Sepasang Sepatu Merah Jambu (Part 1)

Embun bergegas menuju kafe tempatnya bekerja. Dengan tekad bulat, ia ingin membahagiakan Ibuk.
“A good pair of shoes will take you to good place”.
Kalimat itu terus menerus berputar di otak Embun.
“Sepasang sepatu itu harus ku beli untuk ulang tahun Ibuk!”
Tapi, bagaikan ketiban tangga ditambah durian runtuh ia bertemu dengan Bintang Fajar.
Fajar justru membuat rencananya berantakan. Ia mengikuti kemana pun Embun pergi.
Mata-mata yang satu ini bisa membuat kejutan untuk Ibuk hancur berantakan.
Sepatu merah jambu hanya dipajang selama satu bulan. Embun harus, harus, harus mendapatkannya!

 

Embun Awali Ramdhan, anak kedua dari tiga bersaudara yang benar-benar dapat membuktikan bahwa anak kedua atau anak tengah adalah anak yang paling berbeda dari saudara-saudaranya. Tak sesuai dengan namanya, Embun justru seringkali membawa suasana panas untuk saudara laki-lakinya. Arya Nugraha Ramdhan yang biasa dipanggil Nunu dan Syandana Nugraha Ramdhan alias Dandan.

Sebenarnya, Embun pun tidak dipanggil Embun oleh ibunya, ia justru lebih sering dipanggil Lili. Kata ibuk (Embun selalu menggunakan k di belakang kata ibu) supaya Embun bisa semakin perempuan. Ibuk sangat menyukai bunga Lili, lambang kesucian yang benar-benar-benar wanita sekali. Tapi lihat saja bagaimana Embun memulai paginya hari ini.

“Iboooooookk… hari ini kan seragam pramuka! Mana seragam pramukanya?”

“Itu sudah ibu siapkan di atas kasur, kamu kok masih ngedumel ae, Li.”

“Ogah! Nggak mau yang itu, seragam itu kebesaran. Apa kata teman-teman, memangnya aku badut pakai baju kebesaran, huh!”

Memang dasarnya Embun, ada saja yang ia lakukan supaya ibuknya menggunakan nada do tinggi sepagi ini, padahal belum tentu ibuk pemanasan vokal terlebih dulu.

5 menit kemudian…

“Iboooooooook… Embun pergi doloo…,” teriaknya sambil mengunyah setangkup roti berselai strawberi favoritnya. Roti ini tidak boleh sembarangan disajikan. Selai hanya boleh dioles di satu sisi roti saja, tidak boleh di keseluruhan permukaan roti. Rotinya pun harus roti merek Djadoel yang menjadi langganan ibunya sejak kecil. Kalau tidak, jangan harap Embun akan memakannya.

Embun berlari sekuat tenaga, 15 menit lagi penjaga gerbang akan menutup pintu besar berwarna hijau yang berdiri tegak di depan jalan raya. Sedikit berkarat dimakan usia tetapi pagar ini teah menjadi saksi kenakalan hingga kebahagiaan semua siswa setiap angkatan.

Anyway,  kesiangan adalah nama tengah Embun. Bukan Embun namanya kalau tidak kesiangan. Satu kali pernah ia berlari-lari dengan handuk di kepalanya, di waktu yang lain Embun juga pernah datang ke sekolah dengan rok terbalik atau sepatu dengan warna berbeda. Yang paling parah, saat itu kakaknya, Nunu, harus menjadi pemimpin upacara tetapi karena ulah adiknya ini, terpaksa ia berbohong dan mengatakan bahwa ia sakit.

Terang saja, Embun membawa lari pasangan sepatu kakaknya. Ia datang ke sekolah dengan ukuran sepatu yang berbeda dan mengatakan bahwa itu akan menjadi tren masa kini. Malangnya Nunu, itu adalah sepatu yang wajib ia gunakan untuk memimpin upacara dan terpaksa saat itu posisinya digantikan oleh Damar, teman sekelasnya.

“Javier Hernandez Balcazaaaaaaaaaaaaaaaar!!” beruntung dengan tubuh yang ramping ia dapat menembus sisa ruang sebelum pagar tertutup rapat.

“Stop!” kata penjaga gerbang berpeci dengan kumis ala pak Raden itu menghentikan langkah Embun, hampir menghentikan napasnya juga karena tersedak roti.

“Hehehe…” seringainya sambil menelan kunyahan terakhir.

“Kenapa kamu panggil saya dengan nama aneh itu?”

“Loh, Bapak nggak tau? Itu nama asli Chicharito, Paaakk, pemain bola kesukaan Bapak itu. Nanti siang saya beliin deh poster terbarunya ya?”

“HHMMMMHH! Sana masuk kelas”, kata Pak Nun mengiyakan tawaran Embun.

“Terrrrimakasih banyak, Pak!” , Embun mengangkat tangannya membentuk sikap hormat tegas kemudian berlari menuju kelasnya di lantai dua.

Sekali lagi apes untuknya, tali sepatunya terinjak dan ia terjerembap di lantai. Pingsan.

To be continue…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s