Sepasang Sepatu Merah Jambu (Part 5)

Kabar burung sudah tersebar di sekolah. Hal ini ditandai dengan senyuman-senyuman usil teman-temannya. Mulai dari mereka yang roknya masih di bawah lutut sampai para lelaki yang biasa nongkrong di parkiran saat pelajaran matematika. Bahkan salah satu guru yang akrab dengannya menyambut Embun dengan sebuah pelukan, “Selamat ya sayang. Jadi, yang kemarin ketemu di warung itu calonmu ya?”. Deem!! Ini dia salah satu kerugian tinggal dekat rumah guru. Selain sering dikontrol, si ibu guru kece pun bakal dapat laporan langsung dari Ibuk atau tetangga sekitar rumah. Huuuhh… Embun hanya bisa menyilangkan tangannya dan buru-buru menghindari Bu Santi, guru biologi yang paling kece dengan sepatu tinggi berhak minimal tujuh senti.

Siang ini cuaca tidak bersahabat pake banget. Udah ya lagi hari pertama menstruasi, cuaca Jakarta yang nggak pernah di bawah 30 derajat celsius bikin Embun makin gerah. Geeraaah! Oke, rencana untuk jalan-jalan sebaiknya dibatalkan dan akan lebih baik ngadem di rumah sembari menikmati kolak pisang dingin buatan Ibuk. Aahh… kuah kolak kental manis dengan rasa pisang alami yang dingin ditambah paduan rasa gula aren pilihan serta pisang empuk yang bahkan tak perlu dikunyah lagi meluncur seketika memasuki kerongkongannya yang benar-benar gersang saat ini. Ia menelan air liurnya dengan segera hingga terdengar bunyi glek yang cukup bisa di dengar Vika, teman sebangkunya.

“Ngebayangin apaan lo? Yang jorok-jorok ya?”

“Gigi lo gondrong! Panas nih!”

“Tuh kan, apalagi yang bisa bikin perempuan kayak kita kegerahan siang-siang begini kalau bukan mikirin begituan. Minimal ngebayangin malam pertama Adam Levine sama siapa itu istrinya? Belati? Behati?,” Vika memang sedikit… ya tidak sopan rasanya jika dibilang lemot, tapi memang dia begitu gimana donk? Huh.

“Biheiti, bukan BEHATI kayak lo nyebut pakaian dalam lo yang ukurannya super besar itu…”

Vika kembali memerhatikan guru yang sedang menjelaskan pelajaran matematika di depan. Embun hari ini memang terdengar lebih garang. Harap maklum saja, namanya juga hari pertama dan angka 33 derajat celsius memang sama sekali tidak sedap untuk dinikmati siang ini. Berkali-kali Embun terbawa ke awang-awang mengingat kolak pisang buatan ibunya. Tiba-tiba lamunannya pecah saat bel tanda pulang sekolah menggema. Tanpa pikir panjang ia memasukkan kotak pensil, buku-bukunya dan juga botol minumnya ke bawah kolong meja. Ia sambar segera tas punggungnya yang ia gantungkan di belakang kursi. Begitu kata amin terdengar, tanpa dipandu kakinya langsung berlari menerobos kerumunan anak-anak lain yang menghambur di depan kelas.

Ada yang menunggu pacarnya di kelas sebelah menjemput, ada juga yang sedang berdandan di depan kelas karena toilet penuh dengan perempuan-perempuan centil yang kebelet. Bukan kebelet buang air kecil, tapi kebelet merapikan lipglos dan juga bedak serta alis buatan yang kalau kena keringat sedikit saja akan terhapus.

Hah! Mana pantas anak SMA memakai kosmetik seperti itu, itu kan untuk mereka yang minimal sudah memasuki jenjang perkuliahan. Selain itu, ada juga beberapa anak orang kaya yang memilih untuk bermain game online dengan berbagai macam gadget terbaru dari apel digigit sampe tulisan yang miring-miring sembari menunggu supir-supirnya datang. Kalau Embun, biasanya langsung berlari menuju gerbang depan sekolah, melambaikan tangan mencari Mamat, si sopir ojek gaul yang selalu mangkal di belakang pohon mangga yang cukup rindang di seberang sekolahnya untuk mengantarnya pulang. Tapi kali ini Embun harus kecewa karena peran Mamat digantikan oleh Fajar.

Dengan wajah sedikit ditekuk Embun mengibaskan rambut gelombangnya yang berantakan. Selagi ia berjalan menyusuri koridor menuju gerbang keluar di sekolah, ia menutupi wajahnya dengan rambut. Siapa yang nggak malu dijemput di depan sekolah dengan menggunakan baju rapi layaknya om-om pakai ngangkat kertas A3 segala bertuliskan EMBUN. Celana khaki dan juga kemeja kotak-kotak biru tua memang membuat Fajar semakin tampan. Apalagi dia menggunakan keds dan menggulung sedikit bagian bawah celananya. Tapi tetap saja itu memalukan.

“Ngapain pake kertas segala? Turunin nggak?”

“Ogah?” Jawab Fajar singkat.

“Ngapain jemput segala?”

“Nggak denger kata Ibuk kapan hari? Tugas aku selagi mencari kerja ya jemput kamu dan mastiin kamu nggak madol. Ibuk bikin kolak dingin tuh, kesukaanmu. Ayo, cepet pulang.”

Sepanjang perjalanan Embun terkekeh diam-diam membelakangi Fajar. Dia mengingat ulah Fajar siang ini yang datang menjemputnya dengan dandanan rapi pakai menyewa bajaj segala. Bayangkan dandanan kelas atas begitu malah naik bajaj. Embun sedikit menarik napas untuk menghentikan tawanya. Tapi, sepertinya sudah tak tertahankan.

“Hahahaha…”

“Kenapa kamu ketawa?”

“Lo ngapain, sih, Mas jemput gue pake dandan segala? Ujung-ujungnya naik bajaj. Kirain bakalan naik taksi atau minimal ojek lah. Tau gini mendingan gue sama si Mamat.” Jelas embun sambil sesekali tertawa memerhatikan Fajar.

“Ini namanya selera. Gimana? Bagus kan selera ku?” Kata Fajar sambil meledek Embun.

“Nggak tau ah! Bodo amat. Aku mau ke mal dekat rumah dulu ya.”

Kali ini Embun harus menahan hasratnya untuk segera menikmati kolak segar buatan Ibuk. Barusan reminder di telepon genggamnya memunculkan sebuah pesan dalam bentuk catatan bertuliskan tanggal penting yang menyadarkan Embun bahwa waktunya tidak banyak lagi dan harus segera mendapatkan barang yang ia cari.

“Kalau begitu aku ikut.”

Baru saja Embun ingin mengatakan kalimat penolakan Fajar lagi-lagi memotong.

“Ini perintah Ibuk. Ingat! Kamu mau durhaka sama ibu kamu?”

Dih, ini orang kenapa pake bawa-bawa durhaka segala? Pasti Ibuk bilang sama dia tentang ketakutan Embun pada legenda paling terkenal dari Sumatra Barat. Embun takut dikutuk jadi batu sama Ibuk.

Berhubung Embun kehausan tingkat dewa, sesampainya di mal gerai minuman langsung menjadi sasaran utamanya. Setengah berlari ia membeli minuman teh dengan jeli bulat-bulat yang sangat terkenal di kalangan remaja saat ini. Matcha tea latte, selalu menjadi favoritnya. Kalau tidak ada, dia lebih baik tidak minum daripada harus diganti rasa yang lain.

“Di Jogja, ada minuman kayak begini nggak?”

“Sepele kamu? Ada donk!” Sebenarnya, Fajar juga ragu. Karena dia jarang sekali jalan-jalan di mal. Dia lebih sering hunting foto dan menjaga warung kecilnya di sana.

“Yasudah. Mas Fajar pulang duluan saja. Aku masih ada urusan.”

“Nggak bisa, aku harus jagain kamu!”

Ah, bisa kacau nih kalau dia tau aku ingin memberi kejutan untuk ulang tahun Ibuk. Dia kan ember!

“Sebentar saja, pliiissss!”

“No!”

“Oke. Kalau begitu, Mas tunggu di restoran di seberang sana. Aku mau jalan-jalan di sini dulu, oke!”

Akhirnya deal terjadi dengan syarat Embun akan memberikan laporan dia masuk ke toko apa saja sembari Fajar menunggunya. Berasa anak kecil nggak sih, ih! Sebel! Udah gede gue, woii. Oke, saat ini gue harus fokus pada apa yang akan gue beri ke Ibuk. Ibuk nggak suka dikasi kue atau makanan karena itu berarti masakannya kalah enak. Ibuk juga nggak suka dikasi jam karena menurutnya dia nggak pernah terlambat, Ibuk suka tas atau baju atau aksesoris kecil seperti anting-anting. Dia tidak suka gelang, entah kenapa. Tapi, ide kali ini adalah memberikan Ibuk…

“Sepatu!”

Tiba-tiba barang itu muncul dalam pikiran Embun. Ia terpaku pada sebuah etalase mewah yang memamerkan sepasang sepatu bertumit rendah dengan warna merah jambu ditambah aksen pita kecil di bagian belakangnya. Manis, seperti Ibuk! Tetapi, tiba-tiba sepatu tersebut diambil oleh mba mba penjaganya. Buru-buru Embun memasuki toko.

“Mba kok sepatunya di ambil?”

“Ooh, sepatu ini sudah laku. Ada yang pesan via online dan stoknya tinggal ini. Kemarin orangnya sudah datang ke sini untuk mencoba, jadi hari ini barangnya tinggal kami kirimkan.”

Setengah terpaksa Embun menerima kenyataan bahwa sepatu itu kini milik orang lain.

“Tapi… di toko kami di Bandung masih ada.” sambung Mbaknya. Mungkin bisa coba dicek via internet.

Hah? should i go there? Gimana caranya izin sama ayah. Kalau Ibuk masih bisa dibohongi, kalau ayah, sekali-kalinya Embun bohong untuk pergi ke luar rumah dalam waktu yang tidak ditentukan, ayah bisa langsung ngacir ke kantor polisi untuk mencari putri semata wayangnya ini.

To be continue…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s