Sepasang Sepatu Merah Jambu (Part 4)

Kini Embun cuma bisa pasrah Kuku, kamar kesayangannya, harus jatuh ke tangan Fajar. “Kuku… Selamat tinggal untuk beberapa saat,” ucapnya lebay seraya menyeka pipi yang tak berair mata dan mengelus-elus dinding . Fajar hanya memandang anak kelas 3 SMA yang berada di depannya ini. Ia pikir, gimana bisa ada anak SMA yang masih bertingkah seperti ini? Bel di depan rumah berkali-kali berbunyi sampai-sampai bikin sakit kepala. Kini tak hanya suara bel, teriakan anak-anak eibiji masa kini semakin merusak suasana surga yang dinikmati Fajar bersama bukunya. Fajar akhirnya menyerah. Ia bergegas membuka pintu dan menemui para bidadari setengah matang itu.

“Cari siapa?”

Teriakan-teriakan anak SMA itu terhenti ketika melihat sosok muda bertelanjang dada dengan celana sedikit turun dan rambut dikuncir tanggung. A la a la Tom Cruise waktu gitu rambutnya. Belum lagi selesai ia memberikan respon seadanya pada rombongan wanita dan setengah wanita yang sudah berdiri kaku di depan pagar, ia menoleh seketika, shock akibat terciprat semburan air hangat yang bersumber dari mulut Embun. Bagaimana tidak, Embun yang sedang dalam masa puber jelas saja terperangah melihat sosok yang beyond expectation berdiri di depannya.

“Yaaack!,” Fajar mengusap punggungnya yang basah, “BERLEBIIHAN! Kayak liat setan aja, lo!”

Embun diam.

Masih diam.

Dia, salah tingkah.

Jatuhlah gelas ke lantai, untungnya gelas plastik.

“Kenapa dia jadi cakep? Kok dia cakep? Kan dia mas-mas Jawa. Jawa banget sih, tapi cakep.” batin embun.

Tak lama rumah ramai dengan bisik-bisik anak bau kencur yang ingin menjenguk Embun.

“Kita udah cariin lo kemana-mana, ternyata lo beneran di rumah? What hepen aya naon, Mbun? Ehh… Ehh… baydeway, siapa tuh? Temennya Kak Nunu?”

“Bukan.” Embun tak ingin banyak bicara. Salah-salah gosip lain yang akan tersebar di sekolah.

“Jodoh lo?”

Baru saja Embun berusaha untuk menutupi dengan tidak berkata apa-apa, teman-temannya yang memang sudah lebih dari ember bocor langsung menyimpulkan hal yang tidak-tidak.

“Pantes lo betah di rumah. Ada sesosok pangeran tampan di sini. Aaaah… gue boleh nggak nginap di sini malam ini Mbun? Gue rela deh bayarin pisang goreng lo, nyiapin buku-buku lo, nyogok penjaga sekolahan yang super resek itu demi nungguin lo. Tapi iziiiinkan (dengan nada Rhoma Irama) aku untuk menginap di sini malam ini.” Siska memohon sambil merapatkan kedua tangannya, berlutut dan memonyongkan bibir tanpa hasrat mencium pipi Embun.

“BUBAAAAR lo pada! Kirain mau jengukin gue, eehhh… kelakuan!” Embun pun langsung mengusir teman-temannya. Malam ini dia hanya bisa berdoa, hari Senin nanti tak akan terjadi apa-apa di sekolahnya.

Ia wajib khawatir sebab, walaupun Embun memiliki sikap yang, yaah… demikian, ia termasuk anak yang aktif di sekolahnya. Dia adalah salah satu pengisi tetap dan juga pengurus mading sekolah. Ia bercita-cinta menjadi seorang penulis terkenal seperti Kang Pi’i, tetangganya. Yang tulisannya pernah masuk koran berbahasa Inggris. Dan teman-temannya adalah asisten andalannya dalam berburu berita. Menyadari akan keahlian teman-temannya, ia yakin dan sangat yakin kalau berita tentang lelaki berparas arjuna yang tinggal di rumahnya dengan mudahnya TER-SE-BAR.

To be continue…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s