I’ll Find You

Subject: Selamat ulang tahun, Biru.

Hai, Biru.

Lama aku tak menulis surat elektronik padamu. Apa kabar? 🙂
Lucu rasanya saat banyak media komunikasi tapi saat ini tetapi kita lebih memilih untuk berkirim surat. Lebih canggih saja karena sudah tak lagi menggunakan prangko. Katamu, lewat surat kita bisa menggambarkan apa yang sedang kita rasakan dan bisa merasakan keintiman yang lebih dalam dibandingkan pesan-pesan singkat setiap saat.

Biru, saat ini aku sedang gelisah. Aku tahu ini surat ke 1205 yang ku kirimkan setelah kau meninggalkan Indonesia.
Biru, aku bertemu dengan seseorang, dia teman dekatku kini. Tapi, tak lama lagi dia akan pergi.
Sama seperti kamu. Aku bingung haruskah aku ikut dengannya?

Bagaimana Jepang?
Sepertinya kamu betah berlama-lama di sana. Sudah kau temukan kincir mainan seperti oleh-oleh yang ku bawakan padamu dulu?
Kincir yang diberikan oleh papaku yang kau anggap seperti papamu sendiri.
Ku lihat dari foto-foto facebookmu sepertinya kamu sudah mulai bisa makan yang pedas-pedas. Nanti, pulang ke Indonesia kita makan gado-gado di depan rumah sama-sama ya. Sekarang bukan Mbok Im lagi yang jualan, tapi Miranda anaknya. Mbok Im sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Mira sekarang cantik, deh. Dia sudah besar seperti kita.

Biru, kapan pulang ke Indonesia?
Aku selalu berdoa dan menebak-nebak siapa wanita yang akan mendampingimu kelak. Dalam hati aku berharap itu aku, tapi aku hanya bisa berdoa saja.
Bertemu kamu saja aku rasa sudah cukup. Entahlah.
Hmmm… kemarin ada festival Jepang di daerah Blok M, lho. Aku pergi ke sana sendiri untuk menikmati suasana yang dapat mengingatkanku akan manisnya (kamu) dan permen loli favorit kita.
Oia, bagaimana

***

“Hai, Juni…”, bisik seorang pria sambil menutup mataku dengan telapak tangannya. Wangi serta tubuhnya memelukku bersamaan. Dia menemukanku. Segera ku simpan telepon genggamku. Aku belum sempat menghapus draftnya.

(Dia datang…) White musk sport! I know you, Biru!”, teriakku sambil menyingkirkan telapak tangan yang menutupi indah wajahnya, aku segera berdiri berbalik memeluknya.

“Hahaha… kamu ngapain nungguin aku di bandara?”

“Ehm… aku harus jadi orang pertama yang memberikanmu kado,”

Hening.

“Dan… malam ini aku harus ke Belanda. (Tahan aku, Biru!)“, aku menatapnya.

Jakarta, 15 September 2014
Bandara
Karena mengulang doa-doa itu seperti kayuhan sepeda. Suatu saat ia akan membawamu ke arah yang kamu tuju.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s