Sepasang Sepatu Merah Jambu (Part 2)

Embun Awali Ramdhan, anak kedua dari tiga bersaudara yang benar-benar dapat membuktikan bahwa anak kedua atau anak tengah adalah anak yang paling berbeda dari saudara-saudaranya. Tak sesuai dengan namanya, Embun justru seringkali membawa suasana panas untuk saudara laki-lakinya. Anyway,  kesiangan adalah nama tengah Embun. Bukan Embun namanya kalau tidak kesiangan. Lalu, apalagi ulahnya kali ini? Kesialan apa lagi yang menimpanya?

Gedebukkkkkk!!!

Bunyi hempasan begitu keras mengisi kehampaan koridor lantai satu. Suara itu berasal dari tubuh Embun yang terjatuh akibat menginjak tali sepatunya dan berakibat kepalanya membentur lantai. Dasar Embun yang clumsy kalau tidak jatuh, memar, benjol rasanya tidak lengkap harinya. Tubuh lunglainya segera di bawa menuju UGD terdekat dari sekolah. Ibunya yang sedang memasak pun terpaksa meninggalkan oseng-oseng kambing yang khusus dipersiapkannya menyambut anak teman suaminya yang akan tinggal di rumahnya.

Dengan baju kaos putih dan celana pendek bermotif bunga-bunga Ibuk berangkat menemui anak perempuan semata wayangnya itu. Saking cemasnya, ia menelepon ayah yang sedang bekerja. Alhasil, ayah pun yang baru saja tiba di kantor kelabakan karena harus bergegas kembali ke parkiran dan tancap gas menuju rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit betapa kagetnya Ibuk melihat anaknya sedang menikmati bubur sambil tersenyum-senyum. Yaah… begitulah Embun. Sambil mengembangkan senyum selebar-lebarnya dan melambaikan kedua tangannya, dengan heboh, ia memanggil ibunya yang terlihat bingung mencari di mana tempat tidur anaknya.

“Ibuk!!! Di sini. Hehehe”

“Ya. ampun Li! Kamu ini… nggak apa-apa kepalamu? Ibu sampai jantungaaaannn gara-gara kamu!”, oceh Ibuk sambil menepuk-nepuk punggung Embun menggunakan tasnya.

“Aww… awww… ampun, Buk. Ini aku nggak tahu tadi keinjek tali sepatunya.”

“Makanya kalau dibangunin itu langsung bangun! Kalau begini kan semua orang jadi repot. Ini ayahmu juga dalam perjalanan ke sini. Aduh, nak.”

“Kak Nunu sama Dandan mana? Nggak khawatir nih sama aku?”

“Kamu!!! Cepat bereskan barang-barangmu! Sebentar lagi ayah datang, kamu diantar ke sekolah.”

Gawat! Kalau begini aku berarti harus kembali ke sekolah dan aaahh…

Cepat-cepat dia berlagak seperti orang yang kehilangan tenaga, padahal ini mangkuk bubur kedua yang dihabiskannya. Si ratu akting yang satu ini memang selalu bisa mengambil hati dan membohongi semua orang di keluarganya.

“Ahhh… bu, kenapa kepalaku tiba-tiba pusing ya?” , lagi-lagi ia bermain peran. Sambil menirukan gaya Nikita Willy dalam sebuah sinetron adaptasi yang sedang ramai dibicarakan orang ia kembali membaringkan badannya.

Ibuk diam beberapa saat memperhatikannya.

“Ya sudah, ayo kita pulang. Awas kalau kamu malah main di luar rumah. Istirahat. Kalau pusing tidur, bukan waslapan.”

“Apaan waslap, Buk?”

“Itu yang suka kamu kirim ke hp ibu apa tuh…”

Whatsapp. Itu yang Ibuk maksud. Yah, maklum lah… ibu ini selalu pengen update tapi gimana bahasanya ya suka-suka dia.

Sesampainya di rumah betapa terkejutnya Embun karena ada seonggok tubuh di kamarnya. Masalahnya ini tubuh bukannya sejenis tapi lawan jenis. Bagaimana Embun bisa menerima kehadirannya dengan ikhlas, tabah dan tawakal? Asal tahu aja, bahkan kakak dan adiknya nggak pernah sama sekali nyentuh guling kesayangan Embun, Miko. Ya, gitu deh. Semua barang pasti dinamai olehnya. Termasuk weker kesayangannya, hadiah ulangtahun dari almarhum Roni, teman akrabnya di taman kanak-kanak.

“Buukkk!!!!”, ia berteriak sambil mengucek mata dan mengetok-ngetok kepalanya yang mungkin dia pikir masih sedikit pusing akibat benturan.

“Itu Fajar. Mulai sekarang kamu pindah kamar ke kamar Dandan. Dia tidur sama ibu dan ayah. Sementara Fajar masih numpang di sini.” , sahut ibu dari dapur sambil menyiapkan makan siang untuk Fajar yang baru tiba beberapa saat sebelum Ibuk menjemput Embun.

Tersentak dengan suara nge-bass yang dikeluarkan dari tubuh kecil di depannya, Fajar segera berdiri dan merapikan rambut panjangnya yang menutupi mata dan hidung kecil mancungnya. Ia merapikan sedikit bajunya dan berdiri menghadap perempuan yang dahulu sering dikerjainya saat almarhum ibu dan ayahnya masih hidup, sebelum gempa di Jogja beberapa tahun yang lalu melenyapkan sumber inspirasi dalam hidupnya.

“Heh, Embun. Sudah gede aja lo!”

“SKSD! Siapa?”, ia menengadah melihat pria bertubuh kurus menuju ideal yang jelas lebih tinggi darinya. Dengan rambut panjang sebahu yang dipotong layer ia menggunakan baju biru polos bercelana jeans dan wangi sporty seketika menggelitik hidung Embun dan memasukkan kode-kode ke otaknya memancing ia berpikir apa mereknya.

To be continue…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s