Sepasang Sepatu Merah Jambu (Part 3)

“SKSD! Siapa?”, ia menengadah melihat pria bertubuh kurus menuju ideal yang jelas lebih tinggi darinya. Bintang Fajar, pria 23 tahun, seorang yang cerdas, lulus sebagai sarjana termuda di angkatannya dengan predikat cumlaude, punya bisnis kecil-kecilan di Jogja seperti angkringan sampai susu murni yang ia jalankan sejak SMA, mencintai fotografi, dan memiliki hidup yang sangat dinamis. Sampai suatu hari ia mencapai titik jenuh di mana ia lelah berusaha tegar setelah kematian kedua orangtuanya dan berhenti dari semua kedinamisan hidup. Ia memutuskan untuk ke Jakarta, mencari keluarga keduanya.

 

Masih sambil menatap Fajar dari atas ke bawah lalu ke atas lagi lalu ke bawah lagi, Embun masih tidak percaya, anak SMP yang dahulu suka mengganggunya kini sudah mempunyai kumis. Whaat!! Rasanya waktu cepat berlalu, dia ingat saat Fajar kecil selalu mengganggunya, bahkan menyebut bahwa ia adalah anak angkat karena wajah dan sikapnya bagaikan langit dan palung laut dengan saudara-saudaranya. Ia ingat sempat menangis dan minta pulang ke Jakarta saat liburan di rumah Fajar di Jogja karena dikerjai oleh Fajar dan teman-temannya.

Embun kecil memang sudah centil. Saat itu, Fajar bilang akan mengajaknya bertemu anak-anak menengah pertama yang sangat tampan dan terkenal sehingga ia bisa mewujudkan impiannya menjadi seorang putri, ya, seorang putri tentunya berdampingan dengan pangeran tampan. Ia mau saja, bertemu pangeran pikirnya.

Tapi nyatanya, Fajar justru membawanya berputar-putar di lapangan basket sekolah sambil menyuruhnya mengikuti Fajar yang berlari sepuluh kali keliling lapangan. Alhasil saat teman-teman Fajar datang, Embun sudah basah dan bau karena keringat. Ia menangis dan merengek minta diantar pulang ke rumah Fajar yang memakan waktu 5 menit saja dari lapangan itu.

“Fajar sementara akan tinggal di rumah kita sambil mencari pekerjaan. Daripada ngekos, sayang uangnya. Kalau nanti sudah dapat pekerjaan yang baik dan tetap, kamu boleh Jar ngekos atau mau tinggal di tempat yang dekat dengan kantormu. Kalau belum, kamu tidak boleh kemana-mana. Kamu tanggung jawab om dan tante di sini. Di sini kamu bisa sekalian jagain Embun dan Dandan, khususnya si ratu kecil ini yang suka berulah. Antar sekolah atau mengajari mereka. Kalau Nunu sih sudah mandiri.” kata sambutan Ibuk membuat Embun semakin… ahhh, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Embun hanya memelototi Fajar yang makan sembari mengangguk.

“Iya, tante. Saya berusaha sebaik mungkin. Maaf merepotkan ya, tante. kalau urusan Embun, saya nggak yakin tante…”

“Kenapa? Kenapa? Kenapa?” , potong Embun sebelum fajar selesai berbicara.

“Embun! Nggak sopan ada orang bicara kok dipotong. Yasudah, kalian makan dulu. Ibuk mau siap-siap arisan nanti sore.”, ibu membela Fajar segera.

“Iya tante.”

Fajar diam-diam terkekeh melihat Embun tak mendapat pembelaan. Ia menjulurkan lidahnya menandakan kemenangannya.

“Oia, Fajar… mulai sekarang jangan panggil tante lagi, Ibuk, begitu ya.”

“Eee… iya buk.” katanya kaget.

Ahaaa! Saatnya balas dendam…

To be continue…

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s