tanpa memaksa. Wangi suasana Jogja… ah, kapan aku kembali lagi ke sana selalu menjadi pertanyaan penutup malamnya.

Sesampainya di rumah Embun akhirnya nekat mengetuk kamarnya, kamar yang sekarang ditempati Fajar.

“Mas… are you sleeping?”

Lantunan lagu Kla tentang Jogja sebenarnya sedang membelai manja Fajar sampai kelopak matanya menirukan gerakan berkedip dalam tempo lambat hingga ia jatuh tertidur. Ia tak peduli apapun yang sedang terjadi di sekitarnya, lagipula waktu sudah menunjukkan pukul nol nol WIB. Pelan tapi pasti ketukan di depan kamarnya mulai mengusik dirinya. Mata indah itu kini kembali terbuka. Takut-takut kalau itu Ibuk, lebih baik dia membuka pintu. Tidak enak membiarkan orangtua berdiri lama-lama di luar kamar. Mungkin Ibuk atau ayah membutuhkan bantuannya. Perlahan ia menjauhkan telinganya dari suara Katon Bagaskara.

“Embun… kamu belum tidur?” tanya Fajar terheran.

Sebenarnya Fajar sedikit gelisah melihat Embun yang tampak manis dalam balutan baju tidur malam itu. Ia mengikat rambutnya ke atas dan rambut-rambut halus menutupi kening perempuan yang masih duduk di bangku SMA itu. Tidak! Kenapa saat ini jantungnya justru deg-degan. Sial! Makinya dalam hati, tapi sepertinya ini adalah efek bulan yang semakin tinggi. Kata orang, semakin malam orang bisa semakin tak sadar akan perbuatannya. ya, semoga saja ini benar. Benar-benar bukan jatuh cinta.

“Mas… aku boleh masuk?”

“Tidak!” Jawabnya cepat.

“Tapi ini kan kamarku! Please… ada yang ingin aku katakan.” Embun memberikan tatapan kucingnya untuk menyerang hati Fajar. Fajar membalasnya dengan tatapan harimau yang siap menerkam. Jangan masuk, kata Fajar dalam hati. Mata Embun kini berubah sinis, Fajar kembali memelototi Embun seraya mengarahkannya untuk kembali ke kamar. Tiba-tiba Embun balas melotot. Tetapi, Fajar tak tahan untuk tidak tertawa. Wajah Embun berubah menjadi seperti kodok yang melotot dan pipi yang gembung serta merah.

“Ya, sudah. Lima menit!”

“Mana cukup!!! Setengah jam! Lagian semua orang di rumah sudah tidur.”

“Yaudah, tapi jangan salahin aku kalo kamu keluar-keluar sudah nggak perawan!”

Tiba-tiba sesuatu yang keras menghantam kepala Fajar.

“Awww!!!”

Cepat-cepat Embun membekap mulut Fajar dan mendorongnya masuk.

“Makanya jangan macem-macem, aku di sekolah terkenal jagoan, lho.”

“Iya, iya… ada apa?” Fajar mendengarkan dengan saksama.

Panjang lebar Embun menjelaskan. Awalnya, Fajar ragu dengan rencana Embun tetapi sepertinya anak ini benar-benar ingin ‘bertobat’ dan minta maaf pada ibunya di saat ibunya meniup lilin nanti. Ia bahkan sudah menyiapkan puisi khusus untuk ibunya. Embun percaya kali ini ibu akan mengizinkannya kuliah di jurusan sastra jika melihat kemampuannya. Haah… Embun memang tak habis akal.

Tok… tok… tok…

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu di kamar Fajar. Ternyata Ibuk terbangun mendengar kegaduhan yang terjadi di kamar Fajar. Lagipula ini pukul dua, Ibuk terbiasa bangun jam ini untuk membereskan rumah dan menyiapkan segala keperluan keluarga sebelum masing-masing meninggalkan rumah untuk bekerja dan sekolah. Ibuk adalah wanita pengatur waktu paling juara di dunia. Terus sekarang bagaimana? Dua jam memang terasa singkat saat kedua insan jatuh cinta duduk sambil berdiskusi. Ketukan Ibuk semakin cepat untuk  membangunkan Fajar, lalu ke mana Embun harus bersembunyi? Apa kata Ibuk nanti?

To be continue…

Advertisements

4 thoughts on “Sepasang Sepatu Merah Jambu (Part 6)

    • Yelah.. ini juga belum selesai lanjutannya. Lagi buntu sama yang bersambung. Lagi yang lepasan aja. Nanti sambung lagi.

      Oke.. aku main-main deh ke rumahnya. 🙂
      Sebenarnya ada tulisan yang nggak fiksi, tapi di tumblr 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s